
▪︎▪︎▪︎▪︎
Di kediaman Alterio Chris kembali berkunjung kesana. Jika Cassey putrinya sudah kembali ke asrama, Chris selalu berkunjung ke rumah Kakaknya entah hanya mampir saja atau menginap disana.
"Kakak mana?" Tanya Chris saat baru saja mendudukkan tubuhnya di bangku taman belakang rumah. Karena kecintaan Celo pada tanaman, dimana pun ia tinggal haruslah ada taman agar ia bisa mengisi kegiatan hari-harinya.
"Ada meeting penting, jadi Daddynya anak-anak harus bekerja." Tukas Celo masih sibuk dengan tanamannya.
"Harusnya Kakak istirahat mulai sekarang dan menyerahkan perusahaan pada si kembar." Tutur Chris.
"Seharusnya. Tapi mereka saling lempar satu sama lain. Al bilang dia masih mau belajar dan ia sudah memutuskan untuk ke Holland. Sedangkan Ar, dia bilang mau menikah katanya. Ah…Mereka memusingkan." Gerutu Celo tidak habis pikir dengan anak-anaknya.
"Ar bilang mau menikah, ini bagus." Pikir Chris.
"Chris, bagaimana menurutmu kalau kita jodohkan Ar dengan Cerry? Kita sudah lama saling mengenal, dan pastinya kita juga sudah tau kalau Cerry itu baik, manis dan sopan." Ujar Celo kembali mengutarakan niat hatinya yang juga sudah ia sampaikan pada suaminya tempo hari.
"Bisa kacau jika Celo benar-benar menjodohkan mereka." Batin Chris lagi.
"Chris.." panggil Celo yang melihat adik iparnya teesebut melamun.
"Chriss…" panggil Celo lagi.
"Jangan!!" Pekiknya cepat sedikit keras.
"Jangan? Jangan apa?" Tanya Celo heran melihat perilaku Chris yang tidak biasa.
"Ah, maksud ku jangan, karena Ar kan sudah punya kekasih." Jelas Chris setelah menemukan alasan yang tepat.
"Iya ya. Bicara tentang gadis itu, ayo kita lihat Ibunya. Seth bilang, kalian baru saja membesuknya bersama-sama." Ucap Celo.
"Ah..itu, apa tidak sebaiknya kita mengenal gadis itu dulu barulah keluarganya." Imbuh Chris mengalihkan rencana Celo.
"Iya juga ya. Nantilah saat Ar pulang menginap dirumah, akan ku minta anak nakal itu mengenalkan kekasihnya pada keluarga besar kita." Celo yang penasaran juga tidak sabar ingin bertemu dan melihat wanita yang dicintai putranya.
"Bagus. Akan lebih mudah lagi mempermalukan putri si ja**ng itu." Senyum licin terpatri jelas diwajah Chris. Serangkaian rencana besar telah ia susun untuk menghancurkan hidup Melodi dan putrinya.
^^^^
Hari ini Auryn kembali bekerja seperti biasanya karena permintaan Ibunya. Beliau mengaku sudah jauh lebih baik dan segar, dari pantauan Dokter pun mereka bilang kondisi Melodi sudah jauh lebih baik mungkin karena didukung oleh suasana hatinya.
"Ibu yakin tidak apa-apa Ryn tinggal sendiri?" Tanya Auryn masih ragu untuk meninggalkan Ibunya.
"Tidak apa-apa nak. sudah sana, nak Archie sudah menunggu sedari tadi." Usir Melodi dengan mendorong pelan tubuh putrinya.
__ADS_1
"Nanti Ryn hubungi Bibi July, Ryn akan meminta Beliau menemani Ibu." Ujar Auryn sebelum pergi.
"Ya, ya…sudah sana." Melodi mengibaskan tangannya menyuruh Auryn pergi.
"Auryn pergi." Dikecupnya sekilas kening Ibunya.
"Bibi, kami berangkat dulu." Pamit Archie yang sedari tadi puas menyaksikan interaksi Ibu dan anak itu.
"Hati-hati." Melodi melambai sekilas menatap kepergian putri dan kekasihnya itu.
Setibanya di hotel, Archie tidak membiarkan Auryn begitu saja. Ia memaksa gadis itu berjalan berdampingan dengannya, tidak lupa juga tangannya yang bertengger mesra di pinggang ramping Auryn.
"Ar, lepass. Semua orang melihat kearah kita." Bisik Auryn seraya menatap horor tatapan sinis orang-orang, terutama satu orang. Dia Grace, entah apa, sedari awal Auryn bekerja di hotel milik Archie terlebih kedekatannya dengan Kate, wanita itu selalu menatap tidak suka padanya atau mungkin lebih tepatnya tatapan benci.
"Biarkan saja, mereka punya mata tentu saja melihat." Ujar Archie santai tanpa memikirkan konsekwensi yang akan dihadapi gadis itu.
"Tapi Ar-" Auryn coba membantah.
"Diam atau kau mau kita berciuman dihadapan mereka." Ancam pria itu. Takut dengan sorot mata elang Archie, Auryn memilih diam dan menurut. Ancaman pria itu selalu berlaku kapan saja dan dimana saja.
