
▪︎▪︎▪︎▪︎
"Ayolah Seth, kau sudah punya surat izin mengemudi. Kita ke tempat Kak Auryn ya. Ya, ya, aku merindukannya." Rengek Cassey pada kakak sepupunya itu.
"Tidak. Aku sudah bertemu dengannya kemarin. Dan kau tau, Kak Auryn itu semakin cantik. Juga perut buncitnya membuat dirinya semakin sexy." Ujar Seth memanas-manasi Cassey.
"Apa? Ayolah Seth." Bujuk gadis itu lagi.
"Tidak!"
"Baiklah, akan ku katakan pada Kak Ar, kalah kau menyukai Kak Auryn dan memuji-mujinya." Cassey menggertak Seth agar pria itu mau menuruti kemauannnya.
"Katakan saja. Kau pikir mereka akan percaya? Lagi pula, aku sudah menganggap kak Auryn itu seperti kakak perempuan ku sendiri." Seth masih kekeh dengan penolakannya.
"Seth, ayolah. Ku mohon." Tidak kehabisan akal, Cassey memutar otak, ia membujuk dengan cara halus.
"Apa yang akan ku dapat kalau aku mengantar mu?"
"Aku akan berpura menjadi teman kencan mu agar para gadis yang selalu menggoda mu pergi jauh." Seru Cassey yakin.
"Baiklah, bisa diterima."
Sepasang remaja yang berstatus sepupuan itu, menaiki mobil yang kini sudah menjadi milik Seth sebab ia sudah mendapat surat izin pengemudinya.
^^^^
Ceklek
"K-kalian,- ada perlu apa kalian datang kerumah saya?" Auryn yang belum mengetahui siapa dalang dibalik penyerangan dirinya juga Celo, mempersilakan Chris dan Cerry untuk bertamu di rumahnya.
"Sopan sekali sambutan mu itu!" Chris mendecih, menyindir Auryn.
"Silakan duduk Bi, Nona Cerry. Saya permisi kebelakang sebentar."
"Tidak perlu, kami datang kesini untuk,- menghabisi mu juga anak sialan yang ada dalam perut mu itu!" Sentak Chris dengan tatapan tajam membunuhnya.
"A-apa?" Refleks, Auryn berjalan mundur.
Parangg
Tidak sengaja Auryn menyenggol vas bunga hingga pecah berantakan dan menimbulkan bunyi cukup nyaring. Hal itu membuat Auryn semakin ketakutan, dipeluknya erat baby bumps nya.
"-pe-pergi dd-ari sini atau aku akan berteriak." Auryn menggertak, berharap dua wanita itu berubah pikiran.
__ADS_1
"Teriak saja." Kini, Cerry yang bersuara.
"Arghh.." Auryn terpekik kencang, ia lengah karena saat ini Chris sudah mencengkeram erat lengannya.
"Lepassh, Bi…" ujar Auryn lemah.
"Tenang saja, kami tidak akan menyakiti mu. Cerry hanya akan menyuntikkan sesuatu untuk bayi mu itu." Ucapan Chris membuat Auryn semakin bergidik ngeri.
"Tidak. Jangan sakiti anak ku! Dia tidak salah apa-apa, Arghh…" Auryn menjerit manakala Cerry menusukkan satu jarum suntik ke lengan atasnya.
"Lepas!!" Dengan seluruh tenaga yang ia punya, Auryn memberontak. Dan berhasil, ia bisa lolos dari cengkeraman Chris untuk kemudia berlari ke arah pintu keluar.
Brugh
"Arghhh…." Cerry yang melihat Auryn berusaha kabur, mencekal kaki Auryn dengan kakinya. Seketika itu, Auryn jatuh dengan posisi tengkurap sehingga perutnya menghantam lantai.
"Arghh…ss-sakitt…tto-tolong! Tolong s-aya!!" Teriak Auryn kencang berusaha minta tolong.
Prangg
Chris yang kalut meraih vas bunga cukup keras yang terletak tidak jauh darinya. Seketika itu ia hantamkan tepat ke kepala Aurun karena panik.
Auryn yang memang sudah tidak berdaya karena suntikan yang diberikan Cerry barusan, tidak sadarkan diri setelahnya. Darah segar mengalir deras dari kepala juga paha dalamnya.
