
▪︎▪︎▪︎▪︎
Siang ini, Auryn pergi memeriksakan kandungannya. Sebenarnya ini belum jadwalnya, namun karena ada Archie ia memanfaatkan kesempatan itu untuk ditemani suaminya. Juga karena kejadian dia jatuh pingsan semalam, Auryn sedikit khawatir akan bayinya.
"Ini,-" Nessi takut salah orang lagi.
"Ini Archie Dokter, suami saya." Dengan posesifnya, Auryn melingkarkan lengannya ke lengan besar suaminya.
"Wah, Nona Auryn terlihat bersemangat sekali hari ini. Begini kan bagus untuk perkembangan si kecil." Imbuh Nessi.
"…." Tanpa suara, Auryn hanya tersenyum dengan menampakkan sederetan gigi putihnya. Lain halnya dengan Archie, pria itu hanya diam dengan tatapan datarnya.
Auryn naik, lalu berbaring di ranjang pemeriksaan. Wanita itu sama sekali tidak mau melepas genggaman tangan suaminya. Dokter mulai dengan dengan menyingkap blus kebesaran yang dikenakan Auryn untuk mengoleskan gel khusus juga untuk melakukan pemeriksaan.
"Apa saat kau pergi bersama Aldric, dia juga menemanimu sampai ke sini?" Dari nada suaranya, Archie sedang cemburu.
"Tidak." Jawab Auryn diselingi dengan kekehan.
"Kenapa kau tertawa?" Archie semakin kesal jadinya.
"Tidak Ar. Aldric tidak ikut ke mari, karena aku melarangnya. Aku tidak mau ada orang lain yang menggantikan posisi mu sebagai suami dan Ayah dari anak ku." Papar Auryn.
"Karena aku mencintai mu Ar. Sampai kapan pun hanya kau satu-satunya pria yang akan mengisi hati ini, meski kau akan meninggalkan ku suatu hari nanti." Batin Auryn, ditatapnya dalam-dalam wajah yang sudah menjadi candu untuknya itu.
"Kenapa kau menatap ku begitu?" Tanya Archie sengit.
"Bukan aku yang menatap mu, tapi anak kita. Mungkin dia ingin menyimpan dan mengingat bagaimana rupa ayahnya." Tutur Auryn ambigu.
"Apa maksud ucapanmu barusan?" Archie menangkap ada sesuatu yang tidak beres dengan istrinya.
"Tidak ada. Hanya saja, bukankah kita belum memiliki tujuan akan bagaimana akhir dari pernikahan kita." Sedari tadi kalimat Auryn terkesan memojokkan Archie.
"Kau ingin kita berpisah, begitu?"
"Bukan aku Ar, tapi kau. Kau yang tidak memberi ku kesempatan untuk memasuki relung hati mu." Lirih Auryn dalam hati.
"Eherm.." belum sempat Auryn menjawabnya, Dokter Nessi datang menghampiri dan menginterupsi pembicaraan mereka.
__ADS_1
"Sudah siap melihat perkembangan anak kalian?"
"Selalu siapa Dokter." Sahut Auryn setelah sebelumnya menghela nafas berat.
"Hasilnya bagus. Hanya saja, dia sedikit lemah. Sering saya ingatkan, Nona jangan sampai tertekan apalagi stress, kasihan dia." Jelas Dokter Nessi mengingatkan.
"Saya baik-baik saja Dokter. Bagaimana dengan jenis kelaminnya?" Auryn kembali bersemangat.
"Sayang sekali. Dia pemalu, kita tidak bisa mengintipnya." Setelah Dokter Nessi mengecek berulang kali, tetap saja calon anak mereka tidak terlihat jenis kelaminnya.
^^^^
Kini mereka sudah berada di dalam mobil, Auryn sedikit kecewa karena anaknya tidak mau memperlihatkan dirinya.
"Tidak apa-apa. Kau kan bisa mencobanya lagi bulan depan." Archie berusaha membesarkan hati istrinya.
"Apa itu artinya kau akan menemaniku lagi?"
"Aku tidak janji." Archie tetap fokus ke jalanan yang dilalui mobilnya.
"…." Melalui ekor matanya, Archie bisa melihat wanita itu mengangguk lemah.
"Kau belum menjawab pertanyaan ku tadi." Kalimat Archie, sukses membuat Auryn membuka matanya.
"Pertanyaan yang mana?" Auryn dengan raut kebingungannya.
"Apa kau ingin kita berpisah?" Archie masih fokus dengan jalanan.
