
▪︎▪︎▪︎▪︎
Malam itu, Auryn menyingkirkan segala beban dipundaknya. Lain halnya Archie, pria itu berdiri dibalik daun pintu yang sedikit terbuka. Semua pembicaraan Ibu dan anak itu tertangkap jelas oleh indera pendengarannya.
"Nak Archie…" panggil Melodi, matanya tidak sengaja menangkap sosok seorang di balik pintu
Mendengar Ibunya menyebut keberadaan Archie, Auryn menghapus kasar air mata diwajahnya. Gadis itu mengalihkan pandangannya, tidak mau kekasihnya itu melihat keadaannya yang seperti sekarang ini.
"Ah, benar itu kau nak. Ayo sini masuk, kenapa hanya berdiri disitu saja?" Terkaan Melodi benar jikalau itu Archie.
"Selamat malam Bibi." Sapa Archie, mengusap tengkuknya karena baru saja tertangkap mengintip.
"Kemarilah." Melodi mengulurkan tangannya untuk digenggam kekasih putrinya itu. Bak sebuah magnet, Archie menyambut baik uluran tangan wanita itu.
"Padahal baru beberapa hari, tapi sudah sangat lama rasanya kau tidak mengunjungi Ibu disini." Tutur Melodi lirih. Tapi bukan itu yang mengejutkan, wanita satu anak itu mengubah panggilannya Archie terhadapnya.
"Mulai sekarang jangan panggil Bibi lagi, panggil Ibu ya nak." Ketercengangan mereka terjawab sudah.
"Ayo, coba panggil Ibu." Titah Melodi menggoyangkan lengan Archie yang digenggamnya.
"Ibu.." panggil Archie, rasanya pria itu begitu luwes menyebutkannya.
"….." Melodi tidak dapat lagi menyembunyikan rasa bahagianya.
"Nak Ar, besok Auryn mau mengajak Ibu ke taman, kau mau kan ikut bersama kami?" Tanya Melodi dengan wajah penuh harap.
"Tentu." Archie menerima ajakan itu begitu saja, seolah tidak ada kecanggungan sama sekali.
^^^^
Paginya, Archie berpamitan ke Hotel sebentar buntuk berganti pakaian. Sementara Auryn menyiapkan segala sesuatu yang sekiranya akan dibutuhkan Ibunya nanti, tapi sebelumnya Melodi tetap harus diperiksa lebih dahulu takut-takut akan mengalami penurunan kondisi.
"Bagus. Semua stabil. Tapi ingat, Nyonya jangan terlalu bersemangat, santai saja, nikmati hari mu." Jelas Dokter.
"Tentu Dokter tampan. Sayang sekali Auryn sudah punya kekasih dan juga sedikit lebih tampan dari anda." Guraunya pada Dokter muda yang dipilihkan Archie untuk merawatnya.
"Hahaha, anda bisa saja. Jika saja Papi saya tidak bersahabat dengan Daddy-nya Ar, saya tidak akan segan merebut Nona Auryn darinya." Cetus Dokter Aiden namanya dengan bisikan diakhir kalimat.
"Hahaha…" mereka tertawa berdua membuat Auryn yang baru saja keluar dari kamar mandi jadi bertanya-tanya.
"Apa yang Ibu dan Dokter tertawakan?" Pertanyaan itu akhirnya meluncur juga dari bibir manis Auryn.
__ADS_1
"Mau tau saja. Eh Ryn, bagaimana menurut mu jika Dokter tampan ini menjadi Ayah sambung mu?" Celoteh Melodi, walaupun ia hanya bergurau saja, tapi sebisa mungkin ia memasang raut seriusnya.
"…." Bingo. Respon Auryn hanyalah berupa wajah bodohnya.
"Ibumu serius Nona, kami saling punya rasa." Pernyataan Dokter Aiden, seolah ucapan mereka serius.
"Arghh….bisa gila aku lama-lama." Erang Auryn frustasi.
"Hahaha…." Lagi, Melodi dan Dokter Aiden tertawa bersama.
"Oh ya, Nona Yumi ikut bersama kalian bukan?" Tanya Aiden setelah habis menggoda Auryn sampai gadis itu kesal.
Yumi ialah perawat khusus yang disewa Archie untuk menjaga dan menemani Melodi selama beberapa waktu belakangan ini. Gadis yatim piatu yang hidup sebatang kara, anaknya baik juga rajin, itulah yang membuat pria itu memilihnya.
"Iya Dokter. Sebentar lagi pasti datan- oh ini dia." Sahut Auryn cepat melihat Yumi membuka kamar rawat Ibunya.
"Baiklah. Nona Yumi, bisa ikut saya sebentar, ada yang harus saja jelaskan menyangkut Nyonya Melodi." Tukasnya, dengan melemparkan senyum pada perawat bertubuh mungil tersebut.
