
▪︎▪︎▪︎▪︎
Auryn berlarian dilorong rumah sakit dengan mata sembab tak lupa wajahnya yang basah dengan air mata. Sedangkan di belakang Archie juga ikut berlari untuk menyamakan langkahnya dengan gadis itu.
Auryn tidak dapat lagi membendung kesedihannya, dikala sebuah panggilan dari rumah sakit mengabarkan bahwa Ibu sudah menyerah. Detik itu juga Auryn merasa dunia seakan runtuh dan menimpa tepat dikepalanya.
Sesampainya didepan ruangan dimana Ibunya dibaringkan, Auryn menahan langkahnya sejenak. Ditatapnya lama sekali pintu bercat putih itu, entah apa yang disiapkan oleh gadis itu.
Ceklek
Perlahan di bukanya pintu besar itu, dengan langkah gontai dipijakkan kakinya ke dalam. Disana terlihat Yumi memangku tubuh Melodi dengan pundak naik turun layaknya orang menangis sesegukan.
"Ibu…" Auryn bersuara pelan, nyaris suaranya tidak terdengar siapapun. Tapi tidak dengan Yumi, gadis berwajah jepang itu bisa menangkap suara Auryn meski hanya berupa desisan.
"Kak…." Yumi berdiri dari posisinya untuk menyusul Auryn lalu memeluknya.
"Hikss…." Auryn yang di peluk hanya diam tanpa reaksi, ia hanya diam membeku.
"…." Jika Yumi menangis sesegukan, maka banding terbalik dengan Auryn, ia hanya menangis dalam diam. Perlahan dilepasnya rengkuhan Yumi dari tubuhnya, langkah demi langkah Auryn mendekati ranjang pesakitan dimana jasad Ibunya masih terbaring.
Flashback
Selepas dari ruangan Archie, Auryn kembali melanjutkan pekerjaannya. Pria itu sudah mewanti-wanti agar gadisnya beristirahat saja, tapi Auryn menolak dengan alasan yang membuat Archie semakin prihatin melihat keadaannya.
"Heh…" ketika menggunakan lift, Auryn tidak sengaja bertemu dengan Grace. Jelas sekali wanita itu tidak menyukai Auryn terlihat dari caranya membalas sapaan gadis itu dengan senyum miring.
"Dari mana kau belajar menggoda atasan seperti itu? Apa Ibu mu yang pesakitan itu yang menurunkannya?" Sindir Grace pada Auryn lansung.
"Maaf Kak? Kakak bicara dengan saya?" Tanya Auryn yang tidak tau apa-apa.
"Heh…" tidak menjawab pertanyaan Auryn, Grace tetap dengan senyum sinisnya, melenggang pergi begitu saja ketika pintu lift terbuka.
"Kenapa dengan Kak Grace? Dia selalu bersikap sinis pada ku." Gumam Auryn sendiri.
Usai pertemuannya dengan Grace yang tidak menyenangkan sama sekali. Auryn kembali melanjutkan pekerjaannya tanpa henti bermaksud untuk menyibukkan diri agar tidak terlalu bersedih. Sejenak gadis berparas manis itu bisa melupakan tragedi yang sedang menimpa keluarganya sampai-sampai dia melupakan makan siangnya.
Drtt
"Ke ruangan ku sekarang! Kita makan siang." Titah Archie melalui sambungan ponsel. Sebenarnya ini sudah sangat lewat dari waktu makan siang karena sekarang sudah pukul tiga sore.
"Ti-tidak usah Ar. Aku sudah makan siang tadi." Elak Auryn gagap.
"Aku bukan mengajak makan siang, tapi menamani ku. Tidak ada bantahan!" Sanggah Archie dengan sedikit tekanan.
"Baiklah. Aku kesana sekarang." Desah Auryn pasrah. Panggilan singkat itu berakhir begitu saja.
__ADS_1
Singkatnya, Archie memaksa Auryn untuk ikut makan siang bersamanya. Dengan sedikit ancaman, pria itu berhasil juga menyuruh gadis keras kepala itu untuk ikut makan.
Drrt
Ponsel Auryn bergetar karena ada panggilan masuk. Sebelum menjawabnya, terlebih dahulu gadis itu mengecek ID si pemanggil.
"Siapa?" Tanya Archie yang melihat gadis itu hanya menatap layar ponselnya tanpa gerakan untuk menggeser icon berwarna hijau disana.
"Entahlah." Auryn mengacuhkan panggilan itu begitu saja.
"Kenapa tidak kau terima saja dulu? Siapa tau itu panggilan penting." Heran Archie sembari bertanya-tanya.
"Aku hanya takut menerimanya, takut untuk mendengar kabar buruk." Auryn berucap lirih seraya kembali menyimpan poselnya.
"Apapun itu, kau harus berani menghadapinya Auryn. Karena begitulah hidup, hanya orang pengecut yang akan bersembunyi dan mengelak apa yang sudah takdir gariskan." Jelas Archie, nampaknya pria itu merasa jengah akan sikap Auryn yang seperti ini.
"Mudah untuk bicara, sementara kau tidak pernah merasakannya Ar." Auryn kesal dengan kalimat Archie barusan.
"Inilah kau yang sebenarnya Auryn." Ucapan Archie yang ambigu membuat Auryn terdiam, sampai sebelah tangan pria itu mengusap lembut pucuk kepalanya.
Drtt
Kini giliran ponsel Archie lah yang berdering, ia berdiri lalu berjalan ke arah meja besarnya untuk meraih ponsel yang tadinya ia letakkan disana.
"Aiden." Archie bergumam pelan.