Lain halnya mereka, Grace menautkan jari jemarinya menahan amarah. Dari raut wajah wanita itu terlihat jelas ia akan memakan Auryn hidup-hidup.
Kembali ke pasangan Archie dan Auryn, pria itu dengan senang hati mengantarkan gadisnya hingga ke ruang locker para karyawan.
"…." Archie tidak berniat menjawab sama sekali, yang ada pria itu malah memojokkan Auryn ke dinding tepat dibelakang gadis itu. Tanpa sempat menolak, Auryn merasakan bibir kekasihnya itu mengecupnya lembut.
"Bekerjalah, nanti kita pulang bersama." Seru Archie di akhir kecupan singkatnya.
"…." Auryn yang masih shock hanya diam saja terpaku menatap kepergian Archie.
"Shitt. Beraninya j***ng itu merayu Tuan Archie. Lihat saja, apa yang bisa ku lakukan terhadap mu." Geram Grace sendiri dengan sorot mata berapi-api. Sedari kedatangan dua sejoli tadi, ia terus mengikuti mereka sampai ia melihat adegan yang membuatnya terbakar api kemarahan.
^^^^
Tok tokk
"Masuk." Archie menyahuti tanpa melihat siapa yang datang.
"Ar…" panggil Kate manja pada adik sepupunya itu.
"…." Tidak mengacuhkan sama sekali, pria itu tetap saja sibuk dengan layar komputer di depannya. Tidak lupa kaca mata baca yang menambah kadar ketampanannya.
"Ar, dengarkanlah aku bicara. Aku ini Kakak mu." Kesal Kate disertai hentakan kasar kakinya di lantai. Sekali lagi, pria itu hanya menoleh sekilas, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.
__ADS_1
"Archie." Panggil Kate lagi tapi tetap sama, pria itu diam seperti batu.
"Baiklah. Akan ku laporkan pada Bibi, kalau kau sudah mempermainkan perempuan dengan memanfaatkan keadaan Ibunya." Bingo. Ancaman Kate berhasil, pria itu menoleh dengan tatapan membunuhnya.
"Apa lagi Kate? Berapa yang kau butuhkan untuk kawin lari dengan pria mu itu?" Tanyanya menebak.
"Kau pikir aku kekurangan uang Hah! Kau benar, aku mau kawin lari dengannya. Puas kau!!" Bentak Kate nyaring, air mata mulai mengalir deras diwajahnya.
"Hah…." Archie menghentikan kegiatannya, dia lalu berdiri memutari meja kerja besarnya untuk duduk tepat dihadapan Kate.
"Kau sudah dewasa, jangan seperti anak-anak lagi." Archie mengusap pelan air mata yang tadi membasahi wajah Kakak sepupunya itu. Itulah kenapa Aldric berkata jika Archie itu seperti malaikat. Ia tidak akan membiarkan orang yang di sayanginya menangis terlebih itu perempuan dalam keluarganya.
"Dia tidak mau Ar, dia tetap kekeh meminta restu dari Mama. Aku takut dia bosan dan akhirnya meninggalkan ku." Ujar Kate tersedu-sedu.
"Dia bukan orang seperti itu, kau harus yakin akan cinta kalian. Jika ia kekeh, itu artinya dia menghargai Bibi dan juga dia pria yang memegang teguh pendiriannya. Dia pria yang tepat untuk mu Kate." Kate menubruk tubuh kekar Archie untuk dipeluknya. Nasehat Archie barusan bagai oasis di padang pasir bagi Kate. Tidak salah jika ia selalu mengadu pada adik sepupunya itu karena usia mudanya tidak menutup kemungkinan untuk dia berpikir dewasa.
Drtt drtt
"Sebentar." Archie melepas pelukan Kate untuk menerima panggilan dari seseorang.
"Ya." Jawabnya.
"Kami sudah menyiapkan segalanya." Lapor suara dari seberang panggilan.
"Bagus. Jika memungkinkan besok atau lusa kami akan kesana." Ujar Archie.
"Baik Bos." Setelah mendengar kesiapan orang suruhannya di seberang sana, Archie memutus sambungan singkat itu.
"Siapa?" Tanya Kate yang tadi sedikit mencuri dengar.
"Nanti saja aku ceritakan." Usai mengacak rambut Kate, Archie berlalu begitu saja.
^^^^
"Kau tidak bohongkan Ar?" Pekik Auryn senang mendengar kabar gembira dari Archie. Ya, selepas meninggalkan Kate di ruangannya tadi, Archie pergi untuk menemui gadisnya. Ia menyampaikan bahwa ia akan membawa Melodi untuk melakukan pengobatan tradisional.
"Tidak. Walaupun tidak ada jaminan seratus persen sembuh setidaknya kita bisa berusaha dulu." Tukas Archie tenang.
"Terima kasih. Terima kasih atas segalanya Ar. Aku. Aku tidak tau lagi harus bagaiman membalas semua kebaikan mu." Jika tadi Kate yang memeluknya, maka sekarang Auryn lah yang memeluk erat tubuhnya.
"Kalau begitu, tidurlah dengan ku malam ini."
▪︎▪︎▪︎▪︎
__ADS_1