Aero The Kidnapper

Aero The Kidnapper
Part 63


__ADS_3

"Mas saudaranya Regina?"


Kembali pertanyaan itu harus diulang oleh Ardan karena Aero nampak tak mendengar, atau sebenarnya pura-pura tak mendengar. Meski berdiri di ambang pintu dengan tubuh menghadap tamu, tatapan mata Aero tidak fokus. Entah karena kenyataan tentang Ardan atau karena sikap Rea yang terlihat begitu welcome.


"Ehem." Tenggorokan Aero terasa begitu kering, dengan tangan kiri Aero mendorong pintu hingga tertutup sempurna. Hal kecil itu ia lakukan tanpa mengalihkan perhatiannya dari lelaki yang bertubuh tinggi besar seperti dirinya. Ralat, Aero masih lebih tinggi daripada Ardan.


Ada sesuatu yang Aero rasakan. Ia seperti menghadapi Juan-si petinju asal Mexico. Fisik Juan dan Ardan hampir serupa, hanya minus bagian bulu lebat di rahang. Ketika itu, Aero sama sekali tidak tahu Juan itu siapa. Dia hanya mendapat data tertulis tentang tipe bertarung lawannta. Kendati di ring Aero menemui kesulitan di awal-awal ronde, pada akhirnya dia tetap bisa menang angka dalam 7 ronde pertarungan. Itu luar biasa.


Kenapa yang ditanyakan oleh Ardan harus saudara? Mengapa tidak pacar, kekasih atau teman dekat saja? Pada umumnya, bila ada lelaki lain di tempat wanita yang akan dia sambangi, pasti pikirannya akan tertuju pada hal-hal itu. Apa Ardan tak kepikiran? Tadi yang membuka pintu adalah Aero.


Itu artinya?


Mungkin memang tidak berarti apa-apa, untuk lelaki yang selalau berpikiran positif macam masini ini. Bisa jadi, saat itu Rea tengah sibuk dan dia meminta Aero untuk membukakan pintu, atau mungkin sebenarnya Aero ingin keluar.


"Saya Aero. Bukan saudara Rea." Katanya mempertegas. Mencoba mengetahui lebih dalam siapa Ardan, Aero ikut-ikutan duduk di sofa, lebih tepatnya di bagian yang seharusnya tuan rumah duduki. Apa-apaan dia?


"Ardan. Teman SMAnya Regina."


Lebih dulu pria yang Aero yakini belum mandi ini mengulurkan tangan. Dan tanpa berpikir dua kali, Aero menyambutnya, balas menggenggam dengan kekuatan yang setara. Tidak seperti ketika hendak bertarung di ring, dimana lawan selalu memberikan tatapan sengit dan penuh permusuhan. Kali ini, Ardan nampak bersahaja, bibirnya menyunggingkan senyum. Satu lagi yang perlu Aero klarifikasi tentang Ardan, masinis itu ternyata memanjangkan bulu di rahang. Hal itu terlihat setelah Aero meneliti lebih lama. Jadi Aero simpulkan sendiri, sosok di hadapannya ini adalah orang yang taat.


"Baru pulang tugas?"


Tatapan Aero belum juga lepas dari pria asing di rumah Rea. Ia makin memindah dari ujung kaki hingga kepala apa yang melekat di tubuh Ardan.


"Iya Mas. Baru dari Jogja, terus mampir kesini karena ada yang minta oleh-oleh." Katanya sambil membuka tas ransel yang dibawa. Aero pikir, hanya plastik tadi, ternyata ada yang lain lagi. Fix. Lelaki ini benar-benar punya niatan lain.


"Padahal aku cuma bercanda."


Suara lain ikut bergabung dalam pembicaraan antar lelaki. Siapa lagi jika bukan tuan rumahnya, ia kembali ke ruang tamu dengan membawa dua gelas es teh di atas baki. Kenapa perlu secepat itu Rea membuatkan minum? Aero masih belum selesai melakukan screening.


"Ya kali cewe terang-terang ngomong, aku ngga paham. Hanya kode pun, aku bisa tahu."


Entah kenapa cara bercanda Ardan kali ini tidak disukai Aero. Bisakah bersikap dan bertutur kata biasa saja? Karena disini ada makhluk lain. Aero bukan sedang cemburu, tidak. Dia hanya merasa ilfeel.


Tidak nampak ada semburan merah dipipi Rea, dan itu bagus. Rea hanya tertawa ringan seperti menganggap itu candaan biasa. Good girl.


"Ayok diminum." Serunya setelah dua gelas tersaji di hadapan Ardan dan Aero. Sedikit tak menyangka si jutek Rea memberinya minuman, Aero sempat memperhatikan lamat-lamat wanita itu. Apakah serius itu untuk dirinya? Apa sebenarnya untuk Rea sendiri?


Aero sgera menggeser duduknya ke arah kanan untuk memberikan ruang di sofa panjang. Jangan lupakan juga tangan kiri yang mendadak menarik pergelangan tangan Rea sebagai tanda dia harus duduk di sampingnya.


"Duduk!" Sengaja Aero menatap Rea dengan tatapan yang berbeda, tajam sekaligus memerintah.


Regina Athalia mengerjap, seperti enggan menurut, namun bingung juga untuk menolak. Akhirnya, karena terus ditarik paksa dia pun mengalah. Tubuhnya duduk bersanding dengan Aero. Mungkin tidak terlalu nyaman jika dinyatakan demikian, tapi mau apa lagi? Memang kenyataannya mereka duduk bersebelahan di sofa kecil macam kursi pelaminan, dan seperti pengantin.


