Your Wife Is Not Your Wife 2 ( Difference )

Your Wife Is Not Your Wife 2 ( Difference )
Salah menilai


__ADS_3

▪︎▪︎▪︎▪︎


Sesuai rencana diawal, pernikahan mereka yaitu bulan depan. Meski awalnya Auryn sempat menolak karena menikah perlu banyak persiapan, namun karena ucapan Celo yang meyakinkan juga raut wajah memelas wanita itu jadilah Auryn menurut saja.


"Maafkan Mommy, karena terlalu lancang mengurusi semuanya. Sebenarnya niat Mommy baik." Lugas Archie, merasa bersalah atas keputusan orang tua juga keluarganya. Sekarang mereka berada didalam mobil Archie, yang akan mengantarkan Auryn pulang.


"Tidak apa-apa, semua Ibu pasti ingin yang terbaik untuk anak-anaknya. Termasuk Ibu ku." Lirih Auryn yang semakin pelan diakhir kalimat.


"Ya." Hanya sesingkat itu jawaban yang diberikan Archie.


"Apa kau merindukan Ibu mu?" Tidak mau suasana menjadi hening, Archie buka suara dengan pertanyaan yang mungkin menyentuh.


"Selalu Ar. Kami hanya hidup berdua, dan selalu menghabiskan waktu bersama tanpa sedikitpun terlewat. Ibu sudah memenuhi seisi hati juga hidup ku." Suara Auryn semakin sendu saja.


"Kau bisa menganggap Mommy sebagai pengganti Ibu mu karena untuk menjadikan beliau sebagai Ibu mu itu tidak mungkin sebab setiap orang itu berbeda." Ucapan Archie sukses mengundang auryn untuk menoleh kearahnya.


Larut dalam pembicaraan yang menghanyutkan perasaan Auryn, tidak terasa Archie memberhentikan mobilnya ditepi pantai. Pantai yang sama dimana Auryn pernah dibawanya kesana.


"Kenapa kita kesini Ar? Ini sudah malam." Auryn baru menyadari ketika sudah turun dari mobil.


"Kau ingat hari itu aku memberi tahu mu untuk membangun kehidupan berkeluarga disini? Malamnya, Mommy memberiku pilihan untuk menikahi mu." Archie membuka cerita.


"….."


"Aku tidak tau akan jadi apa pernikahan kita nanti, yang pasti aku hanya ingin menikah sekali seumur hidup seperti halnya Dadd dan Momm. Setelah dipikir lagi tidak ada salahnya kita memberi kesempatan pada pernikahan kita kelak. Apa kau mau melakukannya bersama ku?" Penuturan Archie membuat Auryn tertegun.


"Ar…"


"Aku tau kita tidak saling mencintai, tapi tidak ada salahnya kita mencoba. Kita coba bangun rumah tangga normal seperti rumah tangga lainnya. Dan disinilah kita akan membangunnya bersama." Ungkapan pria itu terdengar tulus ditelinga Auryn. Perasaannya tidak dapat dibendung lagi, Auryn berhamburan memeluk Archie. Tingginya yang hanya sebahu pria itu membuatnya harus berjinjit karena posisinya merengkuh leher pria itu.


"Terima kasih Ar." Bisik Auryn.


Tapi tidak batinnya, Auryn menyadari bahwa ia memiliki rasa terhadap Archie bahkan lebih, ia mencintai pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya itu.


"Aku mencintai mu Ar, untuk sekarang biarlah seperti ini dulu sampai kau juga mencintai ku." Batin Auryn berteriak ingin menyerukan tapi tidak, karena ia takut Archie akan menolaknya.


^^^


Tidak terasa seminggu lagi pernikahan mereka namun Auryn masih bekerja seperti biasanya sedangkan Archie pria itu sudah dua minggu ini menginap di kota C mengurusi hotel barunya. Seperti kata Celo, mereka tidak perlu ikut andil dalam persiapan pernikahan, mereka hanya perlu memilih desain undangan, gaun, dan cincin selebihnya tidak.

__ADS_1


"Bagaimana persiapan pernikahan kalian?" Tanya Kate disela makan siang mereka. Ya, kedua gadis itu selalu menyempatkan waktu untuk makan siang bersama jika Kate tidak ada keperluan diluar.


"Tidak tau kak, semua Mommy Celo yang urus." Tutur Auryn.


"Mm…semoga semua berjalan lancar sampai hari pernikahan dan kakak harap kau selalu bahagia Ryn." Kate menggenggam tangan Auryn erat, tersirat kekhawatiran di manik mata tajamnya.


"Kakak tidak usah khawatir, kami sudah membahas ini sebelumnya." Imbuh Auryn menenangkan Kate.


"Baiklah," mereka kembali melanjutkan makan siang mereka.


Berakhirnya jam makan siang kedua gadis bersahabat itu melanjutkan pekerjaan masing-masing. Baru akan menuju lift menuju ke lantai dimana Auryn bertugas, gadis itu dikejutkan dengan kehadiran Cerry yang ingin menemuinya.


"Kebetulan sekali kita bertemu disini, bisa bicara sebentar Nona Auryn." Pinta Cerry dengan sorot tajamnya.


"Baiklah, kita bicara disana saja." Tunjuk Auryn mengarah ke teras samping hotel.


"Nona Cerry mau dipesankan sesuatu?" Tawar Auryn ramah seperti biasanya.


