Your Wife Is Not Your Wife 2 ( Difference )

Your Wife Is Not Your Wife 2 ( Difference )
Saling mengulang ucapan


__ADS_3

▪︎▪︎▪︎▪︎


"Siang nanti ku jemput. Bersiaplah." Titahnya tidak terbantahkan.


Archie memang tidak pernah main-main dengan ucapannya, seperti katanya tadi, pria itu benar-benar menjemput Auryn ke hotel untuk dibawa pergi entah kemana.


"Mau kemana kita Ar?" Bukan Auryn namanya jika gadis itu tidak bertanya.


"Bisakah sekali saja kau tidak bertanya, diam dan duduk yang manis." Sela Archie akan pertanyaan gadisnya. Tidak lagi membuka mulutnya, Auryn diam seribu bahasa, memilih untuk menikmati pemandangan diluar yang disuguhkan alam.


Pikiran gadis itu melayang kemana-mana, sebab saat hari itu Archie juga membawanya ketempat yang tidak diketahui dan itu sangat menakjubkan.


Flashback


"Bersiaplah. Kita akan pergi keluar." Titah Archie ke Auryn.


"Kemana?" Tidak mau menurut begitu saja, Auryn enggan menurutinya.


"Ikut saja. Jangan membantah, jangan banyak bertanya." Tukas Archie datar.


"Baiklah."


Auryn benar-benar menurut apa kata pria yang disebutnya mesum itu, sepanjang jalan gadis itu hanya diam menahan rasa ingin tahunya. Sampai mobil yang dikendarai Archie berhenti disebuah taman atau bisa dibilang mirip hutan kecil. Bedanya, ditengah-tengah pohon besar nan rindang itu terdapat ratusan atau mungkin ribuan jenis bunga cantik yang menyejukkan mata memandang.


"Ini indah sekali Ar…" seturunnya dari mobil, Auryn berdecak kagum seraya menoleh kearah Archie dengan mata penuh binar kebahagiaan.


"Kau suka?" Archie bertanya tanpa berhenti menatap gadis itu.


"Mm….ini seperti surga bunga. Terima kasih banyak Ar." Auryn mengucapkannya dengan tulus, setulus senyum yang ditampikkan wajah manisnya.


"Ini milik Momm, karena terlalu menyukai bunga jadilah Dadd menghadiahkan hutan kecil ini untuk Momm." Dengan penuh bangga Archie mengungkapkan hal itu, senyum tipis terpatri jelas diwajah tampannya.


"Dadd pasti sangat mencintai Momm." Ucap Auryn.


"Ya." Singkat Archie kembali menatap Auryn dalam. Perlahan ia mendekati gadis itu, kemudia meraih tengkuknya untuk menyatukan bibir mereka.


Flashback off


Auryn menggelengkan kepalanya cepat mengingat kembali kejadian hari itu. Entah kenapa, wajahnya bersemu merah bahkan sudah menyerupai lobster rebus.


"Kau kenapa?" Archie yang selalu menatap Auryn melalui ekor matanya terheran melihatnya.


"Tidak. Tidak ada apa-apa." Auryn menjadi gugup seketika, takut-takut jika pria itu tau apa yang ada dalam ingatannya sekarang. Nyaris sepanjang jalan mereka saling membisu satu sama lain, hingga mereka sampai disebuha pantai yang sangat indah, tapi sepi bisa dibilang tidak ada kehidupan selain binatang liar hidup disana.


Mereka berdua turun dari mobil bersama, baru saja turun Angin sepoi-sepoi menerpa wajah Auryn hingga membuat surai indahnya berantakan menimpa sebagian wajahnya. Archie yang tidak lepas memerhatikan gadisnya mendekat, diselipkan rambut-rambut itu ke belakang telinga Auryn. Membuat sang empunya kembali memerah.


"Kau suka pantai?" Tanya Archie masih dengan manatapnya lekat.

__ADS_1


"Suka. Ini sangat indah Ar, udaranya juga sejuk sekali." Auryn memejamkan matanya memghirup aroma lautan yang menenangkan pikiran.


"Pantai ini milikku." Tukasnya, tetap menatap Auryn dengan tanpa ekspresi.


"Haha…aku tau kau ingin menghiburku Ar, dan kau berhasil. Hahaa…" Auryn tertawa lepas, ia pikir pria itu bergurau untuk menghiburnya.


"Terserah kau percaya atau tidak, aku juga tak butuh. Hanya saja, aku ikut senang kau bisa tertawa karenanya." Ujar Archie dengan mimik serius.


"K-kau serius Ar?" Auryn merasa kekasihnya itu jujur, secara Archie memiliki segalanya bukan tidak mungkin jika pantai ini miliknya, bahkan mungkin pulau saja bisa ia beli.


"Ini masa depan yang ku rencanakan saat menikah dan memiliki keluarga nanti." Barulah Archie mengalihkan tatapannya dari Auryn.


"Entah itu dengan kau atau orang lain nantinya." Pria itu melanjutkan kata-katanya yang kembali menatap Auryn.


Ucapan Archie barusan sukses membuat Auryn menghela nafas yang tadinya tercekat. Rasanya gadis itu sedikit terganggu dengan ucapan Archie yang terakhir.


"…." Keheningan melanda mereka berdua.


"Bagaimana jika akhirnya kita saling terikat satu sama lain? Apa kau tertarik untuk menikah dengan ku?" Pertanyaan itu tiba-tiba saja dilayangkan Archie pada gadis disampingnya.


"Bagaimana jika kita malah akan menjauh dan saling melupakan?" Pertanyaan yang dijawab pertanyaan, Auryn merasa nafasnya memberat.


"Mau ikut kesana?" Tidak mau mempersulit posisi mereka, Archie menunjuk satu spot yang sebenarnya sudah menarik perhatian Auryn dari awal.


