Your Wife Is Not Your Wife 2 ( Difference )

Your Wife Is Not Your Wife 2 ( Difference )
Apa kau tidak menyukai ku?


__ADS_3

▪︎▪︎▪︎▪︎


Semenjak kedatangan Auryn ke kediaman Alterio, semua jadi lebih berwarna. Segala tentang Auryn membuat mereka bahagia, tidak terkecuali Aldric. Kakak kembar dari suaminya itu selalu saja memanfaatkan setiap kesempatan yang ada untuk lebih dekat dengan adik iparnya itu.


"Kau butuh sesuatu?" Suara Aldric mengejutkan Auryn, hingga gelas yang di tadinya digunakan untuk minum kini berubah menjadi serpihan kecil karena menghantam kerasnya lantai.


"A-Al, kau mengejutkan ku." Tukas Auryn dengan wajah terkejutnya.


"Maaf. Apa kau butuh sesuatu?" Aldric mengulang pertanyaan yang sama.


"Ti-tidak. Aku hanya haus saja." Auryn beranjak hendak membersihkan pecahan gelas yang ia jatuhkan barusan.


"Kau mau apa? Biarkan saja, nanti akan ku minta Bi Ai membersihkannya." Aldric memegang lengan Auryn untuk mencegah adik iparnya itu. Namun, Auryn nampak keberatan akan sentuhan itu dan Aldric menyadarinya.


"Ah, maaf." Segera saja ia melepas genggamannya di lengan Auryn.


"Tidak apa-apa." Ujar Auryn menunduk. Bukannya apa-apa, Auryn hanya menjaga statusnya saja sebagai seorang istri. Meski itu kakak iparnya, kejadian waktu lalu membuat Auryn berpikir jika ia harus menjaga jarak dengan laki-laki lain tidak terkecuali saudara kembar suaminya sendiri.


Auryn melangkahkan kakinya menjauh dari Aldric, wanita yang kini berbadan dua itu menuju ke halaman belakang yang dipenuhi berbagai hamparan bunga maupun tumbuhan hijau lainnya.


Didudukkan tubuhnya di bangku yang ada disana, dihirupnya nafas dalam-dalam lalu dihembuskan perlahan. Terus dilakukan beberapa kali, dan itu tidak luput dari perhatian Aldric.


"Astaga. Kenapa kau hobi sekali mengejutkan ku Al! Aku sedang hamil." Ujar Auryn setengah terpekik.


"Maaf. Mau teh?" Dengan rasa bersalahnya, Aldric duduk disamping Auryn sembari menyodorkan segelas peppermint tea.


"Terima kasih." Imbuh Auryn masih menunduk.


"Bukan apa-apa. Tadi tidak sengaja bertemu Aiden, dia menitipkan ini. Katanya, peppermint tea bagus untuk mengurangi morning sickness juga memperbaiki perubahan suasana hati selama kehamilan." Jelas Aldric.


"…." Tidak menjawab, Auryn hanya menganggukkan kepalanya ringan.


"Boleh aku bertanya?" Diantara mereka, Aldric lah yang gigih memulai pembicaraan, sementara Auryn dia hanya menjawab dengan seadanya bahkan sesingkat mungkin.


"Apa?"


"Apa kau tidak menyukai ku?" Aldric to the point.


"Tidak. Ya. Eh, maksud ku bukan." Elak Auryn tak enak hati.

__ADS_1


"Aku hanya bercanda. Lalu kenapa kau terus menghindari ku?" Aldric mempunyai celah untuk mempertanyakan alasan kenapa adik iparnya itu menjauhinya.


"Aku tidak bermaksud menghindari mu, hanya saja aku harus menjaga status ku sebagai seorang istri dimana suamiku sedang berada ditempat yang jauh saat ini. Ku harap kau bisa maklum." Terang Auryn tidak mau kakak iparnya itu salah paham. Walau alasan sebenarnya ia takut suaminya akan marah besar seperti hari itu lagi.


"Ah, ya." Setelahnya mereka kembali saling terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Ku dengar di hari jadi Hotel Ar, kalian akan pergi berlibur ke danau?"


"Ya." Sepertinya, kebiasaan Archie yang irit bicara menular ke Auryn.


"Kau ikut?"


"Ya. Ar menyerahkan segalanya yang berhubungan dengan hotel padaku karena Kak Kate tidak ada. Lagi pula aku sudah konsultasikan ini dengan Dokter Nessi dan semua akan baik-baik saja." Jelas Auryn panjang lebar.


"Wah…ternyata kau bisa juga berbicara panjang lebar." Goda Aldric.


"Itu karena kau akan selalu bertanya. Aku mau istirahat. Selamat malam." Sebelum beranjak, Auryn menghabiskan dulu teh yang tadi di suguhkan Aldric.


Sepeninggal Auryn, Aldric terkekeh. Pikirnya, adik iparnya itu terlihat lucu jika sedang kesal begitu.


