Your Wife Is Not Your Wife 2 ( Difference )

Your Wife Is Not Your Wife 2 ( Difference )
Auryn atau Cerry


__ADS_3

▪︎▪︎▪︎▪︎


Pagi harinya, Celo masih tetap berusaha membujuk Archie, kali ini dengan sedikit memberikan pilihan. Egois memang, tapi Celo hanya ingin anak-anaknya mendapatkan pendamping yang baik, yang selalu setia mendukungnya di situasi apapun.


Agar lebih santai dan tidak terlalu tegang, Celo menghidangkan sarapan mereka ditaman belakang. Setidaknya suasana sejuk nan asri itu bisa sedikit mengurangi tekanan yang akan terjadi nanti.


"Mau sarapan apa anak-anak?" Celo bertanya sementara tangan halusnya sibuk menakar sarapan untuk suaminya.


"Momm, mau nasi goreng seperti saja boleh?" Seth yang paling antusias jika soal makan.


"Tentu sayang, sebentar." Dari Zach, Celo beralih ke putra bungsunya.


"Ar?" Berlanjut ke Archie yang baru ikut bergabung dan baru saja menyesap teh yang memang sudah disiapkan Mommy nya untuknya.


"Ar bisa sendiri Momm, terima kasih." Sahutnya yang tak lupa disertai senyum.


"Al?" Terakhir Aldric, pria itu nampak masih seperti biasa saja seperti tidak ada sesuatu yang dipendamnya.


"Al sarapan ini saja." Sembari tangannya meraih sebuah roti lapis sebagai pilihan sarapannya pagi ini.


"Ar, Mommy butuh keputusan mu sekarang. Menikah dengan Auryn atau kau Mommy jodohkan dengan Cerry?" Berucap demikian, mata Celo bergantian melirik kedua putra kembarnya. Menanti jawaban Archie dan mencari tau reaksi Aldric.


"Momm!" Tegur Zach, pria itu merasa istrinya sudah kelewat batas.


"Tidak apa-apa Dadd." Ar tersenyum menenangkan Ayahnya, sebagai tanda tidak apa-apa.


"Momm, maaf kalau lagi-lagi Ar harus mengecewakan Mommy. Tapi Ar tidak bisa memilih keduanya." Archie selalu tenang dalam menghadapi segala hal, termasuk masalah seperti ini.


"Auryn atau Cerry?" Ulang Celo kembali.


"Momm…" mulai frustasi, Archie mengusap kasar wajahnya.


"Mommy tanya, Auryn atau Cerry?" Celo sedikit meninggikan nadanya.


"Celo! Jangan pojokkan anak mu ssperti itu!" Zach menegakkan tubuhnya, memperingati sang istri agar tidak bertindak diluar batas.


"Jangan marah pada Momm Dadd." Ingat Archie masih dalam ketenangannya.


"Baiklah Momm, Ar akan memilih,"


^^^^


Dua hari tidak pulang ke rumah, akhirnya Auryn tersadar akan kehadiran adiknya, Yumi. Wanita itu bergegas untuk pulang ke rumah setelah tadi Lyan membantu mengobati luka disudut bibirnya.


Sejenak Auryn berdiri didepan pintu rumah kecil nan sederhana itu untuk menyusun alasan kenapa ia tidak pulang ke rumah. Meski gadis itu tidak tau apakah Yumi mencemaskannya atau tidak, yang jelas ia harus siap dengan alasan jikalau adiknya itu bertanya-tanya.


Di hirupnya nafas dalam-dalam lalu dikeluarkan, acap kali Auryn lakukan untuk menetralisir kegugupannya. Sampai suara juga tepukan di bahunya membuat gadis itu berjingkak karena terkejut.


"Kakak." Suara Yumi yang tetiba saja sudah berdiri dibelakang Auryn.


"Astaga Yumi. Kau mengejutkan Kakak." Ujar Auryn setengah terpekik.

__ADS_1


"Kakak dari mana saja? Yumi cemas kak. Yumi takut-, takut Kakak meninggalkan Yumi." Tampak dipelupuk mata gadis itu cairan bening yang hampir menggenang.


