Wedding With My Lecturer

Wedding With My Lecturer
Bagian 41_Mulai Menikmati


__ADS_3

Feli melangkah menyusuri lorong kampus yang penuh sesak dengan banyaknya mahasiswa dan mahasiswi yang mulai berkeliaran di depan ruang dosen. Semua sibuk menjalani bimbingan skripsi dan mencari dosen pembimbing. Masih asyik menikmati suasana ramai, Feli dikagetkan dengan suara deheman dari arah belakang. Awalnya dia hanya mengabaikan begitu saja dan terus melangkah. Namun, setelah sampai di ujung lorong ruang dosen, seseorang kembali berdehem keras dan menepuk pundaknya. Membuat Feli mengalihkan pandangan dan berbalik menatap sang pelaku.


Feli berdecih kesal ketika melihat Jessi sudah berada di belakangnya dengan senyum manis yang dibuat-buat. Rasanya dia benar-benar ingin mengusir gadis di belakangnya dengan segera.


“Hallo Feli,” sapa Jessi sembari melambaikan tangan dengan wajah ramah.


Feli yang disapa tersenyum kecut dan menatap Jessi tanpa minat. “Ngapain?” tanya Feli cuek.


“Cuek banget. Kita, kan, teman,” ujar Jessi dengan tidak tahu malu.


Feli yang mendengar tertawa kecil dan menatap Jessi dengan tawa yang ditahan. Rasanya dia ingin tertawa keras di hadapan gadis tersebut. Teman? Bahkan dia tidak pernah bermimpi memiliki teman seperti Jessi yang jelas-jelas bermuka dua.


“Teman katamu?” tanya Feli dengan tatapan jenaka. “Aku bahkan tidak berniat menjadi temanmu sama sekali, Jessi,” imbuh Feli dengan mata menatap Jessi lekat.


Jessi yang mendengar hanya cuek dan tetap menampilkan senyum manisnya. “Terserah apa katamu.”


“Tentu,” jawab Feli santai dan bersedekap di dada. Matanya mengamati Jessi dengan penuh tanya karena Jessi jarang sekali menegurnya. Namun, Feli kembali cuek dan hendak melangkah ketika Jessi kembali menghentikannya. Feli menatap Jessi dengan pandangan tajam dan menaruh curiga.


“Kenapa?” tanya Feli dengan nada ketus.


“Aku cuma mau tanya, sekarang di mana Eiren? Aku bahkan tidak pernah melihatnya di kampus akhir-akhir ini,” selidik Jessi dengan rasa penasraan menggebu. Dia ingin tahu di mana sekarang Eiren berada.


Feli yang mendengar menghela napas perlahan dan menatap Jessi dengan wajah tanpa minta. “Jadi kamu cuma mau tanya itu saja? Aku rasa kamu perlu mengurasi sedikit rasa ingin tahumu mengenai masalah seseorang, Jessi. Selain itu aku juga ingin mengatakan maaf karena aku tidak tahu di mana Eiren saat ini,” ucap Feli sembari menepuk pelan pundak Jesi dan menatap prihatin.


“Bagaimana bisa kamu gak tahu di mana Eiren sekarang? Bukankah kamu sahabatnya?” tanya Jessi dengan mata membelalak.


Feli mengangkat pundak pelan dan menggeleng dengan senyum sinis. “Memang begitu adanya. Mungkin dia sudah bahagia dan tahu kamu akan merusak kebahagiaannya. Makanya dia tidak memberitahu," celetuk Feli diiringi tawa keras dan melangkah pergi.


Jessi yang melihat Feli berlari menghentakan kaki kesal. Terlebih ketika Feli menjulurkan lidah mengejeknya. Rasanya Jessi ingin menghajar Feli di tempat. Belum lagi dia tidak mendapat informasi di mana Eiren sekarang berada. Semua terasa lengkap untuk membuatnya menjadi begtiu kesal.

__ADS_1


“Sialan,” gumam Jessi dengan wajah mengeras.


_____


Eiren menghela napas lega ketika sudah menyelesaikan tugas pertamanya. Proposal yang baru saja dicoret Elio sudah diperbaiki. Matanya menatap dengan wajah sumringah tumpukan kertas yang baru saja di print dan disusun. Rasanya dia benar-benar tidak menyangka dapat menyelesaikan dengan cepat.


“Semangat, Eiren. Kamu pasti bisa lulus di semester depan,” ujar Eiren semangat. Dia harus segera lulus agar bisa segera membebaskan diri dari Elio yang selalu bertingkah seenaknya saja.


“Kenapa kamu begitu semangat untuk lulus cepat?” tanya Elio yang baru saja datang dari dapur dengan dua cappucino di tangan. Elio melangkah ke arah Eiren duduk dan meletakan gelas milik Eiren.


