
▪︎▪︎▪︎▪︎
Waktu terus bergulir, tidak terasa sudah tiga bulan usia pernikahan Auryn dan Archie. Semua berjalan normal seperti layaknya pasangan lain, meski acap kali Auryn mendengar cibiran atas pernikahannya, namun wanita itu tidak terlalu ambil pusing. Toh dia yang menjalaninya.
"Auryn, apa kau sakit? Wajah mu pucat sekali." Semenjak bangun tidur tadi, Archie memperhatikan wajah istrinya yang memang lebih pucat dari sebelumnya.
"Hanya pusing saja dan sedikit mual, sepertinya aku masuk angin." Sanggah Auryn singkat.
"Tidak usah ke hotel hari ini, istirahat saja dirumah." Ujar suaminya itu.
"Tidak Ar, jika di bawa istrirahat malah nanti akan semakin lemas." Bantah Auryn.
"Baiklah, tapi nanti kau di ruangan ku saja. Tidak perlu melayani ku kebutuhan ku." Selain membersihkan ruangan Archie, tugas Auryn juga melayani segala keperluan suaminya seperti mengatur makanan dan lain sebegainya yang bersifat pribadi.
"Baiklah." Mereka keluar dari kamar ke meja makan, untuk sarapan pagi.
"Selamat pagi kak, kak Archie." Yumi menyambut mereka dengan gadis itu sedang menata beberapa makanan.
"Pagi juga." Sahut Auryn, sementara Archie, pria itu tersenyum sekilas membalas sapaan adik iparnya.
"Kakak sakit?" Pertanyaan yang sama terlontar dari bibir Yumi.
"Hanya masuk angin saja, makanya agak mual." Imbuh Auryn, mendudukkan tubuhnya.
"Jangan-jangan kakak hamil." Seru Yumi semangat dan hal itu sukses membuat sepasang suami istri itu terkejut.
"Tapi dua minggu yang lalu kakak masih datang bulan." Sambar Auryn yang di iyakan Archie, sebab pria itu harus menahan hasrat untuk tidak menyetuh istrinya itu.
"Bagitu ya." Yumi mendesah kecewa.
"Tapi tidak ada salahnya mencoba, siapa tau si baby ingin lebih cepat terdeteksi." Pendapat Yumi barusan membuat mereka tergelak.
"Baiklah, jika nanti masih belum membaik kakak akan periksa." Auryn yang tidak tega melihat raut kecewa adiknya, menghiburnya.
"Yumi sangat senang kalau kakak benar-benar hamil, ya kan kak Ar." Dari Auryn, Yumi beralhir ke kakak iparnya, Archie.
"Tentu saja. Itu artinya kakak berhasil." Bisik Archie ke arah Yumi.
Sarapan mereka pagi ini diisi dengan menggoda Auryn. Mereka juga membayangkan bagaimana penampilan wanita itu saat perutnya buncit juga bagaimana wajah anak mereka kelak.
^^^^
Auryn yang merasa kondisi tubuhnya sudah agak membaik kembali bekerja seperti biasa. Membersihkan ruangan dan juga ranjang yang pernah mereka tiduri berdua sebelum menikah. Meski sekarang Archie sudah tidak pernah lagi menginap disana semenjak menikah, tetap saja harus di bersihkan dan diganti alasnya.
Selama tiga bulan pernikahan mereka, banyak sekali perubahan yang terjadi. Mulai dari sikap mereka yang semakin dewasa dan perubahan pada kebiasaan. Terutama Archie, dia yang selalu butuh kepuasan diatas ranjang, semenjak menikahi Auryn sudah tidak pernah lagi menyewa atau menghabiskan malam dwngan wanita yang bukan miliknya. Ya, dibandingkan kakak kembarnya, Archie lah yang nakal, dalam artian kehidupan malamnya.
"Ah, lelah sekali rasanya." Auryn mendudukkan tubuhnya dilantai, bersandar ke dinding dengan kedua kaki yang diselonjorkan.
__ADS_1
Drrt
Drtt
"Kak Kate." Gumam Auryn membaca nama Kate lah yang tertera di layar ponselnya.
"Ya kak, ada apa?"
"Itu, apa kau bisa membantu ku sebentar? Aku tidak bisa mempercayakan hal ini pada orang lain." Pinta Kate dengan alasan ambigu.
"Baiklah kak, Ryn kesana sekarang kebetulan pekerjaan Ryn juga sudah selesai." Auryn menyanggupi permintaan sahabatnya itu.
"Em….Ar tidak ada disana bukan?" Tanya Kate seperti takut akan ketahuan.
"Tidak kak, Ar sedang keluar entah kemana."
