
▪︎▪︎▪︎▪︎
"Bagaimana dengan Ar?"
"Apa maksud pertanyaan Tuan?" Heran Auryn.
"Tidak ada. Hanya saja, Ar sama seperti mu, dia juga terpukul. Disatu waktu yang sama dia harus mengalami begitu banyak tekanan, takdir mempermainkan kalian. Disaat Ibunya berjuang dengan maut, Ayahnya memaksa untuk membuat pilihan. Dan dia memilih kalian, dia pergi untuk menyiapkan masa depan kalian, karena jika tetap berada disini ia tau masalah sepeti ini cepat atau lambat akan terjadi."
"Dia juga terluka. Kau tau, dia menyerahkan semuanya pada hukum, bukan karena dia memihak Bibinya. Tapi karena hubungan kalian semua yang rumit. Dia kehilangan anak yang bahkan belum dia lihat sama sekali, juga nyaris kehilangan dirimu dan itu semua karena perbuatan Bibinya. Biar bagaimana pun merek masih terikat darah." Jelas Jammed, bukannya dia mau ikut campur. Hanha saja ia juga tidak tega melihat sahabatnya di benci sebab bukan kesalahannya, apalagi oleh wanita yang sangat dicintainya.
"Dia sangat mencintai mu Nona Auryn. Dia bahkan rela menanggalkan nama Alterio dan berpisah dari Ibunya, wanita yang sangat dia sayangi." Sontak itu membuat Auryn terbelalak tidak percaya.
^^^^
Archie berdiam diri di sebuah makam kecil, dimana anaknya beristirahat. Disampingnya juga ada makam ibu mertuanya.
"Bu, maafkan Ar karena sempat mengecewakan Auryn. Jika masih ada kesempatan, Ar janji akan membayar setiap air mata yang Auryn keluarkan dengan kebahagiaan." Air mata mengalir begitu saja disela kedua matanya.
"Sayang, anaknya Ayah sedang apa? Kenapa pergi nak? Ayah dan Ibu bahkan belum sempat bertemu dengan mu." Dari makan Melodi, Archie beralih ke makam putrinya. Ya, anak yang ada dalam kandungan Auryn itu perempuan.
"Maafkan Ayah nak." Archie membenamkan wajahnya di makam putrinya. Bahunya tampak naik turun sebab terisak.
Srett
Sebuah buket bunga anggrek terletak di makam putrinya, dimana Archie melepas kesedihannya. Pria itu tersentak, secepat kilat di usap air matanya yang mengalir karena tidak mau Auryn melihatnya cengeng.
Auryn datang menyusul setelah mendengar semua penuturan Jammed. Wanita itu sadar, bahwa yang terluka dan sedih bukan hanya dirinya, melainkan suaminya pun sama terlukanya.
"Auryn, sedang apa disini?"
"Mencari suami ku yang kabur." Cibirnya, senyum mania terpatri jelas di wajahnya.
"Kau sedang apa disini?" Auryn membalik pertanyaannya.
"Itu, aku. Aku,-"
Hug
__ADS_1
Auryn menubruk tubuh besarnya. Wanita itu membenamkan wajahnya di dada suaminya itu, dipeluknya erat seolah tubuh itu akan mengulang dan pergi meninggalkannya.
"Maafkan aku Ar."
^^^^
Satu bulan berlalu, Archie memboyong istrinya juga Yumi ke tempat dimana ia telah menyiapkan masa depan mereka. Pria itu menutup mata sang istri untuk memberi wanita itu kejutan.
"Ar, ini,"
"Ya sayang. Ini janji ku. Ingat saat hari terkahir kita honeymoon disini? Aku berjanji kita akan kembali suatu hari nanti, dan tibalah harinya. Kita akan menetap disini, dinegara ini." Tutur Arvhie memeluk istrinya dari belakang.
"Kita akan tinggal disini?" Tanya Auryn, menoleh kebelakang dimana suaminya berada.
"Tidak sayang. Ini hanya bungalow, kita hanya akan ke sini untuk berlibur dan melepas penat. Aku sudah menyiapkan rumah untuk kita." Jelas Archie.
