
▪︎▪︎▪︎▪︎
Sepulang kerja, Auryn bergegas ke rumah sakit untuk menitipkan Ibunya pada perawat khusus yang disewa Archie untuk menjaga Melodi selagi gadisnya bekerja atau ada keperluan lainnya.
"Bu, Ryn keluar sebentar ya. Tidak apa-apa kan, Ryn pulangnya setelah makan malam?" Tanya Auryn pada Ibunya.
"Anak Ibu mau kemana heum? Mau berkencan ya?" Goda Melodi pada putrinya.
"Ibu…bukan bu. Ar mengajak Ryn makan malam di rumah Mommynya. Katanya keluarganya mau bertemu Ryn." Jelas gadis itu tersipu malu.
Deg
"Ryn akan bertemu Zach dan Celo? Apa mereka akan menerima putri ku?" Keraguan menyeliputi hati Melodi.
"Ryn gugup Bu? Apa mereka akan menerima Ryn?" Tanya Auryn lagi, ia tidak sadar atas apa yang dicemaskannya, serasa hubungan mereka itu nyata.
"Kau tenang saja, Celo itu orang yang sangat baik dan berhati malaikat." Imbuh Melodi.
"Celo? Siapa itu Bu?" Auryn bertanya heran, yang membuat Melodi tersadar karena kelepasan.
"Ibunya Archie, Ibu tau namanya dari Bibinya yang sering kemari." Kilah Melodi cepat.
"Ah..iya ya." Auryn menerima jawaban Ibunya begitu saja tanpa curiga.
"Sudah sana, bersiaplah dirumah. Ingat, dandan yang cantik. Saat disana bersikaplah sopan. Mengerti?" Ingat Melodi pada putrinya.
"Baiklah Bu, Ryn akan selalu ingat pesan Ibu. Ryn pergi dulu." Pamit Auryn. Seperti biasa, ia selalu mengecup pipi juga kening Ibunya.
"Auryn…" panggil Melodi mencegah langkah anak semata wayangnya.
"Ya bu." Auryn berbalik lagi menghampiri wanita yang sudah dianggap malaikat olehnya itu.
"Peluk Ibu nak." Pinta Melodi memelas.
"Ibu ada-ada saja." Auryn memenuhi pinta Ibunya, dipeluk eratnya Melodi penuh sayang.
"Jaga diri baik-baik ya sayang. Ibu sangat menyayangi mu." Sejenak Melodi melepas pelukan mereka, diciumi setiap inci wajah Auryn, lalu kembali memeluknya.
"Ibu kenapa?" Terang saja Auryn kebingungan, tidak biasanya Ibunya seperti ini
"Tidak apa-apa, Ibu hanya takut tidak bisa lagi memeluk dan mencium mu setelah kau menikah nanti." Melodi kembali menggoda Auryn.
"Ibu…" auryn merengek layaknya anak kecil.
"Sudah sana. Jangan merengek lagi." Dengan pelan Melodi mendorong tubuh putrinya menjauh.
__ADS_1
^^^^
"Bersiaplah. Nanti sore ku jemput. Mommy dan Daddy ku memaksa untuk mengajak mu makan malam, mereka mau mengenal kekasihku." Usai ciuman singkat di kamar Archie tadi, ia meminta gadisnya bersiap untuk diajak makan malam dirumah orang tuanya.
Dan disinilah Auryn, sibuk memilah dan memilih pakaian apa yang pantas untuk ia kenakan. Meskipun hubungan mereka tidak jelas namanya apa, tetap saja ia harus tampil sopan dan rapi agar Archie tidak malu nantinya.
"Yang mana yang harus ku pakai? Bagaimana jika yang ini saja?" Dan pilihan gadis itu jatuh pada satu dress brokat selutut berwarna putih gading. Memang terkesan kuno, tapi sangat sopan dan pas melekat ditubuh sempurnanya.
Setelah berpakaian Auryn mematut kembali dirinya didepan cermin yang tidak terlalu besar. Rambutnya dibiarkan tergerai hanya sebagain kecil disisi kanan kirinya ditarik ketengah belakang kepala.
"Ah…bagaimana kalau nanti mereka tidak menyukai ku dan malah mempermalukan ku?" Keringat dingin membasahi kedua telapak tangan Auryn.
"Huft…tenang Ryn, kau harus rileks." Ditariknya nafas dalam-dalam lalu dihembuskan, berulang kali dilakukannya sampai dirinya merasa tenang.
Tok tokk
Tidak beberapa lama terdengar suara ketukan pintu dari arah luar. Auryn keluar dari kamar untuk membukakan pintu untuk orang yang mengetuknya.
Ceklek
Di hadapannya berdiri Archie dengan ketampanan bartambah dua kali lipat dari biasanya. Tatapan mereka beradu sesaat, sama halnya dengan Auryn, pria itu juga terpesona dengan penampilan gadisnya malam ini.
"Sudah siap?" Tanya Archie menyadarkan Auryn akan keterpesonaannya.
