Your Wife Is Not Your Wife 2 ( Difference )

Your Wife Is Not Your Wife 2 ( Difference )
Diary 3


__ADS_3

▪︎▪︎▪︎▪︎


**


Aku juga meminta Stef untuk menghabisi Celo agar aku bisa kembali lagi ke Zach. Tentu itu tidak mudah, namun dengan berbagai macam bujuk rayu, akhirnya pria tua itu luluh. Di luar dugaan, ternyata Stef juga merencanakan untuk melenyapkan Zach. Aku marah padanya."


**


"Sial! Aku harus melahirkan anak sial ini seorang diri. Lihat saja, begitu dia lahir akan ku buang dia ketempat sampah! Karena memang disitulah tempatnya."


Auryn kembali tersedu, ia tidak menyangka begitu besar rasa benci juga rasa tidak menginginkan dirinya terlahir ke dunia ini. Namun semua telah berlalu, toh Ibunya itu membesarkannya penuh perjuangan dan kasih sayang.


Auryn melanjutkan lagi membaca halaman yang tinggal beberapa lembar lagi. Seperti sebuah novel, ia akan mengetahui ending dari masa lalu Ibunya.


**


"Mengetahui aku yang marah karena dia gagal menghabisi Celo. Stef kembali melakukan aksinya, dia menculik Celo dan nyaris berhasil menghabisinya juga anak dalam kandungannya. Namun, lagi-lagi gagal Celo selamat juga anak-anaknya. Anaknya kembar, laki-laki."


**


"Berkat hadirnya Auryn, aku bisa melupakan Zach dan masa lalu ku yang gelap. Meski tidak hilang sepenuhnya, setidaknya aku bisa bahagia melihat senyum putri ku Auryn. Teruslah bahagia nak, Ibu harap kau tidak akan memiliki masa depan yang masa denga masa lalu Ibu."


**


"Aku sangat bangga memiliki putri seperti Auryn, dia selalu diperingkat pertama di sekolahnya, meski acap kali mendapat cibiran dari orang-orang, tapi dia selalu tegar. Maafkan Ibu nak, karena kejahatan Ibu dimasa lalu kau harus menderita seperti ini."


Auryn terharu akan kalimat Ibunya itu, ia tau kalau Ibunya itu sangat-sangatlah menyayanginya. Rasa kecewanya tadi perlahan sirna karena kasih sayang tulus yang diberikan wanita itu semasa hidupnya.

__ADS_1


Saat ini Auryn berada di halaman terakhir buku diary milik Ibunya tersebut. Perasaannya campur aduk, bingung harus bersikap bagaimana seolah rasa bersalah itu kini berpindah padanya. Ingin rasanya ia jujur, namun disaat yang bersamaan Auryn juga takut akan dibenci dan menjauh dari Celo. Wanita yang sudah sangat baik hati menerima dan menyayangi dirinya.


^^^^


Auryn kini duduk terisak di lantai tepat di kaki ranjang Ibunya yang kini menjadi ranjangnya. Meski mata bulatnya sudah sembab sebab terlalu banyak menangis, tidak membuat air mata itu berhenti membasahi wajah cantiknya yang kini berubah pucat.


"Ibu hiks…hikss…kenapa Ibu menyimpan rahasia sebesar ini? Kenapa Ibu menyisakan dendam dari semua orang untuk Ryn? Apa yang harus Ryn lakukan Bu?"


"Orang-orang yang pernah Ibu sakiti, mereka semua sangat baik terhadap Ryn. Bahkan Ryn juga sangat mencintai Ar, putra dari orang yang pernah coba dilenyapkan Ayah bahkan Ar sendiri pun juga akan dilenyapkannya. Bagaimana dengan nasib anak dalam kandungan Ryn Bu? Apa dia juga akan bernasib sama seperti Ryn?" Auryn terus saja bertanya sendiri tanpa ada yang menjawab.


Kesendirian ini membuatnya bebas melepaskan semua sesak didadanya. Terkadang ia juga terpikir bahwa Tuhan tidak adil terhadapnya. Bagaimana bisa ia menjalani hidup seberat ini seorang diri?


Namun, kembali lagi pada Ibunya, Melodi saja bisa bertahan hingga saat terakhir. Kenapa ia tidak, ia juga harus bertahan demi memperbaiki masa lalu Ibunya. Apapun itu resikonya akan ia hadapi, termasuk harus kehilangan Archie, suaminya, yang artinya anaknya akan memiliki nasib sama seperti dirinya tumbuh tanpa memiliki sosok seorang Ayah.


