
▪︎▪︎▪︎▪︎
Tengah malam Aldric berjalan keluar kamar berniat untuk mengambil air minum untuk melepaskan dahaganya. Bertepatan saat itu Zach juga baru keluar dari ruang kerjanya.
"Dadd, belum tidur?" Sedikit terkejut, Aldric meluncurkan pertanyaan pada Ayahnya itu.
"Belum, tadi ada pekerjaan penting yang harus Dadd selesaikan untuk meeting besok pagi." Timpal Zach menjawab pertanyaan putra sulungnya.
"Oh. Jangan terlalu lelah Dadd, nanti sakit. Momm pasti sedih jadinya." Ujar Aldric diselingi candaan.
"Mau minum teh?" Tawar Zach ke Aldric.
"Boleh, Dadd yang buat?" Aldric paham, pasti ada sesuatu yang akan disampaikan Ayahnya itu.
"Mm…" segera pria yang sudah sepantasnya jadi kakek itu menakar gula juga teh untuk diaduk jadi satu.
"Sudah lama kita tidak seperti ini, terlebih Ar, anak nakal itu lebih memilih untuk hidup diluar sendiri." Keluh Zach sembari meniup teh yang asapnya masih mengepul.
"Iya." Singkat Aldric.
"Kapan rencananya kau akan ke Holland?" Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari Zach. Aldric menoleh, ia mulai paham arah pembicaraan Daddy nya itu.
"Setelah selesai kuliah ini Dadd." Mendadak pembicaraan Ayah dan anak itu berubah menjadi kaku.
"Lanjutkan di Holland saja." Sentak Zach datar..
"Kenapa? Apa ini karena Ar?" Aldric yang semula duduk setengah bersandar disandaran sofa kini menegakkan tubuhnya.
"Kau tau maksud Dadd Al," sahut Zach serius.
"Kenapa? Apa karena Ar selalu mengalah?" Aldric tersenyum miring menanggapi keputusan ayahnya.
"Aldric!" Bentak Zach sedikit tinggi.
"Apa aku terlalu buruk dimata kalian sampai-sampai harus meminta Ar untuk mengalah? Padahal aku tidak pernah menginginkan semua itu!" Tidak disangka, Aldric bisa memberontak demikian.
"Justru kau yang berpikiran buruk pada kami Al! Kalian kembar, perasaan yang kalian miliki juga sama, Dadd hanya tidak mau kalian bertengkar hanya karena persoalan perempuan. Maka dari itu, pergilah sebelum semua menjadi pelik." Titah Zach.
"Dadd mengusirku?" Raut wajah Aldric mengeras menahan emosi yang tidak akan mungkin ia keluarkan dihadapan Ayahnya.
"Dan kau juga tau itu tidak akan mungkin. Sekarang kau pilih, mengambil hati Auryn lalu kelola perusahaan, dan Ar yang akan berangkat ke Holland. Keputusan ditangan mu. Hanya satu pinta Dadd, jangan sampai kalian bertengkar apapun itu masalahnya. Kau yang paling tua, kau lah yang seharusnya mengambil peran memutuskan sesuatu." Zach berdiri dari duduknya.
"Pikirkan dengan kepala dingin, jangan dengan emosi." Baru selangkah, Zach menepuk pelan sebelah pundak anaknya.
Seperginya Zach, Aldric duduk termenung. Tangannya mengepal erat menahan sesuatu yang sedari tadi akan meledak layaknya bom waktu.
"Kenapa jadi begini? Apa benar aku yang egois? Tapi aku hanya tidak ingin gadis itu terluka." Lirih Aldric berbicara sendiri.
__ADS_1
▪︎▪︎▪︎▪︎
Semua mata tertuju kearah Archie itu sudah biasa, namun kali ini tidak. Setiap orang yang melihatnya melirik kearah lain, dimana saat ini pria itu tengah menggedong seorang gadis di pangkuannya.
"*Siapa yang digendong Bos kita?"
"Apa itu kekasihnya?"
"Atau mungkin Bos sudah menikah diam-diam, lebih parahnya Bos menghamili gadis itu. Mereka pasti habis bertengkar."
"Bisa jadi juga wanita itu menggoda Bos, lalu hamil. Dia minta pertanggung jawaban dan Bos tidak mau*."
Bermacam ragam pendapat karyawan yang melihatnya memenuhi pendengaran Archie, membuat darah pria itu serasa mendidih. Ingin rasanya untuk memberhentikan mereka semua secara tidak hormat, tapi berhasil ditahannya, karena ia tidak mau gadis yang kini berada di gendongannya terbangun dan merasa kecil hati.
"*Astaga!" Terdengar salah satu dari orang-orang tadi terkejut entah kenapa.
"Kenapa?"
"Ada apa?"
"Coba perhatikan, wanita it-u Auryn. Salah satu karyawan disini juga."
"Ah, wanita yang ditugaskan mengurusi segala keperluan Bos."
"Pantas saja dia bisa menggodanya*."
"Lyan!!" Security yang bernama Lyan itu bergegas menghampiri Bos nya.
"Saya Tuan." Sahutnya setelah berdiri dihadapan Archie.
