
▪︎▪︎▪︎▪︎
Teringat akan sesuatu, Auryn bangun dari posisinya. Ia mengambil diary Ibunya yang tadi ia letakkan begitu saja diatas meja rias. Ia tidak takut jika sampai Archie membaca isinya, toh biasanya pria itu tidak suka mencampuri urusan orang lain.
Saat meraih buku itu, tidak sengaja Auryn menjatuhkannya sehingga menimbulkan sedikit suara berisik. Segera wanita itu menoleh kearah dimana suaminya tertidur, cemas jika pria itu terjaga.
Auryn bernafas lega, karena Archie tidak terganggu sama sekali. Kembali diraihnya buku yang terjatuh, dengan agak kesusahan sebab perutnya yang mulai membesar. Auryn kembali ke tempat semula, mengambil posisi tantangannya untuk duduk disofa.
Lagi-lagi Auryn melakukan kesalahan yang sama, wanita menjatuhkan lagi bukunya. Kali ini tidak menimbulkan suara, karena menimpa karlet yang cukup tebal. Saat Auryn meraihnya, buku tersebut terbuka pada sebuah halaman.
"Ini," Auryn terheran akan halaman yang baru saja terbuka sebab jatuh barusan.
"Halaman ini tidak ada sebelumnya. Apa aku yang tidak mencermatinya?" Auryn menyadari, jika halaman tersebut terdapat di halaman kosong setelah halaman terakhir tadi.
Diterangi cahaya temaram rembulan, Auryn membacanya walau sedikit kesulitan karena cahaya remang-remang.
**
"Cukup lama aku bersembunyi, akhirnya dia menemukan ku. Chris. Ya, dia menemukan ku, masa lalu ku yang gelap. Kenyataan lain yang harus ku terima, ternyata Archie, kekasih putri semata wayang ku adalah putra dari Zach dan Celo. Ingin rasanya aku menjauhkan dan melarang hubungan mereka. Namun melihat kebaikan dan ketulusan anak muda itu, membuat ku tidak sampai hati dan memilih untuk menitipkan putri ku padanya. Aku percaya, dia akan menjadi pria yang bertanggung jawab, sama seperti ayahnya."
**
"Chris mengancamku, dia akan menyakiti Auryn untuk membalaskan dendam dimasa lalu. Bagaimana ini? Siapa yang akan melindungi putri ku? Sebaiknya aku meminta Archie menikahinya, dengan begitu Chris pasti tidak akan berani menyakiti Auryn. Licik memang, tapi sebagai Ibu, aku akan melakuka apapun demi putri ku."
Auryn kembali menangis, Ibunya begitu menyayanginya. Hal yang lebih mengejutkan lagi, ternyata inilah alasan Chris membencinya. Pantas saja, Bibi dari suaminya itu memang sengaja mencari-cari kesalahannya didepan suami bahkan keluarganya.
Tidak menutup kemungkinan juga, jika suatu saat Chris jugalah yang akan membuka semua rahasia besar ini untuk menyingkirkannya.
Bukannya takut, tapi Auryn pikir akan lebih baik lagi jika ia sendiri jujur akan siapa jati diri sebenarnya. Berharap, mereka semua akan memaafkan kesalahan dari kedua orang tuanya yang sudah sangat keterlaluan.
^^^^
__ADS_1
Beralih ke Archie, pria itu menggeliat dalam tidurnya. Hampa terasa, tangannya seolah mencari-cari sesuatu disisi sampingnya. Perlahan Archie membuka matanya, mencari-cari keberadaan sang istri.
Sorot matanya, menangkap sosok yang tengah bergelung di atas single sofa kecil yang sebenarnya tidak mampu menampung tubuh kecilnya.
"Kenapa dia tidur disitu? Apa tubuhnya tidak sakit? Lalu bagaimana dengan anak ku?" Archie bertanya kesal ke dirinya sendiri sembari bergumam
Archie, turun dari ranjang untuk kemudian menghampiri istrinya bermaksud untuk memindahkannya ke ranjang. Kembali, ia melihat Auryn memeluk buku yang tadi sore juga dipeluknya.
"Buku apa ini sebenarnya?" Rasa penasaran mulai merayapi keingintahuan pria itu.
Perlahan dilepasnya buku tersebut, sekedar untuk mengetahuinya saja, tidak lebih. Baru akan menariknya dari pelukan sang istri, sepasang mata bulat itu terbuka meski belum sepenuhnya.
"Ar.." Auryn bersuara serak khas orang bangun tidur.
