Your Wife Is Not Your Wife 2 ( Difference )

Your Wife Is Not Your Wife 2 ( Difference )
Punya banyak waktu


__ADS_3

▪︎▪︎▪︎▪︎


"Bagaimana keadaan Auryn?" Perasaan cemas menghinggapi Archie melihat wanita berbaring diranjang rumah sakit dengan wajah pusat pasi.


"Apa dia hamil?" Pertanyaan yang satu belum dijawab, Archie malah kembali bertanya.


"Kenapa kau diam saja Aiden? Sudah bosan menjadi Dokter heh!" Archie melepaskan kekesalanya pada Aiden yang menangani istrinya itu.


"Ar, Auryn. Maaf, tapi Auryn tidak hamil. Dia terkena penyakit lambung sama seperti ibunya, dan beruntung ini masih awal dan masih bisa diobati." Jelas Aiden.


"Apa? Tapi dia baik-baik saja bukan?" Archie masih dengan raut cemasnya.


"Ya. Dan kita beruntung ini belum terlambat seperti kasus Ibunya. Apa kau berharap istri mu hamil Ar?"


"Baguslah. Lakukan yang terbaik." Titah Archie sombong.


"Tentu saja aku berharap dia hamil, kami sudah menikah dan setiap pasangan pasti ingin memiliki anak. Makanya kau menikah!" Sambung Archie yang kesal pada sahabatnya itu.


"Jangan membual. Memang siapa yang mau kau jadikan istri heh?" Archie mencibir sahabatnya itu.


"Yumi." Sontak Archie melototkan matanya.


"Jangan berani-beraninya kau sentuh adik ipar ku itu! Awas aja kau!" Ancaman Archie tidak berpengaruh sama sekali terhadap Aiden, Dokter muda nan tampan itu.


"Calm down brother! Aku tidak akan menyentuhnya, tapi akan ku nikahi dia." Sorot mata Aiden menggambarkan keyakinannya.


"Ingat! Jika kau berani mempermainkannya, akan ku hancurkan kau!" Gertak Archie lagi, tapi masih dalam lingkup normal.


^^^^


Archie duduk di bangku tepat disamping istrinya yang masih terbaring belum siuman. Meski tidak ada kata cinta dalam hubungan mereka, nyatanya yang dilihat orang lain mereka seperti saling mencintai.


Sekilas, Archie melihat mata bulat istrinya itu perlahan mengerjap pelan, belum sepenuhnya terbuka. Diraihnya jemari Auryn untuk ia genggam agar gadis itu menyadari kehadirannya.


"Ar.." panggil Archie disaat mata bulat itu sudah sepenuhnya terbuka.


"Ya sayang, apa yang kau rasakan? Masih pusing heum?"Archie membantu wanitanya untuk duduk.


"Sedikit. Bagaimana Ar? Apa aku,- ha-mil?" Ada sedikit pengharapan diakhir pertanyaan Auryn.


"Tidak,- maksud ku belum. Hei, kita masih punya banyak waktu untuk memiliki anak." Archie yang menyadari perubahan raut muka Auryn, lansung menghiburnya.


"Mm..ya, kau benar." Pria itu beranjak dari duduknya, bukan untuk pergi melainkan berpindah duduk tepat disamping istrinya itu. Penuh sayang di dekapnya tubuh ringkih nan kini berwajah pucat itu.


"Aku sakit apa Ar?" Auryn ragu untuk bertanya atau lebih tepatnya, ia takut jikalau sakitnya parah atau semacamnya.


"Masalah lambung. Tapi tidak parah, kau tenang saja. Kita akan segera mengobatinya." Pria itu tidak sepenuhnya berbohong, memang benar keadaan Auryn tidaklah terlalu mengkhawatirkan.

__ADS_1


"Apa aku akan berakhir seperti Ibu ku?" Wanita itu mendongak, mencari kebenaran dari sorot mata pria yang sudah menjadi suaminya itu.


"Tidak. Kau akan sembuh secepatnya, aku janji itu" Sanggah Archie cepat. Auryn membalas pelukan suaminya, dibenamkannya wajahnya di dada keras Archie.


^^^^


Flashback


*Cerry yang sedang bertugas dirumah sakit dimana Auryn dirawat tidak sengaja melihat Archie dari kejauhan. Sebelum menghampiri pria itu, terlebih dahulu wanita itu mencari tau alasan keberadaan Archie disana.


"Sedang apa Ar disini? Tidak mungkin hanya untuk bertemu Aiden." Cerry menerka-nerka kemungkinannya. Dengan langkah besar, wanita yang berprofesi sebagai dokter itu mengikuti Archie dari jarak yag cukup jauh.


Sampailah ia didepan pintu ruangan Aiden, sahabat Archie sekaligus rekan sesama dokter wanita itu. Menguping, Cerry mendekatkan telinganya ke daun pintu bercat putih itu.


"Bagaimana keadaan Auryn?" "Apa dia hamil?"


"Kenapa kau diam saja Aiden? Sudah bosan menjadi Dokter heh!"


"Ar, Auryn. Maaf, tapi Auryn tidak hamil. Dia terkena penyakit lambung sama seperti ibunya, dan beruntung ini masih awal dan masih bisa diobati." Jelas Aiden.


