Your Wife Is Not Your Wife 2 ( Difference )

Your Wife Is Not Your Wife 2 ( Difference )
Beraninya dia


__ADS_3

▪︎▪︎▪︎▪︎


"Apa kau akan pergi lagi?" Pagi ini Auryn terlihat sudah lebih segar. Wajahnya tampak berseri-seri, terlebih saat ini ia sedang sarapan denagn disuapi suaminya, Archie.


"Iya. Besok pagi keberangkatan ku."


"Kau akan meninggalkan kami lagi?" Auryn yang tadi sangat bersemangat, kini kembali sendu.


"Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan, dan itu tidak bisa di wakilkan." Archie meraih jemari Auryn untuk digenggamnya.


"Bisakah aku ikut?"


"Maaf sayang, bukannya aku tidak mau membawa kalian. Saat ini dia sangat lemah, akan berbahaya untuk melakukan perjalanan jauh." Auryn terdiam. Benar yang dikatakan suaminya, ia tidak boleh egois karena anaknya lah yang paling utama.


"Maaf." Cicit Auryn.


"Tidak apa-apa."


"Ar, aku bosan. Bolehkan kita pergi ke taman?" Rengek Auryn, ia tidak menyia-nyiakan kedatangan suaminya itu.


"Tentu." Sedikit mengacak surai indah istrinya, Archie membalas senyum wanitanya.


Seharian ini mereka menghabiskan waktu bersama tanpa ada yang merecoki. Archie sudah mewanti-wanti Lyan untuk menghalangi siapa saja yang ingin mengunjungi istrinya, tak terkecuali keluarganya sendiri.


"Kau sudah merasakan mengidam?"


"…." Auryn menggeleng pelan.


"Kenapa? Bukannya, biasanya wanita hamil akan meminta yang aneh-aneh dan sulit dicari?" Archie terheran akan kehamilan istrinya itu.


"Dokter bilang, itu mungkin saja bisa terjadi. Tidak semua Ibu hamil itu harus mengidam Ar, mungkin juga anak kita tau bahwa Ayahnya sedang berada jauh, makanya dia tidak mau menyusahkan kita." Auryn berceloteh dengan semangat kembali. Saat menceritakan kehamilannya, binar bahagia tergambar jelas diwajahnya dan itu menular ke Archie. Pria itu juga mendengarkan dengan seksama dan merekam semua perkembangan anaknya yang disampaikan Auryn.


^^^^


Hari berganti hari, minggu berganti minggu, tidak terasa hari ini jadwal Auryn memeriksakan kembali kandungannya. Tidak seperti biasanya, Auryn pergi sendiri hari ini, sebab Celo, mertuanya ikut perjalanan bisnis bersama Zach.


Drrt


Auryn yang baru saja keluar dari kamarnya, mendapat panggilan dari Ibu mertuanya, Celo.


"Ya Momm." Sapa Auryn.


"Sedang apa sayang?"


"Ryn sedang bersiap akan ke rumah sakit Momm."


"Kau sakit?" Suara Celo mendadak cemas.

__ADS_1


"Tidak Momm, ini jadwal Ryn untuk periksa kehamilan." Auryn senang jika Ibu mertuanya itu khawatir, artinya wanita itu menyayanginya.


"Astaga. Mommy lupa. Dengan siapa kau akan pergi nak?"


"Dengan paman Gerald Momm."


"Tidak. Tidak. Mommy tidak bisa membiarkan kalian pergi dengan supir. Sebentar, Mommy akan minta Al untuk mengantar kalian." Ujar Celo memutuskan.


"Tidak perlu Momm. Ryn dengan paman Gerald saja, lagi pula Ar sendiri yang memilih beliau. Jadi semua akan baik-baik saja." Tolak Auryn. Bagaimana pun ia lebih nyaman bersama supir pribadinya tersebut dibandingkan dengan Aldric, entah kenapa hubungan mereka yang awalnya baik kini terasa sangat canggung.


"Ya, Mommy tau itu. Tetap saja, Mommy tidak akan tenang, sayang. Mau ya diantar Aldric? Biar Mimmy tidak kepikiran disini." Pinta Celo memelas.


"Baiklah Momm." Terdengar helaan nafas berat dari Auryn. Meski keberatan, ia juga tidak tega menolak permintaan Ibu mertuanya itu.


"Jangan lupa kabari Mommy perkembangan cucu Mommya ya sayang."


"Tentu Momm." Auryn merasa memiliki keluarga tang lengkap semenjak tinggal di rumah mertuanya. Kasih sayang dan perhatian yang diberikan Zach dan Celo membuat Auryn lupa akan kesedihan ditinggal suaminya.


^^^^


Fokus Auryn buyar, manakala Aldric berdiri persis dihadapannya. Auryn yang tadinya tersenyum membayangkan kasih sayang mertuanya, perlahan mengulum senyum.


"Sudah siap?" Aldric yang menyadari perubahan air muka adik iparnya, memilih untuk berbasa basi menghilangkan kecanggungan.