"Maaf. Kau terganggu?" Pertanyaan bodoh memang, tapi kalimat itulah yang terucap dari bibirnya. Lain halnya Auryn, menyadari tangan suaminya berada di buku diary peninggalan Ibunya, wanita itu semakin mengeratkan dekapannya pada buku itu.
"Aku hanya ingin memindahkan mu, tidak nyaman tidur disini. Kasihan anak kita." Archie yang mengerti kalau istrinya tidak ingin buku itu dilihat olehnya, seketika mengurungkan niatnya.
Auryn coba berdiri, namun kesulitan sebab baru bangun tidur juga perutnya yang semakin hari bertanya semakin bertambah. Sementara Archie, pria itu yang melihat istrinya kesulitan menggeleng singkat seperti mencibir sang istri akan sikap keras kepalanya.
Archie memilih untuk lansung mengangkat tubuh istrinya yang tidak terlalu berat itu. Sebab jika ia tawarkan sudah pasti jika ia akan menolak seperti halnya tadi.
"Ar, aku bisa sendiri." Pekik Auryn diiringi protesannya.
"Diam. Aku tidak membantu mu, tapi anakku yang sedang tumbuh di perut mu." Cibir Archie menoleh ke arah istrinya yang berjarak sangat dekat dengannya.
Masih sama, Auryn selalu merasa jantungnya bekerja berkali lipat jika dalam jarak sedekat ini dengan suaminya itu, pria yang sangat dicintainya.
"Kenapa tidur disana?" Archie ikut berbaring disisi Auryn setelah tadi merebahkan wanita hamil itu di ranjang. Tubuh mereka sangat berdekatan, bahkan nyaris berpelukan sebab ukuran ranjang yang kecil.
"Aku membaca buku ini, takut kau terganggu makanya aku pindah kesana." Imbuh Auryn setengah mendongak karena beberapa detik lalu, pria itu membawanya dalam dekapannya.
__ADS_1
"Harus dibaca malam ini? Tidak bisa besok begitu? Ini kan sangat gelap." Cerocos Archie tidak seperti beberapa waktu belakangan yang selalu datar dan dingin.
Dalam hati Auryn jadi ragu, disaat ia memilih untuk menyerah pada pernikahan mereka. Archie berubah, kembali hangat seperti saat sebelum pria itu mengetahui rahasia Ibunya.
"Hei, kenapa hanya diam? Apa aku terlalu cerewet dan banyak tanya?" Archie mengusap pelan wajah cantik nan pucat istrinya karena merasa wanita itu termenung.
"Tidak. Tidak apa-apa, aku hanya sedang memikirkan sesuatu?" Kilah Auryn berbohong.
"Benarkah?"
"Mm…" Auryn tersenyum simpul, tidak seperti biasa yang selalu tersenyum bahagia.
Archie bangkit dari berbaringnya, refleks Auryn pun ikut terduduk karena tadinya ia berada didekapan suaminya itu.
"Bagaimana kabar kalian? Maaf baru menanyakan ini, aku,- aku,-" belum selesai kata-katanya, Auryn menyelanya.
"Dia baik dan sehat. Kami baik-baik saja." Tidak seperti tadi, Auryn tersenyum dengan binar bahagianya.
"Boleh aku memegangnya?" Auryn melihat sorot keraguan di wajah suaminya itu.
"Tentu. Tentu saja boleh, ayah." Seru Auryn menyerupai suara anak kecil diakhir kalimatnya.
"Hai, anak ayah. Jangan nakal ya nak didalam sana. Cepatlah keluar, jangan terus menumpang di perut Ibu mu. Kasihan, Ibu pasti lelah selalu membawa mu ke mana-mana." Archie berbicara dengan anak yang ada di perut Auryn, seraya tangannya terus mengusap lembut baby bumps itu.
"Iya Ayah." Auryn kembali menyahuti dengan suara anak kecil.
Archie mengecup lama perut Auryn, barulah berganti mengecup bibir Ibu dari anaknya. Berawal dari kecupan yang lama kelamaan menjadi l*****n kecil yang semakin menuntut.
"Boleh kah?" Auryn menjawab pertanyaan suaminya dengan anggukan ringan. Wajahnya bersemu merah, raut yang selalu berhasil membuat seorang Archie terperangkap akan pesonanya.
Malam ini, setelah sekian lama, mereka akhirnya melepas rindu satu sama lain. Lain halnya Auryn yang menyerah, Archie malah ingin memperbaiki hubungan mereka.
__ADS_1
▪︎▪︎▪︎▪︎