Your Wife Is Not Your Wife 2 ( Difference )

Your Wife Is Not Your Wife 2 ( Difference )
Rencana terakhir


__ADS_3

▪︎▪︎▪︎▪︎


Dikediaman Eric, beberapa orang petugas kepolisian datang dengan membawa surat penahanan. Audrey yang menyambut mereka sangat terkejut dengan tuduhan yang dilayangkan terhadap putrinya.


"Tidak mungkin putri saya berbuat hal sekeji itu Tuan. Kalian pasti salah orang, lagipun Celo itu calon mertuanya, putri saya dan putra sulungnya akan menikah tidak lama lagi." Jelas Audrey dengan wajah pucat.


"Maaf Nyonya kami hanya melaksanakan tugas saja, untuk lebih jelasnya anda bisa ke kantor. Mohon kerja samanya untuk mengatakan dimana keberadaan Nona Cerry." Ujar para petugas itu lagi.


"Baiklah Tuan. Setelah putri saya kembali nanti, akan saya kabari." Audrey tidak tau lagi harus berkata apa.


"Baiklah Nyonya, kami permisi. Terima kasih."


Beberapa orang itu pergi, menyisakan Audrey yang terduduk lemas dilantai rumahnya yang dingin.


^^^^


"Bibi, bagaimana ini? Polisi mendatangi rumah ku, mereka sudah mengetahuinya Bi." Di lain tempat, Audrey yang baru saja pulang dari salon mendengar kabar tentang polisi yang mencarinya.


Mau tidak mau ia harus melarikan diri karena tidak mau dipenjara. Ia juga tidak bisa pulang kerumah sebab, Papanya, Eric pasti akan marah besar dan menyerahkannya pada Polisi.


"Kenapa bisa ketahuan begitu?" Chris ikut cemas dan ketakutan. Ya, ternyata Cerry dan Chris bekerjasama untuk melenyapkan Auryn.


"Pria bodoh itu tertangkap saat tadi mencoba untuk menghabisi Auryn. Bagaimana ini Bi? Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Cerry berteriak frustasi.


"Sebaiknya kau bersembunyi dulu, atau pergi ke suatu tempat yang jauh. Bisa celaka kita jika kau tertangkap, Bibi juga akan ikut tertangkap sebab terlibat dalam rencananya." Chris menyarankan untuk Cerry untuk kabur.


"Ya Bi. Cerry juga tidak mau jika harus masuk penjara, bisa-bisa masa depan Cerry hancur Bi." Pekik wanita itu sarat dengan emosi.


"Ya sayang. Tapi sebelum kau bersembunyi, sebaiknya kita lakukan rencana terakhir kita." Dari nada suaranya, bisa digambarkan Chris tersenyum licik.


"Tentu Bi. Bahkan bagian ini yang paling Cerry sukai." Sama-sama licik. Dua wanita bermuka dua yang saling mendukung keberadaan masing-masing.


"Baiklah, kita akan bertemu disana." Ujar Chris.


"Baik."


Mereka memutus sambungan di ponsel masing-masing. Jika Chris sudah jelas dia dendam akan masa lalunya dengan Melodi, Ibunya Auryn. Sementara Cerry, entah kenapa wanita itu begitu membenci Auryn yang sama sekali tidak pernah memiliki masalah dengannya.


^^^^


Kembali ke kediaman Cerry, Eric lansung pulang ketika istrinya menghubunginya dan menyampaikan yang tadi terjadi di rumahnya. Eric tidak percaya, lagi pula orang tua mana yang percaya jika anaknya melakukan kejahatan sementara kesehariannya selalu bertingkah baik dan sopan.

__ADS_1


"Sayang, bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan?" Audrey menyambut suaminya dengan pelukan yang diiringi tangisan.


"Kita akan pastikan dulu kebenarannya. Beberapa orang ku sudah mencari keberadaan Cerry. Tenanglah, semua akan baik-baik saja." Hanya itu yang dapat Eric lakukan untuk menenangkan istrinya.


"Tapi, bagaimana jika itu benar? Apa yang harus kita lakukan untuk meminta maaf pada Zach? Kita,-"


"Sudahlah. Jangan berpikiran terlalu jauh, setelah kita mengetahui yang sebenarnya terjadi, barulah kita pikirkan langkah selanjutnya."


"Baiklah."


Eric dan Audrey seperti mengalami mimpi buruk. Karena selama ini mereka sudah mendidik putri mereka sebaik mungki, lalu bagaimana bisa terjadi seperti ini. Cerry berubah layaknya menjadi seorang monster yang diam-diam menghanyutkan orang disekitarnya.


