Wedding With My Lecturer

Wedding With My Lecturer
Bagian 79_Aku Mencintaimu


__ADS_3

“Apa pengorbanan Saka merebutmu dariku tidak juga membuatmu melupakan masalah itu, Feli?” celetuk Frengky sembari berbalik dan menatap Feli lekat.


“Apa maksudmu?”


“Ya, bukan aku yang melepaskanmu, tetapi Saka yang berusaha keras menyuruhku melepaskanmu. Aku tidak sebaik itu jika saja Saka tidak berlutut dengan air mata berlinang hanya untukmu,” jelas Frengky membuat Feli membelalak kaget. Matanya menatap pria yang ada di hadapannya dengan wajah tidak percaya.


Feli terdiam seketika. Matanya masih menatap Frengky yang sudah melangkah mendektainya. Hatinya bergemuruh, menyadari apa yang dikatakan Frengky terhadapnya. Sampai sebuah tepukan ringan mendarat di bahunya, membuat Feli menatap ke arah pria di hadapannya lekat.


“Saka sangat mencintaimu. Aku yakin sampai saat ini dia masih mencintaimu. Dia bahkan rela merendahkan diri hanya untukmu, Feli. Asal kamu tahu, Saka adalah pria dengan harga diri yang terlalu tinggi, bahkan untuk menunjukan kesedihannya,” ucap Frengky dengan mata meyakinkan.


“Tetapi dia tidak mengatakan apa pun denganku, Frengky,” cicit Feli dengan mata membelalak.


Frengky yang mendengar terkekeh kecil dan menatap Feli dengan senyum tipis. “Feli, dia bukannya kamu yang dengan mudah mengatakan semua masalah. Dia adalah pria tertutup dan sampai kapan pun tidak akan pernah mengatakan mengatakan isi hatinya kepadamu. Meski kamu akan membencinya sampai mati sekali pun.”


Feli yang mendengar langsung diam. Apa selama ini dia hanya melihat masalahnya dant tidak mengerti masalah Saka?.


“Apa saat kamu bebas, tidak ada pertanyaan dalam pikiranmu kenapa bisa aku melepaskanmu?” tanya Frengky sembari mengamati Feli lekat.


Feli menggeleng pelan dan tersenyum kecil. Dia memang tidak pernah berpikir mengenai hal tersebut. Yang dia tahu hanya Frengky baik karena mau melepaskannya.


Frengky yang tengah berada di dekat Feli tertawa kecil dan menatap dengan pandangan tidak percaya. “Baiklah. Aku tidak mau berlama-lama membuatmu ada di sini. Aku yakin kamu ingin sekali mengejar Saka yang entah pergi kemana. Silahkah pergi dan berbaikanlah dengannya, Feli,” ujar Frengky dengan anggukan kecil.


Feli hanya diam dan menatap pria yang sudah meninggalkannya. Rasanya sakit ketika dia sudah begtiu lama menyimpan dendam dengan Saka yang ternyata sudah menolongnya. Tetapi, itu kan karena ulah dia juga aku ada di sana, batin Feli tidak mau kalah.


Feli menghela napas perlan dan melangkah untuk mencari taksi. Sampai dering ponsel kembali membuatnya berhenti. Matanya menatap layar ponsel menyala miliknya dan segera mengangkatnya lelah.


“Halo, Eiren,” sapa Feli ketika sudah tersambung.

__ADS_1


“Feli, kamu sudah pulang?” tanya Eiren dengan sangat bersemangat.


Feli yang mendengar menatap sekelilng dan tersenyum tipis. Dia bahkan sedang berada di jalanan dengan langkah tanpa tujuan. “Sudah, Eiren,” jawab Feli tidak mau sahabatnya terlalu banyak berpikir.


“Syukurlah kalau begitu. Aku khawtair denganmu. Apa Saka bersikap baik?” tanya Eiren dengan penuh penasaran.


“Tentu. Dia sangat baik,” jawab Feli lemah. Dia mnarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan. “Eiren, aku harus tutup dulu panggilanmu. Aku ada urusan yang harus diselesaikan,” lanjut Feli setelah merasa hatinya membaik.


“Hah? Malam-malam begini? Masalah apa?” selidik Eiren.


“Aku akan menceritakan kepadamu. Tetapi tidak sekarang. Nanti, jika sudah waktunya,” jawab Feli dengan lirih dan segera mematikan panggilan Eiren. Dia tahu, jika terus meladeni Eiren, akan banyak pertanyaan yang akan ditanyakan lagi.


“Sekarang aku memang benar-benar menyelesaikan tugasku,” gumam Eiren dengan langkah yang semakin cepat, menyusuri jalan yang terlihat sepi.


