
▪︎▪︎▪︎▪︎
Sepeninggal suaminya, Auryn kembali menangis. Disaat-saat seperti ini, harusnya ia mendapat perhatian lebih dari sang suami, tapi apa mau dikata pria itu malah semakin menyakiti hatinya.
"Kak, Kak Auryn kenapa? Apa yang sakit kak?" Yumi yang baru saja kembali dikejutkan dengan Auryn yang menangis terisak.
"…." Tidak mengindahkan kecemasan adiknya, Auryn masih saja menangis.
"Kak, jangan seperti ini. Kakak tidak sendiri sekarang, ingat kakak sedang hamil kasihan dia jika kakak sedih." Ingat Yumi lagi, gadis itu membawa Auryn kepelukannya membenamkan wajah kakaknya di bahunya.
"…." Auryn tertegun dengan nasehat adiknya itu, ia merasa malu sebab seharusnya dialah yang mengayomi Yumi sebagai seorang kakak.
"Yumi memang tidak tau ada masalah apa antara Kak Auryn dan Kak Ar. Tapi, setiap masalah pasti ada jalan keluarnya, kalian hanya perlu membicarakannya dengan kepala dingin." Lagi, perkataan Yumi membuat Auryn malu.
"Kau benar. Terima kasih Yumi, aku sangat beruntung memiliki mu sebagai adik." Imbuh Auryn lirih.
"Kakak tidak perlu berterima kasih. Bukankah, saudara harus saling mengingatkan dan melengkapi satu sama lain." Mereka masih diposisi yang sama, saling memeluk.
^^^^
Sudah seminggu Auryn dirawat di rumah sakit, dan hari ini wanita itu sudah diizinkan pulang karena kondisi kandungannya juga sudah cukup kuat. Dan sudah selama itu pula ia tidak bertemu Archie, suaminya. Pria itu sama sekali tidak membesuk Auryn, bahkan untuk sekedar menghubungi saja tidak.
Meski sedih, Auryn menahannya ia tidak mau jika sampai membahayakan anaknya lagi.
Auryn yang diantar Yumi, pulang ke rumah mereka. Wanita hamil itu bertekad untuk memperbaiki hubungan mereka demi anak yang ada dalam kandungannya.
"Sebaiknya Kak Auryn istirahat dulu." Yumi membantunya berbaring lalu menyelimuti tubuhnya.
"Terima kasih." Ujar Auryn tersenyum pada Yumi.
"Kakak istirahat saja." Gadis itu beranjak dari sana bermaksud untuk keluar dan mengerjakan kegiatan lain.
"Yumi,-" panggilan Auryn menghentikan langkahnya.
"Ya, Kakak butuh sesuatu?"
"Tidak. Mm…nanti jika Ar sudah kembali, segera bangunkan kakak ya." Pintanya penuh harap.
"Tentu." Kali ini Yumi benar-benar keluar dari kamarnya. Sepeninggal gadis itu, air mata kembali meleleh di wajah gadis itu, mungkin juga karena pengaruh hormon kehamilan jadi ia acap kali bersedih dan menangis sendirian.
^^^^
__ADS_1
Auryn membuka matanya yang masih berat, dirasanya ada seseorang yang menggenggam erat jemarinya selama tertidur. Perlahan matanya bulat itu terbuka sempurna, berharap Archie lah yang menggenggamnya.
"Sayang, sudah bangun nak." Bukan. Itu bukan suaminya melainkan Celo ibu mertuanya.
"Mommy," seulas senyum terbit diwajah Auryn yang masih pucat itu.
"Ya sayang, Mommy disini nak. Apa yang kau rasakan? Pusing? Mual?" Jelas sekali nampak kekhawatiran diwajah wanita yang masih saja awet muda itu.
"…." Auryn menggeleng pelan disertai air mata yang kembali luruh di wajahnya.
"Hei, kenapa menangis?" Celo membantu Auryn bangun dari tidurnya, kemudia membawa menantunya kedalam dekapannya.
"Tidak apa-apa Momm, Ryn hanya merindukan Ibu." Ia tidak mengelak, karena memang ia merindukan Ibunya.
"Mommy ada disini, sekarang ada Mommy yang akan menggantikan Ibu mu." Bukannya tenang, Auryn malah semakin menangis, ia merasa bersalah akan masa lalu Ibunya terhadap keluarga suaminya yang ia juga belum tau apa itu. Ya, ia mendengar apa yang diucapkan suaminya pada malam itu.
"Maaf kan Ryn Momm, maaf." Celo bingung, untuk apa menantunya itu minta maaf.
"Tidak sayang, kenapa kau minta maaf?" Celo melepas pelukan mereka, ditangkupnya kedua sisi wajah Auryn yang sudah dianggap putri sendiri olehnya itu.