"Maaf. Kakak tidak kemana-mana, di hotel sedang sibuk jadi Kakak lelah kalau harus pulang ke rumah. Maafkan kakak ya..heumm.." Auryn memeluk ringan Yumi dan dibalas gadis berwajah jepang tersebut.


"Sebentar. Benar Kakak menginap dihotel? Atau menginap dengan Tuan Archie?" Goda Yumi berani, pelukan mereka juga sudah terlepas.


"Ma-mana ada. Jangan mengada-ada Yumi, kami tidak mungkin tidur bersama." Elak Auryn tergagap.


"Kenapa tidak mungkin?" Bodohnya, Yumi malah bertanya yang membuat wajah Auryn semakin memerah.


"Ya. Tidak mungkin. Dua orang yang tidak terikat pernikahan tidur bersama, itu tidak boleh." Imbuh Auryn menyembunyikan kenyataan yang telah terjadi, ia malu jika Yumi sampai mengetahuinya.


"Baiklah. Yumi percaya." Gadis itu lalu merangkul Auryn untuk masuk kedalam rumah mereka.


Saat ini kedua gadis kakak beradik itu sedang menikmati makan malam mereka, setelah sebelumnya mereka sempat memasak makanan bersama. Auryn dan Yumi tidak pernah menyangka bahwa memiliki saudara se seru ini. Tiada hentinya mereka bersenda gurau dan tak jarang pula saling menggoda satu sama lain.


"Em…Kak, itu wajah Kakak kenapa?" Sebetulnya sudah sedari tadi Yumi ingin menanyakannya, tapi tidak ada kesempatan.


"Kenapa? Ada kotoran?" Auryn berpura tidak tau, gadis itu tidak mau Yumi jadi kepikiran.


"Bukan. Wajah Kakak memar." Ujar Yumi masih dengan nada bertanya.


"…." Terdiam, Auryn belum menemukan alasan yang tepat.


"Kak, apa-, apa Tuan Archie yang membuat wajah Kakak memar?" Yumi harus memastikannya, mereka sudah berjanji untuk saling menjaga dan tidak ada rahasia diantara mereka.


"…." Auryn semakin bingung harus cerita seperti apa, lagipun, Archie tidak tau sama sekali tentang ini walau permasalahannya memang ada sangkut pautnya dengan pria itu.


"Tidak Yumi. Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan Archie, bahkan mungkin dia tidak tau sama sekali." Tegas Auryn, entah kenapa dia sedikit tidak terima Yumi menuduh prianya.


"Lalu apa Kak? Apa Kakak dicegat penjahat? Atau ada yang mengganggu Kakak? Ayo Kak, beritau Yumi." Paksa Yumi yang geram karena Auryn diperlakukan begitu. Bagi gadis itu, ini sudah termasuk dalam tindak kekerasan.


"Hufthh…" sebelum bercerita, Auryn menghela nafas berat. Air mata mulai tergenang-genang disela sudut mata bulatnya. Masih dalam bercerita, Yumi merasa sangat geram atas kelakuan wanita-wanita tadi pada kakaknya.


"Kita tidak boleh diam Kak! Ini sudah tindak kriminal, mereka penjahat Kak!" Sentak Yumi keras, wajah putihnya memerah karena marah.


"Yumi, sudahlah. Nanti mereka juga akan berubah sendiri, mungkin saat ini sedang ada yang mengganggu pikiran mereka jadilah mereka melampiaskannya pada Kakak." Dasar Auryn yang terlalu baik, orang bersalah saja masih dibelanya.


"Kak,-" Yumi hendak membantah, tapi lansung ditahan Auryn.


"Sudahlah, Kakak tidak apa-apa." Imbuhnya seraya mengusap lembut tangan Yumi yang duduk tidak jauh darinya.


"Tapi Kak-, apa ini alasan Kakak akan berhenti dari hotel?"


"Ya, salah satunya." Auryn memainkan makanan yang masih tersisa setengah dipiringnya.