"Kenapa kau malah berteriak pada Bibi? Bibi panik dia berteriak, harusnya kau bersyukur sebab dia tidak bisa lagi berteriak sekarang!" Mereka saling menyalahkan satu sama lain.
"Sudahlah, sebaiknya kita pergi sekarang. Bukannya bagus jika dia sekalian mati." Chris menyembunyikan ketakutannya.
Mereka pergi begitu saja setelah semua yang mereka lakukan pada Auryn juga kandungannya.
^^^^
Prangg
Archie yang tidak bisa kembali melanjutkan tidurnya menyeduh segelas teh untuk menghangatkan tubuhnya. Perasaannya tidak karuan, terus terpikirkan istri dan anaknya. Ditambah lagi tiba-tiba saja cangkir yang berisikan teh panas itu terjatuh dari tangannya.
"Astaga! Ada apa ini? Kenapa jantung ku berdetak sangat cepat?" Keluh Archie memegangi dadanya.
"Sebaiknya, ku hubungi lagi saja Auryn. Siapa tau, tamu tadi sudah pergi."
Tut
Tutt
__ADS_1
Beberapa kali di hubungi, namun tam sekali pun diterima oleh istrinya. Perasaan pria itu semakin tidak enak, dicoba sekali dan Auryn menjawabnya.
"Sayang, kenapa lama sekali menerima panggilan ku? Kau kemana saj,-"
"A-Arr, to-to-longhh, Akhh-u… brakk" suara Auryn terputus-putus lalu diakhiri dengan suara dentuman yang cukup keras.
"Auryn, sayang. Apa yang terjadi? Bertahanlah! Aku akan menghubungi bantuan. Auryn, Auryn…" Archie terus berusaha memanggil istrinya itu meski hanya melalui ponsel, berharap wanita itu sadar dan berkata dia tidak apa-apa.
Auryn, bertahanlah sayang." Archie memangis, pria itu tergesa-gesa mengganti pakaiannya. Meraih kunci mobil, dompet, tidak lupa dengan keperluan lain untuk kembali ke negaranya juga ponsel. Archie akan kembali malam ini, ia harus memastikam sendiri istri dan anaknya baik-baik saja.
^^^^
"Ayo Seth." Cassey turun dengan terburu, ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan kakak iparnya yang menggemaskan itu.
"Hati-hati Case." Seth mengingatkan.
Karena pintu yang tidak tertutup sempurna, Cassey lansung saja masuk memyeloning. Seketika itu ia berteriak histeris.
"Arghhh…." Seth yang baru saja keluar dari mobilnya berlari masuk, menyusul adik sepupunya yang baru saja berteriak.
"Kenapa ka,-" belum usai berucap, Seth menangkap Auryn yang setengah bersandar di dinding dengan darah dimana-mana, di sebelahnya terdapat ponsel yang sepertinya baru saja digunakan kakak iparnya tersebut karena disana juga terdapat darah. Sementara Cassey, gadia itu berdiri mematung dengan tangan membekap mulutnya tidak percaya. Tubuhnya bergetar dan air mata meluncur bebas dari kedua matanya.
"Ss-eth. I-ttu Kak Auryn." Ucapnya terbata-bata. Ia berniat untuk meraih tubuh lemah itu, tapi Seth menahannya.
"Kita harus membantunya Seth." Isak Cassey.
"Biar aku saja." Seth mendekati Auryn, diangkatnya tubuh kakak iparnya yang masih mengalirkan darah itu.
Setengah berlari Seth memasukkan Auryn ke dalam mobil. Tidak sulit baginya karena tubuh Auryn yang tidak terlalu besar meski selama keadaan hamil.
Cassey ikut masuk, dia memangku Auryn di jok belakang sementara Seth melanjukan mobilnya.
Sepeninggal mereka, tetangga yang melihat buka suara.
"Astaga! Apa yang terjadi pada Auryn?"
"Iya. Siapa yang tega melakukannya? Kasihan dia."
"Kita harus lapor polisi."
Tetangga yang kebanyakan Ibu-ibu itu mulai mengemukakan opini mereka masing-masing. July yang mendengar bisik-bisik tetangga, seketika ia menutup mulutnya tidak percaya dengan yang terjadi pada Auryn. Ia menyesal atas perlakuannya pagi tadi, seandainya saja ia tidak mengemukakan egonya.
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
__ADS_1