
▪︎▪︎▪︎▪︎
"Ryn, kau disini? Cepat sekali pulangnya?" Melodi yang baru saja siuman masih belum menyadari bahwa ia di rumah sakit sekarang.
"Maafkan Ryn ya Bu. Maaf." Air mata meleleh begitu saja di wajah putih pucatnya.
"Apa yang kau bicaraka- tunggu, dimana Ibu?" Tanyanya begitu menyadari sekeliling.
"Ibu dirumah sakit. Tadi Bibi July yang membawa Ibu, terlambat sedikit saja Ryn akan kehilangan Ibu. Hiks…" gadis itu tidak dapat lagi menyembunyikan kesedihannya.
"Ap-pa yang sakit Bu? Ke-nnapa Ibu tidak pernah hiks..mengeluhkannya?" Seraya terisak ia menanyakan kesakitan yang ditanggung wanita yang sudah melahirkan dan membersarkannya itu.
"Ibu tidak sakit apa-apa nak, ayo kita pulang. Pihak rumah sakit hanya melebih-lebihkan penyakit Ibu agar kita membayar mahal." Ia berusaha mencabut selang infus yang menusuk kulit pucatnya.
"Bohong!! Ryn tau Ibu sakit. Jangan lakukan hal itu atau Ryn akan pergi meninggalkan Ibu." Ancamnya dengan suara lantang.
"Ryn.." baru kali ini Melodi melihat putrinya marah. Selama ini putrinya adalah gadis terlembut yang pernah ia temui selain dengan Celo.
"Maafkan Ibu nak, Ibu hanya tidak mau kau sedih dan terbebani." Tutur Melodi pelan.
"Tapi Ibu tidak boleh memendam penyakit ini seorang diri, kita hanya hidup berdua saja Bu tidak ada tempat lain untuk kita mengadu." Tangis Ibu dan anak itu pecah seketika itu juga.
Tok tokk
"Permisi, Nona anda diminta pihak rumah sakit untuk ke bagian administrasi." Seorang perawat masuk kedalam kamar inap Melodi meminta menyelesaikan pembayaran, hal itu juga memutus keharuan mereka.
"Ah, baik Nona saya segera kesana. Terima kasih." Saut Auryn pelan.
"Ryn, sebaiknya Ibu pulang saja. Ibu sudah baik-baik saja." Tawarnya.
"Ibu jangan khawatir. Tempat Ryn bekerja pasti akan menanggung ini semua." Ujarnya berbohong.
^^^^
"Mmm…bisakan saya membayar sepertiganya dahulu. Saya akan mengambil uang dirumah sebentar." Ryn menyerahkan semua uang yang dipunyanya. Benar kata Ibunya biaya rumah sakit sangatlah mahal.
"Baiklah Nona, mohon secepatnya anda selesaikan karena Ibu anda sudah kami tangani." Ujar karyawan administrasi.
"Terima kasih, akan saya usahakan." Melodi melangkah menjauh. Ia bingung kemana harus mencari uang sebanyak itu. Tiba-tiba saja ia teringat akan Kate, ya, Kate pasti mau meminjamkannya uang.
__ADS_1
"Aku harus cepat sebelum pihak rumah sakit menunda perawatan Ibu." Sebelum pergi menemui Kate, lebih dahulu ia berpamitan pada Ibunya dengan alasan mengambil keperluan di rumah.
Gadis itu menyusul Kate ke Hotel setelah tadi menghubunginya. Dengan tergesa-gesa ia berlari ke ruangam dimana Kate berada.
"Kenapa berlarian begitu? Kakak kan sudah bilang akan menyusul ke rumah sakit nanti." Usai menyuruh Auryn duduk di sofa yang ada diruangannya, Kate menyusul dengan membawa segelas air. Ia tau gadis itu pasti lelah dan haus setelah berlarian menghampirinya.
"Kak, biaya rumah sakit Ibu sangat mahal dan Ryn tidak punya uang sebanyak itu. Pinjami Ryn uang kak, setiap menerima gaji Kakak bisa lansung memotongnya." Tidak mau berbelit, lansung saja gadis itu menyampaikan niat hatinya.
"Ryn, maafkan Kakak. Kakak juga tidak punya uang sebanyak itu, kau tau sendiri bukan jika Kakak yang jadi tulang punggung di rumah. Sekali lagi maaf, bukannya tidak mau membantu mu." Gurat penyesalan tampak jelas di wajah ayu nya.
