
▪︎▪︎▪︎▪︎
"Aku mencintaimu istriku, Ibu dari anak ku." Ulang Archie lagi.
"Aku juga mencintaimu Ar, sangat." Archie tidak berniat untuk menggoda istrinya sebab itu akan mengganggu moment penting mereka.
"Terima kasih."
"Bagaimana keadaan Mommy Ar?" Auryn baru teringat akan Ibu mertuanya.
"Mommy,- Mommy, koma." Auryn semakin mengeratkan pelukannya, ia tau pasti suaminya itu sangat sedih saat ini.
"Maafkan aku karena aku Momm,-"
"Tidak. Jangan salahkan dirimu. Temanku sedang berusaha mencari siapa pelakunya, agar kita tau apa maksudnya akan mencelakai mu?" Archie menenangkan istrinya yang hampir kembali menangis.
"Auryn, aku akan pergi beberapa waktu ke suatu tempat. Kau jaga diri juga anak kita." Pria itu bermaksud untuk meminta izin istrinya.
"Kau akan pergi meninggalkan kami lagi? Apa Bibi mengancam mu lagi?" Auryn jadi tidak tenang dibuatnya.
"Tidak. Bukan begitu. Sepeninggal kau tadi, aku bertengkar hebat dengan Daddy. Karena aku memilih kau, kita, maka aku harus siap melepas Alterio dari nama ku. Untuk itu aku harus memastikan masa depan kalian, kita." Terangnya, tidak mau ada lagi rahasia diantara mereka.
"Tapi Ar, aku tidak keberatan hidup sederhana asal kita selalu bersama. Tapi bukankah hotel itu milik mu?" Tanya Auryn.
"Ya. Tapi aku mau kita pergi dari sini. Disini terlalu banyak kenangan buruk dan menyakitkan untuk mu."
"Baiklah. Terima kasih sudah selalu memikirkan ku Ar."
"Satu lagi, saat aku pergi sebaiknya kau tinggal di rumah Ibu saja. Aku sudah menyiapkan beberapa orang untuk menjaga mu." Archie sudah mempersiapkan segalanya untuk melindungi Auryn.
"Itu tidak perlu Ar." Auryn merasa itu sedikit berlebihan.
"Tidak. Ini demi keselamatan kalian."
"Baiklah." Malam ini, semua kesalah pahaman diantara mereka selesai dengan saling mengungkapkan perasaan masing-masing. Mereka memulai lembaran baru dalam rumah tangga kecil mereka.
^^^^
Pagi ini, Archie bersiap untuk mengantarkan istrinya ke rumah lamanya. Ia rasa disana lebih aman di bandingkan disini, sebab rumah mereka yang jauh dari keramaian. Pria itu khawatir jika saja tiba-tiba istrinya mengalami sesuatu dengan kandungannya, dan akan makan waktu banyak untuk ke rumah sakit jika disini.
__ADS_1
"Sudah siap?"
"Sudah Ar." Archie merangkul pinggang istrinya untuk turun dari tangga.
"Kau tenang saja Bi Myla jiga ikut bersama kalian. Tidak mungkin juga beliau tinggal disini sendirian, terlebih kita belum tau kapan akan kembali." Tutur Archie.
"Benarkah Ar?"
"Ya, kau setuju?"
"Tentu saja, jika tidak ada Bi Myla aku akan sangat kesepian nanti." Sungut Auryn dengan wajah cemberutnya.
"Au…Ar, sakit." Rupanya pria itu mencubit gemas hidung istrinya itu.
Beberapa jam setelahnya, mereka tiba dirumah sederhana Auryn. Archie membantunya istrinya berkemas sebentar sebelum akhirnya ia berangkat.
"Apa kau akan pergi sekarang?" Auryn membawakan segelas jus semangka untuk suaminya, demi menghilangkan dahaga karena sudah membantunya berkemas rumah.
"Masih ada dua puluh menit lagi, ada apa?" Ia membantu Auryn untuk duduk disisinya ditepi ranjang.
"Boleh aku bertanya sesuatu?"
"Bagaimana dengan Cerry Ar?" Auryn bertanya setengah ragu.
"Aku sudah tidak mencintainya lagi,-"
"Tapi hari itu,-" jika tadi Auryn menyela ucapan suaminya, kini giliran pria itu.
"Apapun yang kau dengar hari itu, yang jelas aku sudah tidak mencintainya dan aku sudah pastikan itu." Di usapnya penuh sayang surai indah istrinya, wanita yang tidak lama lagi akan menjadi Ibu dari anaknya.