"Bukan aku. Tapi kau Ar. Kau yang akan meninggalkan aku nantinya." Dengan beraninya, Auryn seolah menantang Archie.
"Apa maksud mu? Sedari tadi kau terus saja memojokkan ku!" Archie memberhentikan mobilnya dengan kasar.
"Aku tidak memojokkan mu Ar. Tapi memang itu kenyataannya. Kau akan meninggalkan ku dan anak kita, karena kau mencintai wanita lain!" Pekik Auryn melepaskan segala emosinya.
Terdiam. Archie tidak tau harus menjawab apa. Dalam hati ia bertanya, dari mana wanitanya tau akan hal itu.
"Jangan mengada-ada. Kau seperti mencari-cari alasan untuk kita berpisah. Atau kau yang memiliki pria lain dibelakang ku!" Mereka bertengkar dan saling menuduh atas kesalahan yang tidak mereka lakukan.
__ADS_1
Tidak ada yang mau mengalah, tidak ada juga yang mau meluruskan kesalah pahaman mereka. Kedua insan itu memilih untuk diam dan saling sibuk dengan pemikiran masing-masing.
^^^^
Keesokan harinya, Auryn berpamitan ke Celo untuk menginap beberapa hari di rumah peninggalan Ibunya. Bukan tanpa alasan, ia ingin tau rahasia mengenai masa lalu Ibunya yang membuat semua orang membencinya.
"Kau sendiri saja disana?" Celo ragu untuk membiarkab menantunya itu pergi sendiri. Ia tidak mau hal seperti sebelum-sebelumnya terjadi lagi.
"Ryn akan minta Yumi ikut pulang kesana juga Momm." Ujar Auryn.
"Kenapa harus menginap disana nak? Kan bisa kembali saat malam." Celo masih saja enggan melepas Auryn menginap di rumah Ibunya.
"Ryn merindukan Ibu Momm. Hanya beberapa hari saja." Mohon Auryn memelas.
"Baiklah." Celo menyerah. Tidak mungkin juga ia melarang Auryn untuk rindu pada mendiang Ibunya.
"Nanti Mommy, akan minta Ar untuk menginap disana juga." Sekembalinya ia dari Jepang kali ini, Archie kembali fokus ke hotelnya yang ada disini.
"Tidak usah Momm, disana ada Yumi. Jadi Ryn pasti akan baik-baik saja." Auryn menolak keputusan Celo yang menurutnya bisa mengacaukannya dalam mencari tau masa lalu Ibunya.
"Tidak ada penolakan. Atau Mommy akan melarang mu."
"Baiklah Momm."
Sebenarnya Auryn juga berbohong tentang Yumi. Adiknya itu sedang bertugas diluar kota beberapa bulan belakangan, dan masih belum kembali. Ia hanya mencari alasan agar tidak ada yang akan mengganggunya dalam mengungkap rahasia besar yang berhubungan dengan hidupnya itu.
^^^^
Sesampainya di rumah lamanya, Auryn tidak membuang-buang waktu. Segera saja ia bongkar segala barang peninggalan mendiang Ibunya.
Satu persatu, ia baca untuk memastikan apa isi didalam buku yang ia temukan. Hampir tiga jam lamanya ia menelusuri peninggalan Ibunya, Auryn masih belum mendapat petunjuk.
Nyaris putus asa, sampai mata bulat Auryn menangkap sebuah kotak usang yang tersembunyi di sudut lemari.
"Apa ini?" Ditariknya keluar kotak tersebut. Sebelum membuka isinya, Auryn membersihkan tumpukan debu yang menyelimutinya.
Untuk lebih memastikan apa isinya, Auryn membaca beberapa lembar pertama. Bingo. Itu diary milik Ibunya. Auryn tidak tau apakah akan menemukan petunjuk didalamnya atau tidak. Yang jelas setiap diary pasti menyimpan rahasia. Entah itu masa lalu Ibunya atau bahkan rahasia siapa ayahnya.
__ADS_1
Sementara ini, biarlah ia berharap pada sebuah buku diary usang peninggalan Ibunya, Melodi. Apapun isi rahasianya kelak, Auryn akan tetap menyayangi Ibunya dan tidak akan kecewa pada wanita yang telah bertaruh nyawa untuknya itu. Hati kecilnya tidak yakin bahwa Ibunya adalah orang jahat, jikapun benar pasti ada alasan dibaliknya.
▪︎▪︎▪︎▪︎