"Hah…tidak apa-apa Kak, Ryn mengerti kondisi Kakak. Tapi Ryn bingung harus mencari pinjaman ke mana lagi, bahkan Ryn tidak mengenal siapapun disini selain Kakak dan keluarga." Nada lirih itu mampu membuat siapa saja turut merasakan kesedihan gadis itu.
"Begini saja, coba kau temui Bos. Mungkin dia bisa meminjamkan uang kantor." Saran Kate.
"Bb-boss??" Sekelebat bayangan buruk tadi kembali menghampiri ingatannya.
"Kakak tau kau pasti takut bertemu dia, tapi kau harus tau satu hal dia sebenarnya sangat baik." Bukannya melebih-lebihkan, tapi Archie memang sebenarnya baik.
"Tidak perlu Kak. Ryn akan mencari ke tempat lain saja." Ia masih takut jika kembali menemui pria itu, ia takut akan diserang lagi.
"Ryn, jangan sembarangan mencari pinjaman. Kau tidak kenal siapa-siapa di negara ini, Kakak takut kau akan dimanfaatkan orang-orang di luar sana." Kate coba mengingatkannya.
"Lebih baik begitu, dari pada harus meminta bantuan pada orang seperti dia!! Kakak tidak tau apa yang coba dia lakukan pada Ryn! Dia jahat Kak, dia orang jahat!!" Pekiknya menumpahkan segala amarahnya.
"Maafkan Kakak. Semua terserah kau, berhati-hatilah." Percakapan mereka berakhir dengan perginya Auryn dengan keadaan menangis.
Baru saja gadis itu menghilang dibalik pintu, ponsel Kate berdering dan itu Archie yang menghubunginya.
Drttt
"Apa lagi? Dia tidak mau karena takut pada mu." Lansung saja ia mengatakan tanpa menunggu sapaan dari sepupunya itu.
"Kalau begitu buat pihak rumah sakit mempersulitnya. Mudahkan." Jawabnya enteng dari seberang sana.
"Kau gila! Jangan lakukan hal ini padanya Ar, kasihan dia." Mohon Kate lirih.
"Kasihan? Kau tau, aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk menjadikannya milikku." Jawaban tegas itu seolah tak terbantahkan.
"Dalam artian apa dia menjadi milik mu?" Tanya Kate sangsi.
__ADS_1
"Kau tau jelas itu Kate." Seperti ia memperjelas siapa dirinya.
"Jangan lakukan itu, bagaimana jika Bibi sampai tau?" Ya, secara halus Kate coba mengancam Archie.
"Kalau begitu jangan sampai tau, atau-" ia malah mengancam balik.
"Oke, oke. Tapi jangan terlalu keras padanya, kau tidak tau saja apa yang sudah dia alami semasa hidupnya." Kate coba bernegoisasi dengan sepupu jauhnya itu.
"Dan kau juga tau aku tidak peduli dengan semua itu." Tidak mau bernegoisasi, ia segera memutus sambungan.
"Maafkan Aku Ryn." Kate sedih karena tidak bisa membantu gadis malang itu. Sebenarnya ia bukannya tidak punya uang, gajinya bahkan sangat besar di sana. Hanya saja, sepupu gilanya itu yang memintanya dengan sedikit ancaman.
^^^^
Archie benar-benar menjalankan rencananya mempersulit Auryn, sehingga disinilah gadis itu kini berada diruangan Archie, atau tepatnya kamar pria itu.
"**-tuan-" menahan tubuh bergetarnya, Auryn berdiri dihadapan Pria itu.
"Duduklah dulu Nona." Ujarnya datar dan tidak lupa tatapan elangnya.
"Terrima kkasih, tapi saya disini saja." Ia kekeh tetap berdiri agar jika terjadi lagi serangan ia bisa segera melarikan diri.
"Ayolah. Jangan seperti gadis kuno Nona, terlebih kau besar dinegara bebas." Cibirnya merendahkan.
"Baiklah. Lakukan senyamannya dirimu." Melihat keteguhan gadis itu Ar tidak punya pilihan lain.
"Jadi berapa yang anda butuhkan Nona Canary?" Ya, Melodi melarang putrinya menggunakan nama Achazia sebagai nama keluarganya entah apa tujuannya.
"Ini Ttuan." Ia menyerahkan kertas rincian biaya rumah sakit Ibunya.
"Wau…banyak juga ya. Baiklah, akan saya beri pinjaman tapi dengan syarat-" ia menggantung ucapannya.
"Apa syaratnya Tuan?"
"Jadilah milik ku." Tekannya.
"Baiklah. Saya setuju." Tanpa pikir panjang gadis itu menerimanya.
▪︎▪︎▪︎▪︎
__ADS_1