Auryn sadar, ia tidak berhak menahan Archie disisinya sebab pria itu tidak mencintainya. Pria itu juga berhak bahagia dengan wanita yang dicintainya.


^^^^


Ditangan besarnya tampak menjinjing bungkusan seperti makanan. Ia tidak mau kejadian terakhir kali istrinya ada disini terulang kembali. Tidak sadarkan diri karena tidak makan semalaman, juga mengalami pendarahan yang hampir saja membahayakan anaknya.


Tok tok


Tokk tokk


"Kemana dia? Apa sedang keluar?" Berulang kali pria itu mengetuk pintu, tak kunjung jua ia mendapat sahutan dari istrinya itu.


"Auryn, kau di dalam? Ini aku Archie." Panggil Archie, takut istrinya itu tidak mendengar suara ketukan pintu.

__ADS_1


Sempat putus asa dan berniat untuk pergi dari sana, Archie tidak sengaja memutar kenop pintu dan terbuka. Dia merasa bodoh karena berteriak, sementara pintunya tidak terkunci.


"Astaga. Sedari tadi ternyata pintunya tidak terkunci. Dasar wanita bodoh, bagaimana jika da orang berniat jahat masuk ke dalam rumah. Apa dia pikir setiap orang itu baik seperti dirinya?" Archie berbicara sendiri, juga tersenyum mengingat kebiasaan istrinya satu itu.


"Auryn.." Archie kembali memanggil istrinya itu sebab masih tidak mendapati kehadiran wanita yang tengah mengandung anaknya itu.


Archie melangkah ke kamar yang ditempati istrinya tersebut. Perasaan lega hinggap dihatinya begitu melihat Auryn tidur dengan posisi meringkuk diranjang yang tidak terlalu besar itu. Wanita itu memeluk sebuah buku usang yang cukup tebal, membuat buku itu menutupi keberadaan baby bumps nya.


Ia duduk ditepi ranjang tepat disisi Auryn tidur saat ini. Diperhatikan lekat-lekat wajah yang hampir setahun ini menemani hari-harinya. Tidak dapat dipungkiri, kehadiran Auryn dihidupnya membawa banyak perubahan. Salah satunya, ia sudah tidak lagi bermain dengan wanita malam bahkan ia sudah menyerahkan kekuasaan night club miliknya pada Nico, orang kepercayaan Eric, sahabat Daddynya.


"Apa dia menangis lagi? Sebegitu besarnya rasa rindunya terhadap Ibu." Gumam Archie sendiri.


Dapat dilihatnya, mata gadis itu lebih sembab dari sebelum-sebelumnya, juga hidungnya memerah. Dari situ Archie bisa tau bahwa wanitanya itu baru saja terlelap, sebab wajahnya yang masih basah akan air mata.


^^^^


Malam harinya, Archie sudah terlelap dengan memeluk tubuh Auryn. Seperti biasa, wanita itu acap kali terbangun tengah malam entah untuk buang air atau untuk minum sekedar melepas dahaga.


Diliriknya sekilas tangan besar yang bertengger di perut buncitnya. Sekilas senyum terbit disana, namun bukan senyum bahagia, melainkan senyum penuh luka juga rasa bersalah.


Dengan gerakan pelan dilepasnya pelukan Archie, ia bangkit dengan pelan agar tidak mengganggu tidur suaminya itu. Auryn melangkah pelan, ia duduk disebuah singel sofa yang ada di kamar itu, dimana menghadap lansung tepat ke arah ranjang.


Auryn menyelimuti tubuhnya dengan selembar kain berbulu lembut, untuk setelahnya ia kembali bergelung di sofa kecil itu. Ia melakukan ini, agar belajar terbiasa tanpa dekapan suaminya. Meskipun mereka sudah jarang tidur bersama semenjak kehamilannya.


Teringat akan sesuatu, Auryn bangun dari posisinya. Ia mengambil diary Ibunya yang tadi ia letakkan begitu saja diatas meja rias. Ia tidak takut jika sampai Archie membaca isinya, toh biasanya pria itu tidak suka mencampuri urusan orang lain.


▪︎▪︎▪︎▪︎

__ADS_1


__ADS_2