Your Wife Is Not Your Wife 2 ( Difference )

Your Wife Is Not Your Wife 2 ( Difference )
Hamil


__ADS_3

▪︎▪︎▪︎▪︎


Flashback


"Ya Nona Yumi, ada apa anda tiba-tiba menghubungi say,-"


"Maaf Dokter Aiden, saya butuh bantuan Anda. Kak Auryn, dia jatuh di kamar mandi dan tidak sadarkan diri sekarang, kondisinya semakin menurun. Cepat Dokter, tolong selamatkan kakak saya." Nada suara Yumi penuh permohonan, gadis itu juga sangat ketakutan sekarang.


"Tenang, katakan dimana anda dan saya akan segera kesana." Tukas Aiden.


"Saya di rumah Ibu kami."


"Baiklah, tunggu saya. Sepuluh menit, ya dalan waktu sepuluh menit saya akan tiba disana."


Benar saja, belum sampai sepuluh menit, Dokter tampan itu sudah sampai di depan rumah Ibu mereka karena memang posisinya tidak jauh dari sana.Tidak membuang waktu, segera saja Aiden masuk kedalam rumah sederhana itu.


"Nona Yumi, anda didalam?" Ujar Aiden setengah berteriak agar Yumi bisa mendengarnya.


"Dokter, kami disini di dalan kamar mandi. Masuk saja." Sahut gadis itu dengan suara yang juga agak dikeraskan.


"Apa yang terjadi? Auryn kenapa?" Aiden ikut berjongkok mensejajarkan tubuh mereka.


"Tidak tau Dokter, sepertinya Kak Auryn jatuh atau juga dia mengalami pendarahan." Air mata masih setia menghiasi wajah bermata sipit itu.


"Dirumah sakit kita akan tau apa yang dialami Auryn." Tutur Aiden. Diraihnya, tubuh lemah tidak sadarkan diri itu dalam gendongannya yang diekori Yumi dibelakang.


^^^^


Sesampainya di rumah sakit, Auryn ditangani oleh Aiden lansung. Selain istri dari sahabatnya, Auryn juga kakak dari wanita incarannya.


"Bagaimana kak Auryn Dokter? Dia baik-baik saja bukan?" Yumi yang juga ikut membantu, semakin cemas manakala pria itu memanggil dokter lainnya.


"Anda harus fokus Nona Yumi, Auryn akan baik-baik saja. Jadi tenanglah." Sentak Aiden sedikit terganggu akan kecemasan gadis itu.


"Maaf,-"


"Dokter Aiden. Ada yang bisa saya bantu?" Datanglah seorang Dokter perempuan dengan nametag Nessi.


"Ah, Dokter Nessi. Pasien saya mengalami pendarahan, dan saya pikir diagnosa andalah yang paling tepat karena ini bukan spesialis saya. Takutnya nanti ada kesalahan dalam diagnosa." Jelas Aiden, setelah tadi memberikan pertolongan pertama terhadap Auryn.


"Siapa dia?"


"Istri Ar." Aiden menjawab sekilas.


"…" Nessi mengangguk sembari tangannya sibuk memeriksakan keadaan Auryn.


"Dari pemeriksaan saya, pasien ini tengah hamil muda. Lebih jelasnya, kita bisa lakukan USG saat pasien sadar nanti." Dokter Nessi memberi saran.


"Kak Auryn hamil? Tapi kandungannya baik-baik saja kan Dokter?" Di tengah rasa bahagianya, Yumi juga merasa cemas.


"Lebih jelas lagi setelah kita lakukan USG." Ulang Dokter Nessi lagi.

__ADS_1


^^^^


Begitu sadar, lansung dilakukan USG terhadap Auryn. Wanita itu bahagia tak terkira saat tau bahwa ia sedang hamil, buah cintanya dengan Archie, pria yang sangat ia cintai.


Saat ini Auryn berbaring diranjang tepatnya di ruangan Dokter Nessi spesialis ibu dan anak. Masih didampingi Yumi juga Dokter Aiden.


"Bagaimana kandungan saya Dokter? Berapa usianya? Dia baik-baik saja kan?" Tanya Auryn beruntun.


"Maaf,-" menyadari semua tatapan tertuju padanya, Auryn jadi kagok.


"Tidak apa-apa Nona, atau Nyonya ya?" Gurau Dokter itu.


"Auryn saja Dokter."


"Baiklah Nona Auryn. Saya maklum, terlebih ini anak pertama anda dan pastinya sangat ditunggu kehadirannya." Entah kenapa, setiap Dokter kandungan pasti senang melihat senyum bahagia ibu hamil yang diperiksanya.


"Usianya sekarang sudah menginjak tujuh minggu. Keadaannya baik, hanya sedikit lemah. Sebaiknya anda jangan banyak pikiran, apalagi tertekan hingga stress. Emosi anda akan sangat mempengaruhi kondisi si kecil ini." Jelas Dokter Nessi.


"Mau mendengar detak jantungnya?" Tawar Dokter cantik itu lagi.


"Ya Dokter." Binar bahagia tidak terlepas sedikit pun dari wajah wanita yang akan menjadi Ibu itu.


Auryn mendengar takjub akan keajaiban yang dititipkan Tuhan di rahimnya. Tidak terkecuali Yumi, perempuan single itu juga ikut takjub bahkan bahagia dan semua itu tidak sedikit pun terlepas dari pengamatan Aiden.