"Tentu Dokter. Nona Auryn, Nyonya, saya permisi sebentar." Pamit gadis itu sopan.
"…." Auryn tersenyum seraya menganggukkan kepalanya mengiyakan.
"Mereka serasi ya Ryn." Celetuk Melodi melihat kepergian dua orang tenaga medis itu.
"Kau ini.." Melodi pun ikut mencibir ke arah putrinya.
^^^^
Tepat pukul sepuluh lagi, Archie menghampiri gadis dan Ibunya untuk membawa mereka ke taman seperti ucapan mereka semalam. Ia membantu Auryn membawa satu buah keranjang yang entah apa isinya.
"Apa kita akan piknik?" Tanya Archie.
"Tidak juga, hanya saja kita pasti butuh ini semua saat disana." Imbuh Auryn sambil memeriksakan segala sesuatunya.
"Ohh…" Pria itu hanya ber oh ria saja, mereka berjalan bersisian tepat dibelakang Melodi dan Yumi.
"Aiden sudah memeriksa Ibu? Apa beliau aman jika berada diluar rumah sakit?" Pertanyaan Archie sarat akan rasa khawatir juga penuh perhatian.
"Sudah. Ibu baik-baik saja, kasihan juga jika tidak kita turuti." Sahut Auryn tersenyum, tapi senyum sendu.
Tidak sampai satu jam, mereka sampai disebuah taman yang begitu asri juga dipenuhi berbagai jenis bunga berwarna warni. Seturunnya dari mobil, Melodi menghirup udara segara dengan sedikit rakus karena sudah lama ia tidak menghirupnya.
__ADS_1
"Ibu suka?" Dengan lancarnya Archie mengucap sebutan Ibu.
"Ini sangat indah nak. Bahkan kami tidak ingat pernah ke taman atau tidak." Nada suara Melodi berubah pelan dan lirih.
"Bu…sekarang kita sudah di taman bukan? Ingat yang dikatakan Dokter jika Ibu mau berjalan keluar lagi nantinya." Nasehat Auryn.
"Mm…" Auryn menuntun Ibunya ke sebuah pohon besar, disana juga terdapat sebuah bangku taman. Sedangakan Archie dan Yumi membantu membawa satu seorang keranjang.
Sementara Yumi menggelar kain yang akan menjadi alas mereka duduk, Auryn membawa Ibu duduk dibangku taman agar beliau tidak kelelahan lama-lama berdiri. Bertanya tentang Archie, pria itu sesudah menaruh bawaan di dekat mereka pergi entah kemana.
"Nona, jika kau mau melihat-lihat, silakan. Biar aku yang menjaga Ibu." Ucap Auryn pada Yumi.
"Terima kasih Nona." Ucap Yumi dengan senyum mengembang.
Sepeninggal Yumi, Ibu dan anak itu membicarakan hal-hal ringan. Sesekali mereka saling tertawa juga mengejek akan kenangan masa lalu mereka.
"Hah…tidak terasa kau sudah dewasa sekarang nak. Siap tidak siap Ibu harus rela melepas mu menikah." Ditatap lekat-lekat wajah ayu putrinya.
"Biarpun nanti Ryn menikah, Ryn akan membawa Ibu." Tegas Auryn..
"Ya. Ibu percaya kau akan melakukan itu. Terima kasih sudah hadir dalam hidup Ibu nak."
"Apa yang Ibu bicarakan? Tidak pantas seoramg Ibu berucap terima kasih pada anaknya." Auryn membantah perkataan Ibunya.
"Heheh.. anak Ibu sudah benar-benar dewasa rupanya.
Ditengah pembicaraan serius mereka, Archie datang dengan beberapa kantong cemilan juga sebuket rangkaian bungan cantik.
"Maaf membuat kalian menunggu." Kemudian pria itu mengambil tempat disamping Auryn tepat didepan Melodi.
"Ini untuk Ibu." Ucap Archie menyerahkan buket bunga tadi.
"Ei, untuk Ibu? Apa kau mau memperburuk hubungan kami anak muda?" Setus Melodi dengan mengerucutkan bibirnya.
"Bukan seperti itu, Auryn sudah puas akan cinta ku padanya." Balas Archie.
"Kalian ini, ya sudah. Terima kasih nak, bunganya sangat cantik. Oh ya Nona Yumi, bisa kau temani aku mengelilingi taman ini?" Pintanya pada yang sedari tadi sudah ikut bergabung bersama mereka.
"Tentu Nyonya." Gadis berperawakan jepang itu mengulurkan lengannya untuk digandeng Melodi.
Kini tinggalah mereka berdua, suasana hening merayapi mereka. Sampai Archie buka suara dengan satu pertanyaan.
__ADS_1
"Kenapa Ibu tidak menikah lagi?"
▪︎▪︎▪︎▪︎