
Eiren menggeliat dalam tidurnya ketika dirasa cahaya matahari mulai menembus ventilasi yang langsung mengenai matanya, membuat kenyamannya terganggu begitu saja. Eiren membuka mata perlahan dan menyesuaikan dengan pemandangan asing yang langsung menyapa. Ruangan dengan dominasi gelap dan juga bau maskulin yang langsung menyeruak masuk dalam hidungnya.
“Di mana ini?” tanyanya dengan diri sendiri dan mulai meneliti setiap inci dari ruangan tersebut. Namun, tidak ada siapa pun yang dapat menjelaskan.
Eiren baru akan bangkit ketika di rasa bagian bawahnya mengalami nyeri. Dengan cepat dia membuka selimut tebal yang membungkusnya dan mendapati tubuh tanpa sehelai benang. Ditambah ada bekas darah kering pada bagian kewanitaannya.
“Apa?” ucapnya pelan dengan mata membola.
Eiren merasa begitu lemas seketika. Dia menghela napas beberapa kali mencoba membiaskan diri dengan rasa sakit yang masih dirasa. Kakinya mulai turun dari ranjang dan ingin segera ke kamar mandi. Ingatan tentang malam di mana Elio mengambil keperawanannya membuatnya kembali tersadar. Bahkan ada begitu banyak tanda di tubuhnya yang diketahui itu adalah hasil karya pria yang sama.
Eiren meringis merasakan sakit yang menyerang. Dengan tangan yang masih memegang selimut untuk menutupi tubuhnya, Eiren mulai melangkah. Namun, baru dua langkah, suara pintu terbuka membuatnya harus berhenti dan menatap ke sumber suara.
“Eiren, kamu sudah bangun?” tanya Elio yang datang dengan membawa nampan berisi makanan dan minuman yang sengaja disiapkan untuk Eiren.
Eiren hanya mengangguk ketika pria yang sudah mengambil saat pertamanya mulai melangkah masuk dan menutup pintu kamar. Setelah meletakan nampan tersebut, Elio mulai menghampiri Eiren yang masih diam sembari memegang pinggiran ranjang.
“Apa sakit?” tanya Elio dengan wajah khawatir.
Eiren yang mendengar hanya diam dan mulai melangkah lagi. Namun, karena rasa sakit yang menyerang, langkahnya menjadi terhenti dan helaan napas keras terdengar.
Elio yang melihat berdecak kesal dan langsung mengangkat Eiren tanpa meminta persetujuan.
“Aaa..Elio, turunkan,” teriak Eiren ketika Elio dengan ringan mengangkat tubuhnya.
“Aku cuma mau bawa kamu ke kamar mandi. Kamu harus segera membersihkan tubuhmu,” jelas Elio tanpa menatap Eiren.
Eiren yang mendengar hanya diam dan menurut. Tangannya bahkan sudah dikalungkan ke leher Elio yang mulai membawa masuk. Pria tersebut menurunkan Eiren di bath up dan melepaskan selimut yang menutupi tubuh Eiren.
“Jangan,” ujar Eiren dengan pandangan memperingatkan.
Elio terasa tuli dan langsung menyentak tangan Eiren, sehingga selimut tersebut tidak lagi menutupinya. Elio hanya cuek dan sibuk menghidupkan air hangan dan mengangkat Eiren yang sudah menutupi bagian intinya dengan telapak tangan.
“Mandilah. Setelah ini aku ingin berbicara denganmu,” ucap Elio dan langsung meninggalkan Eiren seorang diri.
__ADS_1
Eiren menatap pintu yang sudah tertutup dengan senyum tipis yang menunjukan kepedihan. Dia merasa lelah dengan kehidupan yang terasa tidak adil untuknya. Kekasih pergi dan sekarang kehilangan mahkota dengan orang yang bahkan bukan siapa-siapanya.
Eiren menunduk menatap dirinya dalam pantulan air yang mulai goyah. Jujur, ada rasa sakit dalam hatinya. Namun, dia juga enggan memaki Elio karena semua terasa percuma. Dia tetap tidak akan bisa kembali seperti dulu.
Eiren hanya menghela napas kasar dan melanjutkan mandinya. Dia hanya akan mandi dan segera keluar dari tempat yang ditinggali saat ini. Mencoba melupakan kesalahan semalam dan menjalani hari-hari seperti biasa.
_____
Eiren keluar dengan baju handuk yang sudah melilit tubuhnya. Rambutnya dibiarkan tergerai dengan beberapa tetes air yang mulai menetes. Matanya menatap ke seluruh ruangan dan tidak mendapatkan siapa pun di ruangan tersebut.
Di mana Elio?, tanya Eiren dalam hati.
Matanya menangkap paper bag yang entah apa isinya. Dengan langkah cepat, dia segera menuju ke sana. Eiren membuka isi paper bag yang ternyata adalah pakaian wanita. Eiren menghela napas panjang dan segera mengenakannya. Dia tahu itu adalah pakaian untuknya karena setahu dia, Elio belum memiliki istri.
Setelah selesai merapikan diri, Eiren kembali melangkah menuju ke sisi ranjang yang lain dan menatap nampan berisi makanan. Jika dia menjadi wanita lain, pasti akan memilih segera keluar dan memaki Elio dengan aie mata berderai. Namun, Eiren memilih hal lain. Dia hanya mendiamkan Elio dan memakan apa yang sudah disiapkan. Dia enggan membuat perutnya merasa kosong dengan demoan cacing di dalamnya.
