
▪︎▪︎▪︎▪︎
Dalam keadaan lelah, Auryn tetap saja bersikekeh untuk mencari Yumi. Ia merasa bersalah karena telah mengacuhkan gadis itu, biar bagaimana pun Yumi tanggung jawabnya sekarang.
"Yumi, dimana kau?" Auryn membatin.
Drrt
"Ada apa?" Archie menerima panggilan diponselnya.
"Jika kalian mencari Nona Yumi, dia bersama ku sekarang." Ujar suara diseberang sana.
"Dimana kau sekarang!" Geram Archie, dengan gigi yang saling bergemeletuk.
"Di apartement ku." Jawaban singkat kembali didapat Archie, setelahnya panggilan diputus sepihak.
"Aiden sialan!!" Archie mengumpat kelakuan temannya itu. Sekilas ditatapnya Auryn yang berada disampingnya, nampak gadis itu sedang memejamkan mata, mungkin karena lelah dan sehabis menangis seharian.
Archie melajukan mobilnya dengan kecepatan yang agak tinggi ke arah apartement Aiden. Ia takut jika Dokter yang terkenal dengan pemain wanita itu akan melakukan sesuatu terhadap Yumi.
"Mau kemana kita Ar? Kenapa cepat sekali, kepala ku pusing Ar." Lenguh Auryn terbangun karena guncangan akibat mobil yang melaju kencang.
"Ke tempat Aiden." Aiden menjawab pertanyaan Auryn tanpa melihat kearah gadis itu.
"Untuk apa?" Suara lemah Auryn memperjelas bahwa gadis itu kelelahan.
"…." Archie tidak menjawabnya, pria itu kembali fokus ke jalanan didepan mereka.
Kurang lebih empat puluh menit menempuh perjalanan menuju apartement Aiden, akhirnya mereka sampai juga. Archie menanutkan jemari tangan mereka agar dapat menyamakan langkah keduanya.
Archie yang sudah terbiasa kesana tau jelas passcode dari apartement Aiden, jadi mereka tidak perlu repot lagi untuk menekan bel atau semacamnya.
"Sekarang kau mau kemana?" Samar-samar mereka bisa menangkap percakapan orang didalam sana.
"Saya belum tau Dokter, mungkin sementara saya pulang ke flat dulu." Auryn mengenali suara wanita itu.
"Kenapa kau pergi?" Aiden kembali bertanya.
"Saya merasa tidak pantas berada disekitar mereka. Kehadiran saya hanya membawa sial untuk mereka." Dari jauh Auryn bisa melihat Yumi menundukkan kepalanya dalam, juga bahunya naik turun karena menangis.
__ADS_1
"Ja-" Aiden yang hendak berkata, dipotong cepat oleh Auryn.
"Tidak. Kau tidak boleh pergi, kau adikku dan bukan pembawa sial." Gadis itu menghampiri Yumi untuk mengambil posisi duduk disampingnya.
"K-kakk.." terkejut, Yumi menyapa Auryn dengan gugup.
"Jangan pergi, jangan tinggalkan aku sendiri." Nada suara Auryn nyaris serupa permohonan, ia memeluk Yumi erat.
"Baiklah Kak. Maafkan aku.." kedua gadis yang hidup mereka sebatang kara itu berpelukan lama, saling menumpahkan tangis.
^^^^
Auryn memboyong Yumi ikut ke rumah sederhana peninggalan Ibunya. Auryn berjanji pada dirinya sendiri akan selalu menjaga Yumi sebagai saudaranya, setidaknya ia bersyukur tidak sendirian lagi sepeninggal Ibunya.
"Sekarang kamar ini punya mu, aku akan menempati kamar Ibu sebelumnya." Tangan mereka tidak terlepas sama sekali semenjak tadi.
"Terima kasih banyak Kak." Yumi menggenggam erat tangan Auryn sembari mengusapnya.
"Kita saudara sekarang. Kita saling berbagi, dan tidak ada yang namanya terima kasih." Diusapnya pucuk kepala Yumi.
"…."
"Tidurlah. Kita juga butuh istirahat." Auryn berjalan keluar kamar sembari menutup pintu bermaksud untuk memberi Yumi ruang. Gadis itu berjalan kearah ruang depan untuk menemui Archie yang masih menunggu disana.
"Tidak. Duduklah." Titah Archie yang tentu saja dituruti gadisnya.
"Jangan terlalu menyibukkan diri mu sendiri. Menangislah jika kau ingin menangis, tapi setelah itu relakan kepergian Ibu mu dengan begitu dia akan tenang di surga." Archie berkata dengan mata menatap jauh kedalam iris gadis itu. Jemarinya juga ikut menyelipkan anak rambut Auryn ke belakang telinganya.