"Hikss…hikss…"
"Maaf, maaf…" Auryn terus mengulangi permintaan maafnya.
Saat ini, Auryn sedang duduk berselonjor ditemani Celo yang memanjakannya. Ibu mertuanya itu, mengupaskan bervarian buah untuk dinikmatinya. Walau Auryn sudah menolaknya karena merasa segan, tapi Celo kekeh dengan alasan untuk gizi cucunya kelak.
Tidak hanya buah, Celo juga membawa banyak makanan bergizi lainnya. Ada susu untuk Ibu hamil, vitamin dan segala yang berhubungan dengan kebutuhan gizi bagi Ibu hamil.
"Mommy perhatikan, dari tadi kau terus menatap keluar. Kau menunggu Ar kembali?"
"Kembali?" Beo Auryn.
"Iya. Archie kan berangkat ke Jepang seminggu yang lalu. Ada masalah dengan lahan yang akan di bangun hotel disana. Ar bilang mungkin akan butuh waktu yang lama sampai semuanya selesai. Karena itulah, anak nakal itu menitipkan mu pada Mommy. Dia bilang untuk menjaga istri juga anaknya, ah Mommy kecewa karena kau tidak mengabari Momny perihal kabar bahagia ini." Celo memasang raut cemberutnya.
Flashback
Drtt
"Ya Ar, kenapa Nak?" Sapa Celo menjawab panggilan masuk dari putranya.
"Momm, Ar di Jepang sekarang dan sudah sejak seminggu lalu. Ar bisa minta tolong?" Ujar Archie to the point.
__ADS_1
"Jepang? Sedang apa kau disana?"
"Ada masalah dengan lahan yang akan dibangun untuk hotel baru Ar. Mungkin akan butuh waktu lama, sekitar tiga sampai lima bulan. Bisa Mommy jaga Auryn untuk Ar selama disana, Yumi juga bekerja jadi dia tidak bisa menjaganya seharian." Jelas pria itu panjang lebar.
"Oh, tentu saja. Tapi kenapa Auryn harus dijaga? Apa dia,- sakit?" Celo menerka-nerka keadaan menantunya itu.
"Celo hamil Momm." Tidak bertele-tele, Archie lansung saja menjawab kekhawatiran Ibunya.
"Hamil? Auryn hamil? Astaga, kalian dasar anak nakal, kenapa tidak mengabari Mommy berita bahagia ini." Celo melepaskan kekesalannya.
"Maaf Momm. Jadi bagaimana? Bisa Ar minta bantuan Mommy?" Ulang Archie lagi.
"Tentu. Mommy akan menjaga putri juga cucu Mommy, kau tenang saja. Lagi pula, Mommy pernah merasakan posisi Auryn yang hamil tanpa adanya orang tua yang mendampingi." Seketika perkataan Celo membuat Archie terhenyak. Keadaan mereka harus seperti ini disaat wanita itu butuh kehadirannya.
"Terima kasih Momm, Ar bisa tenang sekarang." Kemudian panggilan mereka terputus.
Flashback off
"Ke Jepang? Kenapa Ar tidak memberitahukan ku?" Batin Auryn bertanya.
Namun tak dapat disembunyikan lagi, Auryn tersenyum mendengar bahwa suaminya itu menitipkannya pada mertuanya dan itu artinya pria itu masih peduli padanya dan anak mereka.
"Hayoo, kenapa senyum-senyum sendiri heum?" Goda Celo.
"…." Auryn tersenyum menanggapi godaan mertuanya itu.
"Terima kasih banyak Momm." Tutur Auryn tulus.
"Tentu sayang. Mommy melakukan ini, karena posisi kita sama. Kita sama-sama tidak memilik Ibu, karena itulah Mommy ingin menggantikan sosok yang pergi itu untuk mu." Auryn yang terharu, berhamburan memeluk Celo, menumpahkan seluruh rasa harunya.
"Terima kasih banyak Momm,"
"Tentu sayang." Sahut Celo.
"Apa kau merasakan morning sickness? mual? pusing?" Tanya Celo masih dengan mendekap Auryn, tangannya juga tak lepas mengusap lembut surai indah wanita hamil tersebut.
"Tidak ada Momm, Dokter bilang itu bisa saja terjadi karena baby tidak mau menyusahkan Ibunya."
"Wah, Mommy saat hamil Ar dan Al juga seperti itu. Mereka tidak menyusahkan, bahkan mengidam pun jarang." Celo mulai berbagi cerita saat kehamilan pertamanya dulu.
"Benar-benar anak Ar, persis sekali seperti Ar." Batin Celo bahagia.
__ADS_1
▪︎▪︎▪︎▪︎