
▪︎▪︎▪︎▪︎
Brakkk
"Katakan! Siapa yang menyuruh mu!" Lyan menggebrak keras meja. Tepat di hadapannya, ada seorang wanita yang diikat tangan juga kakinya di sebuah bangku kayu.
Wanita itu tidak lain dan tidak bukan ialah Leslie, keadaannya sungguh sangat berantakan saat ini, baju yang lusuh wajah yang pucat pasi karena ketakutan ditambah rambutnya yang berantakan tak terbentuk lagi.
"B-bukan ssaya T-uan. Ssaya hanya me-menolongnya sa-ja." Dengan bibir bergetar, Leslie mengatakan yang sejujurnya.
Brakk
"Sekali lagi kau berbohong, akan ku pastikan tongkat base ball ini menghantam kepala mu!" Gertak Lyan penuh penekanan. Pria itu sudah menahan amarahnya, hingga menampakkan urat-urat lengannya.
"Demi apa pun, saya tidak melakukannya." Bantah Leslie lagi.
"Kalau begitu, kau pasti tau siapa pelaku sebenarnya! Katakan, dan kau akan mendapat imbalan setimpal." Lyan memancing wanita itu agar mau berkata jujur.
"Ss-aya tiddak tau Tu-an. Ssungguh." Rasanya, sudah habis air mata wanita itu untuk menangis. Hanya isakan yang tersisa disela kalimat yang ia ucapkan.
"Bohong!! Kau lah pelakunya!" Lyan sudah habis kesabaran, ingin rasanya ia menghantam wanita itu dengan pukulan, tapi ia tahan sebab Leslie seorang wanita.
"Hik…hikk.."
Lyan yang semakin geram, menghampiri Leslie. Dicengkeramnya kasar kedua sisi wajah wanita itu, keterdiamannya memancing sisi lain di diri Lyan.
"Kau tau benda ini?" Lyan melepas cengkeramannya, pria itu mengacungkan sebilah pisau lipat kecil dengan mata pisau yang tajam dan mengkilat.
Melihat itu, Leslie semakin gemetar ketakutan ditambah lagi Lyan memainkan benda tajam itu di wajah pucatnya.
"Kau tidak mau bicara bukan. Baiklah, akan ku buat kau tidak bisa bicara selamanya." Lyan menyeringai seram. Wajahnya saat ini lebih tepat jika disebut malaikat pencabut nyawa.
"J-jangan. Ampuni saya Tuan." Leslie kembali memohon untuk kesekian kalinya.
"Heh!" Lyan kembali mencengkeram erat wajahnya, dia benar-benar tidak main-main akan ucapannya.
"Mmm…."
"Ayo buka mulut mu, apa gunanya lidah jika tidak kau gunakan! Sebaiknya di potong saja." Bagi Lyan menggoda mangsanya seperti ini, merupakan hiburan tersendiri baginya.
"G-grace.." pekik Leslie, mau tidak mau dia harus mengatakannya. Terang saja, siapa yang mau mati konyol sebab bukan kesalahannya.
__ADS_1
"Apa?"
"Grace. Grace yang mencelakai Auryn."
"Pilihan bijak Nona." Lyan menampakkan senyum miringnya.
^^^^
"Bagaimana ini Dadd? Auryn dan cucu kita akan baik-baik saja bukan?" Begitu mendapat kabar, Zach dan Celo bergegas menyusul menantunya ke rumah sakit. Saat ini, wanita itu terus saja mondar mandir dan menggerutu menyalahkan diri sendiri.
"Ini salah Momny, seandainya saja tidak kita izinkan dia pergi pasti Auryn baik-baik saja saat ini." Perkaatan itu terus saja bergumam dibibir Celo.
"Momm, sudahlah. Daddy yakin Auryn juga cucu kita pasti akan baik-baik saja. Dia wanita kuat, persis seperti Mommy." Zach memeluk istrinya, menenangkan wanitanya yang kini tengah dilanda ketakutan.
"Tapi Dadd,- Auryn, dia pasti sangat ketakutan tadi, bagaimana rasanya berada diambang kematian itu sangat menakutkan." Jelas Celo, terbayang akan dirinya saat dulu.
"Mommy yang tenang, menantu kita pasti akan baik-baik saja." Zach mengecup pucuk kepala istrinya berulang kali. Meski usai pernikahan mereka sudah hampir seperempat abad, tapi kasih sayang mereka tidak pernah lekang oleh waktu.
Hampir tiga jam lamanya Auryn ditangani oleh Dokter, kini wanita itu telah dipindahkan ke ruangan rawatan. Celo selalu setia berada disisi menantu yang sudah dianggap putri sendiri olehnya itu.
