Aero The Kidnapper

Aero The Kidnapper
Part 18


__ADS_3

Balas dendam hanya wacana bagi Rea.Karena sejahat apapun perlakuan orang lain terhadapnya,pada akhirnya dia hanya berusaha ikhlas dan melupakan.Juga berharap agar Tuhan Yang Maha Kuasa mau memberi pelajaran pada orang-orang yang sudah menyakitinya dengan sengaja.


Ibu dan Bapak tirinya, Rena, Arka hingga yang terakhir adalah Aero.Pria itu ikutan menjadi daftar hitam manusia yang Rea doakan-tentu untuk mendapatkan balasan.


Dengan hidup tenang, tidak tergantung maupun menjadi tulang punggung, Rea sudah cukup bahagia. Dia punya mimpi sendiri setelah memutuskan keluar dari rumah. Jika benar nanti mobil dan rumah akan dijual, dia akan meminta bantuan pada seseorang.Tentu tidak gratis.


"Bu Nindi sakit?"


"Ngga, saya sehat."


"Kelihatan pucat." Komentar dari Rea tadi langsung ditanggapi wanita ini dengan mengambil kaca di dalam tas merk prada-nya.


"Lipstiknya mulai pudar mungkin."


Mana mungkin Rea percaya,sudah pasti lipstik yang dipoleskan di bibir majikannya itu barang awet, teruji tak akan luntur terkena air maupun minyak. Jelas alibi yang salah.


"Matanya juga kelihatan merah."


"Oh ya?" Kembali wanita tiga puluh tahunan itu tak percaya.


"Kurang tidur?"


"Hmmm." Hanya berupa gumaman yang keluar.Bu Nindi tak berniat menjelaskan apa yang sudah terlewatkan beberapa hari ini.Ia nyaman memiliki asisten seperti Rea, tapi untuk berkeluh kesah terkait kehidupan rumah tangga, rasanya dia pun masih enggan.Bukan berarti Rea tidak bisa menjaga rahasia, hanya saja wanita 25 tahun ini belum berkompeten untuk dimintai nasehat tentang suami istri. Curhat memang harusnya pada orang yang tepat.


"Bu Nindi sedang ada masalah?"


"Ngga ada.Saya hanya lelah karena Mas Danu datang terus ke rumah." Wanita itu memandang luar jendela mobil. Hanya ada pemandangan gedung-gedung pencakar langit yang terlihat. Dan itu sangat membosankan bagi Bu Nindi."Kita ke Ancol ya Pak."


"Apa Bu?" Pak Supir ingin memastikan sesuatu yang masuk ke telinganya.


"Pak, Ibu minta sekarang ke Ancol." Ulang Rea dengan mengeraskan suaranya.


"Ok siap."


Rencana Rea untuk menyampaikan sesuatu sepertinya harus ditunda.Bosnya dalam keadaan tidak baik.Entah itu sakit hati atau sakit yang benar-benar sakit. Jika mendengar jawaban tadi karena Pak Danu datang ke rumah, disambungkan dengan wajah Bu Nindi yang tidak seceria biasanya, hal itu cukup menjadi acuan jika bosnya sedang menghadapi masalah.


Menjadi istri kedua memang berat, dia sudah pasti memiliki musuh tak kasat mata yaitu istri pertama. Belum lagi pandangan buruk dari keluarga suami juga keluarga madunya. Walaupun sang suami begitu mencintai dan loyal, dia akan tetap merasa kurang.Karena pada dasarnya wanita memang suka diperhatikan.


"Pesan saja makanan.Saya ingin duduk disana." Tunjuk Bu Nindi begitu mereka menginjakkan kaki di sebuah cafe tepi Pantai Ancol.Wanita cantik dengan dress warna mocca itu memisahkan diri.


"Iya Bu."

__ADS_1


Rea mengawasi dari tempatnya duduk, Bu Nindi tidak melakukan hal apapun selain memandangi laut luas dan menikmati angin yang menerpa rambutnya yang panjang. Jika dijelaskan, Bu Nindi ini mirip seperti artis Sandra Dewi tapi versi lebih tua.


Saat sedang mengamati Bosnya dari kejauhan, ponsel Rea bergetar. Sebuah panggilan dari nomer penting masuk, suara notifikasinya meraung-raung memanggil Rea untuk segera mengangkat.


"Halo Pak."


"Ibu dimana?"


"Ada di..." Rea menggantungkan jawabannya cukup panjang. Ia takut Bu Nindi marah padanya, karena lancang seperti ini.


"Saya khawatir." Untuk sesaat, pernyataan Pak Danu itu membuat Rea tersenyum.Senang jika Bosnya yang cantik diperhatikan.


"Ibu ada di cafe Ancol.Sepertinya sakit. Wajahnya pucat dan tidak semangat."


"Sudah lama disana?"


"Hampir 1 jam."


"Saya akan kesana,tahan dia sebentar.Kira-kira 30 menit."


"Siap Pak."


Pada akhirnya Rea tak perlu susah-sudah untuk menahan Bosnya lebih lama di cafe.Karena setelah Pak Danu datangpun, Bu Nindi masih menyendiri di kursi paling dekat pantai.