"Terima kasih banyak Ar." Setelah mengucapkan terima kasih, Auryn menundukkan kepalanya untuk kembali menangis. Archie yang tidak tahan melihatnya menarik gadis itu dalam dekapannya, dibenamkannya kepala Auryn didada kerasnya.
"Katakan jika kau butuh, jangan pendam semuanya sendiri." Tidak hanya memeluk, Archie juga mengusap pelan punggung gadis itu sampai tidak ada lagi suara isakan yang terdengar. Deru nafasnya juga mulai teratur menandakan Auryn tertidur, pelan-pelan diangkatnya tubuh ringkih itu untuk diantarkan ke kamarnya.
Melihat Auryn sudah tertidur pulas setelah tadi ia menyelimutinya, Archie kembali lagi ke ruang depan. Tidak berniat sama sekali untuk pulang, ia merebahkan tubuh besarnya di sofa yang sekiranya hanya mampu menampung separuh dari tubuhnya itu.
^^^^
Di belahan lain dunia, Celo dan Zach suaminya bergegas pulang setelah tadi mendapat kabar tentang meninggalnya Ibu Auryn. Zach terpaksa harus mengalihkan semua pekerjaannya pada orang kepercayaannya yang ada disana karena desakan istrinya.
Masa lalu Celo membuat Zach paham dengan apa yang kini dirasakan oleh Ibu dari anak-anaknya itu. Rasa simpatinya untuk gadis itu juga ikut andil, entah kenapa Zach kasihan dengannya.
__ADS_1
"Luke, aku dan istri ku harus segera kembali. Selesaikan yang ada disini, hanya tinggal bertukar dokumen dan semua beres." Instruksi Zach pada orang kepercayaannya yang mengurusi perusahaan disini.
"Kenapa cepat sekali? Bukannya kalian juga sekalian untuk berlibur disini?" Pria yang dipanggil Luke itu balik bertanya.
"Mungkin lain kali. Ada masalah serius terjadi dirumah." Tukas Zach tidak perlu juga menceritakannya.
"Ah, baiklah Bos. Kapan kalian akan berangkat?" Tanya Luke lagi.
"Sebentar lagi." Zach sembari sibuk mengemasi beberapa dokumen untuk ia bawa.
"Baiklah. Hati-hati dijalan, semoga selamat sampai tujuan." Imbuh Luke yang kemudian membantu Bos nya untuk beberes.
Zach menemui Celo di penthouse mereka yang memang ada di negara itu. Sengaja, agar memudahkan mereka untuk tinggal sementara jika ada masalah pekerjaan penting lagi.
"Sudah siap semua sayang?" Zach menghampiri Celo dan memeluk istrinya itu dari belakang yang saat ini berdiri di depan cermin besar dikamar mereka. Wanita yang masih terlihat cantik di usianya itu sedang merapikan sedikit penampilannya.
"Sudah Dadd, ayo kita pulang." Ajak Celo dengan menggandeng lengan suaminya itu.
"Kasihan Auryn ya Dadd…" Di perjalanan Celo berucap dengan tatapan lurus kedepan.
"…." Zach hanya diam menanggapi ocehan istrinya.
"Setelah sampai nanti, kita lansung menemui Auryn ya Dadd." Kali ini Celo berbicara dengan menoleh ke arah suaminya itu.
"Ya…" jawab Zach singkat, lalu merebahkan kepala istrinya di salah satu bahunya. Karena sekarang mereka sedang berada di pesawat untuk terbang kembali ke negara asal mereka.
Belasan jam berada di pesawat, akhirnya sepasang suami istri itu kembali menginjakkan kaki dinegara mereka. Celo dengan tergesa-gesa melangkah agar bisa menemui Auryn secepatnya.
^^^^
Sementara Chris, wanita itu panik mendengar kabar kepulangan kakak dan kakak iparnya. Bukan karena apa, hanya saja saat ia tau alasan kepulangan mereka ialah untuk menemui Auryn, saat itu pula lah Chris harus memutar otak agar Kakaknya dan Celo tidak tau siapa Auryn sebenarnya.
"Arghh….kenapa mereka harus secepat ini pulangnya? Bagaimana ini?" Chris mengigiti ujung jemarinya sembari otaknya berpikir keras.
"Ahh ya, aku tau caranya." Entah cara apa yang kini terpikir diotaknya, hanya dia dan Tuhan lah yang tahu.
▪︎▪︎▪︎▪︎
Sekarang satu dulu ya, besok nyicil lagi.
__ADS_1
Jangan lupa sukai karya saya ini dengan memberikan LIKE dan meninggalkan COMMENT. VOTE teman-teman juga sangat berharga buat saya.
TERIMA KASIH BANYAK