
"Aku pikir si jelek itu main curang."
"Bisa ngga sebut namanya dengan benar? Memang susah banget?"
"Kamu keberatan?"
Lebih dulu Rea menghembuskan nafasnya, jengah dengan sikap kekanakan Aero akhir-akhir ini. Sudah sering ia peringatkan untuk tidak meremehkan atau mencela orang lain. Tapi tetap saja, mulutnya yang tajam itu selalu lupa. Alasan klasik. "Mentang-mentang muka kamu menarik, terus kamu bisa seenaknya bilang dia jelek?" Sungut Rea, ia tak suka saja saat ada seseorang yang tidak salah apa-apa menjadi bahan bully.
Aero lantas tersenyum tipis. Bukan karena pujian Regina Athalia, tapi lebih kepada wajah wanita cantik itu yang sudah memerah karena kesal. "Ngapain dia dateng? Kamu undang?"
"Dia dateng sendiri. Lagian kamu lama."
"Lama karena aku nyari cincin kamu."
"Udah pinjem. Diilangin lagi." Begitu cara tunangannya menyindir dan mendebat dirinya.
"Udah aku ganti."
"Tapi beda. Walaupun murah, itu hasil jerih payah aku."
Tahu kalau si wanitanya tidak akan mudah menyerah. Maka untuk saat ini, Aero memilih mengalah. Apa kata orang-orang di sekitar kalau baru bertunangan tapi sudah ribut seperti ini?
"Nanti aku cari lagi." Selanya dengan suara gang lebih rendah.
"Ckck. Sampai sekarang masa belum ketemu?" Rea sewot. "Ketinggalan di toko perhiasan mungkin. Atau jangan-jangan kamu buang?" Tekan Rea di kalimat terakhir. "Mentang-mentang cincinnya ngga bagus terus kamu-"
"Aku lupa naruh! Bukan dibuang! Bisa bedakan?!" Aero memotong dengan cepat kata-kata Rea yang mulai ngelantur. Sudah dijelaskan jika hari itu setelah Aero memesan cincin untuk pertunangan, dia membawa benda yang tak seberapa nilainya itu pulang ke rumah, dan kemudian menaruhnya disuatu tempat-entah dimana.
"Diminum Mba lemon ice-nya." Suara seseorang menginterupsi keduanya.
"Iya. Makasih Mba Yanti." Secepat kilat ekspresi Rea langsung berubah ramah di depan salah satu asisten rumah tangga Aero. Dan begitu Mba Yanti pergi, wajah Rea kembali seperti semula. Membuat Aero tidak bisa diam saja-saat melihat bagaimana tadi Rea merubah mimik mukanya dalam sekejap.
"Muka dua." Bisiknya begitu lirih.
"Kamu ngomong apa?" Rea ingin mendengar sekali lagi, karena jujur dia tidak menangkap bisikan Aero. Pikirannya teralihkan usai melihat segelas lemon ice yang tersaji di atas meja. Rea segera meraihnya, meminum sedikit untuk melegakan tenggorokan. Ya bagaimana tidak, sejak tadi dia dijemput Aero sampai saat ini duduk di ruang keluarga mereka, terus saja saling menyerang.
Dan sejurus kemudian, dengan begitu entengnya Aero memberitahu. "Kamu cantik."
Masih meneguk dengan anggun lemon ice, Rea tak terganggu dengan celetukan yang sangat jarang keluar dari bibir Aero. Ia menoleh ke arah pria tampan yang duduk di sofa lain dengan tenang, kemudian berkata, "baru tahu?!!" Sambil menunjukkan wajah santai yang begitu memuakkan bagi sebagian orang.
Harusnya dalam kasus ini, Rea yang tersipu atau mendadak tersedak. Tapi. Kenapa justru Aero yang tergagap dibuatnya?
Rea bahkan ingin sekali tertawa sesaat melihat Aero yang gelagapan dengan tingkah percaya dirinya. Menggelikan sekali ekspresi tadi.
__ADS_1
"Apa kalau kalian ngobrol tensinya selalu setinggi ini?"
Rea langsung menegakkan punggungnya, begitu mendengar suara tuan rumah. Ia mengulurkan tangan kanan untuk menyelami calon mertuanya yang tiba-tiba muncul usai pembicaraan sengit antar calon pengantin. "Bapak sehat?" Sapanya ramah sambil mencium punggung tangan lelaki berkursi roda.
"Gini-gini aja. Tapi kalau ada kamu si jadi sehat."
"Dasar playboy." Sindir Aero setengah berbisik, meski begitu Danunjaya dan Rea masih bisa mendengar.
Untuk beberapa saat Rea sempat terkejut dengan sikap Aero yang begitu berani, terlihat tak menghormati dan tak peduli. Mulutnya mungkin akan gatal jika tidak mengomentari orang sedikit saja, pikir Rea diam-diam.
"Tuh Re. Mau sama lelaki yang begitu?"
Rea tahu maksud pertanyaan calon mertuanya. Usai mendudukan dirinya kembali di sofa, dia kemudian bersuara, "udah terlanjur." Sukses membuat kekehan muncul dari bibir Danunjaya.
"Gimana? Wali nikahnya siapa?"
Pertanyaan itu tak serta merta dijawab, Rea diam untuk waktu yang cukup lama. Ia seperti tengah memilih kata-kata yang tepat. Hingga akhirnya mulutnya mulai terbuka, "karena paman saya-"
"Pamannya di luar kota. Sudah dihubungi dan di tanggal itu, dia tidak bisa datang. Dia memberi kuasa ke wali hakim."
"Kamu ngga apa-apa?"