"Kenapa Auryn tidak menjawab panggilan dari rumah sakit?" Aiden malah bertanya pada Archie yang menyebabkan pria itu jengkel.
"Katakan saja ada apa?" Archie memelankan suaranya setelah sesaat menoleh ke arah gadisnya.
"Dia harus segera ke rumah sakit sekarang, Ibuny-" belum selesai Aiden berucap, Archie memutusnya.
"Katakan, apa yang terjadi?" Ulang Archie bertanya masih dengan suara pelan bahkan seperti bisikan.
"Nyonya Melodi mengalami serangan." Pungkas Aiden diseberang sambungan.
"…."
"Serangan dalam artian, alam bawah sadarnya terlalu bersikeras untuk terbangun sementara organ-oragan vitalnya menolak untuk itu, karena fungsi otak yang mangalami mati sementara. Karena alah bawah sadarnya bersikeras untuk mengambil alih kendali, disanalah terjadinya pendarahan otak karena disebabkan pecahnya pembuluh darah. Singkatnya, beliau tida bisa bertahan dan menyerah sampai disini." Jelas Aiden dengan istilah-istilah rumitnya.
"A-appa? Ii-Ibu..tidak! Itu tidak mungki, Dokter pasti berbohong." Pekik Auryn yang entah sejak kapan ponsel Archie berada digenggamannya dan ia jugalah yang telah mendengarkan semua penjelasan Aiden barusan.
"Auryn, kemarikan ponsel ku. Jangan dengarkan dia." Archie meraih ponselnya namun Auryn menahannya.
"Bagaimana Ibu saya Dokter?" Auryn kembali bertanya.
__ADS_1
"Maaf Auryn. Ibu mu-"
"Tidak! Itu tidak mungkin." Auryn berteriak histeris menolak untuk percaya dengan kabar buruk tentang ibunya.
Flashback off
"Kenapa Ibu pergi? Ibu disini meninggalkan Ryn bersama Yumi, sementara Ibu akan kesepian disana. Siapa yang akan menemani Ibu? Hiks…kembali lah Bu, Ryn janji akan mendengarkan semua perkataan Ibu. Ryn juga akan menikah secepatnya seperti keinginan Ibu, tapi Ibu harus bangun…hiks.." Auryn memeluk sembari menggoyang-goyangkan tubuh kaku Ibunya.
"Kak…hik..hik…" Yumi memeluk Auryn dari belakang.
"Ayo kita bangunkan Ibu, Yumi. Ibu tidak boleh sendirian, Ibu harus kembali bersama kita." Sejenak Auryn mengalihkan perhatiannya ke Adik angktanya itu. Jika ditanya bagaimana kondisi gadia itu sekarang, sangatlah berantakan. Mata sembab yang terus saja mengeluarkan air mata juga hidungnya memerah dengam sesekali mengeluarkan cairan. Rambutnya sudah tidak tersanggul lagi dengan rapi bahkan sepatunya entah lepas dimana.
"Kak…sadarlah Kak." Yumi memeluk erat tubuh Auryn.
"Hiks…hik..hik.." tangis yang diselingi segukan jarang jelas terdengar oleh siapapun yang ada disana.
"Kak..k.." Yumi menyadari sesuatu saat Auryn tidak bergerak lagi di pelukannya.
"Kak, bangun Kak." Panggil Yumi. Archie yang berdiri diambang pintu mengambil alih tubuh gadisnya yang sudah tidak sadarkan diri. Di bopongnya tubuh mungil itu, untuk kemudian di rebahkan di sofa tidak jauh dari sana.
Sementara itu, sepasang mata bulat yang mengawasi dari kejauhan tersenyum senang melihat pemandangan menyedihkan didepannya.
^^^^
Pemakaman sudah selesai sejak satu jam yang lalu, selama itu pula Auryn hanya diam saja dengan tatapan mata kosong dan juga air mata yang mengalir dengan jarang. Mata gadis itu berubah jadi sipit seperti mata adik angkatnya Yumi.
Saat berada didalam mobil Archie, Auryn tersadar akan sesuatu. Ia baru menyadari jika Yumi tidak lagi mendampinginya. Terlalu larut dalam kesedihan sampai ia lupa jika ia memiliki adik yang pastinya juga sangat membutuhkannya.
Meskipun, Yumi hanya adik angkat yang baru saja bergabung dikeluarganya. Auryn tau, jika gadis itu tulus dan juga merasa sangat kehilangan.
"Yumi? Dimana Yumi Ar?" Auryn menanyakan keberadaan gadis itu pada Archie.
"Entahlah. Nanti kita akan mencarinya." Imbuh Archie enteng.
"Tidak Ar. Kita harus mencarinya sekarang, dia tidak boleh pergi dari ku. Cukup Ibu saja." Kesedihan Auryn kini disertai ketakutan.
"Baiklah. Kau tenang dulu, kita pasti akan menemukannya." Archie menggenggam kuat kedua tangan Auryn, seperti membagi kekuatannya dengan gadis itu.
▪︎▪︎▪︎▪︎
Maaf lama tidak Up, ada suatu hal yang membuat saya tidak bisa Up beberapa hari ini. Saya tau maaf saja tidak cukup, untuk itu saya akan berusaha sebaik mungkin untuk Up lebih banyak lagi dalam sehari.
Minta doanya ya agar saya dan kita semua selalu sehat. Juga tidak lupa saya meminta dukungan teman-teman semua.
Sukai karya saya ini dengan memberikan LIKE dan meninggalkan COMMENT. VOTE teman-teman juga sangat berharga buat saya.
__ADS_1
TERIMA KASIH BANYAK