
"Bukain gerbangnya Di!!" Teriak Aero yang teredam helm full face-nya.
"Ngga boleh sama Bapak Mas."
"Cincinnya ada di rumah gue! Buruan ngga? Gue tabrak nih!" Aero ngotot, dia bahkan sudah memainkan gas motornya sampai menimbulkan bunyi geber motor yang memekak telinga.
"Naik ke mobil semua! Cepat!! Kita ngebut ke rumah Aero!" Putus lelaki di atas kursi roda itu final. Dia menyuruh orang-orang yang berseragam kain batik masuk ke mobil-mobil yang disiapkan. Ada 3 mobil yang dibawa, masing-masing di setir oleh Pak No, Jordi dan Ardi.
"Kamu naik mobil! Ngga baik kebut-kebutan di jalan dalam kasus begini. Yang ada nanti kamu nabrak. Udah nurut!" Tambah pria tua itu pada anak lelakinya yang tak henti memainkan gas motor.
"Naik motor bisa lebih cepat!" Bantah Aero, ia mulai maju hendak menerjang gerbang besi itu dengan kendaraanya.
"Tergantung konteksnya. Naik motor bisa juga cepat bawa kamu ke rumah sakit. Tinggalin itu motor dan naik!! Nanti semua bantu cari cincinnya di rumah kamu. Dan sebelum itu, telfon calon istri kamu!!"
Usai menimbang-nimbang, Aero akhirnya patuh, ia memundurkan motor pabrikan Italia itu kembali ke garasi, melepas helm dan berjalan cepat ke mobil Alpard putih milik Ayahnya. Di dalam mobil besar itu, akan berisi 3 orang, Pak No, Aero dan Danunjaya.
"Aku yang nyetir! Pak No pindah!"
"Jangan Den!" Tolak Pak No merasa tidak enak sambil ia melirik bos besar. Namun melihat Tuannya mengangguk, Pak No pun mengalah. Ia duduk di samping kemudi.
Jarak rumah Aero dan rumah orang tuanya tidak terlalu jauh. Bisa ditempuh dalam waktu 15 menit jika jalanan lancar. Namun ini adalah weekend, dan jam para muda mudi menemui kekasihnya. Jelas kemacetan sudah di depan mata. Sukses besar membuat kegelisahan nampak dalam diri Aero, ia mengetuk-ketuk stir mobil seperti tak sabar. Meski diam dan tak menggerutu, namun anak lelaki satu-satunya Danunjaya duduk dengan gelisah, seperti ada jarum di kursinya.
"Telfon dulu."
"Harusnya kalian berangkat lebih dulu. Setidaknya dia ngga akan kecewa karena keluarga kita telat jadi jadwal." Kembali Aero membantah perintah Ayahnya sendiri. Selalu seperti itu, ia memang tidka terlalu akur dengan lelaki yang sudah membiayai hidupnya.
"Berbeda. Meski ada kita semua, pacar kamu akan tetap carinya kamu."
Aero diam dan nafasnya memburu seperti memberi jawaban jika dirinya sedang marah. Usai keduanya hanya diam dalam ketegangan, Aero bersuara, "mana bentuk realisasi dari kata-kata semalam? Katanya mau membantu?"
"Papa bantu kamu cari cincin. Semakin banyak orang yang mencari, kemungkinan cepat ketemu akan semakin besar. Dan lagi, kamu tidak bisa mencari sesuatu dengan teliti."
Tiiiiiiin
__ADS_1
Suara klakson mobil yang nyaring dan panjang terdengar. Itu berasal dari telapak tangan Aero yang sudah tidak lagi sabar menunggu mobil di depannya parkir. Lambat. Sialan!
"Mana hp kamu?!"
"Kenapa?"
"Mana?!"
Sebenarnya enggan Aero memberikan ponselnya, namun karena sudah tidak lagi punya energi untuk mendebat, akhirnya benda itu pun diserahkan ke Papahnya yang duduk di belakang. Lebih dulu Aero membukakan kunci kodenya.
Dan diam-diam, Pak Danunjaya mulai beraksi.
***
Tidak bisa sepenuhnya disalahkan, selain marah, sifat dasar manusia yang lain adalah lupa. Sering kali berusaha mengingat sesuatu dalam kondisi panik, justru tidak akan membuahkan apa-apa. Sehingga Pak Danun, mengerahkan orang-orangnya yang sedang tenang dan berpikiran dingin untuk membantu mencari. Terutama wanita, ya sosok perempuan dimana-mana kadang memang lebih awas perihal tata letak barang-barang.
Namun, hingga menit ke sepuluh mereka menggeledah kamar Aero. Belum juga ditemukan benda berkilau berbahan emas itu. Lelaki yang sudah melepas jaket kulitnya kini duduk di sisi ranjang, termenung seperti tengah mengingat-ingat. Baik Jordi, Ardi hingga Mba Yanti yang sebenarnya juga hampir putus asa, tetap bergerak mencari sisi per sisi kamar. Entah itu di lemari pakaian, rak, kamar mandi hingga laci-laci nakas.
