
▪︎▪︎▪︎▪︎
Flashback
"Ar, apa Al sudah menghubungi mu nak?" Archie menerima panggilan masuk dari Ibunya.
"Tidak. Untuk apa Al menghubungi Ar? Apa terjadi sesuatu?"
"Eii, bagaimana anak itu. Kabar bahagia saja dia lupa mengabari adiknya." Sungut Celo masih dalam panggilan.
"Kabar baik apa Momm?"
"Mommy dan Bibi Audrey sudah memutuskan untuk menjodohkan Al dengan Cerry, dan mereka setuju. Mereka akan menikah secepatnya, tapi sebelum itu mereka bertunangan lebih dahulu." Jelas Celo.
"Apa? Menikah? Secepat itu?" Archie terkejut bukan main.
"Ya. Tapi kenapa kau terkejut seperti itu?" Tanya Celo sangsi.
"Tidak Momm, bukan apa-apa." Kilah Archie.
"Ar, dengar Mommy. Lupakan Cerry, mungkin kalian memang tidak berjodoh. Ingat, kau sudah memilih Auryn dan itu artinya kau bertanggung jawab penuh terhadapnya. Terlebih sekarang dia sedang mengandung, kau tidak boleh menyakitinya." Ingat Celo.
"…." Archie hanya diam mendengar semua perkataan Ibunya.
"Jangan berbuat hal bodoh Ar, jika kau tidak mau Mommy kecewa."
"Tapi bagaimana dengan Cerry Momm? Dia tidak mencintai Al." Entah apa tujuan Archie mengatakan itu semua.
"Kau dan Auryn juga tidak saling mencintai. Sekarang apa? Dia bahkan sedang mengandung anak mu." Celo mulai emosi meladeni sikap keras kepala anaknya yang satu ini.
"Sudah Momm. Ar lelah, kita bicarakan ini lain waktu saja." Archie memilih mundur, ia tidak akan menang melawan Ibunya.
Flashback off
^^^^
Auryn terbangun dari tidurnya, kepalanya terasa sangat berat mungkin karena habis menangis. Usai mendudukkan tubuhnya, Auryn menelisik keadaan sekitar, mencari dimana keberadaan sang suami.
"Dimana dia? Apa sedari tadi belum masuk ke sini?" Tanya Auryn sendiri.
Tok tok
Belum terkumpul sepenuhnya kesadaran Auryn, ia mendengar suara pintu di ketuk. Sedikit sempoyongan, Auryn berjalan kearah pintu, diputarnya kenop pintu untuk melihat siapa orang di baliknya.
__ADS_1
Ceklek
"Nona muda, anda tidak apa-apa?" Tanya Bi Ai, melihat wajah Auryn yang pucat san mata sedikit sembab.
"Tidak apa-apa Bi, hanya sedikit pusing tadi. Ada apa Bi?" Auryn bersikap sebiasa mungkin agar tidak menimbulkan kekhawatiran orang lain.
"Itu, semua orang sudah berkumpul di meja makan. Nyonya besar meminta Bibi untuk memanggil Nona Muda." Bi Ai menyampaikan pesan Celo.
"Meja makan? Memang pukul berapa sekarang?"
"Sudah pukul enam Nona."
"Apa? Sudah pukul enam? Astaga. Lama sekali aku tidur." Rutuk Auryn ke dirinya sendiri.
"Auryn bersiap sebentar Bi." Seru Auryn malu.
"Baik Nona, Bibi ke bawah dulu." Pamit Bi Ai.
^^^^
Di meja makan, semua orang telah berkumpul termasuk Cerry dan suaminya Archie. Auryn malu sekali, ia seperti orang tak tau di untung karena harus membuat orang lain menunggunya.
Saat akan duduk, matanya tidak sengaja beradu tatap dengan suaminya, namun bukannya senang sorot mata Auryn malah menampakkan luka.
"Tidak apa nak. Daddy dengar dari Bi Ai kau pusing, apa tidak apa-apa? Wajah mu tampak pucat sekali." Zach mengomentari keadaan menantunya itu.
"Ryn tidak apa-apa Dadd." Auryn melukiskan senyum di wajahnya, bersikap seolah semua baik-baik saja.
"Ayo sayang, sini nak." Celo menggandeng tangan Auryn, kemudia wanita itu mendudukkannya tepat di samping Archie, suaminya.
Meski kecewa dengan Archie, Auryn tidak mengabaikan tugasnya sebagai seorang istri. Ia tetap melayani Archie dengan baik.