"Sepertinya masih ada yang disembunyikan Kakak. Sudahlah, sebaiknya pelan-pelan dulu takut Kak Auryn tidak nyaman." Yumi membatin.


Usai makan malam, sebelum tidur mereka kembali bersenda gurau sembari menonton tayangan televisi. Auryn sedikit melupakan kesedihannya karena hal di hotel tadi, pikirnya dengan adanya Yumi dia jadi memiliki teman berbagi cerita sehingga bebannya jadi lebih enteng lagi.


Tok tokk

__ADS_1


"Siapa yang datang bertandang malam-malam begini?" Tanya Auryn.


"Tidak tahu kak, biar Yumi saja yang melihatnya." Gadis itu beranjak berdiri lalu melangkah kearah pintu rumah mereka.


Tok tok tok


"Sebentar." Sahut Yumi karena tamu tersebut nampak sangat tidak sabaran.


Ceklek


"Tuan Archie," entah sapaan atau apa yang terlontar dari bibir gadis itu.


"Dimana Auryn?" Tanya pria itu dengan pandangan menelisik kedalam rumah sederhana tersebut.


"Ada didalam Tuan, silakan masuk." Sambut Yumi tersenyum tipis.


"Siapa Yumi?" Tatapan mereka bertemu dikala Auryn bermaksud untuk menghampiri adiknya itu.


"Ar.." gumam Auryn tanpa suara yang terdengar, hanya bibir tipisnya saja yang tampak berkomat kamit.


"Emm... Yumi mengantuk Kak. Maaf tidak bisa menemani." Kemudian gadis itu berlalu dari hadapan mereka saat berlalu telat dihadapan Auryn Yumi mengedipkan sebelah matanya.


Kini hanya sepasang kekasih itu yang tertinggal duduk bersisian disofa yang tidak terlalu besar. Auryn sudah menawari pria mesum itu minuman tapi dia hanya diam saja, Auryn juga sudah coba menanyakan maksud kedatangannya, hasilnya tetap sama Archie hanya diam dengan menatap Auryn intens.


"Sebaiknya kau pulang saja Ar, malam semakin larut." Karena tidak mendapat jawaban atas kedatangan pria itu, Auryn memutuskan untuk menyuruhnya pulang, tidak mungkin juga jika Archie menginap dirumahnya.


Cup


Bukannya beranjak, pria yang sudah terlanjur dicap mesum oleh Auryn itu tiba-tiba saja mengecup sekilas sudut bibirnya yang tadi terluka.


"Ar, apa yang kau lakukan? Bagaimana jika Yumi melihatnya?" Kesal, Auryn memukul ringan lengan atas kekasihnya itu.


"Kalau begitu kita menginap di hotel saja." Barulah suara pria itu terdengar dan kata yang terucap membuat Auryn semakin kesal.


"Sebaiknya kau pulang Ar. Ini sudah sangat malam." Usir Auryn lagi.


"Kau mengusirku heum?" Tanya Archie semakin merapatkan duduk mereka.


"Tidak! Tapi ini sudah malam, dan aku harus tidur." Elak gadis itu cepat.


"Aku mau tidur disini." Sahutnya datar.


"Tidak bisa Ar, disini hanya ada dua kamar yang satunya lagi kamar Yumi. Pasti dia sudah tidur sekarang." Berbagai alasan dikemukakan Auryn.


"Kita bisa tidur bersama kalau begitu. Aku saja tidak keberatan berbagi kamar bahkan ranjang bersama mu, tapi kau malah mengusirku." Archie mencebik ke arah gadisnya.


"Ar…" sentak Auryn yang semakin kesal saja.


Lelah berdebat, Auryn memutuskan meninggalkan pria itu sendirian. Ia masuk kedalam kamarnya sampai perkataan Archie menghentikan langkahnya.


"Ayo kita menikah." Mendengar itu, Auryn hanya diam saja tanpa respon apapun, ia kembali menyambung langkah ke kamarnya.

__ADS_1


▪︎▪︎▪︎▪︎


__ADS_2