
▪︎▪︎▪︎▪︎
Archie memilih untuk menggunakan jet pribadi, sebab jika naik pesawat umum akan memakan waktu lebih lama. Ia baru saja mendapat kabar jika istrinya itu dilarikan kerumah sakit karena mengalami percobaan pembunuhan. Dan saat ini, pria itu sudah berada di rumah sakit tepatnya di depan pintu ruangan dimana istrinya ditangani.
"Bagaimana keadaan istri saya Dokter?"
"Maaf Ar, tapi kondisi Nona Auryn saat ini sangat sulit. Dia kehilangan banyak darah, beruntung segera dibawa ke rumah sakit." Jelas Dokter Nessi, ia salah satu Dokter yang menangani Auryn selaku Dokter kandungannya.
"Bayi nya? Bagaimana dengan anak kami?"
"Maaf Ar, dia tidak bisa bertahan. Benturannya cukup keras, dan mengenai otaknya yang belum sepenuhnya berkembang. Kau harus kuat Ar, demi Nona Auryn. Dia butuh support dari orang-orang disekitarnya." Jelas Nessi.
"Apa, anak kami tidak bisa diselamatkan? Aku akan membayar berapapun untuk itu, tolong selamatkan anak kami Nessi." Bahkan Archie rela berlutut dan memohon pada Dokter wanita itu.
"Jangan seperti ini Ar. Kau harus kuat untuk menguatkan istri mu." Nessi tidak sanggup melihatnya. Dia iba dengan mereka terlebih Auryn, wanita itu sudah berjuang untuk anaknya tapi takdir berkata lain.
"Bangunlah. Temani istrimu saat dia bangun nanti." Dirainya pundak pria itu untuk membantunya bangun.
Tidak jauh dari sana, Seth dan Cassey ikut menitikkan air mata. Entah kenapa begitu berat cobaan yang dialami kakak mereka itu. Belum lama ini Ibu mereka kecelakaan dan sampai sekarang masih betah dengan komanya. Dan sekarang ia juga harus menerima kenyataan kehilangan anak yang belum sempat dilihatnya.
"Kak," panggil Seth mengambil tempat disamping Archie.
"Pulanglah, antarkan Cassey ke rumah." Ucap Archie datar.
"Tapi Kak,-"
"Pulanglah seth." Archei menatap adiknya dengan mata memerah dan sorot mata penuh amarah.
"Baiklah Kak. Case, ayo." Seth berdiri, lalu pergi dari sana dengan diekori adik sepupunya Cassey.
"Jangan datang lagi. Kau atau siapapun orang di keluarga mu." Ujar Archie lagi.
Seth tau, kakaknya itu masih belum bisa menerima keadaan sekarang.
^^^^
Seperti pesan Archie pada Seth, Aldric yang baru mendapat kabar datang ke rumah sakit berniat untuk melihat kondisi adik iparnya itu di cegat oleh beberapa orang bodyguard.
__ADS_1
"Kenapa? Saya hanya ingin melihat adik ipar saya dan juga untuk bertemu dengan bos kalian itu." Aldric kesal karena dilarang.
"Maaf Tuan. Kami tidak bisa membiarkan anda masuk, tidak ada pengecualian pesan Tuan Archie." Ujar salah satu bodyguard itu.
"Ah, baiklah." Dengan langkah berat, Aldric pergi dari sana.
Di sisi lain, Archie sedang duduk berhadapan dengan Jammed. Mereka membahas tentang kasus Auryn juga pelakunya.
"Maafkan aku Ar, aku lalai dalam menjaga istri mu." Sesal Jammed menunduk, ia sudah gagal menjaga istri dari sahabatnya sendiri.
"Sudahlah Jamm, semua juga sudah terjadi." Archie pasrah, kesedihan terlukis jelas di wajahnya. Tidak ada seorang ayah pun yang ikhlas begitu saja anaknya pergi dari dunia ini, terlebih dengan cara yang menyakitkan.
"Ar, pelakunya,-"
"Cerry."
"Kau tau?" Sentak Jammed tidak percaya.
"Ya."
"Ada satu lagi Ar, Bibi mu, Chris." Ungkap Jammed.
"Aku juga sudah menduga akan hal itu." Lagi, Archie hanya bisa pasrah.
"Lalu bagaimana Ar?"