^^^^


Hari berganti, dan pagi ini Auryn kembali mencoba peruntungannya untuk minta maaf pada July. Setiap niatnya selalu dibarengi dengan harapan bahwa Ibu dari sahabatnya itu akan memberinya maaf.


"Selamat pagi Bi, bagaimana kabar Bibi pagi ini?" Sapa Auryn seperti biasa, kebetulan pagi ini July sedang menyiram tanaman dihalaman depan rumahnya.


"Oh ya Bi, tadi Ryn masak nasi goreng corned beef. Bibi coba ya." Seperti biasa lagi, wanita itu menaruh rantang yang selalu ia siapkan di bangku yang memang disediakan di teras depan. Auryn menganggap diamnya July sebagai pertanda baik baginya.


"Bibi duduk saja, biar Ryn yang melakukannya." Usai menaruh rantangnya, wanita dengan perut buncit itu mendekat me arah July berniat untuk mengambil alih pekerjaannya saat ini.


"Pergi dari sini! Kau pikir dengan aku diam, aku sudah memaafkan mu hah!! Mau sampai kapanpun, apapun yang kau lakukan untuk meluluhkan hati ku, aku tidak akan pernah memaafkan mu karena rasa benci itu terlalu besar untuk mu! Pergi kau dari sini anak s**l!!" Suara bentakan July menggelegar, mengundang perhatian beberapa orang yang berlali lalang.


Prangg


Dilemparnya, rantang tadi hingga isinya berhamburan di lantai dan sebagian dirumput. Auryn shock, wanita itu tidak lagi mampu membendung air matanya. Ia tidak menyangka bahwa tindakannya selama ini untuk meminta maaf malah semakin memperburuk hubungannya dengan July.


"Maaf Bi." Cicit Auryn, dia menunduk untuk menyembunyikan tangisnya, kemudian berlalu dari sana.


"Kasihan sekali dia, padahal dia sudah gigih untuk meminta maaf."


"Iya, kalau dipikir-pikir ini tidak sebanding dengan kesalahan yang dia lakukan."


"Benar sekali. Kasihan dia, padahal putrinya yang kabur dengan kekasihnya, tapi malah gadis baik hati itu yang disalahkan."


"Dia juga salah, biarkan saja Kate bahagia dengan pilihannya."


Simpati terus mengalir untuk Auryn, bahkan orang yang tidak tau permasalahannya saja, bisa menilai ketulusan Auryn.


Ditempatnya, Auryn masuk kedalam rumahnya. Ditutupnya pintu rapat-rapat, agar ia bisa lebih leluasa untuk meluapkan tangisnya. Penyesalan kembali melanda hatinya, manakala menyadari begitu banyak orang yang membencinya. Bahkan mertua yang sudah dianggapnya sebagai keluarga kedua kini juga membencinya.

__ADS_1


Auryn harus bertahan dan mencoba kuat karena ada Archie yang mencintainya juga anaknya yang juga mempunyai hak untuk hidup.


Diraihnya ponsel yang berada tidak jauh dari posisinya saat ini, Auryn mendial contact suaminya, Archie.


"Ya sayang, ada apa?" Baru dering pertama suara serak dari seberang sana menjawab dengan panik.


"Tidak apa-apa. Aku, kami merindukan mu Ar." Disela sahutannya, Air mata kembali meleleh membasahi wajah Auryn.


"Kau sakit? Kenapa kau menangis?" Archie menyadari suara berat istrinya.


"Tidak Ar, aku hanya merindukan mu." Elak wanita itu, tidak mau memecah konsentrasinya.


"Auryn, apapun yang terjadi cobalah untuk membaginya, jujurlah padaku. Kita suami istri dan tidak seharusnya ada rahasia diantara kita."


"Aku tidak berbohong Ar, sungguh aku merindukan mu." Yakin Auryn.


"Baiklah, aku percaya. Aku juga sangat merindukan mu, aku mencintai mu Auryn, Ibu dari anakku."


"Aku juga sangat mencintai mu." Auryn membalas ungkapan cinta sang suami.


"Boleh aku meminta sesuatu?" Tanya pria itu.


"Apa?"


"Apapun yang terjadi? Bertahanlah demi aku, sungguh, aku tidak bisa hidup tanpa kau Auryn." Suara Archie diseberang sana turut memberat.


"Mm…"


Tok tokk


"Ar, nanti kita bicara lagi. Sepertinya ada tamu."


"Kemana Bi Myla?" Tanya Archie.


"Beliau sedang berbelanja ke pasar."


"Baiklah."


Mereka mengakhiri panggilan saling melepas rindu itu. Auryn beranjak dari posisinya, meraih gagang pintu untuk melihat tamu yang datang.


Ceklek

__ADS_1


"K-kalian,-"


▪︎▪︎▪︎▪︎


__ADS_2