Aero The Kidnapper

Aero The Kidnapper
Part 58


__ADS_3

Dikatakan bahwa umur tiga puluhan tahun bagi seorang lelaki adalah dia matang. Kematangan itu menyebabkan; mereka paham kepribadian wanita lebih menarik dibanding fisik, menginginkan hubungan jangka panjang, menghindari drama. Pria di usia ini sudah melewati masa-masa ketika emosinya meledak-ledak dan menanggapi segala drama emosional dalam hubungan cinta mereka yang terdahulu. Umumnya di titik ini mereka lebih menginginkan kejujuran dan sikap yang terbuka dari pasangan mereka.


Nyatanya, Aero yang aslinya 31 tahun masih seperti pemuda 20an tahun yang terus mengejar cita-cita. Bagaimana tidak, demi kejuaraan tinju di Colombia ia rela pagi, siang sore malam hanya untuk latihan. Pekerjaan yang menjadi tanggungjawabnya sudah ia alihkan pada orang-orang kepercayaan. Padahal jika kalian ingat, saat itu Aero baru saja sparring dengan pemenang PON. Ia sampai dilarikan ke rumah sakit karena sesuatu yang dia rasakan di bawah dada sebelah kanan. Status pertandingan kala itu, Aero sedang diserang habis-habisan. Belum ada keputusan kalah atau menang.


Saat itu juga, Rea membuatnya tak bisa berkutik karena pertanyaan sensitif. Sebagai jiwa muda, ia memilih membiarkan dan tak memberi sebuah penjelasan. Selama satu tahun dia habiskan untuk fokus menuju kejuaraan dan meninggalkan pekerjaan, wanita dan segala macam yang ada di Indonesia.


Tuan Danunjaya tahu anaknya seperti itu, mau tak mau memang ia harus memberi ijin. Tepatnya bukan ijin, itu adalah perjanjian.


"Ok. Aku mau bantu Papa. Asal aku masih bisa melanjutkan hobi aku. Kalau di tengah pekerjaan ada challange yang menarik. Aku akan ikut. Dan Papa dilarang protes."


"Deal! Satu kejuaraan ditiap tahun?"


"Ya!"


Memang Braga Assavero tak dikenal namanya di dunia pertinjuan Indonesia. Dia malah aktif mengikuti pertandingan di kawasan Amerika Latin, memang bukan tinju profesional hanya tinju amatiran. Bukan target uang yang dia ingin capai. Hanya sebuah kepuasan batin dan tentu untuk Mamahnya.


"Mama ternyata lebih suka kamu jadi petinju."


"Kenapa?" Tanya Aero sambil memakan menu makan malam yang selalu dibawakan Mamahnya ke sasana untuk seluruh teman-temannya ketika ada pertandingan.


"Keren." Jawab wanita cantik itu dengan mata berbinar.


"Kerenan mana sama laki-laki bersetelan jas?"


"Kamu."


Aero muda tertawa renyah sambil menggeleng tak percaya. Pasti Mamanya hanya berusaha menghibur.


"Hobi penting, tapi pendidikan jauh lebih penting Sayang."


"Maaah!" Aero memperingatkan Nyonya Danunjaya yang sudah mulai membujuk untuk kembali masuk sekolah.


"Home schooling ya? Nanti Mama bantu kalau ada materi atau tugas yang susah."


Saat itu Aero memang harusnya duduk di bangku SMA kelas dua, memutuskan keluar dari rumah dan tak mau sekolah hanya karena ditentang untuk melakoni hobinya bertarung. Karena memang, dijaman itu, anak seusia Aero lebih banyak main motor atau memodifikasi mobil. Juga hobi yang mereka geluti lebih ke arah olahraga umun, macam; basket, sepakbola, karate ,taekwondo. Untuk tinju, anak muda sama sekali tidak ada perkiraan.


"Papa gimana?" Ujung dari semua masalah, pasti yang paling ditunggu adalah pendapat Papanya.


"Ngga apa-apa, yang penting sekolah."


Ayah mana yang tidak marah kalau anak satu-satunya tiba-tiba kabur. Dia orang berada, pengacara ternama, namun tidak bisa mengurus anak. Itu jelas menjadi gunjingan rekan-rekannya.


Braga Assavero akhirnya mengangguk. Ia melanjutkan SMAnya dengan home schooling. Kenapa bisa kuliah psikologi? Karena niat awalnya adalah untuk mendalami emosi orang lain, terutama emosi lawan di atas ring. Singapura menjadi tempat yang dipilih, sebab disana terdapat banyak sasana tinju ternama. Jadi, semua itu selalu ia kaitkan dengan hobinya.


Lalu tentang Regina Athalia-bagi Aero-wanita itu seperti pekerjaan yang sementara ia tunda. Akan ia selesaikan jika sudah memiliki kemauan dan waktu.


Brengsek sekali dia!


...***...


Sekitar dua minggu yang lalu, Rea memasang iklan di social medianya dan beberapa aplikasi jual beli online. Selain mencari calon pembeli sendiri, ia juga dibantu oleh teman kuliahnya yang bekerja di dealer mobil.