"Lakukan sesuai hukum. Aku tidak akan ikut campur, jika aku ikut maka tidak ada jaminan untuk aku tidak menghabisi mereka." Papar Archie.
"Baiklah Ar. Sekali lagi aku minta maaf, dan aku turut berduka untuk anak kalian." Jammed menepuk sekilas pundak sahabatnya itu.
"Ya. Terima kasih."
^^^^
Dua minggu berlalu, Auryn susah diperbolehkan pulang. Archie membawanya ke rumah pantai, karena disana suasana sejuk dan jauh dari hingar bingar keramaian kota.
Semenjak siuman, Auryn menutup mulutnya rapat-rapat, bahkan acap kali wanita itu menangis sendiri dalam diam. Archie sudah berupaya untuk menghiburnya walau ia sendiri juga terpuruk.
__ADS_1
Auryn tidak mempedulikannya, ia terus berlarut-larut dalam kesedihan. Seperti hal nya hari ini, pria itu dengan susah payah, dalam keadaan lelah ia sudah memasak berbagai macam masakan kesukaan istrinya itu. Dengan santainya Auryn makan mengabaikannya dan memasak makanan sendiri.
Tidak sedikit pun pria itu marah atau memakinya. Ia tetap sabar untuk melayani segala kebutuhan sang istri yang seharusnya Auryn lah yang melayaninya.
"Mau kemana sayang?" Archie yang melihat istrinya bersiap untuk pergi, bertanya.
"Bukan urusan mu!" Dengan sikap acuhnya, Auryn berlalu melewati suaminya begitu saja.
"Auryn, kau mau kemana? Biar aku antar saja ya." Tawar Archie, bermaksud untuk memperbaiki hubungan mereka.
"Tidak perlu. Aku akan pergi dengan Paman Gerald." Archie menghempaskan tangan Archie yang tadi sempat menggenggam tangannya.
"Baiklah. Hati-hati dijalan." Ujar Archie mempertahankan senyumnya, tidak lupa juga ia mengecup kening istrinya sebelum wanita itu benar-benar pergi.
Auryn turun dari mobil, ia memasuki pusat tahanan dimana Chris dan Cerry di tahan. Ya, mereka ditangkap beberapa hari setelah mereka menyerang Auryn.
"Ada apa kau menemui ku?" Ketus Chris.
"Saya kemarin hanya untuk mengantarkan ini." Auryn memberikan sepucuk surat, juga beberapa bukti hubungan Chris dengan Stefano Dacosta, Ayah biologisnya.
"Untuk apa kau memberikan semua ini?" Chris menutupi kegugupannya dengan bersikap ketus.
"Tidak ada maksud tertentu. Saya hanya tidak mau Ibu saya terjerumus seorang diri dalam kesalahan. Ibu saya sudah menyimpannya cukup lama, ia memendam rahasia ini seorang diri. Rahasia tentang siapa Ayah dari anak yang pernah Bibi kandung." Kini giliran Auryn tersenyum menang, bukan karena berhasil membalas rasa sakit hatinya, melainkan mengungkapkan kebenaran yang selama ini di kubur Chris.
"Kau!!" Geram Chris.
"Sekarang Bibi sudah menerima ganjaran atas semua perbuatan Bibi. Bi, dendam tidak akan membuat hidup kita tenang dan tidak akan pernah ada akhirnya. Akhiri semua ini Bi, maafkan semua kasalahan Ibu dimasa lalu." Pinta Auryn dengan suara melembut.
"Tidak akan! Dendam ini akan ku bawa terus sampai mati." Dalam keadaan terdesak pun, Chris masih saja mempertahankan egonya.
"Hidup itu penuh pilihan, dan Bibi telah memilih jalan yang salah. Selamay menikmati hari-hari Bibi disini, dan Ryn harap Bibi akan sadar suatu waktu nanti." Auryn berdiri dari duduknya, lega rasanya sudah berbicara seperti ini.
^^^^
Jammed tidak sengaja melihat Auryn di pusat tahanan. Pria itu mengajaknya berbicara sekedar untuk menanyakan kabar sahabatnya juga dirinya.
"Bagaimana dengan Ar?"
__ADS_1
"Apa maksud pertanyaan Tuan?"
▪︎▪︎▪︎▪︎