“Terima kasih,” ucap Eiren dengan senyum sumringah. Dengan cepat dia mulai menyesap cappucino tersebut dengan rasa tenang yang menjalar. Dia sudah terbiasa dengan kehadiran Elio di apartemen tersebut. Pasalnya, Elio memang tidak pernah pulang ke rumahnya sama sekali.


“Eiren, kamu belum menjawab pertanyaanku. Kenapa kamu bersemangat sekali untuk lulus semester depan?” ulang Elio.


“Karena aku ingin segera mencari pekerjaan, Elio. Aku tidak mau numpang hidup terus,” jawab Eiren santai. Dia sudah bersandar di sofa ruang tamu Elio dengan kaki yang diselonjorkan.


“Kenapa kamu bekerja? Aku bahkan bisa memberimu makan tanpa kamu harus bekerja keras,” celetuk Elio membuat Eiren sedikit tersedak.


Elio yang mendengar terkikik geli dan mengacak rambut Eiren, menbuatnya berantakan. “Bukankah aku mengatakan hal benar, Eiren? Kita akan menikah,” jelas Elio dengan mata menatap Eiren lekat.


Eiren yang melihat mata Elio diam sejenak. Dia merasa tertarik dengan mata yang seperti menghipnotisnya. Rasanya baru kali ini dia memperhatikan Elio dengan benar.


“Eiren,” panggil Elio dengan kening berkerut bingung. Matanya menatap Eiren yang sejak tadi hanya diam dengan mata menatapnya lekat. Membuat Elio terasa salah tingkah.


Eiren tersadar dari lamunannya da menatap Elio datar. “Kenapa?” tanya Eiren bingung.


“Harusnya aku yang bertanya kenapa. Kamu kenapa diam saja? Ada yang salah?” tanya Elio.


Eiren menggelengkan kepalanya pelan dan tersenyum. Dia kembali menatap ke layar televisi, enggan menatap mata Elio yang dengan mudah membiusnya. “Tidak apa. Aku hanya berpikir bagaimana caranya agar segera lulus,” sahut Eiren berbohong.

__ADS_1


“Kalau memang mau mu begitu, kamu harus kerja keras, Eiren. Kamu harus berhenti bermain-main dan mengerjakannya dengan benar. Dengan begitu kamu akan lulus cepat,” saran Elio menatap ke arah televisi dan berdecak kesal.


“Kenapa kamu selalu menonton film seperti itu, Eiren. Aku bahkan lelah melihat kucing dan tikus yang selalu berkejaran,” gerutu Elio karena Eiren selalu saja menontn film yang sama.


Eiren yang mendengar film kesukaannya diejek menatap Elio dengan tatapan membunuh. “Kenapa kamu yang ribut? Tidak ada yang menyuruhmu ikut menonton, Elio. Kamu bisa pergi,” celetuk Eiren dengan wajah kesal.


Elio hanya berdecak kesal, tetapi masih memperhatikan film yang katanya melelahkan dengan tawa kecil. Eiren yang mendengar mendongak dan terkikik kecil.


Katanya gak suka, eh dia yang meresapi malahan, ejek Eiren dalam hati.


Masih asyik dengan suasana damai setelah perang, Eiren dikagetkan dengan getar ponselnya. Menandakan ada pesan masuk. Dengan malas, Eiren membuka ponsel yang diletakan di lantai dan membuka pesan tersebut.


From: Alex


Bisa bertemu? Please. Aku ingin kita menyelesaikan semuanya dengan baik, Eiren. Aku tunggu di cafe biasanya.


Eiren yang membaca diam sejenak dan menghela napas perlahan. Jemarinya meremas ponselnya, mencoba menguatkan hati untuk mengambil keputusan. Setelah dirasa baik, dia menatap Elio yang masih asyik di sofa.


“Elio, aku mau keluar sebentar,” ucap Eiren segera bangkit dan mengambil tas kecil di dekatnya.


“Ke mana?” tanya Elio dengan kening berkerut. Matanya menatap Eiren yang sudah melangkah dan membak pintu apartemen.


“Aku akan menikah denganmu, kan? Jadi bisa kasih waktu sebentar agar aku bisa bersama dengan teman-temanku. Aku merindukan mereka,” kata Eiren dengan wajah memohon.


Elio yang mendengar hanya mengangguk. “Jangan pulang terlalu malam,” pesan Elio dan hanya dijawab dengan acungan jempol.


Elio menatap pintu yang sudah tertutup dan menghela napas pelan. Dia bangkit dan meletakan gelasnya di dapur. Setelah itu dia meraih kunci mobil dan melangkah keluar apartemen.


Aku penasaran, dengan siapa dia akan bertemu, batin Elio langsung menuju ke parkiran dan mulai mengikuti Eiren.

__ADS_1


_____


__ADS_2