
▪︎▪︎▪︎▪︎
Beberapa hari kedepan Auryn dilarang pergi bekerja oleh Archie, tentu saja dengan sedikit ancaman. Jadilah siang ini, Auryn ditemani Yumi kembali ke makan Ibu mereka.
"Siang Bu, apa tidur Ibu nyenyak semalam? Apa Ibu sudah sarapan?" Seperti orang kehilangan akal, Auryn bertanya sesuatu yang tidak mungkin pada gundukan tanah tempat peristirahatan terakhir Ibunya.
Yumi yang bersimpuh tepat disamping Auryn, memeluk kakaknya dengan menyandarkan kepalanya dibahu gadis itu.
"Yumi, kau tidak menyapa Ibu?" Kalimat Auryn ambigu, antara bertanya ataukah meminta Yumi melakukannya.
"Ibu…aku datang bersama Kakak. Aku…dan Kakak akan saling menjaga dan menyayangi satu sama lain Bu. Ibu jangan cemas, dan berbahagialah disana." Melihat Auryn, Yumi juga ikut bercakap dengan gundukan tanah tersebut.
"Ibu dengar sendirikan. Kami akan sering-sering kesini untuk menemui Ibu, terima kasih untuk segalanya Bu, kami sayang Ibu." Auryn merebahkan kepalanya di batu yang bertuliskan nama Ibu mereka.
Puas bercakap tanpa balasan dari Ibu mereka, kedua gadis bersudara itu kembali pulang ke rumah. Sepanjang jalan, mereka tak melepas genggaman tangan yang saling mereka tautkan.
"Setelah ini apa rencana Kakak?" Tanya Yumi menatap Auryn sekilas.
"Entahlah, mungkin akan mencari pekerjaan baru." Timpal Auryn meragu.
"Kenapa?" Yumi menghentikan langkahnya, terkejut dengan penuturan Kakaknya.
"Tidak ada alasan yang spesifik, hanya saja ada sesuatu hal yang tidak bisa ku ceritakan." Ujar Auryn sendu.
"Apa Kakak ada masalah dengan Tuan Archie?"
"Tidak." Singkat Auryn.
"Jangan dipikirkan, semua baik-baik saja. Mm…bagaimana dengan kau Yumi?" Auryn melanjutkan dengan pertanyaan yang sama dengan yang dilontarkan Yumi tadi.
"Mungkin aku juga akan berhenti dari yayasan penyalur tenaga kesehatan. Aku akan mencoba bekerja di rumah sakit, jika ada yang diterima." Jelas Yumi. Nampaknya mereka mulai menata hidup yang lebih baik lagi untuk kedepannya.
"Bagus kalau begitu. Aku akan selalu mendukung keputusan mu." Auryn menyakinkan Yumi bahwa ia akan selalu mendukungnya. Mereka melanjutkan langkah yang tadi sempat terhenti karena pembicaraan mereka.
^^^^
Sesampainya di rumah, terlihat seseorang menunggu didepan rumah sederhana mereka. Wanita berpenampilan bersih, rapi dan elegan, semaki dekat Auryn mengenali siapa dia.
"Mo-Momm…." Gumam Auryn berbisik.
"Kakak mengenal Nyonya itu?" Bisik Yumi karena mereka sudah hampir dekat dengan Celo. Tapi Auryn tidak menjawabnya.
"Momm…" kali ini Auryn menyapa bukan lagi berbisik.
__ADS_1
"Sayang…." Celo menyambut Auryn dengan lansung memeluk erat tubuhnya tidak lama, hanya sekilas saja.
"Kapan Mommy sampai?" Auryn menyembunyikan kesedihannya dengan bersikap biasa saja. Ia hanya tidak mau terlihat menyedihkan dihadapan orang lain yang membuat mereka merasa kasihan padanya.
"Tiga jam yang lalu. Kemarilah nak." Tukas Celo, wanita tiga anak itu kembali memeluk Auryn. Diusapnya dengan penuh sayang kepala juga punggung Auryn dengan beraturan.
"Maafkan Mommy, tidak ada disaat-saat kau butuh nak. Mommy menyesal, bahkan hingga saat terakhir pun belum bisa menemui Ibu mu untuk berkenalan secara lansung." Ucapan Celo sarat akan penyesalan mendalam.
"Tidak apa-apa Momm, bahkan kehadiran Mommy disini sudah jauh lebih dari cukup. Ryn yakin, Ibu pasti sangat senang jika bisa bertemu dengan Mommy." Auryn berkata dengan senyum tipis yang sengaja di tampakkannya. Pelukan mereka terlepas saat pandangan mata Celo tidak sengaja jatuh ke arah Yumi.
"Siapa gadis manis ini?" Dari Auryn, Celo bergeser kearah Yumi yang berdiri tidak jauh dibelakang calon menantunya.
"Ah iya. Perkenalkan Momm, ini Yumi adik Auryn." Ditariknya Yumo mendekat kesampingnya. Kemudian dua wanita berbeda generasi itu bersalaman dan juga berbagi pelukan.
"Saya Yumi Nyonya," Yumi memperkenalkan diri yang direspon dengan senyum oleh Celo.
