Your Wife Is Not Your Wife 2 ( Difference )

Your Wife Is Not Your Wife 2 ( Difference )
Memintamu menjadi putri sekaligus menantu


__ADS_3

▪︎▪︎▪︎▪︎


Auryn berlari sekencang yang gadis itu bisa, secepatnya ia ingin bersembunyi dari keramaian dan setiap pasang mata yang menyorotinya. Entah apa sebabnya sampai ia harus lari, sementara Auryn sendiri tidak mengerti dengan perasaan juga hatinya.


"Hiks…hiks…kenapa sakit sekali rasanya?" Gadis itu menepuk-nepuk kecil dadanya. Saat ini Auryn sudah berada dirumahnya, dikamarnya, dalam pelariannya tadi kakinya membawa untuk segera pulang kerumah karena tidak punya tempat lain.


"Kenapa sesakit ini? Perasaan apa ini?" Nampaknya Auryn belum menyadari perasaannya terhadap pria itu. Pria yang sudah mengklaim dirinya sebagai kekasih. Lalu bagaimana bisa ia menikah disaat tengah menjalin hubungan dengan seseorang, terlepas dari mereka saling mencintai atau tidak.


Lelah menangis gadis itu tertidur dengan sendirinya.


Hampir dua jam Auryn tertidur, ia terbangun dengan kondisi yang teramat kacau. Rambut setengah acak-acakan, mata agak sembab dengan sisa air mata mengering disudut mata besarnya.


"Ugh..." bibir kecil nan tipisnya meringis pelan sembari memegangi kepalanya yang terasa berdenyut nyeri. Auryn memilih mendudukkan tubuhnya, kemudian setelahnya beranjak kekamar mandi untuk membasuh wajah.


Setelah mengganti pakaian seragam yang tadi masih melekat ditubuhnya dengan pakaian yang biasa ia gunakan sehari-hari. Tepat ketika akan melangkah keluar rumah, gadis itu menyadari sesuatu.


"Astaga, aku lupa tadi meninggalkan tasku di hotel. Ponsel dan dompetku ada disana." Gerutu Auryn merutuki kebodohannya.


"Besok saja aku ambil." Gumamnya kemudian.


Auryn berniat untuk kemakan Ibunya, beruntung itu tidak terlalu jauh sehingga ia bisa menempuhnya hanya dengan berjalan kaki saja.


Dua puluh lima menit berjalan kaki, Auryn akhirnya bisa bertemu Ibunya. Wanita yang sudah berjasa besar di hidupnya dan tak akan pernah lupa untuk ia sebut namanya disetiap doanya.


Auryn berlutut didepan gundukan tanah yang masih terbilang basah, rangkaian bunga segar selalu menghiasi batu nisan dan selalu berganti jenis setiap harinya sebab kedua gadis itu selalu rutin mengunjungi Ibu mereka.


"Sore Ibu, Ryn datang lagi. Ibu sudah makan? Apa makan disana enak? Ah, pasti selalu enak ya Bu." Auryn tersenyum disela kegundahan hatinya.


"Bu, Ryn sudah tidak punya tempat bercerita lagi. Jika dengan Yumi, bukannya tidak percaya, Ryn hanya takut akan menggangu pikirannya. Ibu masih mau mendengar cerita Ryn kan?" Sejenak ia terdiam, menghela nafas gusar kemudian kembali membuka mulutnya.


"Bu, Archie mau menikah dengan wanita lain dan Ibu tau, sebelumnya dia mengajak Ryn untuk menikah, Ryn tau itu tidak serius tapi rasanya menyesakkan Bu. Ryn bingung, kenapa dengan perasaan ini?" Air mata menggenangi pelupuk matanya.


Puas berkeluh kesah dimakan Ibunya, Auryn perlahan berdiri. Sebelum melangkah meninggalkan pusaran Ibunya, ditatapnya dalam dengan sorot mata sendu. Jauh dilubuk hati terdalamnya, sejujurnya gadis itu belum bisa merelakan kepergian Melodi.


^^^^


Tok tokk

__ADS_1


Tok tok


"Permisi.." Celo yang kini bertandang ke rumah Auryn dibuat bingung karena sepertinya tidak mendapati seorang pun dikediaman gadis itu. Padahal sebelumnya wanita itu sudah menanyakan perihal keberadaan gadis itu pada putranya, Archie.


"Apa Auryn tidak berada dirumah? Tapi Ar bilang, dia sudah pulang sedari tadi. Sebaiknya aku kembali nanti saja." Ujar Celo pada diri sendiri.


Ceklek


Baru saja memutar tubuhnya untuk meninggalkan rumah Auryn, terdengar suara orang membukakan pintu.


"Yumi?" Meski ada kekecewaan karena tidak mendapati Auryn, Ibu tiga putra itu tetap mempertahankan senyumnya.


"Ny- mm, Mommy Celo. Apakabar?" Sapa Yumi sembari membuka lebar pintu rumah.


