
▪︎▪︎▪︎▪︎
Pagi itu Auryn terbangun dalam keadaan memperihatinkan, tubuhnya serasa mati rasa terlebih hatinya, sesak dan sakit. Tidak memperdulikan bagaimana dan dimana suaminya, Auryn membersihkan tubuhnya sejenak untuk kemudian meninggalkan tempat yang menjadi kenangan buruk baginya itu.
Tidak tau kemana harus pergi, kiranya langkah kaki membawa Auryn ke rumahnya, rumah yang ia tinggali bersama Ibunya sebelum ini.
"Hiks…Ibu…Ryn rindu Ibu." Wanita itu terduduk dilantai yang berdebu karena sudah lama tidak dibersihkan.
Tiga jam berkutat membersihkan rumah, Auryn merasa tubuhnya semakin lelah berkali lipat. Karena semua sudut sudah ia bersihkan, Auryn menidurkan tubuhnya mengabaikan rasa lapar yang mendera perutnya.
Jika kata orang akan sulit tertidur jika perut dalam keadaan kosong, lain halnya jika lelah lebih mendominasi. Tidak butuh waktu lama, wanita itu terlelap dengan mudahnya.
Dilain tempat, Archie masuk ke ruangannya ditangan pria itu terlihat ia membawa makanan. Setelah tadi melakukan kesalahan yang juga menyakitinya istrinya, rasa bersalah itu melingkupi hatinya.
"Shitt! Kemana wanita itu pergi?" Umpat Archie mendapati ranjangnya yang kosong. Sebelum pergi, ia sudah memastikan jika Auryn sudah tertidur lelap tadinya.
"Bi Myla, apa Auryn sudah sampai di rumah?" Archie menghubungi asisten rumah tangga mereka, memastikan Auryn pulang ke rumah mereka.
"Maaf Tuan muda, tapi Nona muda belum pulang." Sahut Bi Myla, dari seberang panggilan.
"Baiklah Bi. Jika dia pulang nanti, segera kabari saya." Terdengar helaan nafas beray sebelum pria itu berpesan pada Bi Myla
"Tentu Tuan." Panggilan terputus.
"Selamat sore Tuan." Dari Bi Myla, Archie beralih menghubungi supir yang memang ia dikhususkan untuk istrinya tersebut.
"Paman Gerald, dimana Auryn?" Archie to the point saja menanyakan keberadaan istrinya pada pria yang sudah berumur itu, Gerald lah namanya.
"Nona? Maaf Tuan, tapi Nona muda tidak ada bersama saya. Saya masih menunggu Nona di lobby Tuan." Jelas Paman Gerald pada Tuannya, ada nada keheranan di suara pria itu.
"Baiklah. Kabari saya jika dia menghubungi paman untuk diantar." Archie juga berpesan sama seperti ke Bi Myla tadi.
"Baik Tuan."
"Kemana dia pergi?" Karena kebingungan, otaknya sama sekali tidak dapat diajak kompromi untuk berpikir.
^^^^
__ADS_1
Seperti orang gila, Archie pulang ke rumah mereka lalu balik lagi ke hotel berharap Auryn akan ada disana. Tapi sayang wanita itu tak jua kunjung menampakkan batang hidungnya.
Kini langkah pria itu membawanya ke apartemen yang sempat mereka tinggali. Sama, Auryn juga tidak pulang kesana, tempat itu masih sama seperti saat mereka tinggalkan hanya saja selalu bersih karena ada petugas yang akan selalu mengeceknya.
"Dimana kau Auryn?" Archie kembali menyusuri tempat yang sekiranya akan menjadi tempat persinggahan istrinya itu. Dalam posisi menyetir, ia menerima panggilan diponselnya.
"Bibi July? Ada apa menghubungi ku?" Archie bertanya sendiri, nampaknya ia masih belum kepikiran jika sang istri pergi ke rumah lamanya.
"Ya Bi, ada yang bisa Ar bantu?" Tanyanya lansung tanpa basa basi.
"Dimana istri mu itu?" Sentak Bi July terdengar kasar saat menanyakan Auryn padanya.
"Ada apa Bi? Kenapa Bibi menanyakan Auryn?"
"Kate, dia pergi Ar. Dia akan menikah dengan pria itu di Swiss..hiks..hikss.." Bibi July mulai menangis di seberang sana.
"Bibi tenang, Ar akan kesana sekarang." Archie coba menenangkan Bibinya itu, ia memutar arah laju mobilnya ke rumah Kate.
"Astaga. Apa yang sudah dilakukan wanita bodoh itu? Kenapa para wanita itu tidak berhenti membuat masalah badang sebentar saja." Geram Archie dengan permasalahan yang ada.
