Wedding With My Lecturer

Wedding With My Lecturer
Bagian 37_Terasa Memilukan


__ADS_3

Eiren melangkahkan kaki ketika mendengar Elio masih asyik berceloteh, sedangkan dia hanya asyik mengatur rasa kecewa agar tidak terlihat di depan kedua orang tuanya. Eiren memasuki ruang tamu dengan wajah datar dan luka yang disamarkan.


“Elio,” panggil Eiren pelan.


Elio yang masih asyik bercerita dengan orang tuanya langsung mengalihkan pandangan dan mengulas senyum simpul. Matanya menatap gadis yang terlihat tidak begitu terurus di depannya.


“Kamu baru datang, Eiren? Bukannya hari ini kamu tidak ada jadwal kuliah,” celetuk Elio sembari memperhatikan lekat.


Eiren menghela napas perlahan dan melangkah duduk di kursi berselahan dengan Elio. “Aku hanya ingin bertemu seseorang. Ada perlu apa kamu ke rumah orang tuaku?” tanya Eiren dengan suara dingin dan tidak bersahabat.


Elio yang mendengar tertawa kecil dan menatap ke arah Eiren yang masih duduk. “Aku hanya memberitahukan kedua orang tuamu jika aku akan segera menikah denganmu. Anggap saja ini adalah lamaranku meski tidak secara langsung,” jawab Elio tanpa rasa bersalah sama sekali.


Eiren yang mendengar menghembuskan napas keras dan menatap cuek. “Terserah apa yang akan kamu lakukan, Elio. Aku tidak peduli sama sekali,” ujar Eiren yang sudah malas mengurusi kehidupannya sendiri.


Arda yang melihat anaknya langsung menelan salivanya kasar dan menatap Eiren dengan pandangan memberi peringatan. Namun, anaknya bahkan tetap tidak berkutik dan bertingkah sesukanya.


“Eiren,” tegur Arda membuat Eiren menatap ke arah papanya. “Kamu tidak boleh begitu. Lagi pula Elio....”


Suara ponsel membuat ucapan Arda menggantung begitu saja. Elio yang merasakan getaran dari kantung jasnya segera mengeluarakan ponselnya dan melihat nama Rega tertera di layar. Elio menatap kedua orang tua Eiren dan segera keluar tanpa meminta izin.


Setelah dirasa Elio sudah menjauh, Arda menatap Eiren dengan pandangan tajam. “Eiren, ubah sifatmu dengannya. Bagaimana pun dia adalah calon suami kamu. Papa dan Mama sudah memberikan restu untuk kalian berdua menikah,” ucap Arda membuat Eiren tersenyum kecil dan menatap orang tuanya sinis.


“Sebenarnya meski dia tidak meminta izin, pernikahan ini akan tetap selesai. Lagi pula, restu Papa tidak penting untuk Eiren,” jawab Eiren dengan nada sinis.

__ADS_1


“Eiren, bagaimana pun kami adalah orang tua kamu. Jadi bisa hormati kami meski sedikit saja?” sela Audi dengan pandagan tajam ke arah Eiren. Dia tidak menyangka jika anaknya selalu mengatakan hal menyakitkan ketika berbicara dengannya dan juga Arda.


“Kalian minta dihormati?” ulang Eiren dengan pandangan dingin, “aku rasa kalian juga harus sadar. Aku anak kalian yang tidak pernah dipedulikan sejak lahir. Aku anak yang sudah kalian tinggalkan secara tidak langsung. Jadi, apa kalian juga memperlakukanku seperti sewajarnya? Di saat semua anak bergandengan tangan dengan kedua orang tuanya, apa kalian tahu apa yang aku rasa? Kalian tidak tahu,” oceh Eiren dengan senyum sinis ke arah orang tuanya.


“Selama ini aku diam karena memang tidak ingin membahasnya. Tetapi kalian selalu saja membahas hal yang sama dan aku muak.” Eiren segera bangkit dan hendak melangkah ke kamar. Namun, langkahnya dihentikan oleh suara Arda yang teras melembut.


“Kami tahu, kami memang selalu sibuk sendiri-sendiri. Kami tidak memperhatikanmu sama sekali dan kami minta maaf untuk itu. Tetapi, Eiren. Saat ini kondisi keuangan perusahaan papa benar-benar berada diambang kehancuran. Papa memiliki hutang di perusahaan Elio dan....”


