
▪︎▪︎▪︎▪︎
"Kenapa Bi? Kenapa Bibi masih saja membenci Ibu? Ibu sudah meninggal Bi? Harusnya Bibi tau, dendam tidak menyelesaikan segalanya. Sebab Bibi juga mempunyai masa lalu yang sama dengan Ibu!" Ryn tak kalah membentak.
Plakk
Chris menampar Auryn cukup keras, bisa terlihat dari wajah wanita itu yang tertoleh ke samping juga memar di pipinya. Auryn cukup terkejut sebenarnya, akan tetapi ia bersikap biasa saja karena untuk menghadapi orang yang sedang emosi tidak harus dengan emosi juga.
"Dengarkan Ryn bi, dendam bukanlah akhir dari segalanya. Dengan dendam, semua tidak akan kembali seperti semula lagi. Tidak hanya Bibi yang kehilangan tapi Ryn juga, Ryn kehilangan Ibu bahkan Ryn tidak pernah merasakan sosok yang namanya Ayah." Auryn mulai menangis, selain hormon kehamilan ia juga tertekan sekarang.
"Kau pikir aku akan iba melihat kau menangis? Tidak akan! Kau bilang kau tidak pernah merasakan kehadiran seorang ayah. Anak ku juga tidak! Jangan sok tau, kau hanyalah anak kecil yang baru beranjak dewasa. Sampai kapan pun, tidak akan pernah ada kata maaf untuk Ibu mu yang busuk itu!!" Bentak Chris semakin marah.
"Kenapa Bibi terus saja menyerukan kesalahan Ibu, sementara Bibi sendiri juga melakukan hal yang sama. Kenapa hanya Ibu sendiri yang menanggung kesalah? Kenapa? Bibi juga ikut bersalah!" Auryn semakin keras membentak Chris. Beruntung setiap kamar di rumah besar ini di desain kedap suara jika tidak pasti setiap orang yang ada dirumah itu akan mendengar pertengkaran mereka.
"Kenapa Bi? Kenapa?" Tepat saat Auryn masih membentak Chris yang kehabisan kata-kata, Archie masuk ke dalam.
"Auryn!!" Archie yang tidak tau duduk permasalahan kenapa istrinya membentak Bibi nya, seketika salah paham.
"Ar,-" Chris berucap lirih, seolah Aurynlah yang salah.
"Kenapa kau membentak Bibi hah!!" Lagi, Archie membentak istrinya itu.
"Apa setelah aku menjawabnya, kau akan percaya padaku Ar?" Dari Chris, Auryn beralih ke suaminya yang sudah jelas akan membela Bibinya itu. Suaranya terdengar rendah, dengan nafas terputus-putus.
"Tidak perlu kau jawab, aku sudah tau jawabannya." Auryn memalingkan wajahnya dengan memutar tubuhnya membelakangi Bibi dan keponakan itu.
"Ar, Bibi pusing. Bantu Bibi ke kamar." Rengek Chris sendu. Sementara di belakang, ia tersenyum puas melihat Auryn terpojok.
"…." Tanpa suara, Archie memapah Chris keluar dari kamarnya. Ditutupnya pintu itu, membiarkan Auryn sendirian di dalam sana.
^^^^
__ADS_1
"Hiks…hiks…Ibu.." wanita berbadan dua itu kini terduduk dilantai nan dingin. Wajahnya basah akan air mata, bibirnya pucat dan pipi yang memerah bekas tamparan Chris tadi.
Ingin rasanya Auryn menyerah pada takdir dan menyusul Ibunya. Namun keberadaan anaknya menyadarkan Auryn, anaknya berhak hidup dan bahagia.
Dilain tempat, usai mengantar Chris ke kamar yang ditempatinya setiap menginap dirumah utama Alterio, Archie pergi keluar untuk menenangkan diri. Pikirannya kalut hingga membentak istrinya, tanpa sadar akan akibat yang akan ditimbulkan nantinya.
"Maafkan aku Auryn. Semua ini terlalu sulit untuk sekarang." Untuk kali kedua, Archie menangis. Ia sadar bahwa ia terlalu pengecut untuk seorang pria.
^^^^
Hari ini, tiba hari dimana Aldric dan Cerry akan melansungkan pertunangan. Kedua belah pihak berbahagia, tapi tidak bagi empat orang yang tak lain Archie, Auryn, Aldric dan Cerry. Mereka sedang berada dalam dilema besar, hubungan rumit mengikat mereka.
