Your Wife Is Not Your Wife 2 ( Difference )

Your Wife Is Not Your Wife 2 ( Difference )
Belum bisa memenuhi


__ADS_3

▪︎▪︎▪︎▪︎


"Bagaiman jika kita lakukan sekarang? Semalam tidak terjadi apa-apa karena kau tertidur, tapi sekarang kita sama-sama terjaga bukan." Raut wajah Archie yang semula bersahabat kini berubah datar dan serius membuat Auryn tegang.


Melihat ada kesempatan karena Auryn yang termenung berpikir, Archie yang kini sudah berada diatas tubuh Auryn lansung saja menyatukan bibir mereka. Kedua tangannya digunakan untuk menahan kedua tangan Auryn diatas kepala, dengan maksud agar gadis itu tidak memberontak.


Drtt


Drrt


Mendengar suara getaran ponselnya, Archie sedikit lengah hingga Auryn berhasil lepas dari cengkraman tangannya, tapi tidak dengan posisi mereka


"Ar, ada panggilan masuk di ponsel mu." Sentak auryn.


"Biarkan saja. Ayo kita lanjutkan sayang." Archie berucap dengan seringai liciknya.


"A-Arr.." gadis itu kembali menahan dada Archie, setelah tadi tangannya ditahan pria itu.


"Tidak apa-apa, rileks dan semua akan baik-baik saja." Dasar pria, untuk mendapatkan yang diinginkannya pasti sangatlah berlaku lembut, Archie pun sama begitu.


Drrrt


"Ar, terima saja dulu. Sepertinya sangat penting." Pekik Auryn, manakala tangan pria itu sudah mulai menjalar kemana-mana.


"Shitt!!" Umpat Archie kasar, dengan kasar diraihnya ponsel yang terus saja mengganggu kesenangannya itu. Sesaat raut kesal itu berubah tenang usai melihat ID yang di cap sebagai pengganggu itu.


"Momm…" sapa Archie sopan dengan senyum terurai diwajahnya.


"Sayang, sudah bangun nak?" Celo berbasa basi lebih dahulu sebelum menyampaikan niat hatinya.


"Sudah. Ada apa Momm? Pasti ada suatu hal penting sampai-sampai Momm menghubungi Ar pagi begini." Tebak Archie, yang memang mereka sudah saling paham kriteria masing-masing.


"Tidak ada, hanya saja Momm rindu kau pulang nak. Apa kau sudah bosan dengan masakan Momm?" Celo merubah nada suaranya secemberut mungkin.


"Astaga. Apa lagi ini?" Batin Archie bertanya.


"Mana mungkin Momm. Ar belum pulang kerumah, ya karena belakangan ini Ar sedang sibuk mempersiapkan pembangunan Hotel yang di kota C Momm. Maaf." Disela alasannya, pria itu tidak malu untuk mengucapkan kata maaf untuk Ibunya tercinta.


"Momm percaya nak, Momm hanya bercanda saja tadi. Jadi bagaimana? Bisakan kau pulang malam ini?" Celo belum mendapat jawaban maupun kepastian dari putranya itu.


"Tentu. Ar akan makan malam dirumah malam ini." Jawab Archie yakin.


Disisi lain, Auryn yang masih diam ditempatnya sedikit mencuri dengar pembicaraan Archie melalui ponsel itu. Awalnya gadis itu tidak peduli, namun karena pria itu menyebut Ibunya, jadilah gadis itu penasaran yang akhirnya ikut mendengarkan meski tidak terdengar jelas.


"Bersihkan dirimu, atau kau mau kita lanjutkan yang tadi heum.." goda Archie melihat Auryn tidak bergerak sama sekali dari posisis mereka tadi, hanya saja kini gadis itu sudah duduk bersandar di kepala ranjang.


"Aa-aku akkan mandi sekarang." Beruntung otaknya sudah kembali sadar sepenuhnya, Auryn segera meloncat dari ranjang menuju kamar mandi.


"…." Archie yang melihat itu tersenyum senang sembari menggelengkan kepalanya tidak habis pikir.


^^^^


"Wah wah…ini dia primadona kita." Sorak salah satu senior Auryn dalam bekerja sembari bertepuk tangan mencemoohnya.


"…." Auryn yang merasa sama sekali tidak pernah memiliki masalah dengan mereka hanya diam tidak meladeni para wanita itu, yang sekira ada tiga orang.


"Heh!! Ja***g, ayo tunjukkan pada kami, bagaimana caranya kau menggoda Tuan Archie?" Maki wanita satu lagi.

__ADS_1


"Bodoh!! Mana mau dia memberitahu kita, yang ada dia pasti takut akan tersaingi." Wanita ketiga pun ikut berkomentar.