"Apa? Tapi dia baik-baik saja bukan?"


"Ya. Dan kita beruntung ini belum terlambat seperti kasus Ibunya. Apa kau berharap istri mu hamil Ar?"


"Baguslah. Lakukan yang terbaik." Titah Archie sombong.


"Tentu saja aku berharap dia hamil, kami sudah menikah dan setiap pasangan pasti ingin memiliki anak. Makanya kau menikah!" Sambung Archie yang kesal pada sahabatnya itu.


"Jangan membual. Memang siapa yang mau kau jadikan istri heh?"


"Yumi."


"Jangan berani-beraninya kau sentuh adik ipar ku itu! Awas aja kau!" .


"Calm down brother! Aku tidak akan menyentuhnya, tapi akan ku nikahi dia."


"Ingat! Jika kau berani mempermainkannya, akan ku hancurkan kau!" Gertak Archie.


Cerry mendengarkan semua percakapan mereka, senyum tipis terpatri diwajah putih susunya.


"Bagus, setidaknya perempuan itu belum hamil. Dan semoga dia segera menyusul ibunya ke neraka." Senyum jahat menghiasi wajahnya. Sebelum ketahuan, bergegas wanita itu beranjak dari sana.


Flashback off


Dan disinilah Cerry sekarang, di ruang rawat Auryn. Meski kesal melihat perhatian Archie terhadap istrinya, Cerry mencoba bersikap biasa saja.


"Hai Nona Auryn." Sapa Cerry begitu ia memasuki kamar Auryn.

__ADS_1


"Hai juga Nona Cerry." Sapa Auryn balik.


"Sedang apa kau disini heh?" Ketus Archie datar.


"Tadi akau tidak sengaja melihat mu, setelah mencari tau ternyata Nona Auryn yang sedang dirawat disini." Jelas Cerry dengan berbohong walau tidak sepenuhnya.


"Sebaiknya kau keluar. Istri ku butuh istirahat." Lagi, Archie dengan nada datarnya.


"Aku hanya ingin melihat Nona Auryn saja Ar, kenapa kau sampai marah begini?" Dengan acting nya, Cerry memasang raut sedih.


"Ar, jangan begitu. Nona Cerry berniat baik, melihat ku." Auryn mengusap-usap lengan suaminya, membuat Cerry semakin dibakar api cemburu.


Archie mengalah, ia tidak mau jika harus berdebat dengan wanitanya hanya karena kedatangan Cerry. Kemudia beranjak dari samping istrinya, memilih mendudukkan diri disebuah sofa tidak jauh dari ranjang Auryn.


"Bagaimana keadaan anda sekarang Nona?" Cerry sengaja berbasa-basi agar bisa lebih lama berada di sana.


"Sudah membaik Nona, terima kasih." Ujar Auryn tulus.


"Sebelumnya saya pikir anda jatuh sakit karena trimester awal kehamilan. Ternyata tidak." Cerry sengaja membuat Auryn menjadi sedih.


"…." Sementara Auryn hanya bisa tersenyum kecut mendengarnya. Ditanya Archie, pria itu mengepalkan tangannya menahan rasa kesal pada Cerry.


"Sayang sekali, kalian pasti sedih. Ya, kan Ar?" Dari Auryn, pandangan Cerry beralih ke Archie.


"Apa maksud ucapan mu hah? Jika kau berpikir aku akan sedih dan kecewa karena ternyata istri ku belum hamil, kau salah besar Nona. Karena kami masih punya banyak waktu untuk memiliki satu atau bahkan lebih nantinya." Archie menekankan setiap kata dalam kalimatnya.


"Ah, baguslah kalau begitu. Semoga bisa cepat terjadi." Cerry dengan senyum masamnya, masih bertatapan dengan Archie.


"Dan sebelum itu terjadi, akan ku pastikan wanita yang kau sebut istri ini akan pergi dari kehidupan mu. Pergi yang jauh sampai kau sama sekali tidak berniat mencarinya." Batin Cerry.


"Sebaiknya kau keluar sekarang. Istri ku mau istirahat." Archie kembali ke sisi Auryn, sementara Auryn ia hanya menatap dua orang itu heran, sebab mereka seperti musuh yang tidak pernah akur.


"Baiklah. Nona Auryn, semoga lekas sembuh. Saya permisi dulu." Pamit Cerry dengan senyum penuh arti.


"Terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk mampir melihat saya Nona Cerry." Seperti biasa, Auryn selalu menampilkan senyum tulusnya pada setiap orang.


Selang beberapa waktu kepergian Cerry dari ruangan Auryn, wanita itu kini terlelap dengan Archie masih mengusap lembut kepalanya.


"Aku tau kau pasti sedih dan kecewa. Asal kau tau, aku akan bersabar menunggu hadirnya bayi kita disini." Kecupan Archie yang semula ia daratkan di kening Auryn kini berakhir ke perut rata istrinya itu.


▪︎▪︎▪︎▪︎


Maaf kemarin ga sempet Up, buntu banget soalnya. Maaf banget ya dear.


Tetep jangan lupa LIKE, COMMENT, VOTE dan FAVORITE kan ya dear.


TERIMA KASIH BANYAK

__ADS_1


__ADS_2