
Rea sendiri tidak menyangka, kedekatannya dengan Aero-penculik yang membuatnya gagal menikah-sampai pada tahap ini. Dia sudah memanggil pria itu dengan embel-embel Mas di depan namanya. Suatu hal sepele yang tidak pernah dia perkirakan. Memang usai mereka terpaut 5 tahun, dan sudah seharusnya ada sebuah rasa hormat untuk orang yang lebih tua. Bukan Rea yang memulai, tapi Aero yang meminta untuk dipanggil demikian. Bukankah itu menggelikan?
"Aero." Panggil Rea pada saat itu, mereka sedang ada di cafe untuk makan siang. Waiters sudah menunggu, mencatat apa saja menu pesanan, namun Aero begitu fokus pada ponsel dalam genggamannya. Sesibuk itukah? Tanya Rea dalam hati. Memang, lelaki itu jika sudah menghadapi masalah penting sangat sulit sekali dialihkan dari benda mati berlayar datar. Seolah tidak ada orang lain di sekitarnya. Acuh dan sering mengabaikan. Itu sisi lain dari diri Aro yang baru Rea tahu.
"Aero." Ulang Rea, bermaksud menanyakan apa pesanan si pria berotot.
Masih tetap tanpa melihat sang lawan bicara, Aero menjawab. "Kamu tahu umur aku berapa?"
"Hmm?"
"Hampir 31 tahun."
"Lalu?"
"Kamu pikir sopan memanggil nama orang yang usianya lebih banyak dibanding kamu?"
Untuk sesaat Rea tidak mengerti dengan apa yang coba Aero jelaskan. Dia memasang wajah datar seperti biasa.
"You should call me Mas! Like Jordi does." Perintah pria itu tegas bertepatan dengan wajahnya yang terangkat ke arah Rea. Menampilkan kerut di kening dan rahang yang menegang.
"Is that to much?" Tanya Rea hati-hati. Tahu diri, posisi mereka ada di cafe. Ia tak ingin mengajak perang mulut dengan Aero, pasti akan sangat memalukan.
"To much bagian mana?!" Jika sudah mendengar nada suara Aero yang meninggi, itu artinya pria berbalut jaket kulit hitam itu sedang emosi. Sehingga, Rea mengalah, ia tak mau berdebat untuk hal yang tidak penting. Hanya memanggil Mas' apa susahnya. Pikirnya kala itu.
Dengan cepat dia pun mengangguk sambil mengucapkan, "ok".
Pada kenyataannya, Rea membutuhkan waktu 2 hari untuk bisa membuka mulutnya dan menyuarakan 'Mas'. Entah apa yang terjadi dan kenapa mulutnya seperti di lem, tak bisa membuka. Tenggorokannya sendiri seperti tercekat sesuatu, menyulitkannya berbicara. Aneh.
"Sesulit itu kamu panggil nama aku?"
Rea yang menunduk di jok mobil hanya mengangguk pasrah. Ia sudah mencobanya berkali-kali, tapi memang belum bisa. Selalu terhambat.
"Usaha lebih keras lagi." Tambah Aero dengan suaranya yang dingin.
"Mmm-Ma-"
"Shit! Lama."
Untuk kedua kalinya sepanjang sejarah pertemuam mereka. Terulang juga moment dimana Aero bersikap berani melakukan kontak fisik yang begitu intim. Kedua tangannya dengan cepat merangkum wajah Rea dan menariknya mendekat. Tanpa bisa dicegah dan Rea perhitungkan Aero kembali melakukan sesuatu atas bibirnya. Bukan hanya menempel, lebih dari itu, dan lebih lama dari yang sebelumnya.
Pria itu seperti menikmati, terbukti dengan mata yang terpejam dan kedua tangan yang semakin kuat menarik tengkuk Rea. Wanita cantik ini sendiri hanya mengikuti insting, mulutnya terbuka setelah digoda. Menerima perlakuan yang lelaki itu berikan. Sampai akhirnya, saat kedua nafas hampir habis. Aero mundur perlahan.
__ADS_1
"Mass."
Aero tersenyum begitu tipis. "Seharusnya kamu bilang, kamu ingin dicium lebih dulu agar bisa panggil aku Mas."
No! Bukan karena itu. Tadi Rea hanya reflek, karena perlakuan Aero padanya yang begitu berbeda. Kedekatan mereka sudah naik level. Bukan hanya pada intensnya berbalas kabar, hangout tapi juga pada kontak fisik.
...***...
Entah kenapa, mengetahui Aero sedang mandi membuat Rea begitu iri. Bukan karena dia ingin tahu bagaimana bentuk tubuh atletis Aero, tapi pada segarnya air yang membasahi tubuh. Itu sangat dia damba-dambakan saat ini. Badannya berkeringat, sudah mulai mengeluarkan wangi-wangi alami yang mengindikasikan kuman mulai tumbuh.
