
Bahkan bukan di kamar pribadi seperti yang Rea pikirkan. Baru saja tiba di ruang tamu, Ibu Nindi sudah langsung bertingkah luar biasa aneh. Wanita yang terkenal galak di kantor mendadak begitu lemah lembut saat di hadapan suaminya.
Lelaki berusia 38 tahun yang duduk di sofa ruang tengah itu langsung dipeluk erat dan diberikan ciuman oleh Bu Nindi. Mendadak, Rea merasa dia berada di tempat yang salah dan tidak seharusnya. Matahari belum tenggelam, tapi sepasang suami istri itu sudah mulai beraksi.
Ini adalah kali pertama Rea menyaksikan sendiri bagaimana Bosnya di hadapan sang suami. Karena biasanya setiap suami Ibu Nindi datang, Rea sudah diperintahkan untuk pulang. Ternyata begini??
"Maaf Mas. Aku lupa." Kata wanita itu dengan manja. Sambil tidak lepas mengelus dada suaminya yang terbungkus kemeja warna putih.
"Hmmm." Suara sang pria yang terdengar acuh dan marah itu membuat Rea merinding. Tubuhnya masih terpaku di ruang tamu, ia takut untuk melanjutkan langkahnya ke arah ruang keluarga, tangga, dan ruang kerja Bu Nindi.
"Jangan marah." Rayunya lagi kali ini entah dengan gerakan macam apa. Pasalnya Rea mendengar suara aneh Pak Danu yang terdengar, macam... ah tidak bisa dijelaskan.
"Itu Rea."
Deg
Begitu namanya disebut oleh Pak Danu, jantung Rea langsung berdebar keras. Tangannya makin erat meremas tas Bu Nindi yang dia bawa di tangan kiri.
"Ah iya lupa. Re, kamu boleh pulang. Taruh aja semuanya di atas meja ya." Rasanya inilah sesuatu yang ingin sekali dia dengar dari tadi. Ia ingin segera menghilang dari suasana panas yang tercipta. Rea yakin, para ART sudah Bapak perintahkan untuk keluar. Secepat kilat Rea meletakkan barang bawaan Bu Nindi hari ini;tas kerja berisi laptop dan dokumen, tas make up, serta tas jinjing berlogo channel.
"Besok kamu libur ya Re!!"Imbuh Bu Nindi setengah berteriak dan menjerit. Apa yang terjadi sebenarnya disana? Rea tak ingin melihat. Sebisa mungkin dia tidak mengintip apa yang dua orang dewasa itu lakukan.
Antara gugup dan malu, Rea segera menjawab dengan suara yang tergagap. "I-iya Bu." Kemudian kakinya melangkah tergesa menuju pintu keluar.
Samar-samar ia masih mendengar suara Pak Danu yang dingin dan kaku. Memprotes kenapa istrinya sebentar-sebentar lupa. "Kamu masih muda sama cantik. Kenapa banyak lupanya?"
"Cape."
Ah nada Bu Nindi mengatakan itu lagi-lagi membuat Rea meremang. Bulu kuduk di tangannya berdiri, ia merinding luar biasa. Wanita itu benar-benar takluk di hadapan pawangnya.
Hidup tidak ada yang mudah. Dirinya maupun Bu Nindhita adalah orang yang sama-sama melalui lika-liku kehidupan. Pernikahannya gagal, tapi mungkin itulah yang terbaik. Daripada harus berlanjut dan dia mendapat bertubi-tubi cobaan. Bu Nindi, wanita dewasa yang masih cantik itu bahkan harus menerima jika ia dijadikan istri kedua. Ia harus berbagi dengan wanita lain. Entah apa yang dia rasakan, Rea tak pernah berani bertanya.
...***...
__ADS_1
Jika kemarin dia sampai di rumah lepas jam 11, kali ini matahari masih terlihat, Rea sudah dalam perjalanan pulang. Ia sempatkan mengunjungi swalayan untuk berbelanja kebutuhan pokok, terutama bahan makanan. Isi dalam lemari pendinginnya hampir kosong.
Tentang Aero. Rea yakin-malam kemarin saat dia pulang hampir tengah malam-melihat sosok lelaki jangkung itu di dalam sebuah mobil. Jelas dia tahu, mobil putih itu pernah mengantarnya. Jika di awal-awal tak ada rasa takut yang muncul. Kali ini setelah beberapa bulan kejadian penyekapan, Rea justru merasa tidak aman.
Apa mau Aero sebenarnya? Mengganggunya selaku mantan calon istri Arka? Atau, benar jika Rea sebenarnya sudah diapa-apakan?
Wanita cantik yang duduk di dalam taksi online ini terus menggeleng, mengusir pikiran negatif di otaknya. Jaman sekarang, kriminalitas bukan hanya tentang pemerkosaan saja, tapi bisa penjualan organ dalam manusia. Dan Rea yakin, dia bisa termasuk mangsa yang pas. Hidup sendirian, masih muda, sehat dan cantik. Tentu segala organ vital di tubuhnya maih sangatlah bagus.