"Lalu bagaimana dengan Yumi Ar? Bagaimana pekerjaannya, karena dari yang ku lihat dia menyukainya."
"Aku sudah menyiapkan segalanya, tenang saja dan aku juga sudah membahasnya dengan Yumi." Ungkap Archie.
"Kalian tidak melibatkan aku?"
"Tidak apa-apa Ar, aku sudah bisa menerimanya." Auryn mengusap lengan pria itu yang berada di pinggangnya.
"Berapa lama kau menyiapkan semua ini?" Tanya Auryn lagi.
"Menurut mu berapa lam?" Auryn mengedi kan bahunya tidak tahu.
Usia melepas kenangan sewaktu mereka honeymoon, Archie mengajak Auryn untuk pulang ke rumah yang akan mereka tempati. Disana sudah menunggu Yumi karena tadi, Archie meminta adik iparnya pergi terlebih dahulu dengan diantar supir.
Sesampainya dirumah, tidak habis keterkejutan Auryn sebab, disana dia juga disambut dengan kehadiran By Myla juga Paman Gerald. Lengkap sudah kebahagiaan wanita itu.
^^^^
Di belahan lain dunia, Celo terbangun dari komanya. Wanita itu membuka mata setelah hampir dua bulan menutup mata. Hal pertama yang ia lihat ialah suaminya, Zach. Pria itu tersenyum karena penantiannya tidaklah sia-sia.
Setelah dipastikan semua baik-baik saja dan Celo dikatakan sembuh, lansung saja mereka pulang kerumah karena wanita itu merindukan segalanya terutama anak-anaknya.
__ADS_1
Saat mengetahui semua hal yang terjadi selama ia koma, Celo marah besar pada suaminya. Bagaimana bisa pria itu membuang putranya hanya karena ia memilih wanita yang dicintainya.
"Auryn tidak salah apa-apa Dadd. Semua sudah berlalu dan kita juga sudah bahagia." Ujar Celo emosi.
"Tapi dia membohongi kita sayang." Zach menekan emosinya, mengingat istrinya itu baru saja sembub.
"Tidak. Karena aku sudah mengetahuinya sedari awal." Tukas Celo membuat Zach terkejut.
"Maksud mu?"
"Celo sudah lama tau jika Auryn itu anaknya Melodi, sewaktu Celo berkunjung ke rumahnya sehari setelah Melodi meninggal. Awalnya memang Celo kecewa, dan ingin manjauhkannya dari putra kita. Tapi setelah mengetahui jika Auryn sama sekali tidak mengetahui perihal masa lalu Ibunya, Celo yakin jika dia anak yang baik."
"Mungkin ini memang sudah takdir Tuhan Dadd."
"Maksud mu?" Zach tidak paham maksudnya.
"Dulu, Celo pernah berpikir jika Dadd akan membawa pulang anak Melodi. Ingat?" Pikiran Zach melayang jauh coba mengingat masa lalu mereka.
"Ah iya. Aku ingat." Seru Zach saat menemukan ingatannya.
"Disana Celo berpkir, mungkin Auryn memang ditakdirkan untuk menjadi putri kita, melalui Ar. Dia menjadi menantu kita." Jelas Auryn.
"Kau benar." Zach membenarkan ucapan istrinya, ia sadar jika memang takdirlah yang menyatukan mereka.
"Lalu bagaimana dengan Chris Dadd?"
"Dia menerima hukuman yang setimpal, penjara seumur hidup." Tukas Zach mendesah kecewa.
"Ah…"
"Kau tidak membencinya?" Zach bertanya hati-hati.
"Tidak. Karena dengan begitu dendam di masa lalu akan terputus." Ya, Celo dengan lapang hati menerima semuanya, wanita itu sangat mudah memaafkan kesalahan orang lain.
"Dadd, maafkan lah Auryn. Dia tidak tau apa-apa perihal masa lalu Ibunya. Bagaimana bisa kita menghukum sesama manusia, lagi pula mereka sudah kehilangan anak mereka, cucu kita."
"Kau benar."
__ADS_1
▪︎▪︎▪︎▪︎