Selama di perjalanan mereka hanya diam, tiada satupun kata yang terucap dari bibir mereka. Sampai akhirnya Archie memberhentikan mobilnya disebuah hunian bak istana. Bagaimana tidak seperti istana, diawali dengan gerbang besar nan tinggi dilengkapi dengan dua petugas keamanan. Begitu melewati gerbang, pandangan mata lansung dimanjakan dengan hamparan-hamparan berbagai macam bunga cantik beraneka jenis dan warna.
Memperhatikan sekeliling, Auryn berpikir pasti rumah besar ini berada ditengah-tengah hamparan bunga tersebut. Archie yang memperhatikan gadis itu menyadari kekaguman gadis itu akan keasrian karya Mommynya.
"Mommy pecinta bunga, tidak heran jika ini lebih tepat disebut taman bunga dibandingkan hunian tinggal." Saat Archie berucap demikian, Auryn menyadari bahwa pria itu pasti sangat menyayangi Ibunya. Kentara sekali dari senyumnya saat menyebut wanita yang sudah melahirkannya itu.
"Jadi ini rumah mu?" Tanya Auryn yang baru sadar akan hal itu.
"Bukan." Jawaban Archie sontak saja menghentikan langkah Auryn lalu menoleh ke pria itu.
"Ini rumah orang tua ku." Ucap Archie diikuti senyum tipisnya.
"Ayo masuk, semua sudah menunggu." Archie merangkul pinggang Auryn, membuat gadis itu lebih merapat padanya.
"Ar…" Auryn coba mengelak dengan melepas rangkulan Archie namun gagal.
"Kau sangat cantik malam ini." Bisik Archie tepat ditelinga gadis itu.
^^^^
Diluar dugaan, apa yang ditakutkan Auryn tidaklah terjadi, semua orang menyambutnya dengan senang hati. Sekarang gadis itu sedang diapit oleh keluar besar Archie.
__ADS_1
"Maaf semuanya, kami datang terlambat." Sapa dua orang wanita yang baru saja ikut bergabung dengan mereka.
"Kau selalu saja begitu Chris." Omel Celo.
"Auryn..hai sayang. Bagaimana kabar mu nak?" Tanya Chris menghampiri Auryn lalu memeluknya sekilas.
"Baik Bibi." Balas Auryn dengan senyum mengembang.
"Kak Auryn…Cassey rindu Kakak." Berganti dengan Mamanya, kini Cassey yang memeluk Auryn.
"Mm..Kakak juga." Auryn bahagia bisa berada ditengah-tengah kehangatan keluarga ini, kehangatan yang tidak pernah ia rasakan sama sekali.
"Kenapa hanya Mommy saja yang belum bertemu Auryn sebelumnya?" Keluh Celo cemberut.
"Hahaha…" mereka semua tertawa melihat tingkah Celo yang satu ini, karena selama ini Ibu tiga orang putra itu selalu berwibawa dan keibuan.
Makan malam telah selesai, mereka kembali melanjutkannya dengan berbagi cerita dan canda tawa. Celo sendiri tidak sedikit pun mau dijauhkan dengan calon menantu idamannya itu.
"Apa bunga-bunga itu Nyonya sendiri yang merawatnya?" Tanya Auryn ingin tau kebenaran yang dikatakan Archie tadi.
"Sayang, berhenti memanggil Mommy dengan sebutan itu. Rasanya begitu jauh jarak antara kita." Sungut Celo lagi.
"Maaf Ny- Mommy." Ralat Auryn cepat.
"Tidak apa-apa anak manis." Seru Celo seraya membelai lembut surai indah Auryn.
"Biar Daddy yang jawab nak. Di rumah ini, Mommy perempuan satu-satunya, makanya Mommy menempati dua posisi sekaligus. Sebagai Ratu juga sebagai putri, makanya segala titahnya harus dijalankan termasuk merubah rumah ini menjadi taman bunga." Jelas Zach namun lebih ke mencibir istri tercintanya. Dan itu sukses mengundang gelak tawa semua orang yang ada disana.
Lain halnya dengan Archie, sedari tadi pria itu hanya berdiam diri saja, tapi tidak dengan matanya, ia selalu mengawasi gerak gerik gadisnya. Tidak satupun ekspresi Auryn yang terlewat oleh indra penglihatannya.
"Sayang, sering-seringlah kemari nak. Kau tau, Mommy sangat mendambakan akan hadirnya seorang putri tapi Daddy tidak mengizinkan karena setiap melahirkan Momny selalu kesulitan." Curhat Celo pada Auryn.
"…." Auryn hanya bisa diam dan tersenyum.
"Saat kalian sudah menikah nanti, Mommy harap cucu pertama Momny itu perempuan." Ucap Celo penuh harap.
"Momm, jangan bicara terlalu jauh." Cegah Archie akan omongan aneh Ibunya.
"Ishh..anak nakal. Kau diam saja!" Celo kesal lalu melototkan matanya.
"Momm…sudah saatnya Auryn pulang. Kasihan Ibunya menunggu." Archie melihat jam tangannya, mengingatkan Ibunya waktu.
"Heumm….baiklah. hati-hati dijalan. Sampai jumpa lagi Auryn sayang." Sebelum Auryn pergi diantarkan oleh Archie, Celo memuaskan diri memeluk gadis itu.
▪︎▪︎▪︎▪︎
__ADS_1