Pesta baru saja usai beberapa menit yang lalu, itu artinya Aldric dan Cerry sudah resmi bertunangan dan mereka akan menikah satu bulan lagi. Semua orang larut dalam meriahnya pesta tanpa sadar, Auryn tidak bersama mereka.
"Ar, kemari nak. Ayo kita berfoto bersama, kalian juga belum memiliki foto keluarga bukan." Seru Celo membujuk putranya. Sedangkan Archie, dengan langkah gontai pria itu menyusul arah suara Mommynya.
"Dimana Auryn?" Tanya Celo, wanita itu baru menyadari jika menantunya tidak terlihat sama sekali semenjak tadi.
"Iya. Dimana istri mu nak?" Sambar Zach yang juga tidak melihat menantunya itu.
"Tadi setelah kami mengambil foto, Mommy meninggalkannya sendiri karena harus menyambut beberapa tamu." Sesal Celo, dalam hati ia menyalahkan diri sendiri sebab mengacuhkan menantunya itu.
"Dimana Auryn? Bagaimana jika terjadi sesuatu?" Tidak hanya Celo, Archie tidak tenang sekarang. Segala pikiran buruk menghampiri pikirannya. Beruntung Chris tidak disana, wanita itu telah kembali ke rumahnya karena darah tingginya kumat.
"Tenang. Sebaiknya kita mencarinya bersama-sama." Putus Zach. Semua bergerak dan memencar agar lebih cepat menemukan Auryn.
^^^^
Satu jam lamanya orang-orang mencari keberadaan Auryn, namum tidak jua membuahkan hasil. Wanita itu hilang bak ditelan bumi.
"Maaf, apa Tuan muda mencari Nona muda?" Bi Ai menghampiri Archie yang masih saja kebingungan mencari keberadaan istrinya itu.
__ADS_1
"Ya. Apa Bi Ai melihatnya?" Tanya Archie penuh harap.
"…."
Setelah mendengar penjelasan singkat dari asisten kepala kepercayaan Mommynya, Archie bergegas menyusul keberadaan Auryn.
Setibanya disana, dapat dilihat semua orang sudah berkumpul. Mereka melihat dari jauh, Auryn yang sedang asyik duduk berselonjor kaki dilantai teras belakang. Nampak juga disana sudah ada Zach, Celo dan Seth yang akan menghampiri Auryn.
"Kenapa duduk disini nak?" Dari posisi yang tidak jauh, Archie bisa mendengar Daddy nya bertanya pada Auryn.
"Dadd, Momm, Seth." Sapa Auryn sedikit terkejut.
"Kenapa disini?" Ulang Zach, seraya berjongkok menyamakan tinggi mereka.
"Tidak ada Dadd, kaki Ryn pegal karena terlalu lama berdiri tadi." Tutur wanita itu, tidak lupa tangannya mengurut pelan kedua kakinya bergantian.
"Sayang, sebaiknya istirahat dikamar saja ya nak. Kenapa tidak bilang jika kau lelah? Lihat, kaki mu bengkak." Sambung Celo yang juga ikut duduk disebelah Auryn.
"Ryn tidak apa-apa Momm, hanya lelah sedikit." Auryn memang tidak pernah mengeluh dengan apa yang dirasakannya, persis Celo dimasa lampau.
"Ar, antar istri mu ke kamar kalian." Zach yang menyadari kehadiran putranya, meminta pria itu untuk membantu istrinya.
Auryn yang tidak ingin orang tau permasalahan mereka, bersikap seperti biasa seolah tidak terjadi apa-apa diantara mereka. Diluar dugaan, ia kira Archie hanya akan memapahnya, ternyata pria itu menggendongnya.
^^^^
Archie mendudukkan istrinya diatas ranjang, ia juga membantu Auryn melepas flat shoes nya. Dapat ia lihat kaki wanita itu sembab, mungkin karena efek kehamilannya.
Susana sunyi menyelimuti mereka, karena tidak seorang pun yang buka suara. Semua, tidak terlewat sedikitpun dimata Auryn.
Selesai tugasnya, pria itu berdiri bermaksud akan pergi dari sana. Namun cekalan di lengannya, mengurungkan langkah Archie. Ia menoleh sekilas kearah Auryn yang menahan kepergiannya.
__ADS_1
"Kenapa Ar? Apa karena dendam itu? Karena masa lalu Ibu ku?"
▪︎▪︎▪︎▪︎