
▪︎▪︎▪︎▪︎
Auryn berjalan lunglai di sepanjang trotoar, langkah kaki membawanya keluar dari rumah sakit. Air mata terus saja mengaliri wajahnya, tidak terbayang sebelumnya jika orang yang sudah menjadi keluarga baginya itu menghakiminya melalui tatapan kebencian.
Auryn tidak bisa membela diri, juga tidak bisa menyalahkan siapa-siala. Toh sejak awal dia sudah berani mengambil resiko ini, resiko untuk dibenci dan dibuang.
"Nona, anda mau kemana?" Gerald yang melihat Nona mudanya berjalan linglung pun menghampirinya takut terjadi sesuatu.
"Paman…" sahut Auryn lirih.
"Paman bantu Nona, mari." Gerald membantu Nonanya masuk ke dalam mobil.
"Paman, antarkan Ryn ke rumah pantai saja. Ryn mau istirahat disana." Biarlah orang menyebutnya pengecut. Untuk saat ini Auryn ingin menenangkan diri dahulu, agar tidak terjadi apa-apa pada bayinya.
Meenjauh nyatanya tidak bisa membuat Auryn tenang, wajah marah Zach terus membayangi dirinya.
Flashback
"Kakak yakin ini hanya kecelakaan biasa. Apa kakak masih berfikir hal yang sama setelah tau siapa wanita ini sebenarnya?" Maki Chris dengan menunjuk kearah Auryn.
"Apa maksud ucapan mu?" Zach merendahkan suaranya.
"Dia. Dia ini putrinya Melodi Kak! Dia sengaja masuk dalam keluarga kita, dan menyembunyikannya. Dia, wanita ini mempermainkan keluarga kita!!" Pekik Chria penuh amarah, dia memanfaatkan kesempatan ini dengan sangat baik.
"Apa? Auryn! Benar yang dikatakan Chris?" Untuk petama kalinya Zach membentak menantunya itu.
"…." Auryn hanya diam saja.
"Jawab!!" Suara lantang Zach menggema dilorong panjang yang kebetulan sedang sunyi itu.
"Dadd, Auryn sedang hamil. Kasihan dia." Aldric yang tidak tega melihat Auryn dibentak tidak bisa tinggal diam. Sementara Archie, pria itu hanya bisa membatu tanpa ada niat untuk membela istrinya.
"Diam kau Al! Jawab pertanyaan saya!" Kembali Zach membentak Auryn. Sementara Chris, wanita itu tersenyum tanpa ada yang melihatnya.
"Y-ya Dadd. T-tapi Ryn ju-ga baru mengetahuinya, tidak yang tadi seperti Bibi katakan. Ryn juga tidak punya niat buruk pada keluarga ini, sungguh Dadd." Auryn tidak bisa membiarkan dirinya fitnah begitu saja.
"Kau pikir aku akan percaya begitu saja? Kau itu sama seperti Ibu mu, Melodi. Pembohong dan licik!" Cerca Zach.
__ADS_1
Deg
Auryn yang semula menunduk, kini mengangkat kepalanya menatap kearah, Ayah mertuanya. Inilah saatnya ia membela Ibunya, meski memang bersalah, setidaknya Ibunya tidak sepenuhnya buruk.
"Tidak Dadd. Ibu Ryn tidak seburuk itu, dia,-"
"Diam!! Kau pikir aku mau mendengarnya? Sebaiknya kau pergi dari sini dan jangan pernah kembali lagi." Zach memutuskan untuk mengusir Auryn secara halus.
"Tapi Dadd,-"
"Pergilah, sebelum aku berbuat kasar." Zach membelakangi Auryn, dalam hati ia juga tidak tega berbuat demikian.
"Maafkan Ibu Dadd, Ryn juga minta maaf jika sudah mengecewakan kalian." Auryn bersimpuh di kaki Ayah mertuanya itu dengan kesulitan sebab perutnya yang besar, bukan untuk dirinya melainkan untuk Ibunya.
"Pergilah."
"Dadd…" lirih Auryn.
