Your Wife Is Not Your Wife 2 ( Difference )

Your Wife Is Not Your Wife 2 ( Difference )
Rahasia lagi


__ADS_3

▪︎▪︎▪︎▪︎


Kemarahan Archie terus berlanjut mana kala ia mendengar sendiri dari Ibunya, jika Aldric lah yang memenuhi permintaan mengidam Auryn. Ya, meski hanya beberapa kali, namun itu sukses membuatnya marah.


Disaat bersamaan, foto-foto kebersamaan istrinya dengan kakaknya terus saja ia terima dari orang tak dikenal. Bukan hanya dengan Aldric, bahkan ada juga foto Auryn dengan Aiden dan pria lainnya.


Disaat Archie sudah mulai percaya bahwa istrinya tidak akan sama dengan mertuanya, kini tidak lagi. Kemarahan juga rasa cemburu menggelapkan hatinya. Yang ada di benaknya saat ini hanyalah bagaimana caranya untuk membongkar topeng yang digunakan istrinya, Auryn.


Brakk


Archie menerobos begitu saja masuk ke dalam kamar Kakak kembarnya, Adric. Sontak saja, itu membuat sang penghuni terkejut.


"Ada apa ini?" Sentak Aldric kesal


Bugh


"Apa yang kau lakukan hah! Ada apa dengan diri mu!!" Bentak Aldric yang kini tersungkur dilantai akibat serangan mendadak dari adik kembarnya itu. Pria itu mengusap darah yang mengalir di sudut bibirnya.


"Setelah kau mengacaukan rumah tangga ku, kini kau akan menikah dengan wanita itu!!" Bentak Archie tak kalah sengitnya.


"Apa maksud mu? Apa yang kau bicarakan?" Setelah tadi ia diserang tiba-tiba, kini adiknya itu malah berbicara hal omong kosong yang tidak ia mengerti sama sekali.


^^^^


Ditempat lain, Auryn sedang menemani Ibu mertuanya untuk berbelanja. Celo bilang, bahwa mereka sudah harus mulai mencicil untuk membeli perlengkapan bayi.


"Apa tidak apa-apa kita mulai berbelanja sekarang Momm? Usianya saja baru masuk bulan ke lima." Auryn merasa belum waktunya saja untuk mereka berbelanja kebutuhan bayi.


"Tidak apa-apa. Kita hanya mencicilnya, tidak membeli sekaligus." Ujar Celo.


"Bagitu ya Momm."


"Iya sayang."


Drtt

__ADS_1


"Sebentar. Mommy terima panggilan dulu." Celo meraih ponsel dalam tas tangannya untuk menerima panggilan tersebut.


"Ya Bi Ai, ada apa?" Sapa Celo menerima panggilan dari kepala asisten rumah tangganya.


"Maaf Nyonya, saat hanya mau menyampaikan, Tuan muda Archie datang. Sekarang sudah berada di rumah." Lapor Bi Ai.


"Ar pulang? Tapi dia sama sekali tidak memberi kabar." Di sela menerima panggilan, Celo menoleh ke arah Auryn yang sepertinya mendengar nama suaminya disebut.


"Saya juga tidak tau Nyonya. Mungkin tuan muda ingin memberi kejutan untuk Nona muda." Terka Bi Ai.


"Ah, mungkin juga ya Bi. Baiklah kalau begitu, kami akan segera pulang."


"Baik Nyonya." Celo memutus sambungan panggilan dengan Bi Ai.


"Kenapa Momm?" Tanya Auryn memastikan.


"Suami mu pulang nak. Sebaiknya kita kembali, dia pasti merindukan mu." Celo tersenyum ke arah menantunya. Sementara Auryn, dapat dilihat senyum mengembang di wajahnya.


"Benarkah Momm?"


"Tidak apa Momm, lagi pula waktu kita masih panjang." Papar Auryn. Dalam hati wanita itu sudah tidak sabar untuk bertemu pria yang dicintainya, ayah dari anak dalam kandungannya.


Dalam hati ia berharap, suaminya itu tidak akan pergi lagi agar mereka dapat memeriksakan kehamilan bersama. Juga bisa melihat jenis kelamin anak mereka bersama, supaya mereka bisa berbelanja pakaian anak perempuan atau anak lelaki nantinya.


^^^^


Sesampainya di rumah, Auryn tidak mengindahkan peringatan dari Mertuanya untuk tidak berlari. Rasanya, dia sudah sangat merindukan suaminya itu.