"Bagaimana keadaan putri saya Dokter?" Nessi yang kebetulan datang memantau keadaan Auryn lansung saja ditanyai Celo.
"Pasien sempat kehilangan banyak darah akibat pendarahan di pelipisnya. Beruntung, sekarang sudah baik-baik saja, kita tinggal menunggu pasien sadar." Jelas Dokter Nessi.
"Dia kuat, seperti Ibunya." Dari raut wajahnya, jelas sekali Dokter Nessi kagum akan kekuatan Ibu dan anak dalam kandungannya itu.
"Ah…baguslah." Celo menghela nafas lega. Rasa cemas yang tadi melingkupi pikirannya, kini menguar entah kemana.
^^^^
"Bagaimana? Apa dia sudah mengakui semuanya?" Archie, kembali menghubungi Lyan, ia harus tau siapa yang dengan beraninya mencelakakan istri dan anaknya.
"Bukan dia pelakunya."
"Apa maksud mu?"
"Bukan dia yang melakukannya Ar, justru dia lah yang membantu Auryn." Jelas Lyan setelah tadi menginterogasi Leslie.
"Lalu siapa yang melakukannya? Jangan katakan kau belum mendapatkan pelakunya." Pertanyaan Archie penuh penekanan disetiap kata-katanya.
"Sudah. Dia Grace."
__ADS_1
"Grace? Siapa dia? Sekuat apa alasannya, sampai mencelakai mereka? Urus dia secepatnya, aku tidak mau tau itu."
"Lalu kau sendiri? Apa kau akan tetap bersikap seperti pengecut disaat istri mu hampir saja meregang nyawa?" Perkataan Lyan, memancing emosi Archie yang jauh disana.
"Kerjakan tugas mu. Jangan urusi masalah ku."
"Kau egois!"
Begitu akhir sambungan panggilan mereka. Mereka sama-sama keras, namun Lyan lebih mampu berpikir jernih dibanding Archie yang lebih mendahulukan emosinya.
^^^^
Esoknya, Auryn baru terbangun saat tengah malam, cukup lama wanita itu terkungkung di alam bawah sadarnya. Perlahan mata bulat itu terbuka, mengerjap pelan menyesuaikan dengan cahaya penerangan diruangan itu.
Auryn merasakan seseorang menggenggam erat tangannya yang tidak terpasang selang infus. Dari siluetnya, Auryn bisa menerka siapa itu, meski kepalanya terbenam diantara lengannya.
"Hiks…" masih setia dengan air matanya, sebelah tangan Auryn mengusap lembut surai kecoklatan milik orang itu.
Merasa terganggu akan usapan tangan Auryn, orang itu mengangkat kepalanya. Seketika mereka beradu tatap, jelas terlihat air mata mengalir deras diwajah pucat wanita hamil itu.
"Kenapa menangis? Kau tidak menginginkan kehadiran ku? Kalau begitu aku bisa pergi sekarang, nanti akan ku minta Mommy menemani mu."
"….." Auryn menggeleng pelan, masih dengan air mata yang berjatuhan.
"Kenapa? Ada yang sakit?" Suara yang sama, dan kekhawatiran yang sama. Auryn merindukan semua, semua yang ada di diri orang ini.
"….."
"Lalu kenapa kau menangis?"
"Peluk Aku Ar." Untuk pertama kalinya, Auryn berlaku manja seperti ini.
Ya, orang itu Archie. Setelah melalui pergolakan dengan hatinya, ia memutuskan untuk kembali dan menemani istrinya. Untuk saat ini biarlah ia egois, prioritas utamanya saat ini hanyalah istri dan anak dalam kandungan istrinya.
"Tentu sayang." Kata yang belakangan ini tidak pernah lagi didengar Auryn. Kata yang selalu membuat pipinya merona karena malu.
"Aku merindukan mu Ar. Sangat." Auryn mengusap-usapkan wajahnya didada bidang suaminya itu. Di hirupnya dalam-dalan aroma yang selalu ia rindukan. Aroma tubuh Archie lebih ampuh menenangkan suasana hatinya dibandingkan Peppermint tea yang di berikan Aiden.
"Sekarang aku sudah disini dan aku menyayangi kalian." Imbuh pria itu pelan.
"Aku tau itu. Terima kasih." Archie bisa merasakan, istrinya itu tersenyum di pelukannya.
__ADS_1
"…." Tidak menyahuti perkataan istrinya, Archie mengecup berulang kali pucuk kepala wanitanya. Wanita yang setiap malam selalu ia rindukan, wanita yang akan menjadi Ibu dari anak-anaknya kelak.
▪︎▪︎▪︎▪︎