
▪︎▪︎▪︎▪︎
Archie selalu memaksa Auryn untuk selalu pulang bersamanya, pria itu tidak menerima penolakan apapun itu alasan yang diutarakan istrinya. Saat ini mereka sudah berada diapartemen tepatnya dikamar mereka.
"Ar, pekerjaan rumah ku akan terbengkalai jika setiap hari aku harus menunggu mu untuk pulang. Lagi pula apartemen mu tidak jauh dari hotel dengan berjalan kaki saja hanya butuh dua puluh menit." Omel Auryn akan kesemena-menaan suaminya itu.
"Apartemen kita Auryn. Pekerjaan rumah apa?" Pria arogan itu mengernyit bingung.
"Memasak, membersihkan rumah dan masih banyak hal yang bisa kulakukan Ar." Omelan wanita itu kita meningkat menjadi kekesalan.
"Jika kau yang mengerjakan semuanya, apa guna Bibi Myla?" Archie tidak mau kalah begitu saja, sepertinya pria itu punya banyak energi jika berdebat dengan istrinya itu.
"Ar, Bi Myla sudah berumur, kasihan jika beliau mengerjakan semuanya." Auryn pun tak kalah untuk mendebat suaminya.
"Kalau begitu kau berhenti saja bekerja dan mengurusi rumah." Solusi yang diberikan Archie malah membuag Auryn semakin jengah.
"Tidak. Aku mau tetap bekerja." Apa saja yang dijawab suaminya selalu saja ia sanggah.
"Astaga. Apa lagi ini? Untuk apa kau bekerja, apa kau tidak mau menggunakan uang suami mi ini heum?" Archie jadi frustasi sendiri dibuatnya.
"Bukan. Bukan begitu, hanya saja,-"
"Hanya saja apa?" Jawaban gantung Aurym membuat Archie penasaran.
"Berjaga-jaga saja seandainya pernikahan kita ini tidak berhasil." Auryn menunduk setelah kata terakhirnya.
"Hhh…." Archie menghela nafas berat.
"Jujur saja, aku lelah jika kita terus mendebatkan hal ini Auryn. Begini saja, kita jalani saja dulu apapun hasilnya nanti aku akan tetap menghidupi kalian, kau dan Yumi." Jelas Archie. Entah kenapa saat mengatakan kalimat itu dadanya terasa sesak.
Drtt
Perdebatan suami istri itu berakhir dengan adanya panggilan masuk dari ponsel Archie. Ia menerima panggilan masuk itu setelah sebelumnya melihat ID si pemanggil.
"Ya Momm, ada apa?" Dan yang menghubungunya ialah Celo, ibunya.
"Tidak ada. Mommy hanya mengabari saja, kakek dan nenek kalian datang. Jika punya waktu, besok mampirlah ke rumah, kita makan malam bersama." Pesan Celo.
"Ya Momm, besok Ar dan Auryn akan datang lebih awal. Mereka juga harus lebih mengenal istri Ar." Tutur pria itu.
"Ya. Selamat malam sayang, sampaikan salam Mommy ke putri Mommy ya." Panggilan mereka diakhiri dengan Celo menggoda putranya itu.
"Momm…yang anak Mommy itu Ar apa Auryn?" Ujar Archie merajuk.
"Haha…itu saja merajuk. Kalian berdua anak Momm, oke." Kali ini panggilan benar-benar diakhiri.
^^^^
__ADS_1
Berhubung hari ini weekend, Archie bisa datang ke rumah orangtuanya lebih awal. Tidak lupa pria itu memboyong istrinya, Auryn.
"Mm..Ar, apa tidak apa-apa aku juga ikut?" Auryn sangsi untuk ikut makan malam bersama nenek dan kakek suaminya itu.
"Kenapa? Apa kau masih memikirkan ucapan grandma yang membandingkan mu dengan Cerry?" Tanya Archie masih fokus ke kemudi mobil.
Flashback
"*Auryn, kemari sayang. Perkenalkan ini granma dan grandpa, beliau orang tua dari Daddy." Beberapa malam sebelum pernikahan, Auryn diminta datang makan malam bersama dengan tujuan memperkenalkan gadis itu pada seluruh keluarga besar mereka terutama kakek dan nenek calon suaminya.
"Selamat malam Grandpa, grandma, saya Auryn." Auryn memperkenalkan diri dengan sopan dan setengah menunduk.
"Jangan terlalu sungkan begitu nak, kami juga kakek dan nenek mu." Ujar Granda.
"Hei gadis manis, apa profesi mu?" Tanya Grandma, yang memang sudah menjadi ciri khasnya untuk menilai orang dari status. Dahulu saat awal Zach memperkenalkan Celo juga seperti itu malah lebih parah lagi.
"Kau sudah tua sekarang, setidaknya ubahlah sikap tinggi hati mu itu." Sela grandpa cepat.
"Apa salahnya. Aku kan hanya bertanya saja." Timpal grandma tidak mau disudutkan.
"Maaf, saya hanya salah satu pekerja di hotel milik Archie, grandma." Cicit Auryn pelan.
"Apa? Bagaimana bisa? Aku pikir kau seorang pengusaha, dosen atau dokter seperti Cerry." Sinis grandma*.
Flashback off
"Bersikap apa adanya dirimu. Lagi pula, aku dan Cerry hanya berteman." Ingat pria itu bermaksud menghapus kebimbangan dihati istrinya.