______


Saka yang baru saja masuk menatap mama tirinya dengan pandangan lelah. Dia memang lelah jika harus digabungkan dengan mamanya. Saka hanya diam meski teriakan di belakangnya terus saja menanyakan hal yang sama. Rasanya dia sedang tidak ingin berbicara dengan saiap pun. Sampai suara teriakan tersebut mulai tertelan di belakangnya.


“Kenapa semua orang bertanya kenapa dan dari mana tanpa mau mengetahui masalah orang lain,” gumam Saka segera menaiki anak tangga satu per satu. Langkahnya terus mengayun memasuki kamarnya.


Saka berhenti sejnak ketika melihat kamar yang saat ini tanpa penghuni di sebelahnya dan tersenyum kecut. “Kapan kamu akan ada di kamar ini lagi, Feli? Aku merindukan kamu yang dulu,” ucap Saka sembari menghembuskan napas perlaan.


Saka segera melangkah menyurusi lorong menuju ke arah kamarnya. Dengan malas dia memegang handle pintu dan masuk ke dalam tanpa menutup pintunya. Dia yakin, tidak akan ada yang masuk ke dalam kamarnya tanpa izin darinya. Bahkan, hanya satu asisten rumah tanga yang boleh masuk dan membersihkannya.


Saka menidurkan tubuhnya di ranjang king size di ujung ruangan dan segera memejamkan mata. Hari ini terasa begitu melelahan. Namun, baru saja dia menutup mata dan siap melayang ke dunia mimpinya, sebuah suara pintu tertutup membuatnya membuka mata dan menatap ke asal suara.


“Feli,” ucap Saka dengan mata membelakak. Dia bahkan sudah mengucek matanya beberapa kali, mencubit dan bahkan sedikit menepuk pipinya. Dia masih merasa semua seperti mimpi untuknya kali ini.

__ADS_1


Apa dia benar Feli?, batin Saka.


Feli yang ada di ruangan tersebut tersenyum kecil dan melangkah mendekat ke arah ranjang. Namun, karena terasa semakin jauh, Feli segera berlari dan memeluk Saka yang ada di hadapannya.


“Bodoh.” Itulah kalimat pertama yang keluar dari mulut Feli setelah sekian kama dia enggan bersama dengan Saka.


Saka hanya diam ketika Feli masih saja mendekapnya dengan air mata mengalir. Rasanya dia semakin bingung karena ulah gadis yang sangat dicintainya. Bahkan, dia sampai lupa untuk membalas dekapan di tubuhnya.


Feli melepaskan pelukannya dan menatap Saka lekat. Air matanya sudah jatuh luruh ke bawah. “Kamu itu bodoh. Kenapa dari dulu diam saja waktu aku memakimu? Kenapa kamu gak mau membela diri dan mengatakan semuanya? Aku bahkan selalu berpikir untuk tidak bertemu denganmu,” ucap Feli dengan mata yang sudah sembab.


Saka yang mendenga membelaak terkejut. “Dari mana kamu tahu itu, Feli?” tanya Saka merasa tidak penah mengatakan apa pun kepda gadis di hadapannya.


“Frengky,” jawab Feli dengan tangis terisak, “aku bahkan merutuki diriku sendiri karena aku terlalu jahat sama kamu, Saka. Aku sering memaki dan bahkan sempat menyakiti hatimu. Aku minta maaf untuk itu,” ujar Feli dengan begtiu tulus.


Saka yang mendengar tersenyum dan mengusap air mata Feli lembut, membuat gadis tersebut langsung luruh dan memeluknya erat. “Jangan menangis. Kamu tidak perlu merasa bersalah. Aku yag mau melakukannya, bukan? Jadi, semua bukan salahmu, Feli,” sahut Saka dengan belaian lembut di rambut lurus Feli.


Feli menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan. Dia sudah meletakan daunya di punak Saka, pria yan masih dicintainya. Rasanya hatinya mulai melega saat ini.


“Aku mencintaumu, Saka,” celetuk Feli membuat gerakan tangan Saka terhenti.


Saka melepaskan pelukannya dan menatap Feli tidak percaya. “Kamu bicara apa, Feli?” tanya Saka berharap Feli akan mengulanginya.


Feli tersenyum lembut melihat wajah tidak percaya Saka yang ada di hadapannya. “Aku mencintaimu, Saka,” ulang Feli.


Saka yang mendengar hendak menjawab, tetapi terhenti karena bibir gadis tersebut sudah menempel di bibirnya, bahkan berusaha masuk. Saka yang mengerti segera membuka mulut, menikmati ciuman yang tengah mereka lakukan.


Aku juga sangat mencintamu, Feli, batin Saka penuh kebahagiaan.

__ADS_1


_____


__ADS_2