"Haha.." serempak ketiganya tertawa dengan posisi berdiri saling bersisian di pintu ruang locker. Sementara Auryn, gadis itu hanya dia tidak terlalu mengambil hati sebab yang mereka bicarakan tidaklah benar.


"Hey!! Kenapa kau hanya dia saja heh!" Bentak wanita kedua, karena Auryn tidak terpancing dengan cacian mereka.


"Kakak bicara dengan saya?" Auryn, menampikkan senyumnya seolah yang mereka bicarakan bukanlah dirinya.


Plakk


Jika rasa iri dengki sudah menyelimuti hati, apapun yang dilakukan orang lain selalulah salah. Bahkan tidak jarang niat baik orang di anggap sebagai pembalasan. Itulah yang dilakukan tiga wanita itu, tidak senang karena rencana mereka untuk mempermalukan Auryn gagal, jadilah mereka berbuat kasar.


"Ke-kenapa? K-kenapa saya di pu-kul Kkak?" Auryn menangkup pipi sebelah kanannya yang baru saja ditampar, dilihat dari sudut bibir Auryn yang sedikit sobek juga bekas merah dipipinya bisa dibayangkan seberapa kekuatan wanita itu untuk menampar Auryn.


"Kenapa? Kenapa hah!!" Bentaknya lebih keras lagi.


"Argh.." belum juga habis keterkejutan Auryn akan tamparan tadi, kini gadis itu harus merasakan bagaimana rambutnya ditarik dengan keras.


"Pegangi dia!!" Titah wanita yang pertama dengan kegeraman yang membuat wajahnya memerah.


"Hentikan!!" Terdengar suara bentakan keras dari belakang pintu yang tidak sepenuhnya tertutup, sontak saja mereka semua menoleh tak terkecuali Auryn.


"L-lyan…" wanita kedua terkejut bukan main, karena sebelumnya ia sudah menaruh hati pada pria itu dan berbagai cara sudah ia tunjukkan untuk menarik perhatiannya.


"Kalian diminta Tuan Archie ke HRD, ku pikir kalian hanya akan mendapat teguran dan surat peringatan. Tapi, setelah kejadian ini, berharaplah semoga Tuan masih mau berbaik hati barang sedikit saja." Bukan hanya sekedar menakuti, Lyan memang sudah hapal bagaiman watak Bos sekaligus sahabatnya itu.


"I-iini buka seperti yang kau bayangkan Lyan, wanita j****g inilah yang mengganggu kami duluan." Tidak mau disalahjan, wanita itu membela diri dengan menjadikan Auryn sebagai kambing hitam..


"Heh." Lyan mendekati wanita itu, sedikit mencondongkan tubuhnya untuk kemudia berbisik.


"Kau pikir aku peduli? Terserah, siapa yang bersalah. Sekarang enyahlah kalian dari sini, temui HRD. Cari tau sendiri apa yang telah kalian tuai hari ini." Lyan tersenyum miring, mengejek nasib yang akan menyambut ketiga wanita tersebut.


"Kau tidak apa-apa?" Awalnya Lyan, ingin melihat luka diwajah gadis itu, tapi urung ia lakukan.


"Tidak apa-apa Kak, terima kasih." Sahut Auryn yang diselipkan senyum di jawabannya.


"Terbuat dari apa gadis ini? Bahkan dia tidak menangis sedikit pun saat menerima semua perundungan itu." Batin Lyan kesal.


"Sebaiknya obati luka mu, Archie akan mengamuk jika melihat ini." Ujar Lyan santai.


"Ya Kak. Eum…apa mereka akan dimarahi?" Tersirat jelas kecemasan diwajah gadis itu.


"Sebaiknya, kau tidak ikut campur, sebab itu hanya akan memperburuk situasi." Ingat Lyan lagi dengan raut yang berubah datar. Jika sudah begini, pria itu tidak ada bedanya dengan Archie.


"Bb-aiklah. Sekali lagi terima kasih Kak- Lyan." Auryn berterima kasih dengan canggung, karena sebelumnya dia tidak pernah bertegur sapa dengan pria ini sebab Lyan yang selalu berwajah dingin dan terkesan acuh tak acuh.


^^^^


Seperti janjinya pada Ibu tercintanya, Archie mampir pulang kerumah setelah sebelumnya meninjau perkembangan pembangunan hotelnya di kota C. Setelah tadi membereskan beberapa tikus yang sudah berani mengusik kelinci kecilnya.


"Momm.." suara Archie menggema seantero rumah yang bak istana itu.


"Kakak pulang?" Bukannya Celo yang menyahut, malah Seth yang datang menghampirinya.


"Mm…dimana Momm dan semua orang?" Archie bertanya balik sembari mengusap pucuk kepala adik bungsunya itu.