"Tutup mulut kotor mereka yang berani menyebut gadis ku dengan kurang ajar. Jika perlu potong lidah mereka." Suaranya memang tidak cukup keras, tapi masih cukup untuk didengar oleh mereka semua. Nada datar yang mampu membuat siapa saja bergidik ngeri.
"Segera Tuan." Lyan yang memiliki sifat tidak jauh berbeda dari Archie, menampakkan senyum miringnya. Jika sudah seperti ini, suasana akan berubah menjadi mencekam.
^^^^
Archie merebahkan tubuh ringan Auryn diatas ranjang besarnya dengan sangat hati-hati takut gadis itu akan terbangun. Ia duduk disisi ranjang tepat disamping tubuh gadisnya, masih dengan gerakan pelan, disibakkannya helaian-helaian rambut yang melekat diwajah Auryn.
"Cantik." Satu kata itu lolos begitu saja dari bibir tipis Archie, senyuman juga tergambar jelas diwajah yang selalu datar itu.
"Ughh…" Auryn menggeliat dalah tidurnya seperti sedang bermimpi.
"Sstth…" seperti seorang Ibu yang menenangkan anaknya, dielus penuh kasih kepala Auryn, juga satu tangannya dipergunakan untuk menepuk-nepuk ringan lengan atas gadis itu.
"Apa yang kau mimpikan? Masih merindukan Ibu mu? Aku juga, aku merindukan Mommy." Bisiknya ke telinga Auryn sampai gadis itu kembali tenang dan terlelap ditidurnya.
Sepasang mata hitam bulat mulai mengerjap pelan menyambut sinar mentari pagi. Auryn merasa asing dengan dengan keadaan sekarang, gadis itu merasa perutnya berat seperti tertimpa sesuatu. Memaksa kesadarannya untuk pulih, Auryn mulai menelisik sekitar dan menyadari dimana ia sekarang.
__ADS_1
Perlahan sepasang bola mata itu, mengalihkan pandangannya ke arah perut yang betapa terkejutnya dia mendapati sepasang tangan besar melekat disana.
"Astaga." Auryn membatin dalam hati, bibir yang semula berwarna merah jambu itu berubah pucat pasi. Tapi ada kelegaan saat Auryn mengetahui dia masih memakai pakaian utuh hanya saja sudah berganti pakaian.
Auryn membalik tubuhnya menghadap ke sipemilik tangan dan benar saja, itu Archie. Segala pemikiran buruk menghinggapi otaknya yang masih belum sepenuhnya terbangun.
"Ar…b-bangun Ar…" dengan suara bergetar, Auryn menepuk bahu Archie pelan untuk membangunkannya.
"Ar…bangun." Dengan kesal, dipukulnya dengan keras pundak Archie.
"Argh.." terkejut, Archie membuka matanya yang lansung bertemu dengan mata bulat Auryn.
"Ada apa? Kenapa kau mengganggu tidur ku?" Tukasnya kesal.
"K-kenapa ak-ku tidur d-disini?" Mendadak Auryn jadi gagap karena mereka terlalu dekat, bahkan sangat dekat dengan tangan pria itu yang masih membalut perut hingga kepinggang rampingnya.
"Kenapa?" Otak licik Archie membuatnya terbangun untuk menjahili gadis polosnya itu.
"Ini tidak boleh Ar." Imbuh Auryn cemas.
"Kenapa tidak boleh? Bukannya waktu itu kau ingin berterima kasih, dan aku meminta mu untuk ini." Archie berujar ringan seolah ini hanyalah masalah sepele.
"Ii-ni?" Ketakutan Auryn semakin tercetak jelas diwajah cantik khas bangun tidurnya.
"Ya. Tidur dengan ku." Cibir Archie menahan tawa yang siap pecah kapan saja.
"Ar..aa-ku takkut Ar." Auryn yang telalu polos atau bodoh menciut karena Archie yang terus saja menggodanya.
"Apa yang kau takutkan Heum?" Archie semakin merapatkan tubuh mereka sampai membuat Auryn menahan dada pria itu dengan telapak tangan kecilnya.
"Aku takut Ar." Keluh Auryn lagi.
"Tidak apa-apa. Hanya sekali tidak akan hamil." Pria itu terus saja menggodanya.
"Tta-tapi…" kegilaan Archie nyatanya membuat Auryn menangis dipagi itu.
"Hei…kenapa menangis?" Diusapnya air mata yang mengalir panjang diwajah cantik gadis yang diklaim sebagai miliknya itu. Direngkuhnya Auryn kedalam hangatnya pelukan Archie di pagi ini.
"Aku hanya bercanda, tidak ada yang terjadi semalam." Archie mengakhiri kejahilannya yang sedari tadi menggoda Auryn.
"B-benarkah?" Auryn masih tidak percaya akan ucapan pria mesum itu.
"Mm...ya, tidak juga. Kita berpelukan sepanjang malam."
"Arr…" pekik Auryn saat tubuhnya tertimpa berat tubuh Archie yang kini menindihnya.
"Bagaiman jika kita lakukan sekarang? Semalam tidak terjadi apa-apa karena kau tertidur, tapi sekarang kita sama-sama terjaga bukan." Raut wajah Archie yang semula bersahabat kini berubah datar dan serius membuat Auryn tegang.
__ADS_1
▪︎▪︎▪︎▪︎