"Aku percaya Ar. Terima kasih telah memilihku." Tidak pernah bosan wanita itu memeluk pria yang merupakan ayah dari bayi dalam kandungannya itu.
"Kita masuk punya waktu lima belas menit, bagaimana kalau kita banyak gerak dulu?" Archie berniat menggoda istrinya.
"Ar, ini sudah siang. Kau juga harus pergi." Pekik Auryn, merasakan tangan suaminya menjalar kemana-mana.
"Sebentar saja."
"Tidak sekarang Ar, kau harus pergi." Tidak bermaksud menolak, Auryn hanya takut jika suaminya itu terlambat untuk pergi.
__ADS_1
"Haha…lihat nak, wajah Ibu mu memerah." Ujar Archie tertawa, sembari memeluk perut buncit istrinya.
"Ar, kau menggoda ku."
"Maaf, aku hanya tidak mau kita terus-terusan dalam situasi tegang." Sekilas dikecupnya pipi Auryn.
"Ingat, jaga diri. Jangan pergi sendirian kemana pun itu." Entah sudah berapa kali pria itu mengingatkan istrinya. Dalam hati, Archie sebenarnya berat untuk meninggalkan Auryn. Tapi ia juga harus melakukan sesuatu, untuk masa depan mereka kelak.
"Ya. Kau juga, jangan lupa makan, jika tidak terlalu sibuk hubungilah aku sesekali." Pinta Auryn.
"…" Archie meraih tengkuk istrinya untuk selanjutnya di l****nya bibir pink merona itu. Tidak lama, hanya sebentar sekedar melepas rindu.
"Aku pergi."
^^^^
Ditempat lain, keadaan Celo masih saja sama. Belum ada perubahan setelah sehari pasca operasi. Dia ditempatkan di ruang ICU, dimana tidak terlalu banyak orang bisa menunggui. Zach juga mengerahkan beberapa orang untuk berjaga didepan pintu, takut-takut akan ada yang memcelakai istrinya.
"Bagaimana dengan Ar?" Tanya Zach pada Aldric yang datang siang ini.
"Dari yang Al dengar, Ar pergi Dadd. Tapi tidak seorang pun tau kemana perginya, bahkan istrinya sekalipun." Lapor Aldric pada Ayahnya.
"Kemana anak itu pergi? Terrnyata dia benar-benar memilih wanita itu." Gumam Zach.
"Dadd, kenapa Daddy lakukan ini? Kasihan mereka, dan bukankah Daddy yang selalu mengajarkan kami untuk selalu memaafkan. Tapi kenapa sekarang malah seperti ini Dadd?" Aldric tidak bisa membiarkan keluarganya kacau seperti ini.
"Sebaiknya kau diam Al, kau tidak tau apa yang sebenarnya terjadi."
"Tidak tau, bukan berati Al tidak mau tau Dadd." Aldric beranjak dari sana. Ia sangat paham karakter Ayahnya itu, akan sangat sulit untuk membujuknya karena pria paruh baya itu terlalu teguh pada pendiriannya.
Sepeninggal putra sulungnya, Zach terdiam, dalam hati ia juga meragukan kebenaran ucapan adiknya itu. Chris pernah berpura-pura baik untuk mengacaukan rumah tangganya dengan Celo. Tidak menutup kemungkinan ia juga melakukan hal yang sama pada rumah tangga anaknya, keponakannya sendiri, meski berlatarkan masa lalu.
"Apa yang harus aku lakukan? Celo, bangunlah. Aku tidak bisa memutuskan sesuatu sendiri, aku sudah terlalu ketergantungan terhadap dirimu Celo. Bangunlah, sadarkan aku. Aku sudah salah mengambil keputusan untuk putra kita." Zach menggenggam erat tangan Celo yang tidak terpasang selang infus.
Celo terbaring lemah dengan beberapa selang terpasang di tubuhnya untuk menopang hidupnya. Tidak lupa juga perban membalut kepalanya bekas operasi karena kecelakaan yang menimpa.
"Bangunlah sayang, mau sampai kapan kau terus tidur dan mengabaikan suami mu ini?" Setetes air mata jatuh berderai dari pelupuk mata Zach. Jika saja putranya melihat, mereka akan tau seberapa besar rasa cinta Ayahnya untuk Ibu mereka.
▪︎▪︎▪︎▪︎
__ADS_1