"Baguslah, cepat kemari ya, sebelum suami mu yang cerewet itu datang." Ucap Kate diselingi gurauannya.
"Ya, kak." Usai sambungan terputus, Auryn memasukkan ponselnya kedalam saku seragamnya lalu berdiri untuk memenuhi permintaan tolong sahabatnya.
Baru saja memasuki lift menuju ruangan Kate, Auryn kembali merasakan pusing disertai perutnya yang serasa diaduk-aduk.
"Kenapa pusing lagi?" Keringat dingin mulai mengucur deras di pelipis Auryn, wanita itu berpegangan erat ke dinding lift karena tidak ada pegangan sama sekali.
Ting
"Auryn! Kau kenapa?" Itu suara seorang pria dan itu Lyan.
^^^^
"Lyan, kenapa kau juga ikut kesini?" Kesal Kate melihat Auryn datang berdua dengan sahabat sepupunya itu.
"Auryn, pusing. Sebaiknya jangan kau mintai tolong yang berat-berat." Ingat Lyan pada Kate.
"Ryn tidak apa-apa, hanya pusing saja. Sekarang sudah tidak." Wanita itu mencoba bersikap biasa saja, ia segan jika harus menolak permintaan tolong Kate.
"Sudah sana kau keluar, ini permasalahan perempuan. Aku akan menjaga Auryn dan memastikan adik ipar ku ini baik-baik saja." Kate berucap ketus ke Lyan.
"Dasar cerewet." Balas Lyan tidak kalah ketusnya.
Sepeninggal Lyan yang diusir oleh Kate, Auryn menanyakan apa yang bisa ia lakukan untuk sepupu suaminya itu.
"Apa yang bisa Ryn bantu kak?"
"Tolong bantu aku mencarikan dokumen penting Ryn, jika minta bantuan orang lain takut bocor karena ini bersifat rahasia." Jelas Kate.
"Oh, baiklah kak. Apa isi dokumennya?" Kate menjelaskan isi dokumen tersebut, kemudia mereka mulai mencari secara terpisah.
__ADS_1
^^^^
"Apa yang kalian lakukan diruangan Kate tadi?" Saat ini, Auryn tengah makan siang bersama suaminya di sebuah restoran yang tidak terlalu jauh dari hotel.
"Kak Kate minta tolong untuk membantunya mencari sebuah dokumen penting yang katanya rahasia." Ujar Auryn, wanita itu terlihat tidak nafsu makan terlihat dari ia hanya mengaduk-aduk makanannya saja.
"Dokumen seperti apa?" Lalu Auryn menjelaskannya.
"Apa yang akan dilakukannya? Apa dia berniat untuk kabur dengan pria itu?" Archie membatin.
"Memang domumen apa itu Ar?" Auryn yang tadi segan bertanya pada Kate, menanyakannya ke suaminya.
"Tidak. Tidak terlalu penting." Sanggah Archie.
"Kenapa tidak makan heum? Kau tidak suka makanannya?" Archie yang baru saja memperhatikan piring istrinya, mulai berkomentar.
"Tidak enak Ar, aku takut mual lagi." Keluh Auryn.
"Ganti yang lain saja. Sedari pagi kau belum makan apapun Auryn." Lagi, Auryn menggeleng lemah.
"Kita ke rumah sakit saja kalau begitu." Saran dari Archie.
"Tidak usah Ar, aku hanya masuk angin saja."
"Bagaiman kalau ternyata benar hamil Auryn, akan berbahaya bagi anak kita jika kita terlambat mengetahuinya." Kalimat Archie, membuat perasaan Auryn menghangat. Dalam hati wanita itu juga berharap ia hamil agar hubungan mereka semakin erat.
"Baiklah." Mereka beranjak dari duduk melangkah keluar untuk pergi ke rumah sakit.
Brukk
"Auryn!!" Suara Archie menggema melihat tubuh istrinya ambruk ke lantai sebelum ia sempat menopangnya.
"Auryn, kau kenapa? Hei, bangunlah." Archie yang kini sudah memangku Auryn dipahanya, menepuk ringan pipi sang istri untuk menyadarkannya tapi nihil, Auryn tidak sadarkan diri.
^^^^
"Bagaimana keadaan Auryn?" Perasaan cemas menghinggapi Archie melihat wanita berbaring diranjang rumah sakit dengan wajah pusat pasi.
"Apa dia hamil?" Pertanyaan yang satu belum dijawab, Archie malah kembali bertanya.
"Kenapa kau diam saja Aiden? Sudah bosan menjadi Dokter heh!" Archie melepaskan kekesalanya pada Aiden yang menangani istrinya itu.
"Ar, Auryn,-"
^^^^
Di gantung dulu ya dear….
__ADS_1