“Dan Papa meminta Eiren menikah dengannya agar hutang Papa lunas,” potong Eiren tepat sasaran. Eiren yang tidak mendengar jawaban dari papanya memejamkan mata meresapi rasa luka yang begitu menyayatnya. “Asal Papa tahu, Eiren menikah dengan Elio bukan untuk melunasi hutang Papa. Meski perusahaan Papa masih seperti dulu dan tidak ada restu dari kalian, aku akan tetap menikah dengan Elio,” lanjut Eiren dengan suara tegas dan air mata menitik.


Karena aku tidak memiliki pilihan lain, batin Eiren menjerit.


Eiren melangkah meninggalkan ruang tamu dan masuk ke kamar. Di luar, Elio sudah mendengar semua percakapan keduanya dan menatap Eiren dengan pandangan datar.


_____


Dora melangkah memasuki rumah megah dengan banyak body guard yang berjaga di depan rumah. Matanya menatap dengan sinis setiap pegawai yang menunduk ketika dirinya melangkah melewati. Wajah sombong dan arogan terasa begitu menyebalkan untuk seluruh pegawainya, tetapi mereka hanya bisa diam dan tidak berani mengatakan apa pun.


Dora menghempaskan tubuhnya dan beristirahat di sofa ruang utama di rumahnya. Matanya memejam dengan senyum manis yang sudah menghiasi sejak keluar dari rumah Alex. Dia merasa begitu senang dengan keputusan Alex yang akhirnya akan menikahinya secepat mungkin.


“Kamu sudah pulang, Dora?” tanya seorang pria dengan kerut wajah dalam yang berdiri di tangga dan menatapnya dengan pandangan tajam.


“Iya,” jawab Dora dengan wajah santai.

__ADS_1


“Semalam kamu dari mana saja? Glen mencarimu,” ujar Lupi, papa Dora dengan langkah tegas yang mengarah kepadanya.


Dora yang mendengar nama itu disebut langsung menatap papanya tanpa minat sama sekali. “Jangan bicarakan mengenai dia, Pa. Aku sedang tidak mau membicarakannya. Akan jauh lebih baik kita membicarakan mengenai perniakahanku dengan Alex,” ucap Dora dengan wajah sombong.


“Apa?” tanya Lupi dengan mata menatap tajam ke arah anaknya. “Alex akan menikahimu?”


“Tentu. Dia akan menikahi Dora dan sebentar lagi keluarganya akan datang melamar,” jelas Dora dengan senyum sumringah.


Lupi menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. “Kamu sudah menjelaskan mengenai Glen?” tanya Lupi dengan pandangan menyelidik.


Dora yang mendengar segera bangkit dan menatap papanay dengan wajah kesal. “Glen lagi Glen lagi. Dora sampai pusing mendengarnya, Pa. Dora gak mau dengar mengenai anak itu lagi,” tegas Dora dengan tatapan menajam.


“Dora!” bentak Lupi merasa kesal dengan tingkah anaknya.


“Apa?” jawab Dora dengan nada yang tidak kalah tinggi, “Papa mau memarahi Dora karena gak mau menganggap Glen ada? Silahkan. Dora sudah lelah harus selalu mengurusnya. Dora bahkan gak mau dia hadir,” tegas Dora dengan mata membelalak kesal.


Lupi yang mendengar mengepalkan jemarinya erat dan menatap Dora dengan pandangan tidak suka karena mendengar ucapan anaknya yang seperti tidak menganggap Glen ada di kehidupannya.


“Sampai kapan pun aku tidak akan pernah membeirtahukan mengenai Glen kepada Alex, Pa. Aku tidak mau mengatakan jika aku sudah pernah bersuami dan itu juga karena kesalahan yang diperbuat oleh ayah anak bodoh itu,” celetuk Dora dengan suara sinis dan mata menatap tajam.


Plaak.


Lupi yang sejak tadi sudah menahan amarahnya ternyata gagal dan menatap ke arah Dora dengan pandangan tajam. “Aku harap Glen tidak mendengar ucapan kamu sama sekali, Dora. Aku harap dia juga tidak pernah mengakuimu sebagai wanita yang telah melahirkannya,” desis Lupi dengan mata menajam dan segera pergi meninggalkan anaknya. Dia merasa kecewa dengan sikap Dora yang mengabaikan Glen, anak kandungnya.

__ADS_1


_____


__ADS_2