Auryn masuk kekamar Archie yang ia tempati selama tinggal disana. Nihil, tidak ada tanda-tanda keberadaan suaminya didalam sana maupun di kamar mandi.


Ia kembali keluar bermaksud untuk mencari keberadaan suaminya itu. Belum lagi melanjutkan langkahnya ke arah tangga, telinganya menangkap suara orang bertengkar di kamar Aldric. Pelan, Auryn melangkahkan kakinya ke sana, berdiri dibalik pintu memastikan siapa yang sedang bersama kakak iparnya tersebut.


"*Setelah kau mengacau rumah tangga ku, kini kau akan menikah dengan wanita itu!!" Bentak Archie tak kalah sengitnya.


"Apa maksud mu? Apa yang kau bicarakan?" Setelah tadi ia diserang tiba-tiba, kini adiknya itu malah berbicara hal omong kosong yang tidak ia mengerti sama sekali.

__ADS_1


"Kau tau maksud ku apa? Kau pikir dia akan bahagia meski kalian menikah kelak hah! Dia tidak mencintai mu Al!" Bentak Archie lagi.


"Kau tak punya hak untuk itu. Ingat kau sudah mempunyai istri Ar." Suara Aldric sudah memelan.


"Lupakan cinta mu terhadap Cerry Ar. Ingat, kau lah yang telah memilih Auryn. Jika kau memang mencintai Cerry, harusnya kau pilih dia. Jangan jadikan Auryn pelarian, dan juga jangan jadikan aku sebagai alasan kau mengalah dan tidak memilih Cerry. Aku yakin kau sudah dewasa dan bisa memutuskan akan hal itu." Jelas Aldric lagi*.


Deg


Auryn yang berada dibalik pintu yang memang tidak tertutup sempurna, mendengar semuanya. Mendengar bahwa ia hanya dijadikan sosok pelarian dari cinta suaminya untuk Cerry. Pantas saja Archie tidak pernah mencintainya. Lalu kenapa Archie terlihat sangat membenci Cerry, jika ia sangat mencintainya. Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di benak Auryn.


Dengan langkah berat, Auryn pergi dari sana. Ia masuk ke dalam kamar suaminya. Memilih duduk ditepi ranjang, mengurai setiap kalimat yang baru saja ia dengar.


Apa lagi ini? Belum terungkap rahasia mengenai Ibunya, malah bertambah lagi rahasia suaminya. Pikiran Auryn kosong, tidak hanya pikir dengan jalan hidupnya yang penuh rahasia.


^^^^


Kembali ke Archie dan Aldric. Pertengkaran mereka masih terus berlanjut tanpa tau bahwa Auryn mendengarnya.


"Lalu apa yang kau maksud dengan merusak rumah tangga mu heh? Kau pikir aku tidak tau bahwa kau memata-matai ku? Dan kau pikir aku mencoba untuk merebut istri mu? Pikiran mu sungguh picik Ar! Jika yang kau maksud aku menemani Auryn, kau salah jika mengira wanita itu mau begitu saja. Jika bukan karena permintaan Mommy, dia lebih memilih pergi sendiri dengan diantar supir. Tanyakan pada diri mu sendiri, kemana kau saat dia sedang butuh diri mu!" Aldric mencerca adik kembarnya itu dengan serentetan fakta yang ia tidak ketahui kebenarannya.


"Kau tau, bahkan dia menolak untuk mengetahui jenis kelamin anak kalian tanpa adanya dirimu." Archie diam seribu bahasa mendengar semua.


"Tentukan pilihan mu. Auryn atau Cerry?" Aldric berdiri, sebelum berlalu keluar, di tepuknya pundak adiknya itu sekilas.


^^^^


Setelah cukup menenangkan diri, Archie keluar dari kamar Aldric. Ia masuk ke dalam kamarnya dan mendapati Auryn sedang tertidur disana. Ia tidur meringkuk dengan memeluk erat baby bumps nya.


Archie perlahan mendekat, dari dekat dapat ia lihat bekas air mata yang sudah mengering di sudut mata wanitanya.


"Apa dia menangis? Tapi kenapa dia menangis?" Archie hendak mengusap wajah itu, tapi urung ia lakukan karena Auryn seperti sedang mengigau.


"I-bu..hiks….Ryn mau pulang Bu. Ryn rindu Ibu, biarkan Ryn ikut Bu. Hikss..hiks.. bahkan Kakak saja membenci Ryn." Terdengar sendu menyayat hati.


"Kakak? Dia punya kakak?" Archie bertanya ke dirinya sendiri.

__ADS_1


▪︎▪︎▪︎▪︎


__ADS_2