Your Wife Is Not Your Wife 2 ( Difference )

Your Wife Is Not Your Wife 2 ( Difference )
Rumus


__ADS_3

▪︎▪︎▪︎▪︎


"Mulai hari ini biar Bibi yang mengurusi segalanya." Titah Archie final.


"Tapi kenapa Ar?"


Drett


Tidak menjawab pertanyaan istrinya, pria itu berdiri untuk kemudian berlalu dari sana. Auryn yang menyadari kemarahan suaminya, juga ikut menyusul setelah sebelumnya berpamitan ke Chris.


^^^^


Wanita itu menyusul suaminya ikut ke kamar mereka, tanpa menyelesaikan makan malam. Dibukanya pelan pintu kamar itu dengan pelan, setelah itu ditutup rapat kembali.


Auryn tidak mendapati suaminya disana, sampai suara gemericik air yang berasal dari kamar mandi seolah memberitahunya bahwa pria yang sedang dicari berada didalam sana.


Auryn duduk di salah satu sisi ranjang, setelah sebelumnya ia menyiapkan pakaian tidur untuk Archie.


Sreett


Pintu kaca yang dibuka dengan cara digeser itu tebuka lebar, menampilkan sosok Archie. Ia keluar dengan handuk kecil, melingkar dileher yang digunakan untuk mengusap wajahnya yang baru saja ia basuh.


"Ar…" panggil Auryn lembut. Masih acuh, Archie meraih pakaian yang sudah disiapkan istrinya kemudian berlalu ke kamar mandi lagi.


"Hahh… kenapa dia sampai marah ya? Apa aku melakukan kesalahan yang tidak aku sadari?" Ia bertanya pada diri sendiri, pandangannya kosong dengan pikiran menerka-nerka kesalahan apa gerangan yang telah ia perbuat.


Pikiran wanita itu buyar, manakala ia merasa ranjang yang ia duduki bergerak pertanda ada yang menaikinya juga. Auryn tersentak saat tidak menyadari suaminya itu keluar dari kamar mandi dan melewatinya.


Auryn naik sempurna keatas ranjang, ia menghadap ke arah Archie yang kini tidur terlentang dengan kedua tangan sebagai bantalan.


"Ar, maaf." Cicit Auryn menundukkan pandangannya. Sayang, pria itu tidak menggubrisnya dan malah beralih posisi menjadi membelakangi Auryn.


"Ar, aku minta maaf." Cicit Auryn lagi.


"Bicaralah Ar. Aku tidak akan tau apa kesalahan ku, jika kau tidak bicara?" Nada suara wanita itu perlahan bergetar, menandakan ia hampir menangis.


Tidak tega melihat istrinya merasa bersalah, Archie bangkit dan mendudukkan tubuhnya juga mengahadap Auryn hingga kini mereka saling berhadapan.


"Harusnya aku yang bertanya, kenapa kau berbuat seperti itu?" Perkataan Archie tidak lagi datar, suaranya sudah mulai melembut.


"Berbuat apa? Jelaskan maksud mu Ar?" Toh, wanita itu juga tidak tau apa-apa.


^^^^


Di ruangan lain dirumah yang sama, Chris duduk di balkon sembari menikmati segelas anggur merah. Senyum kemenangan tercetak jelas dibibir yang selalu dilapisi warna merah menyala.

__ADS_1


"Auryn, Auryn…tidak disangka rencana ku berjalan lancar tanpa ada hambatan. Keponakan ku sayang, maaf Bibi harus mempermainkan pernikahan mu." Chris merasa puas sekali telah berhasil menghasut keponakan tersayangnya.


"Ini belum seberapa dari apa yang telah ku lalui Auryn, hidup sendiri dan membesarkan putri ku tanpa seorang Ayah." Air mata perlahan turun dengan sendirinya, meski ia tersenyum.


Dendam telah menutup mata dan hari Chris, wanita itu sama sekali tidak memperdulikan bahkan merasa kasihan pada Auryn. Entah apa hubungannya, hingga saat ini Ibu satu anak itu masih saja menyangkut pautkan kepergian Shane, suaminya dengan Melodi.


^^^^


Kembali ke pasangan Auryn dan Archie, mereka masih duduk saling berhadapan dengan pandangan bersitatap. Archie menatap dalam kedua iris pekat istrinya, seolah mencari jawaban atas keraguannya.


"Ar, katakan sesuatu." Sentak Auryn, menunggu respon dari suaminya itu.


"Tidak seharusnya kau melarang Bibi melakukan pekerjaan rumah. Bibi bukanlah tamu, beliau bebas mau melakukan apa saja dirumah ini." Terang Archie penuh penekanan.


"Maaf Ar." Wanita itu menundukkan pandangannya, kedua tangannya juga saling bertautan.


"Apa alasan sampai kau melakukan itu?" Archie meraih dagu istrinya agar lebih leluasa menatap wajahnya.