“Sudah selesai?” tanya Elio yang baru saja masuk dari balkon kamar.
Eiren yang tengah menyendok makanan menatap dengan mata membola. “Sejak kapan kamu ada di sana?” Eiren malah balik bertanya dengan mata membelalak.
“Apa?” Sontak Eiren menelan makannya dengan susah payah. Matanya semakin membola menatap Elio yang sudah melangkah ke arahnya.
Elio duduk di ranjang, berhadapan dengan Eiren yang masih memangku piring. Elio meraih piring dari tangan Eiren dan mulai menyuapi wanita di hadapannya. Awalnya Eiren menolak, tetapi Elio terus memaksa, membuatnya menyerah dan menurut.
“Eiren, maaf,” ucap Elio yang sudah memasukan makanan ke mulut Eiren. Wajahnya tampak begitu gusar.
“Untuk?” tanya Eiren dengan kening berkerut.
“Untuk semalam. Aku benar-benar bingung bagaimana harus menenangkanmu. Jadi....”
“Sudah,” potong Eiren enggan membahas mengenai kegiatan semalam, “kita lupakan semuanya. Aku juga salah karena terus menggodamu. Tetapi, terima kasih karena sudah menolongku.” Setidaknya bukan orang aneh semalam yang merenggut hal berharganya. Meski dia masih sangat menyayangkan perbuatan Elio.
Elio menatap gadis tegar yang masih mengunyah makanannya pelan. “Kamu tahu siapa yang memberimu obat perangsang?” tanya Elio dengan mata menyelidik.
__ADS_1
Eiren menggeleng. “Aku hanya ingin melupakannya. Jadi, bisa kamu jangan bahas masalah semalam?” pinta Eiren.
Elio yang mendengar mengangguk paham dan kembali menyuapi Eiren hingga habis. Hening. Itulah suasana di kamar Elio. Sunyi karena dua mahluk penghuninya sibuk dengan pikiran masing-masing. Sampai sebuah deheman membuat Eiren yang diam kembali menatap Elio dengan wajah datar.
“Eiren,” panggil Elio pelan. Matanya kembali menatap mata Eiren yang tampak begitu meneduhkan.
Eiren masih diam karena pria di hadapannya juga ikut diam. Rasanya dia benar-benar enggan menanggapi atau pun berbasa-basi untuk hari ini. “Ada apa, Elio?” tanya Eiren dengan suara lemah.
Elio mengirup napas dalam dan menghembuskan perlahan. Matanya menatap Eiren yang masih setia memandangnya. “Aku tahu semalam kita sudah melakukan hal gila yang ternyata itu adalah pertama untukmu,” jelas Elio dengan pandangan yang menunjukan keseriusan, “aku berniat akan menikahimu setelah ini,” putus Elio membuat Eiren membelalak tajam.
“Gak lucu,” desis Eiren dengan wajah marah.
“Aku serius, Eiren. Aku akan menikahimu, aku akan bertanggung jawab dengan anak yang kamu kandung,” kekeh Elio dengan pandangan tajam.
Eiren turun dari ranjang dan mengambil tas yang diletakan di sofa tidak jauh dari ranjang. Matanya menatap pria yang tengah memandang dengan bibir terkatup rapat. “Elio, melakukan satu kali belum tentu membuatku hamil. Jadi, akan lebih baik kamu lupakan niat konyolmu itu.”
“Tetapi semalam aku tidak mengenakan pengaman,” jelas Elio membuat Eiren semakin frustasi.
Eiren menghela napas dan menatap Elio tajam. “Itu juga belum tentu membuatku hamil seketika. Jadi, aku harap kamu jangan pernah ungkit masalah ini lagi. Mulai hari ini, anggap kita tidak pernah melakukannya. Anggap aku hanya mahasiswi biasa seperti dulu,” tegas Eiren dan langsung keluar.
Elio hanya menghela napas kasar mendapati Eiren yang sudah keluar dari kamar dengan wajah menunjukan kekesalannya. Sedangkan Eiren, dia melangkah menuruni tangga. Matanya tidak memperhatikan suasana yang berbeda dari sebelumnya. Bahkan, ketika pundaknya tanpa sengaja menyenggol keras pundak orang lain, dia hanya cuek dan melangkah terus.
Menikah? Bahkan hubunganku dengan Alex saja belum jelas ujungnya, batin Eiren mulai tidak percaya dengan cinta.
_____
🌹🌹🌹🌹🌹
Selamat beraktivitas sayang-sayang Kim. Ada yang nunggu update cerita ini gak? Maaf ya karena Kim kemarin gak update. Kim masih urusan. Tetapi, mulai besok Kim akan update seperti biasa. Please, tetap tunggu dan baca cerita ini sampai akhir ya 😢😢😢
Kuy, jangan lupa tinggalkan like, comment, tambah ke favorit agar tahu kalau Kim update dan vote.
Yang belum baca cerita Kim satunya bisa mampir yuk. Judulnya "Wedding Drama". Ditunggu Like, comment, vote dan tambahkan ke favorit.
__ADS_1
See you again sayang-sayangkuh 😚😚😚
🌹🌹🌹🌹🌹