Aero The Kidnapper

Aero The Kidnapper
Part 83


__ADS_3

"Tangisan kamu ngga akan bikin luka aku sembuh."


Gerakan tangan Rea terhenti di udara, baru saja dia akan menekan kain dingin ke arah luka sobek di pelipis suaminya, namun suara datar itu sedikit mengganggunya. Wanita yang mengaku sedang tidak enak badan ini sedikit kaget dengan cara pria itu menghentikan tangisannya. Bahkan, beberapa orang yang masih berada di sekitar mereka saling pandang. Dan tak berapa lama menjauh untuk memberi suami istri waktu bicara.


"Aku nangis karena peduli." Ulas Rea, setelah berhasil menghentikan isakannya lebih dulu.


"Kalau peduli harusnya kamu datang dan dukung aku." Tetap pria yang baru saja babak belur itu menyalahkan Rea.


"Aku pikir Mas hanya butuh pelatih."


"Apa aku pernah mengatakan hal seperti itu? Aku butuh penyemangat, bukan cuma orang yang terus-menerus meneriakiku tentang strategi." Balasnya cepat sampai membuat Rea yang sednag duduk di samping kirinya tersentak.


Mendapati bentakan yang keras dari orang yang dia cintai, Rea makin sesenggukan. Dia terus berusaha menahan rasa sesak dan isakan yang sudah ada di ujung tenggorokan. Ia tahu Aeronya marah, kecewa dan merasa tak dihargai sebagai suami. Mau mengulang kejadian pun percuma. Tapi, apa harus sampai seperti ini?


"Jangan ulangi lagi." Pinta Aero sambil berlalu menaiki tangga menuju kamar. Ia tak memerdulikan bagaimana istrinya yang merasa bersalah memandanginya penuh harap.


***


Rea kira, kemarahan suaminya hanya berlaku di hari itu saja. Usai drama tangis yang panjang karena menyesal, hingga hari ini, hari ke lima setelah malam pertandingan, ternyata suaminya masih memiliki sedikit bola-bola emosi. Sehingga, ada jarak yang tercipta di antara keduanya.


Berkali-kali Rea mencoba untuk lebih dekat, ia menemani kebiasaan suaminya yang kadang menonton pertandingan di TV, menyiapkan cemilan untuk dibawa ke kantor, atau kadang ia juga mendatangi sasana untuk sekedar melihat. Ia terganggu dengan sikap Aero yang seperti ini, menghindar dan tak mau mendengarkan penjelasannya atau untuk meluangkan waktu bersama. Bahkan untuk memaafkan kesalahannya saja Aero masih enggan.


Dulu sekali, Aero pernah mendiamkan Rea, bukan hanya dalam hitungan hari namun hingga ratusan hari, lebih tepatnya satu tahun. Sebagai wanita, meminta kejelasan dari status mereka adalah hak, dan menerima keputusan apapun adalah kewajibannya. Lalu sekarang, karena mereka bukan lagi hanya sekedar teman dekat, sahabat maupun kekasih-tapi suami istri-Rea rasa ia perlu bicara dan kembali menjahit lubang yang tercipta dalam rumah tangga mereka. Aeronya sering menghindar apabila Rea mulai mengajak untuk bicara sebelum tidur.


Pria dengan tubuh makin kekar itu sering menyembunyikan dirinya lama-lama di ruang kerja. Kadang Rea bingung, apakah sesibuk itu sekarang Braga Assavero? Jauh berbeda dengan suasana mereka belum punya hubungan ini, Aero masih ada waktu untuk melihatnya, atau hanya sekedar membuatnya kesal. Saat ini, semua itu tak pernah lagi. Mungkinkah ini kepribadiannya yang sesungguhnya?


"Gimana kabarnya Pah?" Sapa Rea begitu tahu ayah mertuanya datang di sore hari ini, tanpa kabar dan tiba-tiba. Jordi mendorong kursi roda bosnya menuju ruang tengah, diikuti Rea yang kemudian mengambil duduk di salah satu sofa-tepat di hadapan Pak Danunjaya.


"Baik. Gara-gara multivitamin yang dokter kasih, nafsu makan jadi bertambah."

__ADS_1


Rea berbinar mendengarnya. "Ngga apa-apa, yang penting makanan yang masuk ke tubuh dijaga kadar gizinya. Diimbangi olahraga ringan juga."


"Itu yang paling malas. Beda banget sama Aero ya Re? Dia dari kecil udah bisa gebug-gebugan aja. Oh ya, Papa denger kemarin dia kalah. Babak belur?"


Mulut yang sempat dengan mudah memberikan nasehat ini mendadak hanya bisa terbuka tanpa mengeluarkan sedikitpun suara. Ia benar-benar bingung harus memberitahu seperti apa hal tersebut. Tidak mungkin rasanya dia bilang kalau hubungan mereka tengah renggang.