"Al, bawa dia pergi dari sini sebelum Daddy memasukkannya kepenjara." Tukas Zach datar.
"Jangan pernah sekalipun kau menamui anak atau istri ku lagi." Zach menambahkan sebelum Auryn benar-benar pergi dari sana.
Flashback off
^^^^
Semenatara di rumah sakit, Archie marah akan Bibinya yang menuduh Auryn sembarangan. Ia hendak menyusul istrinya, yang sayangnya ucapan Zach menghentikannya.
"Mau kemana kau?" Tegur Zach dingin.
"…." Tidak memperdulikannya, Archie tetap lanjut melangkah.
"Selangkah lagi kau pergi dari sini untuk menyusul wanita itu. Jangan harap kau bisa bertemu Mommy mu lagi!!" Selama ia hidup, yang ia tahu ancama Ayahnya bukanlah isapan jempol belaka, artinya Zach tidak pernah main-main akan ucapannya.
"Dadd, dia istri Ar dan dia sedang mengandung sekarang."
"Dia bukan lagi istri mu mulai hari ini!" Tegas Zach.
__ADS_1
"Daddy tidak punya hak untuk memutuskan!" Tantang Archie.
"Beraninya kau melawan Daddy!"
"Daddy lupa apa yang Daddy sampaikan ke Ar satu minggu lalu? Dan Ar memilih Auryn sebab, mereka tanggung jawab Ar sampai kapan pun." Bantah Archie tidak mau kalah.
"Lihatlah kak, wanita itu benar-benar sudah membawa pengaruh buruk. Di,-" sela Chris memanasi suasana.
"Bibi tidak usah ikut campur!" Sedari tadi Archie sudah menahan untuk tidak menegur adik dari Ayahnya itu.
"Archie!!"
"Kenapa Dadd? Mau membela Bibi? Daddy harus tahu, apa yang dikatakan Bibi tadi tidak semua nya benar. Justru Bibi lah yang pertama kali mengetahui jika Auryn itu putri Nyonya Melodi, bahkan Bibi juga yang mengacau rumah tangga Ar dengan Auryn! Bibi mengancam Ar!" Jelas Archie, yang tentu saja membuat Chris terkejut tidak percaya.
"Apapun itu, tetap saja, Auryn putri Melodi dan Daddy membencinya!"Seru Zach lagi.
"Kalau itu keputusan Daddy, maka Ar juga akan membuat keputusan sendiri. Ar akan tetap mempertahankan keluarga Ar meski tanpa Alterio." Ya, Archie sudah memutuskan ini berulang kali. Ia tidak bisa mengabaikan istri juga anak mereka.
^^^^
Di tempat lain, seorang wanita melampiaskan amarahnya pada orang suruhannya. Dia membanting apa saja pada orang itu, juga mencercanya.
"Dasar bodoh! Kau salah menghabisi orang! Sudah ku katakan, habisi wanita hamil itu, kau bodoh!" Bentaknya memaki orang itu yang merupakan seorang pria bertubuh besar nan tegap.
"Maaf Nona, saya sudah tepat sasaran. Hanya saja Nyonya itu datang dan mendorongnya, seketika itulah dia yang saya tabrak. Ini sungguh diluar dugaan saya Nona, beri saya satu kesempatan lagi maka akan saya habisi dia." Mohon pria itu meminta kesempatan lain.
"Kesempatan? Kesempatan apa yang kau maksud? Kesempatan untuk mengacaukan rencana ku lagi hah!"
"Tidak Nona. Berapa kali harus saya katakan, ini diluar dugaan saya." Pria itu tidak mau disalahkan begitu saja.
"Baiklah, akan ku beri kau satu kesempatan lagi. Jika saja sampai kau gagal lagi, kau yang akan ku habisi." Tukas wanita itu berani. Uang memang segalanya, bahkan bisa membuat seorang wanita yang hakikatnya makhluk lemah bisa jadi berkuasa.
"Baik Nona. Akan saya pastikan wanita itu akan mati bersama bayi dalam kandungannya." Pria itu menyanggupi.
"Bagus."
▪︎▪︎▪︎▪︎
__ADS_1