^^^^
"Kate, dia sendiri yang menghubungi Bibi. Beberapa hari ini, sikapnya memang sudah terlihat janggal, sayang sekali Bibi terlambat menyadarinya. Bahkan saat dia meminta dokumen tentang keluarga, Bibi memberikannya begitu saja." Terlihat wanita paruh baya itu merutuki kebodohannya.
"Kenapa Bibi mencari istri Ar? Apa hubungannya?"
"Istri mu yang menanda tangani sebagai saksi akta nikahnya." July emosi seketika.
"Siapa satu lagi?"
"Aldric." Lagi, wanita itu mendesah kecewa terhadap orang-orang terdekatnya.
Archie paham sekarang, ternyata inilah alasan mereka bersama siang ini. Ia telah salah menduga dan menuduh istrinya yang bukan-bukan, padahal ia sudah tau bahwa Auryn mencintainya.
Tapi kenapa wanita itu tidak memberitahunya masalah besar seperti ini. Sekali lagi Archie menyadari kesalahannya, bukannya ia yang selalu menghindar. Mungkin karena itu istrinya itu tidak memberitahunya.
"Bagaimana sekarang Ar?" July kembali menangis, kini wanita itu berada dalam dekapan Archie.
__ADS_1
"Bibi tenang saja, jika memang mereka sudah ditakdirkan untuk bersama, kita bisa apa? Biarlah Kate bahagia dengan pilihannya sendiri." Lugas Archie.
"Tapi Ar,-"
"Bibi tenang saja, Ar akan meminta orang untuk mengawasi mereka. Jika saja pria itu berani berbuat kasar bahkan sampai menyakiti Kate, Ar sendiri yang akan menghukumnya." Ia berani bertaruh, sepupunya itu akan bahagia sebab pria itu orang baik dan sangat mencintai Kate.
"Baiklah. Pegang janji mu Ar." July menggenggam erat jemari keponakannya.
"Pasti Bi."
Archie berpamitan, karena malam sudah cukup larut. Belum lagi ia harus memastikan dimana dan bagaimana keadaan wanitanya yang sudah ia sakiti.
Saat July, mengantar kepergian keponakannya hingga pekarangan. Mereka berpapasan dengan Auryn yang baru saja kembali entah dari mana. Ditangan wanita itu tampak membawa bungkusan seperti makanan.
"B-Bibi.." sapa Auryn tergugu karena suaminya juga ada disana. Sejenak ia berpikir bahwa pria itu datang untuk mencarinya.
Plakk
Bukannya menjawab sapaan Auryn, July malah melayangkan tangan untuk menampar Auryn. Sontak, Archie terbelalak dibuatnya. Hatinya tidak terima begitu saja jika ada orang yang mengasari wanita yang berstatus istrinya tersebut.
"Ad-a apa Bi? K-kenapa Bibi menampar Ryn?" Siapa yang tidak terkejut jika diserang secara tiba-tiba seperti itu.
"Beraninya kau bertanya! Gara-gara kau, aku kehilangan putri semata wayang ku!!" Bentak July kasar dan lantang hingga mengundang perhatian beberapa orang yang berlalu lalang.
"A-pa maksud Bibi? Ryn sama sekali tidak mengerti?" Auryn memegang sebelah pipinya yang panas akibat tamparan July tadi. Terlihat juga cairan merah disudut bibirnya, dari situ orang-orang bisa merasakan betapa kerasnya tamparan wanita itu.
"Kenapa kau mau menanda tangani saksi untuk akta nikah Kate?" Kali ini Archie lah yang menjawab dengan dinginnya.
"…." Auryn masih mencerna maksud dari perkataan suaminya itu.
"Kate pergi dengan kekasihnya. Dia menikah tanpa persetujuan kami." Archie melanjutkan kalimatnya.
"Maaf Bi, Ryn tidak rau soal itu. Ryn pik-"
"Diam!! Aku tidak butuh penjelasan mu itu. Dasar, anak h***m bisanya hanya menyusahkan dan menganggu orang saja!!" July kembali membentak Auryn, lebih parahnya ia berkata kasar dan terkesan menghina Auryn.
"Sudah Bi, sebaiknya Bibi masuk. Angin malam tidak baik untuk emosi Bibi." Archie menuntun Bibinya untuk kembali masuk kedalam rumah.
__ADS_1
Tinggallah Auryn sendiri, berdiri dengan tubuh gemetar. Langkah berat menuntunnya masuk kedalam rumah. Tanpa menghidupkan penerangan, ia duduk termenung dengan membenamkan wajahnya diantar kedua lutut. Sendiri dalam kegelapan, begitulah hidup Auryn saat ini, ia juga tidak mungkin memberitahukan Yumi perihal ini, ia tidak mau adiknya itu ikut sedih.
▪︎▪︎▪︎▪︎