Auryn merasa dunianya berputar-putar, ia tidak bisa lagi menangkap percakapan yang terjadi di meja makan. Dengan gerakan pelan, Auryn berdiri dari duduknya, perutnya sangat tidak enak seperti sedang diaduk-aduk.
"Ryn, kenapa sayang?" Tanya Celo melihat menantunga bangun dari duduk
"Ryn mau ke kamar mandi sebentar Momm." Dengan wajah yang sudah sangat pucat, juga keringat membasahi keningnya, Auryn masih menampakkan senyumnya.
"Kau baik-baik saja nak?" Kini giliran Zach yang bertanya.
"Tidak apa-apa Dadd, Ryn hanya butuh kamar mandi." Disaat semua orang mencemaskan keadaan Auryn, lain halnya dengan Archie, pria itu dengan ekspresi tidak terbacanya.
Selang beberapa menit kepergian Aury ke kamar mandi yang dekat dari meja makan. Terdengar suara pekikan Bi Ai dari arah dapur.
__ADS_1
"Tuan...Tuan Muda, Nona, Nona muda,-" belum sempat menyelesaikan kalimatnya, semua orang sudah lebih dulu berhamburan ke arah dapur.
Melihat Auryn tergeletak tak sadarkan diri di lantai dapur, semua orang tau apa yang tadi di pekikkan oleh Bi Ai. Ya, belum sempat ke kamar mandi, Auryn sudah jatuh pingsan dan kebetulan Bi Ai sedang ada disana.
^^^^
Auryn sedang berbaring di kamar, beruntung tadi ada Cerry, ia langsung memberikan Auryn pertolongan pertama. Cerry mendiagnosa, Auryn kekurangan cairan, itulah sebabnya dia pucat dan harus di beri infus. Karena tidak terlalu parah, makanya Auryn dirawat di rumah saja.
"Auryn baik-baik saja bukan?" Celo bertanya ke Cerry perihal keadaan menantunya.
"Bibi tenang saja, dia baik-baik saja." Meski Cerry sangat tidak menyukai Auryn, namun ia tidak bisa mengabaikan profesinya sebagai seorang Dokter yang bertugas menyelamatkan pasien.
Kini hanya tersisa Archie dan Auryn yang masih setia menutup matanya. Pria itu duduk di samping istrinya, diperhatikannya baik-baik wajah pucat itu. Ingin rasanya Archie memeluknya erat, tapi tidak ia lakukan karena perasaanya yang kacau.
"Maaf, jika kau harus melalui ini semua. Mungkin ini karena masa lalu Ibu mu." Batin Archie.
Kembali ia melihat istrinya itu menangis dalam tidurnya. Tidak dapat dipungkiri, hati Archie kembali terenyuh. Bagaimana bisa ia bersikap seperti ini pada wanita yang tengah mengandung anaknya.
^^^^
Paginya, Auryn terbangun dengan selang infus masih terpasang di tangannya. Disampingnya tidak ada siapapun, Archie tidak ada disisinya.
Auryn bangun dari tidurnya, perlahan dilepas jarum infus yang menusuk kulit tangannya. Darah keluar bagitu jarum itu terlepas.
"Apa yang kau lakukan?" Tepat sekali dengan Archie yang masuk ke dalam kamar, segera pria itu berlari kearah Auryn. Mengambil beberapa lembar tisu untuk menahan pendarahan ringan ditangan istrinya itu.
"Aku sudah tidak apa-apa Ar. Biar aku sendiri." Auryn mengambil alih tangan Archie yang tadi menekan darah ditangannya.
"Keras kepala!" Sentak Archie lalu pergi, menghilang di balik pintu kamar mandi.
Hampir setengah jam di kamar mandi, Archie keluar dengan penampilan lebih segar. Pria itu menggunakan pakaian santai, dan itu artinya dia tidak akan pergi bekerja.
"Mm…Ar, apa kau akan pergi hari ini?" Tanya Auryn ke arah suaminya yang kini berada di depan cermin besar di kamar itu.
"Tidak kenapa?" Ia balik bertanya.
"Bisa kau temani aku untuk check up kandungan. Sejujurnya aku juga ingin tau jenis kelamin anak kita." Auryn menekan dalam-dalam kesedihannya.
"Baiklah. Kita akan pergi siang ini, karena sore aku ada janji dengan seseorang." Dia berucap tanpa melihat kearahh istrinya.
"Aku akan hubungi Dokter Nessi." Auryn meraih ponselnya, mengabari Dokter akan kunjungannya. Setelahnya barulah ia berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
▪︎▪︎▪︎▪︎
__ADS_1