"I-iya. Rea ngga terlalu tahu gimana pertandingannya. Tapi kalau dilihat sebelum mulai sparring Mas Aero udah kerja sampai sore. Apa mungkin kesiapannya jadi ngga seratus persen ya Pah? Staminanya sudah terkuras lebih dulu." Tutur Rea jujur.


"Kamu ngga dateng si jadi kalah."


Wajah putih Rea memerah seketika. Sudah pasti rasa malu langsung melingkupinya. Meski diucapkan dengan bercanda, maknanya begitu kuat menembus hatinya. Ia tersindir. Seakan tahu bagaimana perasaan menantuanya kinu, Danunjaya segera mengubah topik pembicaraan. Dia tidak ingin menambah wajah cantik itu makin keruh.


"Mau kapan bulan madunya? Sudah dua bulan kalian ngga kemana-mana. Apa di kamar sudah begitu memuaskan?"


"Nunggu Mas Aero." Balasnya tak jelas. Dia takut salah bicara, Aero tidak pernah mengatakan apa-apa hingga detik ini. Kesibukannya bertambah karena tanggung jawab yang dia emban besar. Dan Rea tak punya muka untuk meminta liburan atau apapun kini.


Semua rentetan kata itu banyak benarnya, tapi lain jikayang mendengar Aero. Suami Rea itu pasti hanya akan berlalu.


"Mungkin sedang banyak kasus yang harus ditangani dalam bulan ini Pah." Rea kembali membalas dengan jawaban yang aman.


"Apa kamu sebenarnya sudah berisi?"


"Ha? Belum."


Bagaimana bisa mertua lelakinya dengan terus terang dan tanpa malu menanyakan hal macam itu pada dirinya?


"Nah, itu anaknya. Kapan mau ajak Rea jalan-jalan? Nanti hadiah-hadiah itu mubadzir."


Rea langsung menoleh begitu Ayah mertuanya mengatakan keberadaan anaknya. Benar saja, Aero sedang berjalan mendekat ke arah mereka. Mendadak, jantung Rea berdebar, apalagi saat mata elang itu menatapnya amat tajam.

__ADS_1


"Masih sibuk. Setelah tahun baru mungkin."


"Ngga perlu tunggu tahun baru, weekend kan bisa? Ke Bogor, ke Pulau Seribu, apa ke Ancol ngga masalah. Yang penting kebersamaannya. Ya kan Re?"


Lagi Rea tersenyum kikuk. Ia tak bisa leluasa bicara karena sudah ada Aero. Semakin lama dia sadar, jika terlalu banyak bicara ia akan nampak seperti wanita yang banyak maunya, dan akibatnya Aero akan makin jauh.


"Kalian aja yang pergi. Aku masih sibuk dan belum ada keinginan untuk liburan." Jawab pria itu ketus tanpa sungkan.


"Kamu mungkin ngga kepengin, tapi istri kamu?"


"Kalau kamu mau liburan bilang aja, nanti aku siapkan tiket dan penginapannya." Seru Aero dengan cepat tanpa mengalihkan padangannya sama sekali. Dia sibuk melepas jas dan dasi yang masih melingkar di leher.


Detik itu juga Rea tahu, prianya telah berubah.


Mencoba memaksakan senyum, dia menatap mertuanya. "Aku tadi buat cake, Papah mau?"


"Boleh, sambil duduk di halaman belakang ya."


Danunjaya tahu anaknya keterlaluan, tapi untuk ikut campur, dia tidka bisa. Biarlah ini menjadi pelajaran hidup lelaki 33 tahun itu. Nanti jika sudah saatnya, pasti akan menyesal karena sudah keterlaluan dalam memperlakukan istrinya ini. Maka sebagai ayah, satu-satunya yang bisa dia lakukan adalah, mendekati Rea dan memberinya kekuatan. Meski itu bukan ranahnya. Harusnya ada istrinya disinya yang melakukan hal itu.


"Iya. Mas mau?" Masih saja wanita cantik ini menawari lelaki yang dengan teganya berkata kasar.


"Ngga!"


"Tunggu ya Pah." Pesannya sambil berlalu ke arah dapur, raut wajahnya begitu tersiksa. Tidakkah Aero melihat hal itu? Apa dia masih sama seperti dulu? Yang begitu kecewa karena tak ada yang mendukungnya di moment krusial? Sama seperti ibunya sendiri yang tidak hadir dulu sekali ketika pertandingan, Aero marah hingga berhari-hari.


Jangan lupa gaes, vote, comment dan likenya.


Besok aku bisa up lagi nih,

__ADS_1


__ADS_2