"Momm tadi didapur, tapi entah dimana sekarang." Timpal Seth.

__ADS_1


"Oh, biarlah dulu. Kakak mau mandi sebentar." Pamit Archie pada Seth.


"Mm..." diantar mereka bertiga, Seth dan Archie memanglah sangat dekat, sementara Aldric, anak sulung dari tiga bersaudara itu lebih asyik dengan dunianya sendiri.


"Kak!" Panggil Seth lagi, sebelum kakaknya menghilang ditelan daun pintu.


"Apa?" Meski singkat, jawaban Archie itu tidaklah terdengar datar.


"Dadd, tidak membolehkan ku untuk mengganti mode ponsel dengan yang baru." Adu si bungsu.


"Nanti kita bicarakan." Ujar Archie yang kembali melangkah ke kamarnya.


Saat ini, semua anggota keluarga tengah berkumpul di meja makan untuk makan malam bersama. Tidak sedikit canda tawa terdengar dengan jarang disana. Dilihat sekilas, keluarga mereka benar-benar sangat sempurna, namun balik lagi jika tak ada satupun yang sempurna didunia ini.


Jika diperhatikan lebih dalam lagi, orang akan melihat ada sekat pembatas antara si kembar Aldric dan Archie. Hanya saja itu tidak muncul hingga kepermukaan.


"Mm..Ar.." panggil Celo. Ibu dan anak itu tengah menikmati sajian coklat panas di teras atas yang lansung dimanjakan oleh taman bunga bentukan Ibunya itu.


"Ya Momm, ada apa?" Sahut Archie sekilas, masih dengan ponsel digenggamannya.


"Bagaimana hubungan mu dengan Auryn?" Celo mulai membuka pembicaraan.


"Baik-baik saja, kenapa Momm? Mommy merindukan gadis itu?" Archie balik bertanya.


"Baguslah. Ya Momm merindukan gadis itu."


"…." Archie hanya diam menanggapi sahutan Ibunya tadi.


"Ar, apa tidak sebaiknya kalian menikah saja." Sampailah mereka pada inti pembicaraan yang sebenarnya.


"Momm, Ar belum kepikiran untuk menjalin hubungan seserius itu. Apalagi harus ada ikatan sakral, Ar belum siap Momm." Jujur Archi.


"Mommy senang kau jujur nak. Tapi," Celo menahan kata-katanya lebih lanjut.


"Tapi apa Momm?"


"Momm, mau kau menikahi Auryn. Kasihan gadis itu tidak ada yang menjaganya, dia sebatang kara sekarang." Imbuh Celo menatap dalam penuh harap putranya.


"Momm…" Archie merengek layaknya pembicaraan mereka ini tidaklah serius.


"Ar, sangat sulit rasanya hidup sendiri. Tidak ada tempat bersandar, tidak adanya tempat mengadu." Mendengar penuturan wanita yang sudah melahirkannya itu, Archie teringat masa lalu Ibunya yang juga hidup sebatang kara.


"Menikahlah dengan Auryn." Celo mengulang permintaannya tadi.


"Maafkan Ar Momm, Ar tidak bisa." Tolak Archie pelan.


"Kenapa? Bukankah kalian saling mencintai? Lalu apa lagi yang mau ditunggu?" Masih saja Celo mencari celah untuk membujuk putranya itu.


"Momm, bagi Ar pernikahan bukanlah persoalan cinta semata, melainkan kesepakatan untuk menjalin ikatan itu sendiri. Momm, pasti tau Ar masih mempunyai ambisi besar untuk masa depan kelak. Untuk itu Ar minta maaf, belum bisa memenuhi permintaan Momm yang satu ini." Archie berdiri dari duduknya, bermaksud untuk angkat kaki dari sana.


"Apa ini ada hubungannya dengan Cerry?" Pertanyaan Celo berhasil menghentikan langkah Archie.


"Momm salah, Ar sudah lama membuangnya." Setelah Archie kembali melanjutkan langkah meninggalkan wanita yang paling dicintainya itu.


"Harus bagaimana lagi membujuknya? Mau sampai kapan putra-putra ku selalu terlibat dengan satu sosok gadis yang sama?" Air mata lolos begitu saja dari pelupuk mata indah Celo.


Jika rasa iri dengki sudah menyelimuti hati, apapun yang dilakukan orang lain selalulah salah. Bahkan tidak jarang niat baik orang di anggap sebagai bahan cemoohan bagi mereka. __areumkang__

__ADS_1


Pernikahan bukan hanya persoalan cinta semata, melainkan kesepakatan untuk menjalin ikatan itu sendiri, saling menerima kekurangan maupun kelebihan itulah yang paling utama sebagai tiang penyangga dalam hal berumah tangga. __areumkang__


▪︎▪︎▪︎▪︎


__ADS_2