"Kita berangkat!"
"Sudah ketemu Mas?!" Tanya Jordi karena ia satu-satunya orang yang paling dekat posisinya dengan anak bos ini.
Tak ada balasan. Aero langsung berdiri dan meninggalkan kamarnya tanpa ekspresi. Sementara orang-orang yang sedang membantunya hanya saling melempar pandang, mencoba mencari tahu bagaimana hasilnya.
"Kita berangkat!" Putus Ardi, ia menjadi orang pertama yang menyusul Aero keluar dari kamar.
"Lah gimana cincinnya Mbok?" Mba Yanti yang sedari tadi begitu teliti mencari cincin mendekat ke arah Mbok-ART paling senior dengan gelisah.
"Nda tahu Yan. Nda ada tanda-tanda kotak perhiasan. Ya toh?"
"Mbok! Yuk keluar." Suara perintah Jordi yang berdiri di ambang pintu menyadarkan dua wanita di kamar Aero. Seperti enggan, Mbok dan Mba Yanti memaku dirinya di atas lantai.
"Gimana toh Mas Jordi? Ikut nelangsa aku liat Den Ero sedih begitu!" Sebagai orang yang mengasuh Aero dari kecil bersama Nyonya rumah. Mbok merasa tidak tega jika harus melihat anak asuhnya menunduk seperti tadi. Ia punya kewajiban juga untuk menyukseskan lamaran ini.
__ADS_1
"Ngga apa-apa. Mas Aero sepertinya sudah punya rencana lain. Kita yang penting ikut perintahnya." Meski perkataan Jordi masuk akal. Tidak serta merta membuat tenang dua perempuan ini. Mereka tahu pasti rasanya bertunangan dan cincin adalah bagian penting di dalamnya. Tidak ada cincin tidak sah dianggap bertunangan. Itu yang ada dipikiran mereka. Tapi bagaimana menyampaikannya pada lelaki-lelaki yang tak peka itu?
Oleh karena pintu kamar akan segera ditutup oleh Jordi, mereka segera keluar. Mereka bertiga berjalan bersisian menuju lantai satu. Disela itu, kembali Mbok bertanya. "Mas Jordi?!"
"Hmm?"
"Calonnya Den Ero cantik?"
"Nanti lihat aja."
Wajah Jordi yang lempeng saat mengatakan hal itu, sukses membuat Mba Yanti gemas. "Hihh. Tinggal jawab iya apa ngga aja repot!"
***
Tiga mobil berkendara berurutan meninggalkan rumah Aero menuju rumah sang target. Butuh waktu dua puluh menit untuk sampai, dan secepat kilat begitu mobil mereka parkir di jalan perumahan yang sempit, seserahan di keluarkan. Mobil yang membawa Aero dan rombongan harus berhenti bukan di pelataran rumah Rea. Sebab beberapa mobil lain juga tengah parkir disana.
Lebih dulu Aero berjalan mendekat ke rumah Rea, sambil mencoba menghubungi lewat telfon jika dirinya telah sampai. Tinggal beberapa langkah ia mendekat, beberapa orang keluar dari teras rumah Rea sambil berbincang sesuatu yang sukses membuat Aero diam.
"Jelek ya Mah. Kok Tante Rea mau sama itu laki-laki?"
"Hust. Begitu-begitu karyawan BUMN, jadi udah dijamin hidupnya. Kamu kalau mau nyari suami yang begitu juga. Tampang nomor sekian, yang penting adalah pekerjaan dia dan kesiapan dia ngajak kamu rumah tangga."
"Ya dipikir juga tampangnya Mah. Aku ngga mau lah nanti anakku diejek punya ayah jelek. Kan kasihan."
Sepasang ibu dan anak yang mengenakan gaun seragam warna pink ini melewati Aero begitu saja. Tak mempedulikan obrolan mereka yang bisa saja di dengar orang lain. Di belakangnya menyusul seorang lelaki paruh baya dan satu anak laki-laki, masuk ke mobil yang sama.
Dan tunggu, walaupun dalam keadaan gelap. Aero seperti menangkap sebuah benda yang cukup dia kenal. Mobil milik Rea yang sudah dijual parkir juga tak jauh dari mobilnya. Dan apa tadi? Jelek? Jangan bilang itu si masinis?
Mendadak Aero makin mempercepat langkahnya menuju rumah Rea. Tak bisa dia biarkan dirinya ditikung di detik-detik terakhir. Dia yang sudah lebih dulu mengajukan proposal. Jadi harus dirinya dulu yang mendapat jawaban.
"Reaa!!" Serunya setengah berteriak walau masih berada di garasi rumah.
Ok, nanti insya allah aku update lagi.
__ADS_1
happy reading , jangan lupa vote, comment dan likenyaaa