__ADS_1


Tak butuh waktu lama, chat mulai berdatangan. Sekitar 5 orang sudah menghubungi Rea, dan semua itu belum menemui kata sepakat. Entah apa pertimbangan mereka, karena Rea sendiri sudah memasang harga miring. Apa karena mobil ini pernah kecelakaan? Ah tidak mungkin, memang belum berjodoh saja, pikirnya positif.


"Re! Ada nih yang mau liat mobilnya."


"Ok. Kapan?" Siang itu, Rea yang masih ada di rumah Bu Nindi menerima telefon dari temannya.


"Nanti sore bisa? Jam 5."


"Bisa! Siapa orangnya?"


"Seorang masinis."


"Namanya?"


"Ardan!"


"Ya. Lo ikut juga kan?"


"Iya lah. Gue suka cuan." Telefon berakhir, bibir Rea kembali tersungging. Semoga mobil ini berjodoh dengan Ardan, aamiin.


Sabar tidak ada batasnya. Hal itu yang menjadikan Rea masih bertahan sampai saat ini. Dia tidak mengira, Ardan-masinis yang berniat membeli mobilnya dulu satu SMA dengannya. Usai pertemuan sore itu, kata sepakat terucap. Tak butuh banyak waktu seperti sebelum-sebelumnya. Apa yang Rea katakan pada Aero waktu itu terjadi. Dia hanya akan menyerahkan mobil ini pada orang yang benar-benar membutuhkan.


Ardan membutuhkan mobil untuk mobilitasnya menuju stasiun. Karena tak jarang, ia harus berhujan-hujanan di tengah malam. Selang seminggu, pembayaran tunai langsung meluncur ke rekening Rea. Tidak terlalu jauh dari harga yang dipatok olehnya.


Ardan


Lagi ngapain kamu?


^^^Rea^^^


^^^Ada pesenan. Kamu?^^^


Ardan


Siap-siap mau jalan ke Jogja.


Mau titip apa?


^^^Regina^^^


^^^Hati-hati di jalan. ^^^


^^^Bapia kalo boleh. ^^^


^^^Eh tapi ngga usah. ^^^


^^^Ngrepotin kamu.^^^


Ardan


Ngga repot. Kalau sempat aku beli.

__ADS_1


Aku berangkat dulu ya.


Bye.


"Siapa tuh yang buat senyum-senyum?" Godaan Bibi Yul segera menyadarkan Rea dari reaksinya yang seperti remaja tanggung menerima pesan dari gebetan.


"Ngga ada Bi."


"Mas Ardan ya?"


"Ih sok tahu." Tolak Rea, ia tak ingin mengiyakan. Karena bisa digoda habis-habisan.


"Tahu lah. Sejak dia kesini kaya udah ngincer Mba Rea."


"Apa sih ngincer-ngincer. Emang aku target?"


"Ya, sejak beli mobil kan jadi sering sms sama telfon. Lagian Mas Ardan kyaknya single Mba."


"Terus??"


Rea melanjutkan packing tanaman anggrek.


"Ya barangkali jodoh."


Sebelum menjawab, ia menghela nafas. Menaikkan sedikit tatapannya agar bisa melihat ekspresi Bibi Yul saat ini. "Rea ngga mau terlalu berharap. Mau ikhlas aja sama jodoh yang dikasih."


Hmm itu adalah jawaban untuk wanita yang sudah lelah mencari dan mencari. Kali ini ia ingin dicari.


"Mba Rea bukan cari yang ganteng dan kaya kan?"


"Ngga lah! Yang penting sholih sama tanggung jawab. Udah itu aja." Entah kenapa Rea tiba-tiba meninggikan nada bicaranya.


"Mas Ardan ngga seganteng Arka atau Aero."


"Bi! Rea ngga cari yang ganteng atau kaya. Yang dicari yang tanggung jawab! Udah titik."


"Berarti kalau Mas Ardan suatu saat ngajak pacaran atau langsung ngelamar. Mba Rea ngga nolak?"


Aduh. Bisa tidak Rea menghilang saja dari pembicaraan ini. Ia lelah kalau sudah mulai memikirkan laku-laki. Makhluk yang satu itu selain banyak yang tampan, banyak juga yang mengecewakan.


"Jodoh ngga ada yang tau Bi." Tukas Rea malas. Ia sudah membungkus 5 tanaman anggrek ukuran sedang sore itu. Rasanya melelahkan sekali.


"Iya. Sejauh jarak terbentang. Sekeras apapun menolak. Sekuat apapun menghindar. Jodoh akan ketemu. Entah itu Arka, Nandho, Aero atau Ardan. Atau justru nanti ada lelaki lain yang datang dengan niat tulus. Siap-siap Mba."


Mendengar apa yang disampaikan Bibi Yul, hari kecil Rea menghangat. Benar. Ia tidak boleh putus asa, jodoh pasti bertemu.


Jangan lupa vote, comment ya guys yang banyaak.


Silahkan comment buat :


Aero

__ADS_1


Rea


yaaa


__ADS_2