"Sudah." Ia berbicara dengan Aldric namun tatapannya kearah lain.


"Ayo berangkat." Aldric mengulurkan tangannya, bermaksud untuk membantu Auryn berdiri. Ia pikir wanita itu akan kesulitan saat berdiri karena perutnya yang mulai membuncit.


"Oh. Baiklah." Aldric memilih bersabar dengan menahan, agar tidak menanyakan alasan adik iparnya itu menjaga jarak dengannya. Meski hari itu Auryn sudah memberinya alasan, namun Aldric yakin bukan itulah alasan sebenarnya. Pikirnya, pasti telah terjadi sesuatu antara mereka yang melibatkan dirinya.


Selama di perjalanan, Aldric mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia takut akan membahayakan keponakannya jika menyetir terlalu kencang.


"Sudah tau jenis kelamin anak kalian?" Aldric buka suara memecah keheningan diantara mereka.


"Belum."


"Kenapa? Apa belum bisa diketahui?" Tanya Aldric penasaran.


"Bukan begitu. Aku mau saat ada Archie, barulah kami sama-sama melihatnya." Tutur Auryn. Wanita itu tersenyum bahagia saat nama suaminya terucap di bibir pink meronanya.


"Kau sangat mencintai adik ku rupanya." Seru Aldric bermaksud mengodanya.


"Tidak. Aku sama sekali tidak mencintainya, dia arogan juga dingin seperti es batu." Diluar dugaan, Auryn menjawab Aldric dengan ketus.


"Benarkah?"


"Tentu saja." Auryn menggerutu pelan, seperti Ibu yang sering berbelanja di pasar.

__ADS_1


"Hahaha…"


"Kenapa kau tertawa?"


"Tidak. Apa kau tau, rasa cinta terhadap seseorang tidak harus terucap dari bibir melalui kata-kata, tapi melalui ekspresi pun bisa lebih jelas terlihat. Seperti kau tadi, jelas sekali terlihat bahwa kau sangat mencintai adikku itu." Ujar Aldric disertai senyumnya.


"Kau ini kenapa Al? Aku tidak mencintainya!" Suara Auryn agak meninggi.


"Ya. Ya. Kau tidak mencintainya." Pria lebih baik mengalah, terlebih lagi menghadapi wanita hamil.


^^^^


Tidak hanya mengantar, nyatanya Aldric juga ikut masuk kedalam ruangan pemeriksaan Auryn. Seperti pesan Ibunya, ia harus menemani dan memberitahukan bagaimana perkembangan keponakannya itu pada Ibunya.


"Tunggu di luar saja, aku bisa sendiri." Cegah Auryn saat tau Aldric mengekor dibelakangnya.


"Kenapa? Ini perintah Mommy, aku juga tidak bisa menolaknya Ryn." Terlihat jelas Aldric frustasi, bagaimana tidak. Ibunya meminta untuk mengawasi dan mendampingi Auryn, sementara wanita itu tidak menginginkannya.


"Tolonglah. Aku hanya mengikuti perintah Mommy, tidak ada niat lain Ryn."


Tidak tega juga melihat kakak iparnya memelas, dengan berat hati terpaksa Auryn mengizinkan Aldric ikut bersamanya.


Sesampainya didalam ruangan Dokter Nessi, dia yang tidak mengetahui Aldric kembaran Archie jadi salah sangka.


"Wah, senangnya ditemani suami." Goda Nessi.


"Dia bukan suami saya Dokter." Sanggah Auryn cepat, dia tidak mau jika orang mengira Aldric lah suaminya.


"Hah?" Heran Nessi, sebab Archie dan Aldric itu kembar identik. Yang membedakan hanya penampilan mereka saja, Aldric lebih terkesan santai dan sopan sementara Archie, dia lebih terkesan dewasa dan maskulin.


"Ini Aldric, kembaran suami saya Dokter." Jelas Auryn menjawab keheranan Dokter Nessi.


"Jadi Archie kembar?" Nessi balik bertanya.


"Anda mengenal adik saya?" Aldric ikut berkomentar.


"Tidak juga, kami pernah bertemu waktu itu. Saat pesta kelulusan Aiden."


"Ah…jadi kau teman Aiden."


"Ya. Begitulah kira-kira." Mereka larut dalan pembicaraan singkat itu.


^^^^


"Apa ini? Berani-beraninya dia menggantikan peran ku sebagai suami!" Archie membanting ponselnya kasar. Baru saja dia mendapat pesan yang berisikan foto-foto Auryn yang ditemani kakak kembarnya.


Seperti disengaja, foto itu diambil disaat mereka berdekatan sehingga terkesan seperti mereka bermesraan.

__ADS_1


"Berani-beraninya mereka bermain api dibelakang ku! Br*****k!!" Tersulut emosi, Archie membanting apa saja yang ada dihadapannya.


▪︎▪︎▪︎▪︎


__ADS_2