Dan menunggu seorang Aero membersihkan diri dengan disajikan tontonan pertandingan tinju adalah bukan hal yang bagus. Rea sampai saat ini belum tahu alasan lelaki itu menyukai olahraga adu kekuatan ini. Apa bagusnya? Hanya saling meninju dan kadang memeluk untuk mencegah kekalahan. Tidak ada sisi yang menarik.
Akhirnya, dia pun mengambil remote dan menggantinya dengan channel luar negeri. Film lawas yang kembali diputar, tapi itu lebih baik. Sambil mengunyah sepotong pizza, Rea khusuk menonton film. Sampai kemudian sisi kirinya sofa kembali terisi dengan sosok segar yang begitu wangi.
"Aku lama?"
Dalam posisinya duduk bersandar, Rea mengangguk lemah. Tersisa kunyahan terakhir pizza, setelah menelan ia baru bersuara. "Aku masih bau keringat." Jika Rea sudah mengatakan demikian, itu artinya dia ingin segera pulang.
"Ngga bau banget. Masih tersisa wanginya."
"Ckck. Pulang Mas."
Wanita berambut hitam panjang tergerai ini langsung menegakkan badan. Bersiap untuk krmbali ke rumahnya. Sebenarnya ia hanya mampir sebentar untuk mengecek apakah teman dekatnya itu-masih teman dekat ya bukan kekasih-sudah sembuh atau belum. Dan ternyata mendapati Aero sudah mengenakan pakaian formal tadi, lelaki itu sudah dijamin sehat 100%.
"Masih lama?"
"I don't know." Acuh, Aero mengangkat bahunya. Kemudian mulai tertarik dengan pizza di atas meja. "Ini beli di-?"
"Tempat biasa!"
"Galak banget."
"Aku udah gerah. Lengket dan ngga enak badannya. Masa ngga paham."
"Sabar."
Hanya kata singkat itu yang muncul dari bibir Aero. Tak sama sekali membantu. Malah menambah kesal saja. Satu demi satu potong pizza perlahan mulai Aero makan. Dan yang membuat makin geram seorang Regina Athalia adalah channel televisi kembali diganti dengan tayangan boxing.
"Mas. Yang film aja, aku belum selesai nonton."
"Akhir ceritanya kan kamu udah tahu. Ini akhirnya belum jelas."
__ADS_1
Mengalah lagi. Rea mundur. Kembali menyandarkan punggungnya pada sofa empuk. Memasrahkan diri pada yang kuasa, menunggu Jordi adalah satu-satunya pilihan. Semoga Allah memudahkan dan melancarkan jalan Jordi kesini, amiin. Diam-diam Rea berdoa.
Tidak main-main, Aero memang menonton pertandingan itu hingga selesai di ronde ke 12. Selama terjadi saling serang, pria itu diam namun matanya awas mengamati layar LCD 42 inc. Apa yang sebenarnya Aero lihat hanyalah gadis pembawa papan yang mengenakan pakaian sexy berlenggok mengelilingi ring? Sempat Rea berpikiran demikian.
"Jordi lama." Keluh wanita itu setelah pertandingan usai dan Jordi-asisten Aero belum nampak.
"Macet mungkin."
"Aku pulang sendiri aja ngga apa-apa Mas."
"Sebentar!"
"Disini juga ngga ngapa-ngapain."
"Kamu mau aku-"
"Ngga! Ngga!" Bersamaan dengan penolakan tegas Rea, tubuhnya bergeser menjauh dari jangkauan Aero. Ia menyudutkan dirinya di sisi sofa lain.
"Mas!!" Sentak Rea yang perlahan mendekatkan tubuhnya. Entah perasaannya saja atau memang tatapan pria itu mulai berubah. "Ngga usah deket-deket! Aku teriak nih!"
"Ngga ada orang. Silahkan."
Tanpa beban Aero menantang Rea. Tangannya mulai meraih kedua tangan Rea yang terulur kearahnya membentuk pelindung. Memang rumahnya ini tak berpenghuni, hanya dirinya dan Jordi saja yang tinggal.
Dan tanpa kesulitan, dengan sekali hentak Aero berhasil menarik Rea ke dalam pelukannya. "Tadi aja teriak-teriak. Sekarang setelah dipeluk baru diam. Aneh."
"Ngga usah main belakang!" Rea memperingatkan tangan Aero yang perlahan mulai turun dari punggung ke bawah.
"Depan?"
"Itu apa lagi! Aku bau ya Mas?"
"Iya."
"Ya udah minggir!"
Saking gemasnya dengan sikap Rea, Aero bisa tertawa lebar tanpa pernah ditutup-tutupi. Bukannya mengurai pelukan, justru pria itu makin mengeratkan lengannya di tubuh Rea.
"Minggir! Ngga usah ndusel-ndusel deh!Geli!"
Waduh, kira-kira Aero ngapain si?
__ADS_1
Kok bisa Rea yang dulu anti dengan kontak fisik bisa mau diapa-apain itu sama si 'Mas' heheh