
▪︎▪︎▪︎▪︎
Seperti biasa, setiap memiliki waktu Kate akan selalu menghabiskan waktu untuk menggoda Auryn yang notabene nya adalah adik iparnya. Seperti pagi menjelang siang ini, pekerjaan Auryn seperti biasa selalu selesai tepat waktu rapi.
Titt
Auryn menangkap suara pintu ruangan Auryn dibuka dari luar. Ia pikir, itu pasti suaminya sebab hanya pria itu yang akan masuk tanpa mengetuk terlebih dahulu.
Auryn berdiri dari rehatnya, berlari kearah pintu, berniat menyambut kedatangan suaminya seperti yang selalu ia lakukan.
"Boo!!" Pekik Kate mengejutkan Auryn. Sementara Auryn sendiri yang awalnya tersenyum lebar kini sedikit mengulum senyumnya.
"Aha, kau pasti berharap yang datang suami mu bukan." Kate lansung menggodanya.
"Kak Kate tau?" Auryn bertanya seperti orang bodoh.
"Tentu saja. Itu terbaca jelas dari raut wajah jatuh cinta mu itu." Kate beranjak masuk, dan pintu tertutup secara otomatis. Gadis itu melangkah melewati Auryn dan tepat disamping adik iparnya itu ia menoel dagu Auryn sembari mengedipkan sebelah matanya.
"Terlihat jelas ya Kak?" Auryn benar-benar sosok istri yang polos.
"Iya, Auryn sayang." Kate merangkulnya, kemudian mendudukkan tubuh diranjang besar kesukaan Archie sebelum pria itu mempersunting Auryn sebagai istrinya.
"Sekarang ceritakan padaku, bagaimana rasanya menikah dan memiliki suami? Apa menyenangkan?" Pertanyaan Kate lebih ke orang yang sedang mencari tau untuk kemudian dia jadikan pedoman.
"Kenapa? Apa Kak Kate sudah mau menikah?" Kini giliran Auryn yang penasaran.
"Ah, ahaha. Tidak. Belum maksudku. Hanya bertanya saja." Kilah Kate tergagap.
"Selama kita sudah saling mengenal, aku tidak pernah melihat kekasih Kak Kate?" Auryn sudah lama ingin menanyakan hal ini, dan sekaranglah waktu yang tepat.
"Mm…dia bekerja ditempat yang jauh." Wanita itu menatap kesembarang arah, mencegah Auryn membaca kebohongan dimatanya.
"Di negara lain?"
"Y-ya. Begitulah." Cengir Kate lega.
"Berarti kak Kate dan kekasih menjalani LDR?" Tiada habisnya, istri dari adik sepupunya itu, membuat Kate gelagapan sendiri.
"Ya. Yang semacam itu juga. Tunggu, kenapa malah jadi kau yang menanya-nanyai kehidupan percintaan ku heh? Dasar anak nakal. Kalian berdua suami istri sama-sama nakal." Kate mencubit gemas wajah Auryn hingga ia mengaduh kesakitan.
__ADS_1
^^^^
"Lyan, peresmian hotel kita yang di kota C, tidak perlu di buru-buru. Atur saja semua sesuai target kita diawal." Archie berjalan memasuki hotel, ditemani Lyan disisinya. Sudah menjadi rahasia umum jika Lyan yang hanya berstatus sebagai petugas keamanan, sebenarnya ialah tangan kanan pria itu.
Mereka bersahabat, ada Lyan, Aiden, Jammed juga Aldric. Hanya saja dengan Aldric mereka tidak terlalu dekat, sebab pria selalu berambisi untuk selalu jadi pemenang.
"Tapi, para investor minta dipercepat Ar." Ingat Lyan. Seperti biasa, para investor yang hanya menginginkan keuntungan tanpa mempedulikan kualitas.
"Jangan ikuti mereka. Mereka hanya investor, sementara kitalah yang memegang kendali penuh." Penolakan Archie atas permintaan mereka bukan karena apa. Pria itu mengikuti nasehat Auryn yang memang benar adanya.
"Ar, segala sesuatu pekerjaan atau masalah, jika kita hadapi dengan tenang makan semua akan berjalan sesuai dengan apa yang telah kita rencanakan sebelumnya. Sebaliknya, jika kita terbawa nafsu dan terburu untuk menyelesaikannya, semua akan berakhir sia-sia tanpa ada hasil." Kalimat sederhana, namun mengandung arti yang dalam.