"Mba! Sudah sampai!" Ucap driver muda sambil menolehkan kepalanya ke belakang. Dapat di lihat mata Rea mengarah lurus ke depan. Namun pandangannya justru kosong.
"Mba!" Tegur pria itu lagi, dia takut penumpangnya kesurupan atau ketempelan sesuatu.
Tok tok tok
Karena tak diperkirakan, driver tadi sempat terlonjak kaget mendengar kaca mobil bagian depan miliknya diketuk sebanyak 3 kali.
"Astaghfirullah." Refleknya karena keterkejutan. Ia melihat satu orang berdiri menjulang, untuk berjaga-jaga sang driver hanya membukakan sedikit saja kaca mobil.
"Ada masalah apa sampai penumpangnya belum juga keluar?" Ulang sang pria lagi karena tak kunjung mendapatkan jawaban. Kenapa bisa tahu?
Sambil melirikkan matanya ke belakang, sang driver menjawab. "Ooh, Mbanya melamun. Belum bayar."
"Berapa tagihannya?"
"85 rb."
Tak berapa lama, terlihat gerakan seperti mengambil barang dari saku celana belakang. Pria berjas di luar mobil segera membuka dompetnya kemudian mengambil selembar uang berwarna merah. "Ambil semua!" Perintahnya dingin dan arogant.
"Terimakasih Mas."
Dan secepat kilat, pria tinggi yang membayar tagihan tadi sudah membuka pintu penumpang bagian belakang. Mengatakan sesuatu dengan nada tegas, tak ada kelembutan di dalamnya. Namun berhasil, Rea perlahan mulai bergeser dan turun dari pintu yang sudah terbuka. Matanya kini tak lagi kosong. Justru menyipit penuh tanda tanya.
Benar saja, setelah mobil melaju. Suara Rea langsung terdengar, memberondong Aero dengan berbagai pertanyaan.
__ADS_1
"Kenapa disini?"
"Mau nyulik lagi?"
"Masih belum puas bikin susah hidup orang?"
"Bilang sama Mas Arka. Aku udah ikhlas, jadi ngga perlu pakai kamu untuk menutupi niatan dia."
Aero yang tepat berdiri di hadapan Rea dengan jarak hanya satu meter tak bergeming. Matanya bahkan tak berkedip menatap wanita penuh emosi yang sedang curhat kepadanya. Wajahnya tak lagi di tutupi masker, kali ini ia biarkan begitu saja terlihat. Toh Regina Athalia sudah tahu.
"Dasar budeg!" Ucap perempuan itu kesal.
Tak tahan melihat keterdiaman Aero yang lama-lama membuatnya bingung. Rea memutuskan kontak mata, melenggang dengan langkah dihentak menuju rumahnya yang sudah begitu dekat. Langkah yang lucu tadi tak lepas dari pandangan Aero.
"Regina Athalia!" Panggil Aero dengan nada suaranya yang dalam dan berat.
"Stop panggil nama aku. Kita ngga kenal!" Balas Rea acuh, dia bahkan masih santai melenggang memasuki rumah. Karena sebenarnya dia takut, dia butuh tempat berlindung yang aman.
Brak
"Astaghfirullah!!" Spontan Rea beristigfar, baru saja ia mendapati sebuah benda pipih melayang dan membentur pintu rumah yang sedang dia buka. Jantungnya berdegup keras tiba-tiba, ia mulai khawatir dengan tindakan Aero yang makin lama makin berlebihan.
"Apa maksudnya tadi?" Tanya Rea dengan takut-takut, melihat ponsel keluaran baru yang sudah berantakan di samping kakinya.
"Kamu buat aku-Heh keluar! Aero ngapain kamu masuk. To-"
Mulut Rea terbekap dari belakang. Entah bagaimana caranya tadi, dia tiba-tiba terdorong masuk ke rumah bersamaan pria itu yang menutup pintu.
Naluri wanita yang memang sedang merasa terancam. Rea berusaha berteriak, walaupun yang terdengar hanya rintihan tidak jelas. Dia juga memberontak, sebisa mungkin ingin lepas dari ikatan lengan Aero yang begitu kuat melingkupi tubuhnya dari belakang.
"Ada sesuatu yang belum selesai. Jangan berisik!" Bisik pria jangkung itu tepat di samping telinga Rea. Mengirimkan sinyal penuh ancaman dan kengerian. Sekujur tubuhnya tak lagi berontak, kalimat tadi sukses mendiamkan Rea. Bagaimana tidak? Bisikan tadi sangatlah mengerikan, terdengar seperti iblis jahat yang akan melakukan sesuatu.
"Good!" Puji Aero usai melepaskan bekapan di mulut Rea, dan mendapati wanita cantik itu tak berteriak.
__ADS_1