
▪︎▪︎▪︎▪︎
"Dia memang seperti itu, tapi Ar orang yang baik bahkan dia itu jelamaan malaikat." Tutur Al. Saat ini pemuda itu sudah ikut bergabung bersama Auryn duduk di bangku taman yang tadi diduduki gadis itu.
"Heh, malaikat apanya?" Cibir Auryn kesal.
"Malaikat maut." Saut Aldric diurai dengan senyuman. Sesaat Auryn terkesima dengan senyuman itu, senyum tulus dan hangat lain jika dengan Archie pria itu hanya bisa tersenyum sinis bahkan terkadang mengerikan.
"Ehemm…" Aldric berdehem membuyarkan Auryn yang menatapnya.
"Ah maaf Tuan." Ujarnya malu karena tertangkap basah menikmati senyuman kembaran kekasihnya.
"Tidak masalah." Ucap Al santai, ia tak masalah akan hal itu.
"Maaf Tuan, saya harus kembali bekerja." Pamit Auryn seraya menyembunyikan rona merah diwajahnya.
"Oh oke. Sampai jumpa lagi Nona." Aldric melambai kearah Auryn, saat gadis itu menjauh darinya.
"Gadis yang menarik, Ar beruntung memilikinya. Semoga ia bisa merubah sifat Ar yang dingin itu." Guman Aldric masih memperhatikan gadis itu yang semakin jauh.
^^^^
Jam kerja Auryn telah berakhir, gadis itu bersiap untuk pulang. Ia berkemas di lockernya mengganti seragam hotel dengan pakaian biasanya, setelahnya barulah ia pergi.
"Sudah mau pulang Ryn?" Di ujung lorong ia bertemu Kate yang menyapanya.
"Iya Kak, Ryn duluan ya." Pamitnya.
"Pulang dulu atau lansung ke rumah sakit Ryn?" Kate kembali bertanya.
"Pulang sebentar Kak, malam ini Ryn mau menemani Ibu." Ujarnya melanjutkan langkah.
"Mm…hati-hati." Teriak Kate tatkala gadis itu sudah semakin menjauh.
"….." Auryn hanya melambaikan tangannya sabagai jawaban.
Sorenya, Auryn mengunjungi Ibunya dirumah sakit seperti biasa dan malam ini ia akan menginap disana. Namun aneh, Archie yang biasanya selalu menanyainya kali ini tidak. Entah kemana pria mesum itu pergi pikir Auryn.
"Bu, Ibu susah makan?" Tanya Auryn menghampiri Ibunya yang masih saja terbaring di ranjang rumah sakit.
"Kau sudah datang nak?" Melodi tersenyum senang kearah putrinya.
"Mm…bagaimana kabar Ibu hari ini?" Kini gadis itu tengah duduk diranjang Ibunya, tepat disisi wanita yang sudah memberinya kehidupan itu.
"…." Melodi menggeleng tapi tetap dengan senyumnya.
"Ibu semakin sakit disini. Sebaiknya Ibu pulang saja nak, untuk apa menghabiskan banyak uang jika akhirnya Ibu akan tetap kalah dari penyakit ini." Jelas sekali wanita paruh baya itu lelah dengan kondisinya saat ini.
__ADS_1
"Bu, Ryn mohon jangan bicara seperti itu. Ibu harus kuat demi Ryn hiks…" tak tahan mendengar penderitaan Ibunya gadis itu mulai menangis.
"Hanya satu pinta Ibu, menikahlah sebelum Ibu tidak ada lagi disisi mu." Tangan kurus itu membelai lembut surai indah putrinya.
"Itu tidak mungkin Bu.." air mata terus saja berjatuhan diwajah cantiknya.
"Kenapa? Bukankah Archie itu kekasih mu?" Ujar Melodi lagi kini tangannya beralih mengusap air mata yang membasahi wajah ayu anak semata wayangnya.
"Tapi Bu... sebenarnya-" hampir saja Auryn memberitahu Ibunya, beruntung seseorang yang berada di pintu tertangkap pandang oleh Melodi.
"Eh nak Ar. Kenapa berdiri disitu? Ayo masuk nak." Panggil Melodi, seraya mempersilahkan calon menantunya masuk.
Deg
Auryn sangat terkejut setengah mati, hampir saja ia memberitahukan pada Ibunya. Jika sampai hal itu terjadi tidak tau akan diapakan dia oleh pria yang berstatus kekasihnya itu.
Perlahan Auryn menoleh, perasaan lega lansung melingkupi hatinya begitu melihat siapa yang datang.
"Aldric..." gumamnya lalu menghampiri pria itu. Entah sejak kapan mereka dekat, yang jelas Auryn lebih santai jika bersama kembaran kekasihnya itu.