Tidak sopan mengajak tamu berbicara diteras luar rumah, Auryn mempersilakan Celo untuk masuk sementara Yumi, gadis itu pergi ke belakang untuk menyiapkan sesuatu yang bisa disuguhkan.
"…." Mereka saling diam cukup lama, sampai Yumi kembali dengan hidangan seadanya.
"Silakan Nyonya. Maaf hanya hidangan sederhana." Ujar Yumi sopan.
"Tidak apa-apa nak. Ah ya, jika kau tidak keberatan, Mommy lebih senang dengan panggilan Mommy." Tawar Celo dengan bahasa yang hati-hati untuk menjaga perasaan mereka.
"Ryn, jika butuh sesuatu atau apapun itu, jangan sungkan menemui Mommy. Kau bisa kapan saja datang, pintu rumah selalu terbuka lebar untuk kalian." Jelas Celo. Karena memang sedari dulu ia sangat mendambakan mempunyai seorang putri. Meski ada Cassey, keponakan yang bisa dimanjakannya, namun karena anak itu memilih tinggal di asrama membuat Celo tetap kesepian.
"Terima kasih banyak Momm." Selama Celo mampir di kediaman Auryn, ia sama sekali tidak mengungkit perihal Ibu gadis itu lebih dalam lagi sebab takut mereka akan kembali bersedih.
Flashback
"Kakak ipar mau kemana?" Chris bertanya, saat melihat Celo dengan langkah tergesa-gesa keluar dari kamar hendak pergi. Padahal baru beberapa jam yang lalu ia tiba dari perjalan panjang.
"Mau menemui Auryn." Singkat Celo.
"Eh, sebaiknya beristirahatlah dulu, toh Auryn tidak akan kemana-mana. Lagi pula, kau akan membuatnya seperti dikasihani jika datang dan menangis terharu disana." Cegah Chris yang tidak seorang pun tau siapa Auryn sebenarnya. Tampaknya Chris memang benar-benar akan membalaskan dengannya dimasa lalu.
"Aku tidak lelah. Tapi kasihan anak itu, dia pasti membutuhkan seseorang disampingnya. Aku paham situasinya, jangan cemas aku sudah tau harus berbuat apa." Celo juga tidak mau kalah dengan Chris yang coba menghalanginya.
"Dasar keras kepala. Baiklah, tapi ingat jangan banyak bertanya dulu perihal Ibunya, kasihan, dia masih berduka." Chris mengingatkan.
"Tentu." Tanggap Celo singkat.
"Mau ku antar?" Tawar Chris mengulur waktu.
__ADS_1
"Tidak usah. Terima kasih." Celo melenggang pergi dan tidak bisa dicegah lagi oleh Chris.
"Ah sudahlah, jika pun semuanya terbongkar, aku juga sudah menyiapkan rencana lainnya." Gumam Chris licik, menatap kepergian Kakak iparnya itu.
Flashback off
^^^^
Tepat saat akan pulang kembali ke rumah, Celo berpapasan dengan Archie didepan rumah Auryn. Ia senang karena baru kali ini melihat putranya yang dingin itu peduli pada orang lain. Dalam hati Celo juga bahagia karena itu artinya Archie serius mencintai kekasihnya, Auryn.
"Momm..." Archie memeluk wanita nomor satu dihidupnya itu.
"Mommy senang kau menemani Auryn disini, kau harus selalu disisinya apapun yang terjadi ya nak. Dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Jaga dia dan jangan sekali-sekali kau lukai perasaannya." Ingat Celo pada putranya yang nakal itu dengan suara tipis seperti berbisik.
"Momm tenang saja. Mommy bisa pegang janji Ar." Tegas Archie yakin juga dengan berbisik.
"Baiklah. Momm pulang dulu. Auryn, Yumi, Mommy tinggal ya nak." Pamit Celo pada kedua gadis bersaudara itu. Ia memeluknya bergantian lalu melambai saat masih beberapa langkah berjalan.
"Kau tidak mengantar Mommy pulang?" Auryn yang melihat Archie tetap tinggal jadi bertanya.
"…." Pria itu hanya diam lalu melangkah masuk begitu saja.
"Mommy kembali bersama siapa Ar?" Auryn mengekori Archie masuk kedalam rumah diiringi pertanyaan.
"Berisik. Momm punyai supir sendiri untuk mengantar tempurnya kemana pun Auryn." Akhirnya kira itu menjawab pertanyaannya juga.
"Oh…" sedangkan Auryn hanya ber oh ria saja mendengar jawaban kekasihnya.
"Bersiaplah. Kita akan pergi keluar." Titah Archie ke Auryn.
"Kemana?" Tidak mau menurut begitu saja, Auryn enggan menurutinya.
"Ikut saja. Jangan membantah, jangan banyak bertanya." Tukas Archie datar.
"Baiklah."
▪︎▪︎▪︎▪︎
Satu dulu ya dear, nanti di usahakan lagi untuk nyicil..
Jangan lupa sukai karya saya ini dengan memberikan LIKE dan meninggalkan COMMENT. VOTE teman-teman juga sangat berharga buat saya.
TERIMA KASIH BANYAK
__ADS_1