"Ya, kau benar." Mereka berpisah jalan. Lyan kembali ke pos jaganya, sementara Archie ke kamarnya dimana sang istri sudah menunggu.
Archie masuk dengan pelan, pria itu berniat memgejutkan wanitanya. Tapi sayang ia urungkan, manakala pria itu mendengar suara tawa dari arah ranjangnya.
"Jadi benar, kau sudah jatuh cinta pada adik mesum ku itu?" Archie sangat mengenal suara itu, suara Kate, kakak sepupunya.
"…."
"Ayolah Ryn, jujur saja kalau kau memang sudah jatuh cinta pada suami mu." Desak wanita itu yang sudah dipastikan tertuju pada Auryn.
Jantung Archie berdetak cepat, penasaran akan jawaban yang akan diucapkan istrinya itu.
"Ayolah. Hanya kita berdua disini," Kakak sepupunya yang setengah waras itu terus saja mendesak wanitanya.
"…." Dari jarak yang cukup jauh, Archie masih bisa menangkap gerakan kepala Auryn yang mengangguk mengiyakan.
"Astaga Auryn. Kenapa kau malah malu-malu seperti remaja yang tengah kasmaran." Sorak Kate memeluk Auryn, lalu menggoyang-goyangkan tubuh mereka.
Kembali ke Archie, pria itu juga ingin rasanya bersorak karena istri kecilnya itu mencintainya. Meski ia belum memastikannya sendiri, tapi Archie juga merasakan hal yang sama. Bedanya, ia menyayangi Auryn, tapi tidak, atau belum mencintainya.
Drtt
Niat awalnya untuk menangkap basah ungkapan cinta sang istri, nampaknya harus ia tunda dulu sebab ada panggilan penting. Panggilan yang sudah beberapa hari ini ia tunggu.
^^^^
Archie menjauh dari ruangannya, ia berjalan kearah mobilnya terparkir. Sebelum memasuki mobil, pria itu masih ponselnya untuk menerima panggilan dari orang yang sama yang tadi belum sempat ia terima.
__ADS_1
"Apa yang kau dapatkan? Jika belum jelas, sebaiknya kau lanjutkan pencarian dan jangan menghubungi ku." Peringatan dari Archie pada si pemanggil.
"Aku sudah mendapatkannya. Semuanya." Jelas pria itu yang pasti tak kalah datarnya.
"Baiklah. Dimana?"
"Di xxx.."
"Sepertinya kau salah menyebut alamat Jamm." Ralat Archie, begitu Jammed menyebut alamat rumah orang yang kenal dekat dengannya.
"Tidak. Karena memang itulah kenyataannya, dan kau harus terima." Suara datar itu kini sedikit merendah.
"….."
"Ar, kau masih disana? Mau ku temani atau,-" Jammed tau, ini pasti berat untuk sahabatnya itu.
"Tidak. Biar aku sendiri." Tidak menunggu tanggapan dari Jammed, Archie memutus sambungan mereka.
^^^^
Sore tadi Auryn pulang tanpa suaminya. Karena Yumi juga pulang kerumah, jadilah mereka pulang bersama dengan diantar supir yang memang sudah dikhususkan untuk wanita itu.
Auryn merasa aneh, seharian ini pria itu tidak ada sama sekali menghubungi bahkan menemuinya. Padahal, dari yang ia dengar Archie sempat ke hotel dan masuk ke ruangannya.
Ceklek
"Ar, kau baru pulang?" Auryn menyambut hangat suaminya seperti biasa.
Auryn hendak meraih jas kerjanya yang disandang pria itu, tapi sayang ditepis oleh Archie. Wajahnya juga terlihat datar dan tersirat kekecewaan disana.
"Kenapa Ar? Ah, kau pasti lelah. Mandilah, lalu istirahat." Auryn masih mempertahankan senyumnya, walau dalam hati wanita itu bertanya-tanya.
Memilih tetap diam, Archie berlalu ke kamar mandi menyisakan Auryn yang merubah raut wajah menjadi murung.
"Apa terjadi sesuatu saat meeting tadi ya? Tapi Kak Lyan bilang, semua berjalan lancar sesuai arahan Ar." Tidak terlalu ambil pusing, Auryn memunguti beberapa barang suaminya yang berserakan begitu saja.
Hingga mereka tidur, Archie tetap bersikap sama, pria itu juga tidur dengan membelakangi Auryn. Tidak seperti sebelumnya saling memeluk dan berbagi kehangatan.
▪︎▪︎▪︎▪︎
__ADS_1