"Sedang apa kau disini? Apa kak Kate yang memberitahu mu?" Tanya Auryn begitu sudah berhadapan dengan Aldric.
"Mau berkenalan dengan Ibu mu." Jawab pria itu enteng.
"Kenapa diam disana saja? Mari sini masuk nak." Panggil Melodi yang melihat mereka berbisik didepan pintu masuk.
"Kakak kembar? Kekasih mu kembar nak? Pantas saja Ibu melihatnya tadi berbeda." Kekeh Melodi, lucu saja pikirnya.
^^^^
Selepas pertemuan makan malamnya dengan Cerry, pikiran Ar jadi kacau. Wajahnya mengeras menahan amarah entah untuk apa. Saat ini yang terlintas di pikirannya hanyalah Auryn, wajah teduh gadis itu mampu mengendalikan emosinya tapi tidak dengan hasratnya.
Tut
Tutt
Sudah dua kali Ar menghubungi gadisnya tapi tak kunjung di jawab. Ia memutuskan untuk menghubungi Kate, pasti sepupunya itu tahu dimana keberadaan Auryn.
"Apa?" Ketus Kate diseberang sana.
"Dimana dia?" Lansung saja Ar menanyakan gadisnya.
"Jika yang kau tanya itu Auryn, dia punya nama Ar." Kate semakin kesal.
"Terserah. Katakan dimana dia?"
"Heuhh…menemani Ibunya. Kemana lagi! Kau in-"
__ADS_1
Tut tut tut
Ar segera memutus sambungan setelah ia mengetahui keberadaan Auryn.
Sementara diseberang sana, Kate semakin kesal karena adik sepupu jauhnya itu memutus panggilan secara sepihak. "Dasar anak nakal." Gerutunya sendiri.
Tak butuh waktu lama untuk Archie sampai di rumah sakit, karena memang jarak restoran dengan rumah sakit tidak terlalu jauh.
"Eh nak Archie, kau kemari juga nak?" Tanya Melodi begitu Archie memasuki kamar rawat Ibu dari gadisnya.
"Iya Bibi. Dimana Ryn?" Tanyanya cepat ketika tidak mendapati gadisnya didalam sana.
"Oh. Itu, saudara kembar mu kemari petang tadi. Belum lama ini mereka keluar, katanya mau makan malam di kantin." Jelas Melodi.
"Untuk apa dia kesini?" Ia kembali bertanya tapi kali ini dengan geram.
"Nak Archie cemburu ya? Sudah sana susul." Melodi terkekeh melihat raut wajah cemburu calon menantunya.
Tanpa menjawab, ia hanya merespon dengan segera pergi dari sana menemui Kakak juga Kekasihnya. Cemburu atau tidak, ia benar-benar kesal sekarang.
^^^^
"Apa Ibu mu sudah mengalami perkembangan selama dirawat disini?" Karena Auryn tidak berselera makan, jadilah ia hanya menemani Aldric makan malam. Sebenarnya ia enggan menemani pria itu, tapi karena sedikit paksaan juga bujukan dari Ibunya, jadilah mereka disini di kantin rumah sakit.
"…." Cuma gelengan sebagai jawabannya, seraya mengaduk minumannya malas.
"Selama bekerja siapa yang menjaga Ibu mu?" Auryn sudah seperti diinterogasi saja.
"Jika tidak sibuk Bibi July Mamanya Kak Kate yang menemani." Jawab Auryn datar.
"Mm…" Aldric mengangguk paham, lalu tidak ada lagi percakapan antara mereka.
"Apa kau mencintai adik kembar ku?" Cukup lama saling diam, Aldric kembali buka mulut dan menanyakan hal yang cukup privasi.
"S-say-"
"Tentu saja dia mencintai ku, dan aku juga mencintainya." Bukan Auryn yang menjawab melainkan Archie yang tiba-tiba saja sudah dibelakang mereka.
"Ar- Archie.." Auryn terkejut, seketika itu wajahnya berubah jadi pucat.
"Sedang apa disini sayang? Ayo masuk, angin malam tidak baik untuk kesehatan." Archie meraih tangan Auryn untuk membawanya pergi dari sana.
"Mmm…yya Ar. Ayo kita masuk." Auryn mengiyakan saja, karena jujur ia juga sedikit tidak nyaman dengan pertanyaan terakhir dari Aldric.
"Kau tau, aku tidak suka jika milik ku diganggu orang lain." Bisiknya tepat di telinga Aldric sebelum benar-benar membawa gadisnya pergi dari sana.
▪︎▪︎▪︎▪︎
__ADS_1