^^^^


Hari ini, Auryn berangkat ke danau bersama rekan-rekan hotel untuk berlibur dan mengadakan acara dalam rangka hari jadi hotel milik suaminya itu. Celo juga Zach awalnya berat membiarkan menantu mereka itu pergi karena takut akan terjadi apa-apa. Namun Auryn meyakinkan mereka bahwa semua akan baik-baik saja. Dengan terpaksa Celo mengizinkannya karena saat ini tanggung jawab Hotel sepenuhnya ditangan Auryn selaku istri Archie.


"Tapi Kak,-"


"Ini perintah." Tegas Lyan.


"Baiklah."


Selama perjalanan, tidak satupun diantara mereka yang buka suara. Lyan fokus dengan jalanan yang mereka lalui, sementara Auryn pikiran wanita itu berkelana entah kemana.


Tidak terasa sudah lima jam mereka berkendara hingga sampai ditempat tujuan. Lyan membantu Auryn membawakan barangnya hingga ke kamar yang ditempati wanita itu.


"Ini kamar mu, kamar ku tepat disebelah ini. Jika kau butuh sesuatu atau butuh bantuan, panggil aku." Ujar Lyan. Selain perintah dari sahabatnya, pria itu juga sudah menganggap Auryn sebagai adiknya sendiri.


"Baik Kak. Terima kasih." Auryn menyalin tasnya yang tadi dibawakan Lyan.


"…." Jika Archie pria dingin, maka Lyan adalah pria es.

__ADS_1


^^^^


Besoknya, acara berjalan semestinya seperti yang sudah dipersiapkan. Sebagian orang sudah masuk ke kamar mereka entah beristirahat atau membersihkan diri dan sebagian lagi ada yang berkumpul untuk bergurau atau membicarakan hal penting, ada juga yang pergi berkeliling area sekitar.


Sementara Auryn sendiri semenjak acara usai tidak terlihat lagi batang hidungnya. Lyan dan beberapa orang yang memang ditugaskan untuk menjaganya jadi kelimpungan.


"Hei kau, apa kau melihat Nona Auryn?" Lyan menanyai setiap karyawan yang ditemuinya.


"Tidak Tuan Lyan. Kami tidak melihatnya."


"Baiklah." Sahut Lyan datar.


Pencarian terus mereka lakukan hingga malam menjelang. Lyan melampiaskan kemarahannya pada orang suruhannya karena tidak becus dalam menjalankan tugas.


"Apa saja yang kalian kerjakan hah!! Mengawasi satu wanita saja tidak bisa! Temukan Nona Auryn segera atau kalian tau akibatnya!!" Bentak Lyan lantang, membuat siapa saja yang dapat mendengar suaranya akan bergidik ngeri seketika itu juga.


"Maaf Tuan. Kami akan segera menemukannya." Sambar salah satu dari orang suruhannya.


"Kau pikir aku butuh jawaban!! Buktikan! Cari dia sekarang! Jika dalam satu jam kalian tidak menemukannya, terima akibatnya." Ya, Lyan akan semakin mengerikan jika dalam mode marahnya.


^^^^


Dilain tempat, Auryn terbangun dalam keadan terikat di sebatang pohon tepat di tepi tebing. Tidak hanya itu, di pelipisnya juga mengalir darah segar, seperti bekas hantaman.


"Ughh…" terdengar lenguhan kecil, begitu kesadarannya kembali. Perlahan, Auryn membuka mata yang nyatanya ditutup dengan kain hitam.


"Oh, akhirnya kau bangun juga Nyonya besar!" Sapa seseorang yang duduk agak jauh dari posisinya saat ini.


"Ugh…ss-siapa disana?" Ringis Auryn ketakutan juga menahan pusing dikepalanya belum lagi kram yang mendera perutnya.


"Heh." Cibir orang itu. Ia melangkah mendekat ke arah Auryn, kemudian membuka penutup matanya.


"K-, mmmh…" belum sempat Auryn bersuara, orang itu membekap mulutnya dengan kain yang tadi ia gunakan untuk menutup matanya.


"Kau sudah melihat siapa aku bukan?" Ejeknya melihat wanita hamil itu tidak berdaya dengan keadaannya sekarang.


"Kau mau dengar alasan aku melakukan hal ini?"


"Hemmpp.." Auryn menyahutinya hanya berupa suara yang tidak jelas sebab mulutnya yang dibekap.

__ADS_1


"Kau tidak perlu bicara. Cukup dengarkan alasan kenapa aku melakukan hal ini. Dan kau tau, ini semua karena masa lalu Ibu mu yang j****g itu. Dia sudah menghancurkan keluarga ku!!" Bentak orang itu, tidak segan pula ia menarik kasar rambut Auryn yang menyebabkan wanita itu makin kesakitan.


▪︎▪︎▪︎▪︎


__ADS_2