Mau menjawab 'tidak apa-apa' pun percuma. Danunjaya dan Aero mungkin tidak bisa membantu. Bagi Rea, selama dia sudah berusaha maka bagaimana pun hasilnya nanti dia akan terima. Jadi ketika dia sudah berbaik menyambung silaturahmi yang sempat terputus, memberi kabar dirinya akan menikah, kemudian meminta adik ayahnya untuk mewakilkan. Namun hasilnya tidak sesuai dengan harapan, Rea akan sabar. Mungkin inilah yang terbaik. Pasti ada rencana lain yang lebih indah.
Tangan Aero terulur, menunjuk Rea sambil berkata, "terserah Ratunya."
Mendengar hal tersebut, Rea menjadi ingat kejadian seminggu lalu. Hari dimana dia menunggu dengan tidak sabar datangnya Aero beserta keluarga. Salah, maksudnya bersama para pekerja yang sudah dia anggap kerabat.
Hatinya berbunga ketika seseorang mengetuk pintu rumah dan memberi salam. Bibi Yul adalah orang yang membukakan.
"Udah dateng kayaknya Mah. Tuh orangnya!" Celetuk Ayu-si anak Tante Haryati.
"Gimana Kak? Ganteng?"
"Mamah liat sendiri."
Belum sempat Rea memberi informasi. Tantenya sudah lebih dulu menyela dan memberi pesan, "Tante cuma sebentar ya Re. Setelah dia ngomong mau apa. Tante pulang." Baru saja Rea ingin menjawab dan melobi, tantenya sudah langsung menghambur ke ruang tamu.
Dan disanalah lutut Rea lemas. Kenapa Ardan yang datang? Bibi Yul yang sama kagetnya hanya mampu memberi senyum dan mempersilahkan si tamu duduk. Meski Ardan cukup terkejut dengan penampakan ruang tamu yang sedikit di dekor, dia tetap bisa menyapa dua orang tua itu.
Apa yang ditakutkan terjadi, Tante dan Omnya langsung menyerbu Ardan dengan berbagai pertanyaan setelah lebih dulu memperkenalkan diri. Pria itu bingung. Terlebih dirinya seperti baru pulang dari dinas. Masih mengenakan seragam atasan warna putih dengan beberapa logo terkenal menempel disana. Karena kasihan, akhirnya Rea menyela.
"Om, Tante. Ini Ardan. Temen Rea."
__ADS_1
"Kebetulan penerbangan jam 10 jadi kami harus siap-siap ke bandara. Kami menyambut kedataangan Mas Ardan untuk meminang keponakan saya. Semoga Rea bisa menjadi istri yang baik begitupun sebaliknya. Setiap orang punya kekurangan, jadi saya harap kalian bisa dewasa saat menemui ketidaksempurnaan itu dalam hubungan nanti. Mas Ardan, kami pamit dulu yaa."
Tidak ada kejelasan sama sekali, om dan tante Rea sudah berdiri untuk pamit. Kenapa seperti ini saudaranya? Bahkan tidak membantu hingga selesai acara. Bahkan tidak mendengarkan Rea yang sudah mencegahnya, ia meminta untuk menunggu sebentar. Karena seseorang sudah mengirim pesan dan memberi konfirmasi akan segera datang.
"Kamu ada acara apa?" Ardan yang ikut Rea hingga teras rumah akhirnya bertanya. Usai kebingungan yang sudah dia dapat beberapa menit ini.
"Mba Rea?! Mas Aero telfon!"
Belum sempat membalas rasa ingin tahu Ardan. Rea sudah berlari memasuki rumah, menyambut antusias berita yang disampaikan Bibi Yul dan meninggalkan begitu saja Ardan.
Sayangnya, belum sempat diangkat, panggilan telfon sudah mati. Ia gelagapan, sampai ingin membuka password ponsel pun dia lupa deretan sandinya.
"Sabaar Mba." Kata Bibi Yul menasehati sambil mengelus pelan punggung anak asuhnya. Tahu pasti Rea grogi, terbukti dari tangannya yang gemetaran.
Dan tak berselang lama, teriakan seseorang menggema.
"Rea!!"
Ya.
Dia datang.
Disana.
Berdiri di ambang pintu dengan atasan batik yang selaras dengan rok Rea. Menatapnya dengan ekspresi datar.
"Bibi panggil Om sama Tante dulu ya. Mumpung belum jauh."
Tak menanggapi ucapan Bibi Yul, Rea setia mengunci tatapannya pada sosok lelaki tegap berjarak sekitar sepuluh meter darinya. Tiba-tiba kakinya terasa lemas. Nafasnya tercekat mendapati pandangan yang sama sekali tidak bersahabat. Kenapa wajah pria itu mendadak menegang? Apa Rea punya salah?
Aero maju mengikis jarak dengan langkah panjang. Bukannya berhenti tepat di hadapan Rea. Pria itu malah berdiri di samping kanan, memandang ke arah itu tajam. Rea pun menoleh ke arah pandang calon tunangannya.
Ardan?
Sejak kapan Ardan sudah berdiri sedekat ini dengannya? Bahkan jika Rea mundur sedikit saja, punggungnya bisa menyentuh dada pria tinggi itu.
"Kalian mau tunangan?"
Untuk beberapa alasan, Rea pikir tidak seharusnya Ardan datang dan menanyakan hal seperti itu. Apa dia tidak sadar dengan hiasan di dinding, dimana disana jelas ada sesuatu. Kemudian tampilan Rea yang tidak seperti biasanya, berdandan serta berpakaian mencolok.
"Ya. Kamu mau jadi saksi?" Jawab Aero dengan urat-urat leher yang menegang.
Alhamdulillah bisa update.
__ADS_1
Jangan lupa vote, comment dan like gaess