"Akan ku coba." Auryn masih saja lesu. Keheningan menghampiri mereka setelahnya.
"Mm..Ar, apa Granma menyukai sesuatu? Seperti bunga cemilan atau,-"
"Perhiasan." Potong Archie cepat.
"Apa? Pe-rhiasan?" Auryn melongo tidak percaya, niatnya untuk mengambil hati nenek mertua dengan membelikan barang kesukaannya terurung seketika. Bagaimana mungkin sanggup ia membelikan sesuatu yang mahal seperti itu.
"Kau tidak perlu sampai seperti itu untuk mengambil hati beliau. Suka atau tidaknya grandma akan kehadiran mu, kau sudah menjadi milik ku sekarang. Dan itu artinya, kau hanya perlu mengambil hati ku." Archie menggenggam erat jemari istrinya.
^^^^
Masuk waktu makan malam, semua sudah berkumpul untuk makan malam bersama. Namun, ada satu kejadian yang membuat mereka harus menunda acara makan malam itu.
"Dimana Cerry? Kenapa anak itu belum datang juga?" Suara grandma menghentikan kegiatan Celo dan Auryn menyiapkan makan hidangan.
"Mi…mungkin Cerry sedang sibuk. Seorang dokter tidak bisa ditentukan jam kerjanya Mi." Sambar Zach, ia melihat raut wajah menantunya yang merasa diasingkan.
"Tapi, tadi dia bilang bisa datang." Bantah Mami Zach.
__ADS_1
"Apa karena Cerry kita harus menahan lapar? Berhentilah bersikap egois diusia mu sekarang!" Sentak Grandpa dengan suara meninggi.
"Pi…" Celo menenangkan Papi mertuanya itu.
"Hah…baiklah, ayo kita makan." Masih dengan bersungut, grandma akhirnya mengalah juga.
"Sepertinya Mami tidak menyukai Auryn, bagus pasti Mami akan mendukunh rencana ku jika aku beritahu bahwa gadis itu putrinya si j****g Melodi." Chris bersorak senang dalam hati.
Baru juga akan memulai menikmati hidangan, sebuah suara memecah kegiatan mereka.
"Selamat malam semua, maaf terlambat." Sesosok wanita anggun ikut bergabung dengan mereka.
"Cerry, grandma pikir kau tidak jadi datang." Wanita tua itu membalas pelukan Cerry, satu hal yang membuat Auryn semakin merasa tidak disukai.
"Mana mungkin, tadi Cerry kembali ke apartemen dulu. Tidak mungkin Cerry datang dengan bau obat-obatan itu." Sungut Cerry cemberut.
"Sudah. Sudah, jika mau bercakap nanti saja, ingat ini meja makan, tempat untuk menikmati rezeki hari ini." Tukas Granpa datar.
"Pyuh…apa ini? Siapa yang memasak soup asparagus kesukaan grandma?" Grandma melepeh kan kuah soup yang baru saja di icipnya.
"Maaf, grandma. Itu saya yang masak." Cicit Auryn takut.
"Kau pikir ini soup lada? Berapa banyak lada yang kau masukkan kedalamnya hah!" Bentak grandma membuat setiap orang yang ada disana menatap ke nenek tua itu.
"Maaf grad,-"
"Diam!! Jangan menjawab jika diberi tahu." Bentak grandma lagi.
"Kau ini kenapa? Soup ini sama hampir persis dengan soup buatan Celo. Hargailah setiap usahanya cucu menantu mu itu. Kau tau, jika aku yang memasak untuk mu akan ku tambahkan racun agar kau bisa diam!" Granpa berdiri untuk kemudian meninggalkan meja makan.
Suasana mendadak menjadi mencekam. Jika grandpa sudah marah, tidak ada satupun yang berani mencegahnya. Auryn yang menjadi objek perdebatan itu menjadi pucat pasi.
"Heh kau, baru saja menikahi cucu ku, sudah berani membuat suami ku, memarahi ku dihadapan semua orang! Cerry, lain kali jika grandma kesini harus kau yang membuatkan soup." Dari Auryn, wanita tua itu beralih ke Cerry dan bertutur lembut pada gadis itu.
"Tentu grandma." Cerry menenangkan wanita tua itu.
"Bagus. Sebaiknya kau menyingkir Auryn, sebelum terbuang dengan sendirinya." Cerry menatap Auryn culas. Tidak hanya Chris yang ingin menyingkirkan Auryn, tapi Cerry juga.
Archie yang tidak tahan melihat istrinya diperlakukan demikian, angkat suara. Lebih lama mereka disana, maka Archie tidak bisa menjamin bahwa ia tidak akan melawan neneknya itu.
"Sayang, ayo kita pulang. Bukannya besok kita akan menemani Yumi?" Archie meraih tangan istrinya untuk bersiap pergi dari sana.
"Dadd, Momm, Bibi, semuanya kami pamit dulu." Pamit Archie, tapi tidak berpamitan pada neneknya.
"Baiklah. Hati-hati dijalan nak." Sahut Celo, setelah sebelumnya memeluk Auryn.
Sekuat tenaga Auryn menahan air mata yang sudah menumpuk dipelupuk matanya. Wanita itu tidak mau terlihat lemah dan merasa dikasihani.
__ADS_1
▪︎▪︎▪︎▪︎