"Tidak tau kenapa aku hanya ingin memberitahu mu perihal ini, aku akan membangun hunian tepat disini agar bisa menikmati pemandangan sekitar. Tapi tetap akan ada taman bunga karena itu ciri khas Momm." Archie, mematut lokasi yang dimaksudnya.


Pria itu tersenyum, perlahan meraih tubuh Auryn yang jauh lebih kecil dibanding tubuhnya. Dipeluknya erat tubuh itu, dan pastinya dia tidak akan lupa untuk menyatukan bibir mereka. Namun, Auryn merasa ciuman Archie kali ini berbeda, tidak seperti biasanya selalu menuntut. Diam-diam gadis itu menikmatinya dan belajar untuk membalas.


^^^^


"Tapi aku tidak mau dia menjadi menantu kita." Tolak Celo cepat.


"Apa ini? Apa Celo sudah mengetahui jika Auryn putrinya Melodi?" Batin Chris bertanya-tanya.


Chris tidak bisa tinggal diam, dia tidak mau jika rencana yang sudah ia rancang serapi mungkin akan berantakan hanya karena penolakan Celo.


"Kenapa? Bukannya kau kasihan dengan dia? Dia gadis yang baik, dia juga jujur. Dimana lagi letak kurangnya? Lupakan saja masa lalunya, toh dia juga tidak tau apa-apa." Jelas Chris untuk merubah keputusan Celo.


"Bukan begitu, tapi aku ingin dia menjadi putri ku. Terlepas mereka menikah atau tidak nantinya. Aku masih belum percaya jika anak nakal itu memjalin hubungan serius dengan Auryn." Penjelasan Celo sukses mematikan bom waktu yang ditunggu Chris.


"Sial! Kenapa aku berpikir terlalu jauh tadi? Semoga Celo tidak curiga." Chris membatin.


"Sebaiknya kita minta pendapat Daddy nya anak-anak dulu, baru kita minta Archie pulang untuk membahasnya. Bagaimana Chris?" Celo meminta pendapat pada adik Bibi dari anak-anaknya itu.


"Tentu. Keputusan Kakaklah yang paling final." Singkat Chris.


Malamnya, selepas makan malam bersama Suami dan kedua putranya karena Archie yang memang jarang pulang, Celo buka suara meminta perhatian semua yang ada disana.

__ADS_1


"Ehermm..." serempak ketiga pria yang ada di meja makan menoleh ke arah Celo, wanita satu-satunya dirumah mereka.


"Kenapa Momm? Apa ada kabar penting?" Seth bertanya karena penasaran


"Tidak ada. Hanya saja, Momm mau bertanya sekaligus meminta pendapat kalian." Terang Celo.


"Ada apa heumm? Apa kau menemukan tempat yang bagus lagi untuk dijadikan kebun bunga?" Karena Celo memang seperti itu, jadilah Zach mengambil kesimpulan lansung.


"Bukan itu. Ini perihal hubungan Ar dengan Auryn, apa tidak sebaiknya kita minta Ar menikahi Ryn saj-"


"Uhukhh…" ucapan Celo terpangkas karena suara Aldric yang tiba-tiba tersedak.


"Kakak ini, sudah dewasa masih saja tersedak. Ini," Seth menyerahkan segelas air ke Kakaknya.


"Tidak apa-apa sayang?" Tanya Celo, raut khawatir tercetak jelas di wajahnya yang selalu awet muda itu.


"Tidak apa-apa Momm, hanya tersedak saja." Celo merasa lega namun tidak dengan Zach, Ayah tiga anak itu merasa ada yang ganjal antara Aldric dan hubungan Archie dengan Auryn.


"Lanjutkan Momm." Titah Zach, ia mau tau lebih lanjut lagi prasangkanya terhadap putra sulungnya itu.


"Kita minta Ar untuk menikahi Auryn, setidaknya dengan menikah Ar bisa menjaga Auryn. Juga, Ar bisa berubah dengan memiliki tanggung jawab." Jelas Celo.


Drett


Aldric berdiri dari duduknya, hendak melangkah meninggalkan meja makan. Baru akan pergi, suara tegas Zach menghentikannya.


"Mau kemana Al?" Tanya Zach datar.


"Al mengantuk Dadd, nanti malam harus bangun lagi untuk menyelesaikan pekerjaan." Ujar Aldric beralasan.


"Duduk dulu, Mommy mu kan bicara tidak sampai satu jam. Ingat aturan kita, duduk, bicarakan, lalu cari solusinya bersama dan putuskan." Ingat Zach jika putranya itu lupa.


"Maaf Dadd, Momm…" menghela nafas, Aldric kembali mendudukkan tubuhnya.


"Menurut Dadd itu masuk akal, hanya saja semua tergantung Ar." Putus Zach.


"Biar Momm yang atur, besok kita minta Ar pulang dulu." Celo juga memutuskannya.


"Seth setuju jika mereka menikah, Kak Auryn itu baik, cantik, juga penyabar. Buktinya, dia bisa bertahan dengan sikap dominant juga dinginnya Kakak." Seth si bungsu berani buka suara sebab yang dibicarakan tidak ada disana


Setelah diputuskan, mereka menyetujui rencana Celo. Tapi tidak dengan Aldric, wajahnya tampak masam dan itu terekam jelas di indra penglihatan Zach, ayahnya.


▪︎▪︎▪︎▪︎


Satu lagi ya, besok di usahakan lagi untuk nyicil..


Jangan lupa sukai karya saya ini dengan memberikan LIKE dan meninggalkan COMMENT. VOTE teman-teman juga sangat berharga buat saya.

__ADS_1


TERIMA KASIH BANYAK


__ADS_2