
▪︎▪︎▪︎▪︎
Malam semakin larut ketika Melodi dipindahkan ke ruangan rawat khusus. Ya, Aiden sengaja mengatur pasiennya itu agar tidak perlu ditempatkan di ruang ICU supaya pihak keluarga bisa lebih leluasa berkomunikasi untuk mempercepat proses siumannya.
Entah hanya simpati atau apa, yang jelas perhatian pria yang berprofesi sebagai Dokter muda nan tampan itu hanya berpusat pada Yumi seorang. Lain halnya Archie, pria itu yang menyadari gelagat aneh temannya mengambil langkah cepat, bukannya ia cemburu hanya saja Archie sangat hapal betul bagaimana kelakuan Aiden terhadap wanita.
"Nona Yumi, sebaiknya kau temani Auryn beristirahat. Kalian pasti lelah." Archie buka suara ditengah keheningan yang menyelimuti mereka.
"Tidak! Emm..maksudku, aku mau disini saja menemani Ibu Ar." Sanggah Auryn cepat.
"Saya juga mau disini Tuan." Yumi pun ikut menyanggah perkataan Archie.
"Baiklah. Kalau begitu kami yang akan keluar." Seru Archie dengan arah tatapan mata ke Aiden yang duduk tidak jauh dari Yumi. Menulikan telinganya, Aiden hanya diam membisu tidak menanggapi perkataan Archie.
"Heh.. kau disini sebagai seorang Dokter atau punya tujuan lain?" Cerosos Archie lansung tidak memperdulikan Aiden akan tersinggung akan ucapannya.
"…." Aiden yang kesal karena sindiran temannya, segera saja beranjak berdiri kemudian melangkah cepat menuju pintu.
"Auryn, aku ada diluar jika kalian butuh sesuatu." Imbuh Archie sebelum akhirnya menyusul Aiden keluar.
^^^^
Satu malam telah mereka lalui tanpa Melodi yang enggan membuka matanya. Kedua gadis yang sudah menjadi saudara itu sama sekali tidak memejamkan mata mereka semalaman.
Drtt
Drrt
"Kak, ponsel Kakak sedari tadi terus saja bergetar, siapa tau itu penting." Yumi menyerahkan ponsel Auryn yang tadinya terletak di atas sofa yang ia duduki.
"Oh, ah ya. Terima kasih." Auryn sedikit menyunggingkan senyumnya meski itu berat.
Sebelum menerima panggilan tersebut, sekilas Auryn melihat ID si pemanggil yang ternyata tidak terdaftar dalam contact nya. "Siapa yang menghubungi ku pagi-pagi begini?" Auryn bertanya dalam hati.
"Ya, selamat pa-" belum usai Auryn mengucapkan sapaannya, suara diseberang sana sudah menyahut cepat.
"Ah syukurlah akhirnya panggilan Mommy di jawab juga nak." Suara wanita diseberang terdengar tidak asing ditelinga Auryn.
"Mommy?" Auryn masih belum bisa menangkap apa-apa.
__ADS_1
"Iya nak. Ini Mommy Ar.." sahut suara di seberang lagi yang ternyata Celo lah yang menghubunginya.
"Maaf Mommy, Ryn tidak tau. Maaf sudah tidak sopan." Lirih Auryn juga malu atas ketidak sopanannya.
"Tidak apa-apa sayang. Mommy mengerti keadaan mu sekarang dan Mommy ikut sedih mendengarnya. Secepatnya Daddy akan menyelesaikan pekerjaan disini agar kami bisa cepat kembali." Jelas Celo dengan nada sendu seperti menahan tangis.
"Tidak apa-apa Momm, biarkan Daddy menyelesaikan pekerjaan dengan tenang. Ryn disini baik-baik saja." Auryn berkata demikian agar kesedihannya tidak menjadi beban bagi orang lain.
"Momm sangat tau bagaimana perasaan mu sekarang nak, karena Mommy juga pernah berada di posisi mu sekarang. Auryn harus kuat ya nak, percayalah badai akan segera berlalu dan bahagia pasti akan menjelang." Celo menguatkan Auryn yang sudah dianggap seperti putrinya sendiri, terlebih lagi gadis itu tidak beda jauh nasibnya dengan masa lalunya.
"Terima kasih banyak Momm, Ryn akan selalu simpan kata-kata Mommy." Percakapan singkat mereka diiringi dengan jatuhnya air mata gadis itu. Tidak banyak yang mereka bicarakan sampai sambungan melalui ponsel tersebut mereka akhiri.
Auryn melangkah keluar dari kamar rawat Ibunya bermaksud untuk membeli makanan. Dari semenjak kecelakaan kemarin dia juga Yumi tidak sedikit pun berselera untuk makan. Bicara Yumi, gadis itu nampaknya sedang membersihkan diri di kamar mandi yang ada disana.
^^^^
Tidak sampai setengah jam, Auryn kembali lagi dengan beberapa makanan juga minuman di kedua belah tangannya. Saat masuk ia mendapati Yumi tengah mengelap wajah Ibu mereka dengan handuk kecil.
"Kakak dari mana?" Tanya Yumi saat melihat Auryn masuk ketika menoleh untuk melihat siapa yang datang.