"Nih bapianya." Kata Ardan yang terdengar ingin mendapatkan perhatian dari Rea juga. Berhasil, Rea menolehkan kepalanya dan memberikan senyuman kepada Ardan, sangat berbanding terbalik dengan cara Rea menatap Aero tadi. Tatapannya menajam, seperti mengatakan, ' ngga usah tarik-tarik. Aku bisa duduk sendiri.'


"Makasih--Loh kenapa banyak banget? Aku cukup satu box aja." Rea segera menolak lima box bapia yang terdorong ke arahnya.

__ADS_1


"Ngga apa-apa. Bisa dibagi buat tetangga kamu."


"Ngga deh. Aku satu aja. Kamu bawa juga buat orang rumah."


"Ngga perlu. Lagian di rumah ngga ada yang doyan."


Bohong. Aero tahu lelaki itu berbohong. Ia hanya ingin terlihat dermawan saja dengan memberikan banyak oleh-oleh. Alasan keluarganya tidak suka seperti tidak tepat. Ia bisa membaginya untuk para tetangga rumah rumahnya sendiri. Kenapa harus tetangga Rea? Dan tadi? Apa bungkusan pertama yang Rea bawa masuk? Berarti ada lebih dari bapai yang Ardan berikan.


"Ya udah aku terima nih. Makasih banyak. Semoga rezekinya bertambah banyak."


"Amiin."


"Besok aku bagiin ke tetangga. Kalau dimakan aku semua ngga mungkin."


Mendengar Rea yang ceria dan luwes sekali bercengkrama dengan Ardan. Aero merasa ia juga harus ikut berbaur dalam obrolan. Setidaknya dia akan bertanya sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan Ardan.


"Udah lama di KAI?" Tanyanya memutus kehangatan dua wanita dan pria yang pernah satu SMA ini.


"Ini tahun ke 5."


"Masinis?"


"Iya. Kalau Mas kerja dimana?"


"Saya?"


"Dimana-mana. Saya atlet."


"Waw! Atlet apa?"


"Tinju."


"Serius?!" Jika nada suara seseorang mulai meninggi, itu bisa menandakan dia sedang marah, terkejut, atau senang. Dan Ardan ada di kelompok terkejut.


Aero mengangguk pasti. Netranya lurus memperhatikan ekspresi Ardan. Mulutnya baru saja terbuka ingin menyampaikan sesuatu, namun lebih dulu tawa seseorang berhasil mengalihkan perhatian Aero. Ia tidak tahu kalau ternyata tawa itu dari wanita cantik yang duduk tepat di sampingnya. Dengan cara yang begitu elegan dia tertawa, Rea menutup mulutnya menggunakan telapak tangan dibarengi bahu yang berguncang.


"Kenapa Re?" Ardan penasaran, bagian mana yang lucu sampai Rea bisa tertawa seperti itu?


Tak lantas menjawab sebab Rea butuh mengkondisikan dirinya tenang. Kedua lelaki ini sama-sama menunggu dan memperhatikan bagaimana wanita cantik tengah tertawa. Berkali-kali Rea mencoba untuk bicara, selalu saja tawa muncul tanpa bisa dia cegah. Hingga akhirnya, tanpa sadar Aero juga tersenyum, sangat tipis.


"Bohong banget." Begitu kata Rea di tengah derai tawanya.


Ardan memajukan tubuhnya. "Siapa yang bohong?"


"Dia." Jawab Re dengan mudahnya sambil menunjuk Aero dengan jarinya. "Ngaku-ngaku jadi atlet segala. Bukan! Dia kerja di biro bantuan hukum Dan."


Ardan yang sempat terkejut akan pengakuan Aero, perlahan tertular tawa Rea.

__ADS_1


...***...


"Sialan! Gue dikira pembohong."


Bordes yang mendengar cerita lengkap Aeropun tergelak. Tak menyangka petinju ini memiliki cerita humor tiap kali bertemu dengannya. Beberapa hari belakangan akhirnya Bordes tahu siapa wanita yang sudah membuat Aero berperilaku aneh. Regina Athalia. Wanita yang sempat ponselnya tertinggal di cafe miliknya.


"Mata Rea ngga tau lagi kenapa." Keluh Aero pada sahabatnya.


"Emang kenapa?"


"Gila aja. Itu laki udah gede, item, jelek Lex."


Bordes santai, dia hanya mengangguk saja. Cukup terhibur dengan ekspresi kesal yang Aero tampilkan saat mendeskripsikan masinis itu, jarang-jarang sekali Aero bisa seperti ini.


"Jaman sekarang cover ngga ada harganya. Laki yang lebih cepat laku itu yang royal." Jawab Bordes menasehati. Lebih tepatnya, dia membukakan informasi dunia percintaan era sekarang.


"Gue ngga tega kalau Rea sama dia."


Eh tunggu! Bordes menghentikan aktifitasnya. Pandangannya naik dari layar ponsel yang sedang ia genggam. Braga tumben sekali merasa tidak tega.


"Ngga tega, ngga ikhlas, ngga rela? Yang mana nih kasus lo?"


Aero diam seperti tengah menimbang-nimbang.


"Atau lo cemburu?"


"Gue ngga tau. Yang jelas, gue ngga tega aja kalau Rea sama Ardan. Beauty and the beast Lex. No!"


Mulai mengetahui celah mana yang harus Bordes masuki untuk menyadarkan Braga. Diapun bertanya, "terus itu cewe harus sama siapa Ga?"


Kembali, si songong Braga Assavero diam.


"Kan? Ngobrol sama lo itu ujungnya selalu ngambang. Ngga enak."


Sabar ya Aa Bordes.


Titip itu anak diajari.


Udah mulai kok keliatan celanya.


Tolong dibantu yang baik-baik aja.


Jangan diajari langsung nyosor.


Dia ngga kuat orangnya.


Jangam lupa vote, comment jadikan favorite guys.

__ADS_1


__ADS_2