"Saya harus pamit-"


"Saya yang urus."


Pak Danu-lelaki dewasa yang bekerja sebagai pengusaha batubara itupun melangkah ke arah istrinya.Tanpa pakaian resmi kantoran,hanya dengan celana hitam dan kemeja warna hitam, ia nampak lebih muda dari usianya.


Entah masalah dengan istri pertama atau karena langsung dengan Pak Ardanu, yang jelas Rea berdoa semoga hubungan mereka membaik.Ia sempat membalikkan badan,melihat bagaimana reaksi Bu Nindi saat suaminya datang tiba-tiba.Sebab sudah pasti Pak Danu puluhan kali menelefon istrinya, sebelum akhirnya menghubungi dirinya sebagai asisten.


Seperti biasanya, setiap pertemuan wajah Bu Nindi akan bersinar bahagia.Ia menyambut Pak Danu dengan pelukan kemudian ciuman di pipi.Dan itu baru saja dilakukan,terlihat jelas ingin selalu bahagia di depan suaminya.Bu Nindi tak ingin membebani lelaki yang dicintainya itu dengan rengekan atau keluh kesahnya-cukup istri pertama yang seperti itu.


"Hallo Bi?" Rea mengawali dari Bibi Yul.Ia tengah dalam perjalanan pulang diantar pak supir.


".."


"Kok bisa?Rea lagi mau minta bantuan sama bos Rea dulu."


"..."

__ADS_1


"Itu terlalu murah.Harusnya tanah dan rumah bisa lebih dari itu. Pak Hamid aja yang rumahnya lebih ke dalam terus akses jalannya sempit bisa dapat 2M. Rumah kita kan besar Bi, lantai dua lagi. Siapa si yang mau beli?"


"..."


"Atau Rea perlu datengin orangnya aja?"


"..."


"Jangan-jangan Arka yang mengada-ada.Tolong kasih tau Rea terus ya tentang siapa aja tamu Ibu.Dapetin info tawar menawar mereka,biar Rea-"


"..."


"Rea ngga tau harus gimana?Ke kantor polisi apa ke biro hukum. Rea beneran ngga tau tentang hal-hal macam ini." Katanya sambil sedikit menaikkan volume suaranya.


"..."


"Iya-iya tahu."


Usai percakapan cukup panjang dengan wanita yang sudah mengabdi lama di rumahnya, mata Rea memanas.Tanpa ia sadari, setetes air mata keluar mulai membasahi kedua pipinya.Tidak ada perlawanan, ia membiarkan saja itu terjadi.Walau sebisa mungkin menjaga agar tak diketahui Pak supir. Ia tentu malu.


Hak miliknya, warisannya itu akan dijual tanpa ijin darinya.Ia sendiri dan tidak yakin bisa menang.Uang dimana-mana berkuasa.Maka satu-satunya orang yang bisa membantu memang Bu Nindi. Namun sayang, diapun memiliki masalah yang perlu diselesaikan.Rea tidak tega untuk menambah pikirannya dengan hal-hal yang sebenarnya bukan urusan dia.


Rea sampai di rumahnya sore hari.Melangkah dengan begitu tak bertenaga.Ia duduk di kursi teras rumah.Memandangi beberapa tanaman hias di depannya dengan tatapan kosong.Ia bingung, merasa sendiri dan kalut.Kepada siapa dia bisa minta tolong?


Tin Tin


Suara klakson motor yang begitu nyaring langsung menyadarkannya dari lamunan.Walaupun enggan,dengan sekuat tenaga kepalanya terangkat. Memastikan siapa si pembuat onar.Siapa pelaku yang mengganggu renungannya.


Kembali klakson dibunyikan disusul gas motor yang ditarik seperti hendak balapan.Mau apa lagi kesini?Rea menghela nafas lelah, memalingkan wajahnya pada obejk hijau di depan mata.Braga Assavero tidak menarik baginya.


"Naik!Aku butuh bantuan!" Teriak pria itu tanpa susah-susah turun dari motor.Bahkan tak mau untuk sekedar mematikan mesin motornya.


Rea bergeming.


"Rea!"


"Rea!"


Rea menggeleng.Aero belum menyerah untuk mengajaknya keluar.Apa mata tajam itu tidak bisa melihat bagaimana kondisi Rea saat ini?Dari gerak tubuhnya saja menandakan kalau wanita cantik itu seperti mati enggan hidup tak mau. Lemah dan lunglai.


"Regina Athalia!"

__ADS_1


"Berisik banget si!" Teriak wanita itu kencang sambil membuka matanya lebar dan menipiskan bibir.Menampakkan sisi lain Rea yang sangat berbeda.Tak ada sinar mata teduh dan hangat. Namun menyala-nyala macam singa yang ingin menerkam mangsa.


Dan pandangan itu, malah membuat seorang Aero makin tertarik.Ia sempat terpana, namun setelah sepersekian detik Aero bisa mengendalikan diri.Senyum miring kembali terbit dari bibirnya yang tertutup masker hitam.


__ADS_2