^^^^


"Dimana Ar?" Tanya Aiden yang belum juga melihat kedatangan sahabatnya itu.


"…." Aiden mengangguk paham akan penjelasan gadis itu.


"Mm….terima kasih banyak Dokter. Terima kasih sudah menolong kak Auryn. Saya bingung harus minta bantuan pada siapa lagi." Ungkap Yumi.


"Hanya terima kasih saja?"


"Apa?" Heran Yumi akan pernyataan sarkas Aiden.


"Begini saja, untuk membalas kebaikan saya bagaimana jika kita berteman?" Imbuh Aiden, membuat Yumi semakin keheranan.


"Berteman?"


"Ya, tidak ada lagi panggilan formal antara kita, kau dan aku." Aiden menekankan kalimatnya.


"Eh, ah…baiklah Dok,- Kak Aiden."


"Mm…bagus juga. Aku anggap itu panggilan sayang kau untukku." Goda Aiden, yang membuat wajah Yumi memerah karenanya.


^^^^


Aiden meninggalkan Yumi yang menemani Auryn. Sementara pria itu pergi keluar untuk menghubungi Archie, ia geram akan kesibukan sahabatnya itu


"Kau dimana?" Bentak Aiden begitu terdengar sahutan melalui ponsel dari seberang sana.

__ADS_1


"Kenapa kau membentak ku heh?"


"Cepat ke mari. Istri hamil kau malah sibuk bekerja!!"


"Apa? Hamil? Auryn hamil?" Tanya Archie tidak percaya.


"Ya. Anak kau! Kau yang membuatnya!" Kemarahan Dokter tampan itu sudah sampai ubun-ubunnya.


"Dari mana kau tau?" Rasanya, Archie masih tidak percaya akan kabar yang didengarnya.


"Tentu saja dari hasil pemeriksaan bodoh! Dia mengalami pendarahan pagi ini, dia juga tidak makan semalaman. Beruntung Yumi menemukannya, jika tidak kau pasti akan menyesal sekarang." Aiden terus saja memojokkan Archie.


Deg


Dada pria itu terasa sesak, mendengar apa yang telah dialami istrinya. Disaat wanita itu hamil seperti ini, hubungan mereka malah bermasalah. Tapi mau bagaimana lagi, ia masih belum bisa menerima masa lalu ibu mertuanya yang pernah akan melenyapkan mereka sekeluarga.


"Hei. Kau masih disana Ar?" Sentak Aiden, karena Archie diam tidak bersuara.


"Aku akan kesana." Sambungan mereka terputus.


^^^^


"Ar…" rasa bahagia Auryn membuncah begitu saja manakala mendapati suaminya datang.


"Kak, Kak Ar, Yumi keluar sebentar. Dari pagi Kak Auryn belum makan apa-apa." Yumi berniat untuk memberikan mereka waktu untuk menyelesaikan masalah yang ia tak tau.


Archie mengangguk sebagai jawaban, kini hanya mereka berdua yang tersisa diruang rawat Auryn. Pria itu melangkah mendekat, ditatapnya lekat-lekat istrinya, Ibu dari calon anaknya.


"Ar, apa kau sudah dengar dari Dokter? Dokter bilang aku hamil Ar, anak kita ada disini sekarang." Kebahagiaan tergambar jelas di wajahnya, tangannya juga tidak pernah lepas memeluk dan mengusap lembut perutnya yang masih datar itu.


"Kenapa kau bisa hamil? Maksud ku bagaimana bisa? Arghh…maksudku kenapa harus sekarang?" Serentetan pertanyaan ambigu terlontar sari bibirnya.


"A-apa maksud mu Ar? Apa kau tidak senang?" Air mata meleleh begitu saja dari wajah pucat Auryn.


"Entahlah. Aku tidak tau harus menggambarkan perasaan ku seperti apa? Aku belum bisa menerima masa lalu kalian." Tegasnya terkesan datar.


"Ar..hiks…"


"Ingat, pernikahan kita terjalin tidak berdasarkan cinta. Apa kau tidak berpikir bahwa anak itu akan sama seperti mu kelak hah!!" Bentak Archie kemudian.


"Tidak. Karena aku memiliki suami, jika pun suatu saat nanti kau meninggalkan ku dan anak ini. Satu yang pasti, anak ini tidak akan kekurangan kasih sayang meski itu hanya dari satu pihak." Tegas Auryn, ia tidak dapat lagi mengendalikan emosinya. Entah itu akibat hormon kehamilan atau karena tekanan yang ia alami beberapa waktu belakangan.


"Sebaiknya kau pergi Ar. Dokter bilang, kandungan ku sangat lemah. Tidak baik jika aku tertekan dan stress, aku tidak mau karena keegoisan kita, anak ini berada dalam bahaya." Secara halus, Auryn mengusir pergi suaminya itu.


"Kau mengusirku?"


"Ya. Demi anak dalam kandungan ku." Auryn memalingkan wajahnya, tidak tahan melihat pria yang berstatus suaminya, tapi mengabaikannya hanya karena masa lalu Ibunya. Masa lalu yang ia belum jelas kebenaran faktanya.


Tanpa suara, Archie bergeming untuk pergi dari sana. Sungguh ia sangat ingin memeluk istri dan anak yang masih berada dalam perut Auryn. Namun sekali lagi, emosi lebih mendominasi di dirinya.


Flashback off

__ADS_1


▪︎▪︎▪︎▪︎


__ADS_2