"Ini. Ayo kita makan." Ajak Auryn sembari mengeluarkan makanan yang tadi ia beli.
"Kau pikir aku lapar? Tidak Yumi. Tapi kita harus tetap menjaga kesehatan untuk menjaga Ibu, atau apa kau juga mau meninggalkan ku sendiri?" Tukas Auryn degan air mata yang siap tumpah kapan saja.
"Ka-…maaf kak. Aku tidak bermaksud seperti itu. Hanya saja-" tidak sanggup lagi berkata, Yumi berlari ke arah Auryn untuk memeluknya.
"Jangan menyalahkan diri sendiri lagi, Ibu akan marah jika sampai mendengarnya. Ayo kita makan." Auryn mengusap sayang punggung Yumi yang tingginya tidak beda jauh dengannya.
"Baiklah Kak." Setelah di bujuk, akhirnya Yumi mau juga makan bersama Auryn. Mereka makan dalam diam dengan rasa enggan untuk menelan makanan yang terasa pahit itu.
"Yumi, setelah ini Kakak mau berangkat bekerja. Kau jaga Ibu sementara kakak pergi ya." Ujar Auryn seraya mengemasi bekas makanan mereka.
"Tapi-"
"Tidak apa-apa, Ibu pasti akan baik-baik saja. Ibu tidak suka jika kita melalaikan tanggung jawab yang kita emban." Sahut Auryn sebelum Yumi sempat membantah.
"Baiklah Kak," pembicaraan mereka diakhiri dengan Auryn yang bersiap untuk pergi bekerja.
"Bu, Ryn pergi bekerja sebentar ya. Ada Yumi disini yang akan menjaga dan menemani Ibu. Ibu senangkan sekarang mempunyai dua anak yang bisa saling mengandalkan. Bu, Ryn harap saat pulang nanti, Ibu akan menyambut Ryn seperti biasa." Lirih Auryn berbisik kearah Ibunya, tak lupa gadis itu menyampaikan harapannya agar wanita yang sangat berharga dihidupnya itu bisa segera bangun.
__ADS_1
"Ryn sayang Ibu." Sebelum benar-benar pergi, seperti biasa Auryn selalu mengecup pipi juga kening Ibunya.
"Mereka saling menyayangi, apa benar sekarang aku berada ditengah-tengah mereka? Apa aku pantas untuk itu?" Batin Yumi melihat kasih sayang Auryn untuk Ibunya.
^^^^
"Apa? Kenapa gadis bodoh itu datang bekerja? Dimana dia sekarang?" Archie terkejut sekaligus kesal mengetahui gadisnya datang bekerja disaat seperti ini.
"Sekarang masih diruang loker Bos." Sahut orang yang memberi informasi ke Archie.
"Panggilkan gadis bodoh itu kemari!" Hardik Archie keras pada orang itu.
"Baik Bos." Balas orang itu cepat.
Tidak butuh waktu lama, dalam hitungan menit saja Auryn kini sudah berdiri dihadapan Archie. Wajah gadis itu nampak menunduk karena takut telah berbuat suatu kesalahan. Sementara Archie, pria itu sibuk dengan layar lipat diatas meja besar didepannya.
"Kau tau kenapa aku meminta mu kemari?" Tidak tega juga mendiamkan gadisnya, Archie pun buka suara.
"…." Tidak berani menjawab, Auryn memilih menggelengkan kepalanya.
"Apa tubuh mu sekuat itu sampai kau datang untuk bekerja heumm?" Archie berdiri dari duduknya lalu berjalan memutari meja untuk kemudian mendudukkan sebagian bokongnya dimeja seraya menghadap Auryn.
"…." Namun lagi-lagi Auryn menggelengkan kepalanya.
"Jangan berpikir sendirian, seolah semua baik-baik saja Auryn." Sentak Archie dengan meraih pinggang gadis itu merapat ke tubuhnya.
"Tidak Ar, semua tidak baik-baik saja. Rasanya mau mati saja, jika aku terus menunggu disana. Dengan bekerja, aku bisa berharap Ibu akan terbangun saat aku pulang nanti. Meski kecil kemungkinannya." Air mata yang sedari tadi terus ditahannya, akhirnya tumpah jua.
"….." kini giliran Archie lah yang terdiam. Pria itu seakan sudah kehabisan kata-kata untuk membalasnya. Seperti biasa, Archie lebih memilih menggunakan gerak tubuh untuk mengungkapkan sesuatu. Ya, ia membenamkan Auryn kedalam dekapan hangatnya.
▪︎▪︎▪︎▪︎
Maaf lama tidak Up, ada suatu hal yang membuat saya tidak bisa Up beberapa hari ini. Saya tau maaf saja tidak cukup, untuk itu saya akan berusaha sebaik mungkin untuk Up lebih banyak lagi dalam sehari.
Minta doanya ya agar saya dan kita semua selalu sehat. Juga tidak lupa saya meminta dukungan teman-teman semua.
Sukai karya saya ini dengan memberikan LIKE dan meninggalkan COMMENT. VOTE teman-teman juga sangat berharga buat saya.
TERIMA KASIH BANYAK
__ADS_1