"Aku tidak ada maksud apa-apa Ar. Aku pikir, Bibi tidaklah pantas melakukan pekerjaan rumah, sementara ada aku juga Bi Myla disini." Auryn menghela nafas gusar, sebelum kembali melanjutkan kalimatnya.


"Sewaktu Ibu masih ada, aku sudah terbiasa melakukannya. Dalam keadaan apapun, meski lelah pun, sehabis pulang sekolah, bekerja atau berjualan, aku tidak pernah membiarkan Ibu melakukan pekerjaan rumah. Karena ku pikir, Ibu sudah cukup lelah membesarkan dan menjaga ku selama ini." Air mata yang semula hanya menggenang dipelupuk matanya, kini perlahan mulai membentuk anak sungai di wajahnya.


"Sungguh Ar, aku tidak bermaksud apa-apa. Setelah Ibu pergi dan aku masuk ke dalam keluarga kalian, Mommy dan Bibi sudah ku anggap sebagai pengganti Ibu ku." Suara Auryn bergetar, sebab wanita itu mulai terisak.


Masih tidak bersuara, Archie mengangkat sebelah tangannya untuk mengusap air mata diwajah Auryn. Mendengar semua alasan istrinya tadi, Archie merasa bersalah karena sempat meragukan wanita itu.


"Jangan menangis." Kalimat singkat itu terucap dari bibir tipis Archie.


"Maafkan Aku Ar." Lirih Auryn lagi, tangannya menggenggam tangan suaminya. Namun Archie menepis tangan Auryn.


Auryn sedih, ia pikir suaminya tidak mempercayai perkataannya. Tapi tidak lagi setelah pria itu merengkuhnya kedalam pelukan pria itu juga mengecup berulang kali pucuk kepala wanitanya.


"Maafkan Aku, tadi sempat membentak mu. Aku hanya memikirkan perasaan Bibi tapi mengabaikan perasaan mu." Ujar Archie lembut,


"Mm…" Auryn mengangguk disela dekapan hangat suaminya.


"Dengar, setiap ada masalah ayo kita ciptakan rumus untuk menghindari kesalah pahaman." Archie melepas dekapannya, pria itu menyampaikan sesuatu yang baru saja terlintas dipikirkannya.


"Rumus? Untuk apa?" Heran wanita itu.


"Kita bicarakan, cari solusinya, lalu berbaikan." Wajah Archie menggambarkan keseriusan.


"Untuk apa Ar."


"Agar kita tidak seperti tadi lagi."

__ADS_1


"Ar…sakitt." Rengek Auryn saat pria itu mencubit gemas pipinya.


"Bicarakan, cari solusi, berbaikan. Deal. Hehe.." bak seorang murid mengulangi pelajaran yang diberikan oleh gurunya, Auryn mengucapkan kembali rumus yang diciptakan suaminya itu.


"Istri pintar." Penuh kasih, Archie mengusap surai lembut nan indah milik istrinya.


^^^^


Waktu menunjukkan pukul sembilan malam, Auryn merebahkan tubuhnya diikuti Archie yang juga bersiap untuk tidur. Baru memejamkan mata, wanita itu merasa sesuatu merayap diatas perutnya, tepat didalam pakaiannya.


"Ar, tangan mu." Auryn menangkap tangan suaminya supaya berhenti merayap kesana kemari.


Sayang, bukannya berhenti pria yang berstatus suaminya itu malah naik keatas tubuhnya tanpa menghiraukan pekikan wanita itu dan terjadilah olahraga malam mereka.


Selepas kegiatan panas mereka, suami istri itu belum kunjung tertidur. Archie masih memeluk erat wanitanya, sesekali mengecup kening bahkan bahu polos Auryn.


Kruyukk


"Kau lapar?" Archue yang menyadari bunyi itu berasal dari perut istrinya, terkekeh pelan.


"…." Menyembunyikan rona merah di pipinya, Auryn semakin membenamkan wajahnya di dada pria itu.


"Ayo kita makan."


"…." Auryn menggeleng masih menyembunyikan wajahnya.


"Baiklah, tunggu disini. Biar aku ambilkan." Karena ia memang lapar, jadilah Auryn melepas pelukannya.


Tidak berselang lama, Archie kembali dengan membawa satu piring makanan, dan segelas air ditangan satunya lagi. Auryn duduk dengan menyandarkan sebagian tubuhnya di kepala ranjang dengan selimut membalut tubuhnya.


Kenapa ia masih belum berpakaian? Karena suaminya itu tidak akan puas jika hanya sekali.


"Ayo makan." Titah Archie penuh maksud.


"Setelah ini kita lanjutkan lagi, kau tau bukan kegiatan kita tadi belum selesai." Bisik Archie tepat ditelinga istrinya. Benar dugaan Auryn, suaminya itu jika sudah diranjang tidak akan mengenal kata lelah.


▪︎▪︎▪︎▪︎


Yeayy…


Mereka ga berantem dan baik2 aja.


Tapi, kalo teman2 ga memberi dukungan, mereka bakal bertengkar loh...


Wkwkwkk

__ADS_1


__ADS_2