"Tidak usah basa basi Nona, saya kemari untuk memperingatkan saja. Selagi masih ada waktu sebaiknya batalkan pernikahan kalian. Jika anda mau mencari suami kaya, masih banyak pria diluar sana jangan manfaatkan Archie. Dia terlalu baik untuk dijadikan sasaran keserakahan anda Nona!" Kalimat ketus itu meluncur bebas dari bibir tebal Cerry.


"….." Auryn hanya terdiam, gadis itu masih mencerna jawaban apa yang akan dikatakannya.


"Maaf Nona, tapi anda sudah salah menilai saya. Jika yang saya inginkan hanyalah uang, seperti yang anda katakan masih banyak pria kaya diluar sama yang pastinya juga lebih segalanya dari Archie. Tapi pernikahan bukan hanya sekedar materi Nona, melainkan kesepakatan dua belah pihak untuk membangun komitmen hidup kedepannya, dan kami sudah punya itu." Jawaban telak dari Auryn membuat Cerry tercekat.


Jika Cerry sanggup membandingkan diri mereka, maka ia benar-benar kalah. Auryn gadis yang cerdas dan berpikir dewasa, sementara Cerry ia hanyalah gadis manja yang selalu disokong orang tuanya.


"Apa masih ada lagi yang perlu anda sampaikan Nona? Jika tidak, saya permisi mau melanjutkan pekerjaan saya." Auryn mengumbar senyum sembari melangkah pergi meninggalkan Cerry yang masih terdiam ditempatnya.


"Shitt!! Beraninya wanita rendahan itu menasehati ku! Kita lihat saja bagaimana akhir pernikahan kalian. Kau akan menyesal Ar." Senyum sinis terpatri jelas diwajah putri Eric dan Audrey itu.


^^^^


"Astaga Ar!! Kau mengejutkan ku." Pekik Auryn saat sepasang tangan membalut pinggang kecilnya, gadis itu yang terlalu asyik dengan pekerjaannya sampai-sampai tidak menyadari kedatangan calon suaminya itu.


"Kau tidak merindukan ku heum?" Bisik Archie, pria itu menyeruakkan kepalanya kedalam ceruk leher Auryn. Terang saja Auryn menggeliat kegelian karena ulah pria itu.


"Ar..lepas. geli.." tangan Auryn berupaya menjauhkan kepala Archie dari sana karena itu benar-benar geli namun gagal, mungkin karena bulu-bulu halus sudah memulai tumbuh lebat disekitar dagu dan rahang prianya.


"Apa yang geli sayang?" Bukannya menjauh, Archie malah semakin menggesekkan dagunya disana.

__ADS_1


"Arr…" pekik Auryn lagi.


"Jawab dulu, apa yang geli heum…" Archie semakin semangat menggoda calon istrinya itu.


"Dagu mu Ar, kau belum bercukur." Posisi mereka sekarang sudah saling berhadapan setelah Archie memutar gadis didepannya itu.


"Bantu aku bercukur." Pintanya.


Dan disinilah mereka sekarang, Auryn yang didudukkan diatas wastafel dangan tangan kiri memegang handuk kecil sementara tangan sebelah kanan memegang pisau cukur. Sedangka Archie, pria itu berdiri tepat dihadapannya.


"Malam ini temani aku tidur disini, besok pagi sekali kita harus fitting baju, membeli cincin juga memilih undangan. Sibuk sekali kita besok." Keluh pria bertubuh kekar itu.


"Kau tau sayang, telinga ku sampai mati rasa karena Mommy yang terus saja nyinyir." Archie tertawa sendiri mengingat desakan Ibunya itu, tapi tidak dengan Auryn gadis itu hanya diam saja sibuk dengan dunianya sendiri.


"Auryn..kau mendengar ku?" Panggil Archie, tapi tidak didengar.


"Argh…" pekik Archie seperti orang mengaduh kesakitan.


"Ada apa Ar? Apa kau terluka?" Auryn meneliti wajah pria itu takut-takut ia melukainya.


"Aku tidak kenapa-napa, justru kau yang kenapa? Ada apa heum?" Archie menarik Auryn semakin merapat ke tubuhnya.


"Tidak ada, hanya saja aku sedang berpikir." Tukas Auryn terdengar ragu.


"Apa?" Tanya Archie ingin tahu.


"Apa kau yakin akan menikahi ku?" Disaat pernikahan mereka tinggal seminggu lagi, Auryn malah terlihat ragu.


"Kenapa? Ada yang mengganggu mu?" Curiga Archie.


"Tidak. Tidak, aku hanya takut kau akan malu nanti." Ujar Auryn dengan alasan klisenya.


"Kita sudah membahas ini, jangan pikirkan pendapat orang lain karena kita yang akan menjalaninya." Diacaknya rambut hitam lebat gadis itu.


"Sudah selesai, sebaiknya kita tidur sekarang." Tanpa peringatan, Archie menggendong Auryn ala koala kearah ranjang mereka.


"Ar…lepass…" pekikan Auryn menggema memekakkan telinga siapa saja yang mendengarnya.


Satu hal yang saya pahami dan saksikan dari orang-orang yang sudah berkeluarga diluar sana. pernikahan bukan hanya sekedar materi, melainkan kesepakatan dua belah pihak untuk membangun komitmen hidup kedepannya sehingga tercipta kerukunan dan menjadi kebahagiaan. __areumkang__

__ADS_1


▪︎▪︎▪︎▪︎


__ADS_2