"Baik. Yumi juga apa kabar nak?" Celo balas balik menyapa, wanita itu juga selangkah lebih dekat kearah gadis tersebut.


"Baik juga Momm, Mommy pasti mencari Kak Auryn." Tebak Yumi tepat.


"Iya. Tapi sepertinya dia tidak ada dirumah ya?" Tanya Celo.


"Tap, Ar bilang dia sudah lalang sedari siang tadi." Ucap Celo.


"Apa iya? Oh, mungkin Kakak sedang ke makan Ibu. Jika penting, Mommy bisa menunggu disini, mungkin sebentar lagi kakak datang." Imbuh Yumi, gadis itu pamit kebelakang sebentar untuk menyuguhkan sesuatu hidangan.


Benar yang dikatakan Yumi, belum lama gadis itu pergi ke dapur, Auryn sudah masuk kedalam rumah. Mungkin karena itu rumahnya, jadi Auryn masuk tanpa harus repot mengetuknya.


"Yumi kakak pul- eh Mommy." Sapa Auryn terkejut.


"Ya sayang. Ini Mommy nak." Sahut Celo lalu berdiri dari duduknya.


Singkatnya, Celo menyampaikan maksud kedatangannya yang terkesan mendadak itu. Kini mereka bertiga duduk diruang tamu rumah Auryn dengan ditemani Yumi.


"Nak, Mommy mau bicara serius." Celo menghela nafasnya sejenak.


"Bagini, maksud kedatangan Mommy kemari tidak lain ialah untuk memintamu menjadi putri sekaligus menantu Mommy." Jelas Celo to the point.


"Apa ini? Apa Mommy memintaku untuk menikah dengan Al? Apa mereka akan melangsungkan pernikahan bersamaan?" Tidak menjawab pernyataan Celo, Auryn malah asyik dengan pikirannya sendiri.

__ADS_1


"Bagaimana? Apa Ryn mau menerima putra Mommy nak sebagai suami nak?" Pertanyaan Celo sukses membuat Auryn tersentak.


"Emm..itu..kenapa Mommy meminta Ryn? Sementara masih banyak diluar sana gadis yang jauh lebih pantas untuk jadi menantu Mommy." Seru Auryn dengan nada khas orang kecewa.


"Karena Ar sendiri yang meminta, sayang." Lanjut Celo.


Deg


"Kenapa Ar? Kenapa kau tega padaku?" Auryn membatin sedih, air mata mulai berkumpul disudut matanya dan siap menetes kapan saja.


"Maafkan Ryn Momm, tapi Ryn minta waktu untuk berpikir." Pinta Auryn lirih.


"Baiklah sayang, Mommy harap itu tidak lama karena pernikahan kalian dilaksanakan bulan depan." Ujar Celo penub harap dimata indahnya.


"Maaf jika Mommy egois, Mommy hanya tidak mau jauh dari mu karena kau sudah seperti putri kandung Mommy sendiri. Hubungi Mommy apapun itu keputusan mu, dan Mommy harap kau bersedia agar Mommy dan Daddy bisa melamar mu secara resmi." Ucapan terakhir Celo membuat Auryn dilema, disatu sisi gadis itu ingin menolak karena Archie telah mempermainkan dirinya, sementara disisi lain ia juga tidak tega jika harus menolak permintaan wanita baik hati bak malaikat itu.


Larut dalam lamunannya, Celo terlah pergi dari hadapannya yang hanya diantar oleh Yumi. Gadis itu barulah tersadar dan merasa dirinya tidak berlaku sopan pada wanita itu.


"Dimana Mommy Celo?" Tanya Auryn pada Yumi yang baru saja menutup pintu rumah mereka.


"Baru saja pergi. Kakak kenapa? Apa kakak tidak mau menikah dengan Tuan Archie?" Tanya Yumi dengan wajah kesalnya.


"Itu bukan Archie Yumi, Mommy meminta Kakak untuk menikah dengan Aldric." Singkat Celo menyimpulkan.


"Apa maksud kakak? Yumi sama sekali tidak mengerti." Untuk lebih jelasnya, Yumi mengambil tempat untuk duduk disamping kakaknya itu.


Auryn mulai menceritakan segalanya tanpa ada yang terlewat, membuat Yumi sebagai adik menganga terkejut. Ia tidak menyangka Auryn berkorban sebesar itu demi Ibu mereka. Yumi menangis menutup mulutnya agar tidak terlalu terisak.


"Kenapa kakak tidak pernah bercerita?" Yumi bertanya dengan air mata yang masih mengalir jarang.


"Waktu itu, kita hanya orang asing yang tidak mungkin untuk berbagi cerita." Auryn berbicara datar, padahal gadis itu menahan mati-matian menahan tangisnya.


"Lalu apa kakak mencintai Tuan Archie?" Auryn menggeleng sebagai jawaban.


"Entahlah Yumi Kakak tidak tau."


▪︎▪︎▪︎▪︎

__ADS_1


__ADS_2